Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Biasanya di jam seperti ini, aku sudah melakukan segala pekerjaanku di kantor. Tapi karena kejadian kemarin, aku tidak lagi melakukan pekerjaan itu lagi. Aku tidak tahan lebih lama mendengar segala hinaannya, barangkali aku tidak akan mengambil keputusan seperti ini, kalau saja ia tidak menghina putraku. Aku tidak masalah jika akulah yang mantan suamiku itu hina, bukan Arkan yang tidak tahu apa-apa. Bahkan, putraku itu tidak pernah mendekatinya sejengkal pun untuk menganggu satu detik waktunya. Di saat-saat seperti ini, aku merasa Allah tidak berlaku adil padaku. Kenapa Allah tega memberiku ujian seberat ini? Dihina berbagai kalangan orang. Dikucilkan. Digunjing habis-habisan. Dibenci keluargaku, bahkan yang terparah adalah ketika mereka me

