Aku mencium puncak kepala Arkan, yang saat ini tengah terlelap dalam gendonganku. Pukul lima sore, kami baru keluar dari gedung kantor. Arkan, putraku ini tampaknya sangat kelelahan. Membuatku merasa kasihan melihatnya. Selama berjam-jam, Arkan hanya berdiam diri di sudut pantry tanpa melakukan suatu hal yang berarti. Yang bahkan, sama sekali tidak menarik. Mungkin untuk anak lain, mereka akan bosan dengan kegiatan yang putraku itu lakukanㅡmereka tidak akan tahan berdiam diri di suatu sudut ruangan, sementara di tangannya hanya terdapat mainan yang hanya terbuat dari kertas saja. Sudah berkali-kali aku katakan, putraku itu berbeda. Dia istimewa. Ah, lebih tepatnya sangat istimewa. Anak seusianya, tidak mungkin memikirkan bagaimana nasib ibunya. Apa yang mereka pikirkan? Mainan? Gadget

