Bab 07

1013 Words
Minggu pagi saat Hana dikejutkan dengan suara gaduh yang berasal dari luar. Ia melongok ke arah jendela dan mendapati Sean yang tengah bercengkrama dengan sang Ibu sembari menanam beberapa pohon kecil di taman belakang. Hana menghela napas, semula ia berniat untuk kembali tidur namun tidak bisa. Setelahnya dirinya memutuskan untuk membersihkan diri sebelum bergabung dengan sang Ibu juga Sean. Selesai bersiap, Hana berniat untuk turun dan berjalan menuju taman belakang sampai kemudian sebuah tangan menjegal lengannya. Menarik, setengah menggeret dirinya untuk masuk ke sebuah mobil hitam yang terparkir tepat di depan rumah. Hana memberontak, apalagi setelah tahu siapa orang yang melakukan semua itu. "Kau gila, ya?! Tidak bisa bersikap sopan pada seorang perempuan ternyata bukan cuma satu-satunya sikap buruk yang kau miliki. Tapi kau juga begitu kasar!" Lee Yeol melirik sekilas ke arah Hana. Seolah tuli, pria dengan jaket boomber itu tidak mempedulikan apa yang dikatakan Hana. Ia justru dengan sengaja melajukan mobilnya cepat, membuat Hana yang memang belum sempat mengenakan sabuk pengaman agak terantuk ke arah depan. "Kau sengaja, ya?! Jika rencamamu ingin mencelakai ku, bukan seperti ini caranya. Dasar bodoh," maki Hana geram. Meski Lee Yeol tidak menjawab apapun, tapi Hana tahu pria itu begitu kesal. Apalagi telinganya yang sudah memerah kian memvalidasi. "Kau mau membawa ku kemana?" Masih tidak ada jawaban. Pria itu benar-benar menguji kesabaran Hana kali ini. "Berhenti atau aku lompat dari sini," ancam Hana sembari memegang handle pintu mobil. Masih tidak ada reaksi, Lee Yeol terlalu tenang untuk saat ini. "Kau benar-benar menguji ku, ya?" Menantang, Hana coba membuka pintu meski mobil masih dalam keadaan melaju. Tapi tentunya Lee Yeol tidak sebodoh itu. Pintu sudah lebih dulu terkunci otomatis begitu dirinya menekan tombol. Hal itu membuat Hana tidak bisa kabur kemana-mana. "Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Jika kau berniat untuk membatalkan perjodohan ini, kenapa tidak kau lakukan sendiri saja?!" "Kau bisa diam tidak? Telinga ku serasa mau pecah mendengar suaramu!" sentak Lee Yeol pada akhirnya. Hana berdesis, gadis itu memberikan lirikan sinis pada pria di sampingnya itu. "Jika kau ingin telingamu baik-baik saja, turunkan aku sekarang!" "Aku akan menurunkan mu jika kita sudah sampai. Setelah itu kau bebas melakukan apapun yang kau mau." Pada akhirnya Hana memilih diam. Bukannya ia takut, hanya saja dirinya sudah terlalu kesal untuk menghadapi Lee Yeol saat ini. Butuh lima belas menit bagi keduanya untuk sampai di depan satu bangunan bertingkat. Lee Yeol turun lebih dulu diikuti Hana kemudian. Pria itu naik pada anak tangga yang berada di samping gedung, lebih tepatnya yang menghubungkan dengan satu ruangan rahasia. "Apa lagi yang kau tunggu?" Dengan perasaan kesal Hana mengikuti Lee Yeol. Pria itu masuk ke dalam sebuah ruangan. "Kau tunggulah di sini," katanya kemudian menghilang di balik tembok. "Sebenarnya apa yang dia rencanakan. Jika semuanya karena perjodohan konyol itu, kenapa dia tidak menceritakan saja semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Hana," monolog Hana seorang diri. Ia berjalan ke sekeliling. Ruangan dengan d******i warna abu-abu itu berisi beberapa permainan yang biasanya ada di time zone. Ada juga gitar dan beberapa buku juga bekas minuman yang berserak di meja. "Manusia seperti apa sebenarnya Lee Yeol itu. Selain kasar dan suka semaunya, sepertinya dia bukan laki-laki baik-baik. Kenapa Hana masih saja mempertahankan perjodohan itu?" gumam Hana sekali lagi. Tidak lama kemudian, Lee Yeol kembali dengan seseorang lainnya. Seorang lelaki dengan kacamata yang terpasang di pangkal hidung juga tubuh yang cukup tinggi. Lelaki itu tersenyum ke arah Hana, namun dengan sengit gadis itu membalas dengan tatapan tajam. "Galak sekali," gumamnya yang masih bisa didengar Hana. "Kau mau terus berdiri di situ?" Ucapan Lee Yeol membuat Hana tersentak, ia dengan terpaksa duduk di hadapan dua pria itu. Lee Yeol menyodorkan sebuah surat. Dengan kebingungan Hana membaca surat tersebut. Surat perjanjian di mana tertulis dengan jelas beberapa poin kesepakatan yang diajukan oleh pihak pertama, yaitu Lee Yeol. Surat perjanjian tersebut berisi soal kerja sama yang ditawarkan Lee Yeol sebagai pihak pertama kepada Hana sebagai pihak kedua. Ada pun beberapa poin diantaranya. Menjalani perjodohan dengan tenggang waktu enam bulan dari tanggal perjanjian dibuat, dilarang untuk saling ikut campur juga skinship berlebihan. Masing-masing pihak diberi kebebasan untuk menjalani hubungan dengan siapa saja selama bisa menjaga kerahasiaan. Dan siapapun yang melanggar, akan dikenakan sanksi berupa denda sebesar lima puluh juta won dan diharuskan untuk menjelaskan semuanya di hadapan dua belah pihak keluarga. "Apa maksudmu?" tanya Hana. "Kau tidak bisa membaca? Apa otakmu terlalu bodoh setelah kecelakaan hari itu?" "Kau sudah tahu jika itu adalah surat perjanjian. Yang artinya, aku mau menerima perjodohan kita asal kau mau mematuhi persyaratan yang tertera di sana," sambung Lee Yeol kemudian. Hana tidak langsung setuju, gadis itu menyilangkan dua tangannya di depan d**a. Menatap ke arah Lee Yeol yang juga tengah menatapnya dengan pandangan sengit. "Bukankah terdengar tidak adil jika hanya kau yang memiliki permintaan di sini? Lalu apa keuntungan yang bisa ku dapat dari perjanjian itu?" Perkataan Hana membuat Lee Yeol terkikik, pria itu melihat ke arah Hana dengan pandangan remeh. "Apalagi yang kau inginkan? Bukankah kau sangat menginginkan perjodohan konyol ini? Kau sangat menyukai ku sampai-sampai enggan untuk membatalkan perjodohan konyol itu. Lalu sekarang, aku sudah memberikan apa yang kau mau, nona," katanya yakin. Kini giliran Hana yang tertawa kecil. Ia tidak menyangka jika rupanya Lee Yeol bisa memiliki pemikiran sepercaya diri itu. "Apa selama ini kau selalu berpikiran seperti ini? Menganggap Hana sebegitu menyukai dirimu hingga rela jadi gadis bodoh demi mempertahankan perjodohan konyol itu?" "Memang apalagi? Kau, begitu menyukai ku hingga,-" "Berhenti berbicara omong kosong! Rupanya semua deskripsi buruk yang ku sematkan padamu masih belum cukup. Ternyata kau juga memiliki rasa kepercayaan diri yang begitu tinggi." Hana mencondongkan tubuhnya ke arah Lee Yeol, menatap lekat mata pria itu penuh aura intimidasi. "Berhenti bermimpi, bangunlah dari delusi. Hana yang ada di hadapanmu bukanlah gadis yang kau kenal dulu. Kau tidak akan tahu apa yang bisa ia lakukan sekarang, jadi berhati-hatilah." Setelah mengatakan hal itu Hana kembali ke tempatnya, menyilangkan tangan di depan d**a dan menyeringai tipis ke arah Lee Yeol. "Aku akan menyetujui perjanjian itu setelah kau merevisi sebagian isi di dalamnya, juga menceritakan apa yang sebenarnya Hana alami pada malam itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD