Suasana rumah kediaman keluarga Do cukup sibuk pagi itu. Beberapa orang berlalu lalang di sekitaran rumah dengan kesibukan mereka masing-masing.
Hana yang saat itu mulai terbiasa berjalan normal duduk bersandar sambil melihat beberapa pekerja yang tengah memasang bunga hiasan di taman belakang rumah.
Bukan tanpa alasan mengapa di waktu pagi hari sudah begitu banyak persiapan yang dilakukan.
Sebab semalam, lebih tepatnya saat Lee Yeol juga Hana kembali keduanya tanpa sengaja mendengar jika acara pertunangan akan digelar dalam waktu singkat.
Hal itu merujuk pada kondisi Hana yang sepertinya mengalami hilang ingatan. Orang tua Lee Yeol mengatakan jika persiapan yang dilakukan tidak bisa ditunda lagi, karena hal itu akan membuat jadwal pekerjaan mereka menjadi berantakan.
Hana menghembuskan napas kasar. Ia sepertinya mulai sedikit menemukan soal kehidupan macam apa yang dijalani Di Hana selama ini.
Gadis itu terlalu menurut dengan apa yang diberikan untuknya. Ia hanya menjalani kehidupan bagaikan air yang mengalir, ia hanya menurut dengan apa yang dikatakan orang tua ataupun orang di sekitarnya.
"Tapi jika Hana terlalu menurut dengan perkataan orang sekitar, kenapa gadis ini tidak melakukan apa yang dikatakan Lee Yeol?"
Yang Hana maksud dari gumaman nya adalah soal permintaan Lee Yeol yang menginginkan pembatalan perjodohan.
Bukankah jika hal itu terus saja berlanjut, juga akan berakhir buruk mengingat bagaimana perangai Lee Yeol juga sikap arogan dan tatapan benci pria itu padanya.
Hana kembali berpikir, apakah yang dikatakan Lee Yeol adalah benar? Bahwa Do Hana begitu mencintai Lee Yeol hingga enggan untuk membatalkan perjodohan ini.
"Sebenarnya apa alasan Hana terus bertahan menghadapi manusia arogan seperti dia?" gumam Hana sekali lagi.
Baru saja nama Lee Yeol melintas di otaknya, pria itu sudah lebih dulu muncul di hadapannya dengan setelan jas lengkap.
Ia masih saja memasang wajah masam dan menantang ke arah Hana yang justru memasang wajah enggan menanggapi.
"Apalagi yang kau mau? Kau ingin meminta ku untuk membatalkan perjodohan ini?" sergah Hana dengan intonasi malas.
Jujur saja ia mulai malas juga enggan untuk meladeni Lee Yeol saat ini. Menurutnya meladeni pria di hadapannya ini sama dengan membuang-buang waktu.
"Jika kau berpikir begitu, maka aku akan dengan senang hati mengiyakan. Tapi, sayang. Aku ingin mengajak mu untuk berjalan-jalan sore nanti."
Alis Hana naik sebelah saat Lee Yeol justru menyahuti perkataan yang dengan suara lembut. Pria itu juga tersenyum ke arahnya.
Benar-benar aneh.
"Lee Yeol, kau sudah sampai?"
Hana menoleh dan menghela napas kasar. Rupanya pria itu tengah bersandiwara karena ada sang Ayah di belakang tubuh Hana.
Dan sepertinya Tuan Oh tidak mendengar apa yang dikatakan Hana sebelumnya. Hal itu dikarenakan ekspresi pria baya itu yang masih saja tersenyum cerah saat menyambut Lee Yeol.
"Iya, Ayah. Aku baru saja memberitahu Hana jika nanti sore aku akan membawanya berjalan-jalan."
Kini tinggal Tuan Do yang memasang wajah bingung. Pria baya itu menoleh sejenak ke arah Hana sebelum kemudian kembali menatap Lee Yeol.
"Kau yakin akan membawanya berjalan-jalan sore hari?"
Lee Yeol diam, terlihat raut kebingungan di wajahnya. Sementara Hana hanya tersenyum kecil.
"Maksudku, besok sore. Setelah menyelesaikan pekerjaan aku akan secepatnya datang ke mari," jawab Lee Yeol dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Tuan Do mengangguk, pria baya itu kemudian menepuk bahu Lee Yeol pelan.
"Baguslah, Ayah kira kau lupa jika besok adalah hari pertunangan kalian."
"Ahahah, tentu tidak Ayah. Itu adalah hari yang penting," kata Lee Yeol sambil tertawa canggung.
Tidak lama setelah kepergian Tuan Do, terdengar kekehan kecil dari Hana.
"Akting mu benar-benar buruk," ucapnya.
Ia kemudian memilih beranjak dan meninggalkan Lee Yeol sendirian dengan tangan terkepal erat.
***
Suasana kedai mie Nyonya Kang pagi itu cukup sibuk. Beberapa pembeli datang silih berganti tanpa henti, membuat tiga orang yang tengah sibuk melayani merasa cukup kewalahan.
Nyonya Kang yang sejak tadi sibuk meracik mie di dapur menoleh saat Hani -salah seorang teman Soora- datang mendekat.
Gadis dengan rambut kuncir kuda itu mengatakan jika ia akan membantu Nyonya Kang hari ini.
Sementara itu, Jongin yang juga tengah membantu Nyonya Kang berjalan kesana-kemari sembari membawa pesanan. Pria itu juga sesekali datang ke meja pembeli guna mencatat apa saja menu yang akan dipesan.
Pintu kayu itu terbuka, seorang gadis dengan mantel abu-abu datang dengan wajah datar. Ia kemudian duduk di salah satu bangku yang terletak paling pojok.
Ia masih mengawasi bagaimana isi kedai tersebut dengan ekspresi yang agak sulit dijelaskan. Terlihat raut sendu juga sedih disaat bersamaan.
"Permisi, Nona. Silakan menunya."
Seorang pelayan datang sambil membawa buku menu, Hana yang semula tengah melamun kemudian tersadar.
Ia kemudian memesan satu porsi kalguksu kerang pada si pelayan.
Mata Hana masih saja bergelirya kesana-kemari, tentu saja ia mencari keberadaan sang Ibu. Sudah lama ia tidak melihat wanita paruh baya itu.
Rasa rindu yang begitu membuncah sontak luntur seolah terbawa aliran arus air sewaktu dirinya melihat sang Ibu sendiri yang saat ini tengah berjalan ke arahnya dengan nampan berisi beberapa menu pengunjung.
Meski wanita baya itu hanya melewatinya, air mata Hana sudah tidak bisa lagi ia tahan. Rasanya ia begitu bahagia, haru sekaligus sesak disaat bersamaan.
Ia senang dan bahagia bisa kembali melihat sosok paling penting dalam hidupnya. Namun ia juga merasa sesak saat dirinya tidak bisa memeluk wanita itu dan mengungkapkan rasa rindunya.
Kantong mata yang menghitam, juga kerutan di wajah Nyonya Kang sudah bisa memberitahu Hana bagaimana wanita baya itu terlalu bekerja keras.
Jika biasanya dirinya lah yang akan mengingatkan soal hal-hal kecil pada Ibunya, kini tidak ada lagi yang melakukannya.
"Silakan, mie anda."
Kepala Hana mendongak saat ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
Seorang pria dengan kulit agak gelap, postur tubuh tinggi, rambut hitam legam dengan apron coklat yang membalut pinggangnya.
Itu Yoon Jongin, kekasihnya.
Lagi-lagi Hana hanya bisa termangu tanpa bisa mengatakan sepatah katapun dari mulutnya. Hanya ada air mata yang sudah mulai menggenang di pelupuk mata, siap untuk meluncur membasahi pipinya detik itu juga.
Jongin yang merasa diperhatikan menoleh, ia tersenyum dan bertanya apa ada yang diperlukan.
"Maaf, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Hana tersentak. Ia menggeleng dan memilih untuk membuang muka. Menghindari Jongin melihatnya yang tengah menangis saat ini.
Meski pria itu juga tidak menyadari jika dirinya adalah Kang Soora yang terjebak di dalam tubuh Do Hana, namun ia tidak ingin orang yang dicintainya melihatnya dalam kondisi lemah seperti saat ini.
Setelah Jongin meninggalkan meja Hana, gadis itu baru berani untuk menoleh. Ia memperhatikan punggung Jongin yang kemudian berlalu ke arah dapur.
"Aku merindukan kalian. Ibu, Jongin."