Hana tersentak dari sesi melamunnya saat ia baru saja sadar ke mana arah mobil Lee Yeol berjalan.
Bukan, ini bukan jalan ke arah rumah keluarga Do. Kemana pria ini akan membawanya?
“Apa yang kamu lakukan, kamu mau membawa ku kemana?” tanya Hana cepat.
Lee Yeol diam saja, fokusnya masih tertuju pada jalanan di depannya yang tampak lengang.
Hana kian panik begitu jalan yang mereka lewati mulai masuk ke area yang lebih sepi, juga di sekelilingnya yang mulai nampak rimbun dengan berbagai macam pepohonan.
Lee Yeol akan membawanya ke hutan?! Yang benar saja!!
“Cepat turunkan aku, jangan mulai memancing emosiku. Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang!” sentak Hana coba menggeretak.
Sama seperti sebelumnya, tidak ada tanggapan yang berarti dari Lee Yeol. Pria itu masih saja bungkam dan hanya fokus pada kemudinya.
“Lee Yeol, hentikan mobilnya sekarang juga atau aku akan berteriak sekarang!”
Peningkatan, kali ini ada reaksi yang diberikan pria itu. Yah, meski hanya sebuah lirikan yang berdurasi kurang dari tiga detik.
“Lee Yeol!”
“Berisik sekali, bisa diam tidak?”
Pada akhirnya pria itu bersuara. Wajahnya sudah jelas sekali menunjukkan raut kesal. Hei, seharusnya yang merasa kesal itu Hana, kenapa jadi pria menyebalkan itu?
“Jika kau ingin aku diam, hentikan mobilnya sekarang juga!”
Bersamaan dengan bibir Hana yang kembali terkatup, mobil berwarna hitam itu juga terhenti.
“Tunggu apa lagi, turun,” kata Lee Yeol datar.
Si gadis mengedarkan pandangannya, ia tidak tahu di mana mereka sekarang. Sejauh mata memandang yang bisa ia lihat hanyalah pepohonan juga tumbuhan hijau yang terlihat beberapa mulai mengering.
“Daritadi kau terus berteriak minta turun, sekarang aku sudah berhenti jadi turunlah,” katanya lagi.
Hana masih diam, jujur saja ia sudah teramat kesal dengan pria di sampingnya ini. Tapi ia juga tidak tahu di mana mereka sekarang, dan tentu bukan hal bagus jika ia benar-benar turun dan lebih mementingkan emosinya sekarang.
Ia masih cukup sadar untuk tidak membuat diri sendiri dalam masalah lain. Ia tidak ingin tersesat!
Lamunan Hana buyar saat ia mendengar pintu terbuka. Lee Yeol turun lebih dulu, memutar dan membuka pintu bagian penumpang, membuat Hana membulatkan matanya karena kaget.
Lee Yeol benar-benar ingin dia pergi?!
“Turun,” perintahnya.
Gengsi, pad akhirnya Hana turun dari mobil Lee Yeol. Meski sebenarnya ia cukup waspada, tapi ia tidak bisa menunjukkannya sekarang. Ia tidak ingin Lee Yeol berpikir jika pria itu menang sekarang.
“Ikut aku,” katanya kemudian melangkah menjauh.
“Eh, kau tidak jadi meninggalkan ku?” tanya Hana yang tanpa sadar mulai melangkah mengikuti pria di hadapannya.
“Aku bukan orang yang sejahat itu. Lagipula kau tidak akan bisa kembali kalau ku tinggal di sini. Yah, meskipun itu sebenarnya hal bagus, sih.”
Hana hanya bisa menjatuhkan rahangnya, tidak menyangka dengan jawaban yang dilontarkan Lee Yeol padanya. Pria itu benar-benar menyebalkan!!
“Lalu kita mau ke mana?” Hana mencoba meredam emosinya lebih dulu.
Langkah kakinya ia percepat, mencoba mempersempit jarak antara ia dan Lee Yeol karena jujur saja ia mulai merinding.
Ia merasa seperti diawasi oleh sesuatu diantara rimbunan tumbuhan hutan, pun dengan suasana yang mulai sepi saat keduanya mulai berjalan menanjak kian masuk ke dalam hutan.
***
Keduanya terus berjalan sekitar lima belas menit, dan Hana rasa mereka kian masuk ke dalam hutan.
“Woaaahhh.”
Decak kagum itu spontan terucap dari sela bibir Hana saat matanya menangkap sebuah rumah kayu yang ada di hadapannya. Bukan hanya itu, ada sebuah kursi kayu juga ayunan yang menghadap langsung ke arah jalanan di bawah sana.
“Kita bisa melihat matahari terbenam dari sini, dan kalau beruntung kita juga bisa melihat beberapa hewan liar,” kata Lee Yeol memulai pembicaraan.
“Hewan liar?”
Pria itu mengangguk, ia mendudukan diri pada kursi kayu dan menatap jauh ke arah jalanan di bawah sana.
“Katak, belalang liar dan sebagainya.”
Hampir saja rasanya jantung Hana akan lepas dari tempatnya. Ia mengira hewan liar yang Lee Yeol maksud adalah sejenis beruang, harimau atau sejenisnya.
“Omong-omong kenapa kau tahu tempat ini?”
“Jangan banyak tanya, nikmati saja pemandangannya dan lampiaskan emosimu di sini. Kau terlihat buruk saat melihat pasangan itu,” sahut Lee Yeol tanpa melihat ke arah Hana.
Gadis itu tentu tahu siapa pasangan yang dimaksud Lee Yeol. Apa ekspresinya seterlihat itu tadi?
“Lain kali, tutupilah ekspresi mu dengan benar. Untung saja mereka tidak curiga,” ucap Lee Yeol tanpa minat.
Hana mendengkus, ia memilih untuk melihat-lihat sekitar. Suasana di sana masih asri, meski agak menyeramkan.
Rumah kecil yang terbuat dari pohon itu juga terlihat cukup terawat, hanya saja memang terlihat sekali jika sudah cukup berumur.
“Kenapa tiba-tiba sekali kamu membawa ku ke sini?” tanya Hana penasaran.
Lee Yeol diam sejenak, pria itu menoleh menatap lekat ke arah Hana yang berdiri tidak jauh darinya selama beberapa detik.
“Kenapa melihatku, berhentilah menatapku!” sentak si gadis yang merasa mulai risih.
“Tidak ada alasan. Aku hanya tidak ingin membawa seseorang yang dalam mood tidak baik, itu mudah menular dan bisa merusak hariku juga,” sahutnya kemudian.
Hana mendengkus saja, tidak terlalu mengubris jawaban Lee Yeol yang menurutnya tidak masuk akal.
Keduanya sempat terjebak dalam keheningan selama beberapa waktu, saling diam dengan isi kepala mereka masing-masing. Sampai kemudian.
“Aku ingin bertanya,” suara Hana terdengar lebih dulu.
Lee Yeol menoleh, pria itu tidak mengatakan apapun. Hanya diam menunggu sampai Hana kembali menyambung kalimat sebelumnya.
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Do Hana? Oke, mungkin kalian memang dijodohkan dan kau menolak. Tapi terlepas dari itu pasti kalian saling mengenal, bukan. Dilihat dari gelagat juga ekspresimu selama ini, pun dengan kedekatan orang tua kalian sepertinya begitu. Apalagi Nyonya Do juga sempat menanyaimu soal perasaanmu yang sebenarnya pada Hana, beliau sebegitu tidak inginnya memaksakan kehendak pada Hana. Tentu hal itu bisa jadi alasan buatmu untuk menggagalkan perjodohan ini bukan?”
Lee Yeol membuang wajah, pria itu diam selama beberapa saat hanya memperhatikan pergerakan lambat gumpalan awan di atas sana dengan pikiran yang menerawang jauh entah kemana.
“Kau tentu tahu apa yang terjadi antara aku dan dirimu di masa lalu,” sahut Lee Yeol pada akhirnya.
“Tidak, aku tidak tahu. Aku sudah pernah memberitahumu jika aku bukan Hana, maksudku memang secara fisik aku adalah Do Hana. Tapi aku bukan dia, aku adalah Kang Soora,” kata Hana coba menjelaskan.
Ia tahu, mungkin Lee Yeol akan menganggapnya gila atau apapun itu. Tapi sungguh, ia benar-benar ingin tahu.
“Apa kenangan buruk itu sebegitu mengerikannya untukmu, sampai kamu enggan untuk menjalani hidupmu sebagai Do Hana lagi?”
Lee Yeol bergumam lirih sembari menatap ke arah Hana dengan sendu, entah apa yang dipikirkannya sampai pria itu terlihat berbeda dari biasanya.
“Kau bilang apa?”
“Tidak, lupakan saja. Cepat redakan emosimu, lalu kita segera kembali,” sahut Lee Yeol yang kemudian beranjak dari sana.
Hana hanya bisa mendengus, merasa jika sikap Lee Yeol itu seperti bunglon yang berubah-ubah. Dan lagi, ia yakin pria itu baru saja mengatakan sesuatu, tapi apa?