Mulai Terbuka

1671 Words

Pagi itu dapur apartemen masih setengah mengantuk. Matahari masuk malas lewat jendela, menyentuh meja makan yang dipenuhi aroma roti panggang dan kopi hitam. Hugo duduk dengan kemeja kerja yang sudah rapi, satu tangan memegang ponsel, tangan lain mengaduk kopi. Di seberangnya, Cahyati sibuk mengoles selai ke roti, gerakannya terlalu santai untuk seseorang yang jelas sedang menyusun rencana. “Hugo,” panggilnya ringan, tanpa menoleh. “Kita ke psikolog bareng yuk!” Sendok Hugo berhenti di udara. Cahyati melanjutkan seolah itu ajakan paling wajar sedunia. “Maksud gue, kita tuntasin masalah kita. Siapa tahu ada trauma, atau luka masa kecil yang belum kelar.” Hugo menelan ludah. Wajahnya berubah hati-hati. “Lo… gimana perkembangannya?” tanyanya pelan. Cahyati berhenti mengunyah. “Perkemb

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD