Aku bersyukur. Setidaknya, Mas Damar menolak ajakan putraku dengan halus, tidak seperti yang aku duga sebelumnya. Aku kira dia akan memaki, membentak, dan apalah hal yang pastinya akan menyakiti hati putraku, Arkan. Ingatanku sedikit berkelana pada kejadian lima belas menit yang lalu, di mana Mas Damar dengan wajah kakunya terlihat menghindar. Ekspresinya itu sangat berbanding terbalik dari detik sebelum Arkan mengajaknya solat. Jujur, aku ragu dengan apa yang baru saja aku lihat. Interaksi yang seharusnya sudah terjadi semenjak empat tahun lalu, akhirnya terjadi juga meski bukan interaksi yang dapat dikatakan sebagai interaksi yang baik. Aku baru saja selesai menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim. Kini kami kembali ke emperan mini market, mengambil barang-barang yang sempat kami t

