Bab 06

1080 Words
Hana kembali ke rumah dengan wajah murung. Ia mendudukan diri pada sofa ruang tengah dengan kepala mendongak ke atas juga hela napas panjang. Ia benar-benar merindukan Ibu juga Jongin. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa mengatakan semuanya pada mereka, atau setidaknya belum. Semuanya, apa yang ia alami terasa tidak masuk akal. Bagaimana ia bisa terjebak di dalam tubuh seorang gadis bernama Do Hana dan juga semua hal yang sudah terjadi padanya. Soora, merasa semuanya aneh dan tidak bisa ia pikirkan dengan logika. Baru saja Hana akan beranjak, gadis itu lebih dulu dikejutkan dengan kedatangan Lee Yeol yang tiba-tiba. Pria dengan rambut coma itu berjalan ke arahnya dengan terburu. Ia memegangi tangan Hana dengan sedikit mencengkram nya, membuat si gadis mendesis karena sakit. "Apa kau akan terus begini? Mau sampai kapan kU bertahan dengan perasaan bodoh mu itu?" kata Yeol dengan nada rendah. Pria itu menatap ke arah Hana dengan marah, napasnya cepat dan naik turun seiring dengan cengkeraman tangannya yang terasa semakin kuat. "Aku tidak mengerti maksudmu. Dan bisakah kau lepaskan ini, kau benar-benar tidak bisa memperlakukan perempuan dengan baik," sahut Hana tanpa rasa takut. Entahlah, saat menghadapi Lee Yeol, Hana seperti mendapatkan kekuatan lain. Ia merasa begitu berani dan merasa harus menentang apa yang tidak ia sukai dari perangai pria itu. Meski sejujurnya, Hana sendiri juga tidak tahu kenapa ia bersikap demikian. Yang jelas, ia hanya mengikuti kata hatinya saja. "Kau masih ingin terus berpura-pura bodoh rupanya. Dan asal kau tahu, aku tidak perlu dan tidak akan pernah memperlakukan mu dengan baik. Perlakuan baikku padamu, hanya ada dalam mimpi mu saja, nona!" Setelah mengatakan hal itu, Lee Yeol menghempaskan tubuh Hana hingga terduduk di sofa. Pria itu juga melemparkan secarik undangan di pangkuan Hana. Sebuah undangan dengan paduan warna emas dan merah. Terkesan mewah namun simpel. Perlahan Hana membuka amplop undangan tersebut dan membaca tiap baris kata yang ada di sana. Tertera tanggal di mana hari pernikahannya akan dilaksanakan, dan itu tidak lama lagi. "Mungkinkah ini yang membuat Lee Yeol begitu marah?" gumam Hana bertanya. Ia membolak-balikan kartu undangan itu beberapa kali, sebelum kemudian menghela napas panjang. "Sepertinya ada alasan lain mengapa gadis bernama Hana ini begitu kukuh untuk mempertahankan perjodohan nya dengan Lee Yeol. Jika itu benar-benar aku, sudah dari dulu ku batalkan saja semuanya. Perangai laki-laki itu buruk sekali," gumam Hana dengan nada kesal. Namun beberapa detik kemudian gadis itu menyadari sesuatu. "Undangan pernikahan? Bukannya pertunangan mereka baru saja terlaksana belum lama, lalu kenapa tidak ada yang bertanya padaku soal undangan pernikahan? Bukankah harusnya mereka bertanya dan meminta pendapat ku juga, ini kan acara pernikahan ku dan Lee Yeol?" Berpikir, Hana terus saja berusaha menyambungkan segala macam hal yang ia tahu dan berkemungkinan memiliki keterikatan dengan beberapa kejanggalan yang ia rasakan. "Apa Hana juga terpaksa melakukan semuanya? Pernikahan ini hanya direncanakan oleh keluarga, bukan Hana ataupun Lee Yeol?" gumam Hana sekali lagi. "Hana?" Gadis itu mendongak, mendapati seorang pemuda dengan kemeja berwarna coklat datang menghampiri nya. "Siapa?" Belum sempat terjawab pertanyaannya, laki-laki tersebut lebih dulu memeluk Hana. Membawa gadis itu ke dalam dekapannya dengan menangis tersedu. "Hana, maafkan aku. Maafkan aku," ucapnya dengan isak tangis. Hana yang melihat hal itu justru mengerutkan kening, ia kebingungan. Apa lagi sekarang? "Maaf? Apa maksudnya?" Pertanyaan itu menguar begitu saja setelah pelukan keduanya terlepas. Padahal sebelumnya Hana hanya ingin mengatakannya lewat hati saja. "Kau melupakannya? Melupakan semuanya?" laki-laki itu bertanya dengan sedikit mengguncang tubuh Hana, membuat gadis itu hanya bisa mengernyit dengan ekspresi canggung. "Jika kau tidak keberatan, bisa kau jelaskan dulu siapa dirimu dan apa maksud dari perkataan mu itu? Maaf, tapi aku benar-benar tidak ingat apapun." Berakting, Hana memutuskan untuk sedikit berbohong soal apa yang terjadi padanya. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, jika bahwasanya ia bukanlah Hana yang sesungguhnya, melainkan seorang gadis lain yang kebetulan rohnya berada di tubuh Do Hana. Lagipula, apa laki-laki di hadapannya ini akan percaya jika ia berkata demikian? Yang ada, ia hanya akan dianggap aneh juga tidak waras seperti tempo hari. "Aku adalah Jisung, sepupu mu. Kita dulu dekat sekali seperti kakak dan adik sungguhan, kau bahkan sering datang ke rumah sekadar untuk memberiku makanan buatanmu yang begitu lezat," buka pria bernama Jisung itu. "Jisung?" beo Hana dengan suara lirih. Jisung mengangguk, ia kemudian mengambil dua tangan Hana dan menggenggamnya erat. "Harusnya aku. Harusnya aku yang dijodohkan oleh keluarga dengan kakak perempuan Lee Yeol, tapi karena keserakahan ku, semuanya menyulitkan dirimu dan keluarga mu," ucap Jisung dengan suara lirih. Tunggu, apa maksudnya? Kenapa jadi Jisung yang harus dijodohkan? Dan lagi, Lee Yeol punya kakak perempuan? "Bisa kau ceritakan seluruhnya? Aku benar-benar kebingungan sekarang, aku ingin tahu semuanya tapi tidak ada yang memberitahu ku soal kebenarannya," pinta Hana dengan sungguh-sungguh. "Kau yakin? Tapi aku hanya mengetahui sedikit, aku pergi setelah keluarga memutuskan untuk menggantikan perjodohan itu denganmu dan Lee Yeol." "Aku yakin, ceritakanlah." *** "Sial! Gadis itu benar-benar menantang ku!" Segelas alkohol itu kembali ia teguk dengan marah, napasnya naik turun seiring dengan suara musik yang terdengar memekakkan telinga. "Kau ini kenapa lagi?" Seorang pria dengan jaket kulit bertanya, ia menepuk baju Lee Yeol yang tengah duduk di depann meja bartender. "Gadis itu benar-benar tidak mau menyerah, ia masih saja bersikeras untuk menikah dengan ku dan melanjutkan perjodohan sialan ini," keluh Lee Yeol penuh emosi. Sang kawan terkekeh, ia kemudian meminum segelas bir yang ada di tangannya sebelum berkata. "Kau hanya melihat dari sisimu saja, Bung. Kau tidak melihat dari sisinya juga. Kaliann sama-sama korban di sini." Alis Lee Yeol menukik, ia melihat ke arah kawannya dengan lamat. "Kau ingat, pernah bercerita padaku jika perjodohan kalian berawal dari sebagai pengganti perjodohan kakakmu dan sepupu gadis itu? Kalian sama-sama terpaksa harus menerima kenyataan ini, tapi kau selalu melihat semuanya dari sisimu saja. Kau selalu merasa hanya kaulah korbannya di sini, padahal gadis itu juga sama." "Jadi maksudmu, aku yang salah di sini?" emosi Lee Yeol mulai terpancing. Sang kawan menggeleng, ia kembali menepuk bahu Lee Yeol pelan. "Bukan begitu, tapi sikapmu sekarang benar-benar kekanakan. Kenapa kau tidak coba bicara baik-baik dengan gadis itu, mengajaknya untuk bekerja sama sambil kau mencari kakakmu yang kabur dengan kekasihnya itu. Mau bagaimanapun juga, kakakmu juga mempunyai tanggung jawab besar atas apa yang terjadi. Jika bukan karena ia yang memilih kabur di hari perjodohan, tidak mungkin kau dijodohkan dengan gadis itu," terang Sang kawan panjang lebar. Lee Yeol terdiam. Apa yang dikatakan temannya memang masuk akal, tapi apa cara itu benar-benar akan berhasil? Jika ia menawarkan kerja sama pada Hana, apa gadis itu tidak akan semakin terbawa perasaan padanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD