Mobil itu berhenti di satu gedung apartemen. Sean turun lebih dulu, berlari ke arah bangku penumpang dan membukakan pintu untuk Kim Jina. “Ayo, ku antar sampai unit apartement mu,” katanya. “Tidak perlu, kau pulang lah sudah terlalu larut. Terima kasih banyak sudah menemaniku seharian ini,” sahut gadis itu dengan senyum tipis. Namun Sean menggeleng, ia bersikeras untuk mengantarkan Jina ke unit apartemennya sekalipun gadis itu menolak. “Tidak masalah. Aku akan pulang setelah mengantarmu ke unitmu, lagipula kakakmu pasti merasa khawatir kau belum kembali padahal ini sudah tengah malam.” “Baiklah kalau kau memaksa.” Dua manusia itu berjalan berdampingan, gedung apartemen Kim Jina berada di tengah kota. Meski bukan apartemen mewah namun fasilitas di dalamnya terbilang cukup lengkap. “D

