"Alhamdulillah."
Aku mendesah lega melihat kondisi Arkan yang semakin membaik. Kemarin, setelah aku melunasi biaya administrasinya, putraku itu akhirnya dipindahkan ke ruangan perawatan. Aku juga bisa tenang sekarang, untuk biaya pengobatan Arkan selanjutnya sudah ditanggung oleh BPJS. Saking paniknya aku kemarin, aku sampai lupa jika sebelumnya aku sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan.
Artinya aku tidak perlu membayar keseluruhan pengobatan Arkan, karena pemerintah sudah menanggungnya. Aku mendapatkan kartu itu semenjak dua tahun yang lalu, dan aku sangat bersyukur akan adanya kartu itu. Berkat kartu itu, aku tidak perlu membayar keseluruhan biaya pengobatan Arkan yang tingginya selangit itu. Ya untuk ukuran orang miskin sepertiku, biaya pengobatan Arkan itu terlalu mahal.
Seharusnya mahal tidaknya sebuah pengobatan tidak patut dipermasalahkan, yang terpenting adalah kesembuhan yang nantinya akan kita dapat. Aku pun sebenarnya tidak mempermasalahkan biaya pengobatan putraku, karena apapun itu asal putraku baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku.
Aku juga bersyukur, karena kartu kesehatan itu, uang yang kemarin aku pinjam ke Mbak Ajeng bisa kukembalikan, ya meskipun jumlahnya sudah tidak seperti sedia kala. Tapi bisalah mengurangi bunga yang harus kubayar.
Aku mengalihkan atensiku pada pergelangan tangan Arkan. Melihat jarum infus yang terpasang di tangan mungilnya, membuatku bergidik ngeri. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat jarum infus itu dipasang. Membayangkannya saja membuat bulu-bulu tubuhku merinding. Apalagi ketika tanganku ditusuk jarum, pasti aku pingsan dulu sebelum pemasangannya dimulai. Aku tidak tahu bagaimana rasanya diinfus, seumur-umur aku belum pernah mengalami sakit yang mengakibatkan tubuhku harus diinfus.
Tapi putraku itu hebat, ia sama sekali tidak terlihat mengeluh, apakah sakit atau tidaknya. Mungkin karena dokter telah memberinya obat bius, sehingga putraku itu tidak merasa kesakitan.
Sejak kemarin aku hanya mandi sekali, itupun saat aku pulan mengambil beberapa kebutuhan kami selama di rumah sakit. Aku juga sudah mengganti pakaianku, penampilanku saat ini sudah terlihat lebih baik.
Aku melirik jam dinding yang berada di ruang perawatan putraku, ternyata sudah pukul setengah satu siang. Adzan sudah berkumandang semenjak tigapuluh lima menit yang lalu, tapi aku belum menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim. Padahal, seharusnya Allah lah yang harus aku jadikan prioritas utama, tapi di waktu-waktu seperti ini aku tidak tega meninggalkan Arkan sendirian, aku takut terjadi sesuatu jika aku meninggalkannya.
"Unda, Akan elum olat. Adahal aktuna dah ewat."
Bunda, Arkan belum solat. Padahal waktunya udah lewat. Aku tersenyum mendengar ucapannya, di saat dia masih sakit pun, dia masih memikirkan Tuhan. Wajahnya yang pucat tampak tersenyum malu-malu, ciri khas yang sudah melekat padanya saat ia selesai berbicara.
Putraku itu benar-benar mendengarkan nasihatku. Selama ini aku berusaha selalu menanamkan benih-benih kebaikan untuknya. Aku ingin Arkan tumbuh menjadi seseorang yang bertanggung jawab, seorang anak sholeh yang mampu membuat orang tuanya bangga, yang mampu menuntun orang tuanya masuk ke surganya Allah.
Usianya memang masih empat tahun, dan biasnya anak-anak di usia seperti itu lebih memilih bermain, dan tidak menghiraukan perkataan orang tuanya. Mereka merasa belum mengerti atau lebih tepatnya belum siap menerima informasi, sehingga otaknya hanya merespon singkat dan pada akhirnya nasihat-nasihat baik itu terlupa. Tapi putraku itu berbeda, entah bagaimana bisa dia mengingat setiap nasihatku. Dia juga selalu menuruti apa yang aku titahkan padanya.
"Arkan kan masih sakit, Allah nggak bakal marah kalau Arkan nggak solat." Aku masih mengelus rambutnya, putraku itu menggelengkan kepalanya.
"Idak Unda, elama Akan acih ampu, Akan au olat. Olat itu ajib, ak aik alo diingalin."
Tidak Bunda, selama Arkan masih mampu, Arkan mau solat. Solat itu wajib, nggak baik kalo ditinggalin. Begitu kalimat yang terucap dari bibir mungilnya. Aku merasa hatiku tertampar mendengar ucapannya. Aku mengingat kapan persisnya aku mengucapkan kalimat serupa pada putraku itu.
Kejadian itu sudah terjadi satu tahun silam, umur Arkan masih menginjak tiga tahun. Otak yang terlalu dini untuk mengingat nasihat seperti itu. Aku benar-benar seperti orang linglung, terlalu takjub dengan kalimat yang terucap dari mulut putraku sendiri, yang usianya saja masih empat tahun. Aku masih terpana, begitu besarnya keistimewaan yang Tuhan berikan pada putraku itu. Tidak henti-hentinya aku mengucap syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin Allah memberikan kekurangan pada suara Arkan, tapi Allah memberi kelebihan pada ingatannya.
"Akan uga engen adi imam uat Unda. Aah, kan dah ak ada, Allah ebih uka alo matna olat engan amaah," katanya sedikit tersedat karena suaranya yang lemah, putra tampanku itu kembali tersenyum malu-malu.
Arkan juga pengen jadi imam buat Bunda. Ayah kan udah nggak ada, Allah lebih suka kalo umatnya solat dengan berjamaah. Mungkin seperti itu maksud dari ucapannya, aku kembali bersyukur, Allah benar-benar memudahkanku untuk mencerna ucapan Arkan yang mungkin saja tak dapat dipahami oleh kebanyakan orang.
Aku menarik napasku dalam-dalam, saat aku merasa dadaku yang mulai sesak karena hendak menangis. Aku tahu, betapa inginnya putraku ini bertemu dengan Ayahnya.
Namun apa daya, jangankan bertemu, untuk melirik saja Mas Damar begitu enggan. Terbuat dari apa hati laki-laki itu? Kenapa sedetik saja ia tidak mau menolehkan kepalanya untuk sekedar melihat Arkan? Bukannya dia meminta bukti? Arkan bukti teraktual jika aku tidak pernah berkhianat darinya. Kenapa dengan mudahnya Mas Damar percaya dengan kebohongan mantan temanku, Tasya? Apa karena Tasya sepupunya?
Sebelumnya, aku tidak menyangka jika Tasya tega memfitnahku dengan sebegitu kejamnya. Sampai saat ini aku tidak mengerti apa motifnya memfitnahku, selama ini hubungan kami baik-baik saja, dia selalu berlaku baik padaku. Aku juga tidak menemukan indikasi dari tingkah lakunya yang menunjukan kalau dia menyimpan kebencian padaku.
"Arkan beneran mau solat? Terus itu tangannya yang diinfus gimana? Terus, Arkan wudhunya gimana? Nanti kalau infusnya ketarik terus putus, tangan Arkan berdarah." Aku merapikan helai rambutnya yang berantakan.
"Akan udhuna elan-elan Unda. Unda ica antu Akan. Unda uga elum olat an? Ita olat aleng-aleng. Unda angan unda olat alna Akan, anti Allah alah."
Maksud putraku itu ialah, Arkan wudhunya pelan-pelan Bunda. Bunda bisa bantu Arkan. Bunda juga belum solat kan? Kita solat bareng-bareng.
Aku mengusap setetes air mataku, yang dengan lancangnya keluar tanpa kuperintahkan. Ya Allah, sungguh besar kuasa-Mu membuat anak sekecil ini memiliki pemikiran yang sedemikian cerdasnya. Engkau benar-benar Maha Adil Ya Allah.
"Akan uga ak mau ... Unda acuk elaka alna ak olat. Unda ak olat alna Akan an? Akan uga ak mau adi enebab Unda acuk elaka."
Arkan juga nggak mau Bunda masuk neraka karena nggak solat. Bunda nggak solat karena Arkan, kan? Arkan juga nggak mau jadi penyebab Bunda masuk neraka. Kalimat seperti itulah yang terucap dari bibir mungilnya yang saat ini tengah tersenyum malu-malu itu.
Aku semakin terisak mendengar ucapannya. Apa yang keluar dari bibirnya itu, sungguh di luar dugaanku. Bagaimana mungkin, anak umur 4 tahun bisa berbicara sedemikian itu? Mungkin bagi orang awam, itu sangat mustahil.
"Akan auna adi enebab Unda acuk ulga. Unda angan angis, Akan edih alo iat Unda angis," katanya, diakhiri dengan seulas senyum khasnya.
Arkan maunya jadi penyebab Bunda masuk surga. Bunda jangan nangis, Arkan sedih kalo lihat Bunda nangis. Kata-kata seperti itu, bukannya membuat tangisku mereda, malah semakin terisak.
Aku langsung memeluk putraku itu dengan erat. Tangisku memang tidak mereda, tapi aku berusaha tidak mengeluarkan isakan. Aku tidak mau membuatnya sedih.
"Ya udah, kita solat ya? Tapi Arkan nanti solatnya duduk aja. Bunda takut infusnya lepas, terus tangan Arkan berdarah. Nanti kita solatnya juga gantian, biar Bunda bisa pegangin infusnya," ucapku akhirnya setelah berhasil meredakan isakanku.
"Ya Unda." Aku tersenyum membalas senyum malu-malunya. Andai saja Mas Damar ada di tengah-tengah kami, mungkin dia juga bangga dengan putranya ini. Putranya? Sepertinya aku terlalu yakin, kalau Mas Damar akan mengakui Arkan sebagai anaknya. Jika saja Arkan tahu kalau Ayah yang selalu disematkan di setiap doanya itu masih ada, aku yakin dia akan bahagia sekali.
Selama ini, Arkan hanya mengetahui kalau Ayahnya telah tiada. Itupun bukan aku yang memberitahunya, itu presepsi otaknya sendiri karena setiap Arkan bertanya di mana Ayahnya, aku selalu diam tak menjawab. Mungkin keterdiamanku itulah yang membuat otaknya berpikir jika 'sang Ayah' telah tiada.
Ya Allah, semoga saja kebahagiaan menghampiri kami. Aamiin.