Pagi itu, mentari menembus jendela apartemen, menyinari ruang makan tempat Cahyati menikmati sarapan nasi uduknya. Suasana hening, hanya ada denting sendok dan garpu. Tiba-tiba, ia melihat Hugo sudah rapi dengan setelan jasnya, siap berangkat ke kantor. Sebuah rasa penasaran merayap di benak gadis itu. Ia pernah ke kantor Hugo, melihat ruangannya yang megah, tapi cuma sekali, itu pun untuk tanda tangan kontrak. Ia sama sekali tidak tahu usaha apa yang Hugo jalankan. Otaknya mulai membayangkan hal-hal absurd. Penasaran deh, dari mana harta kekayaannya ini. Mungkin Hugo punya usaha di bidang ekspor-impor kali ya. Tapi impor apaan? Macha bubuk? "Hugo," panggil Cahyati, "Gue ikut lo ke kantor, boleh nggak?" Hugo menoleh, alisnya terangkat. "Emang gak ada les hari ini?" "Paling cuma les

