Burung Dalam Sangkar yang Merdeka

1444 Words

Meski terikat dalam kontrak pernikahan, kebebasan Cahyati tak pernah dicabut. Ia layaknya burung yang diberi sangkar emas, namun pintu sangkar selalu terbuka. Hugo, dengan segala kesibukan yang hanya bisa dipahami oleh kaumnya, selalu pergi ke kantor pukul delapan pagi dan kembali pukul satu siang. Interval waktu yang aneh untuk seorang CEO, sesingkat jam sekolah anak TK. Namun Cahyati justru sangat menghargai waktu luang itu. Setiap pagi, setelah Hugo pergi, apartemen itu menjadi kerajaannya. Di luar jadwal lesnya, ia bisa melakukan apa pun yang ia mau. Salah satu ritual favoritnya adalah berpetualang mencari jajanan kaki lima. Dengan ponsel canggihnya, ia memesan ojek dan meluncur ke sudut-sudut kota yang menyajikan hidangan menggoda. Ia pun sering mentraktir pengemudi ojeknya, berbag

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD