Tirai berwarna putih itu terbuka perlahan. Menampakkan sosok Do Hana yang berbalut sebuah gaun berwarna putih dengan ekor menjuntai di belakangnya.
Gaun dengan model kemben itu memperlihatkan bagian d**a juga leher jenjangnya, rambutnya yang sengaja dibuat model sanggul kian menambah kesan anggun pada penampilannya.
Lee Yeol yang juga memakai setelan tuksedo berwarna serupa spontan bangkit dari duduknya. Sadar atau tidak pria itu agaknya cukup terpesona dengan penampilan gadis di hadapannya ini.
Ia tidak tahu jika Hana bisa terlihat begitu cantik dengan gaun yang terlihat begitu pas membalut tubuh mungilnya, seolah-olah gaun tersebut memang khusus dibuat untuknya seorang.
Mengesampingkan soal bagaimana memukaunya penampilan Do Hana saat ini, ekspresi murung si gadis sontak menarik kembali perhatian Lee Yeol.
Alisnya menukik dengan ekspresi wajah heran. Kenapa? Bukannya sebelumnya Hana masih bersikap menyebalkan, lalu mengapa sekarang ia terlihat murung.
“Maaf, bisa tinggalkan kami berdua sebentar?” kata Lee Yeol pada dua orang wanita yang merupakan staff butik.
Dua karyawan itu mengangguk, membungkuk sejenak sebelum kemudian undur diri. Meninggalkan Lee Yeol yang mulai mendekat ke arah Hana yang masih saja menundukkan kepala.
“Kurasa bunga itu tidak terlalu menarik untuk dilihat terus-terusan,” komentar Lee Yeol dengan sengaja.
Hana mendongak, menatap malas ke arah pria yang menatapnya lekat sebelum membuang pandangan ke arah lain.
“Kau terlihat dalam mood yang kurang bagus,” katanya lagi.
Terdengar hembusan napas kasar dari Hana. Ia menoleh, menatap ke arah Lee Yeol dengan tatapan tajam.
“Kalau sudah tahu, lebih baik kau diam sebelum ku lempar dengan bucket bunga ini,” sahutnya galak.
Bukan Lee Yeol namanya jika akan berhenti saat mendapatkan gertakan remeh dari Do Hana. Pria itu justru terkekeh, berjalan kian dekat dengan dua tangan yang sengaja ia lipat di dalam d**a.
“Gertakan remeh itu sama sekali tidak berguna untukku, latihlah lagi jika ingin melawanku, nona.”
Hana mendengkus, ia benar-benar merasa kesal pada pria di hadapannya ini.
Oh, sebenarnya kekesalannya pada Lee Yeol hanyalah tambahan karena sebelum itu moodnya sudah lebih dulu hancur karena kejadian sebelumnya yang menyangkut soal sang kekasih, Jongin.
“Diamlah, aku malas berdebat denganmu,” kata Hana pada akhirnya.
Gadis itu hampir saja menjerit saat tiba-tiba Lee Yeol naik ke atas sebuah panggung kecil yang memang jadi tempat berdirinya Hana, juga mempersempit jarak antara keduanya.
“Apa yang kau lakukan?!” sentak Hana sembari mendorong kecil tubuh Lee Yeol agar segera menjauh.
“Berfoto, untuk memperkuat sandiwara kita. Jangan berlebihan, aku tidak akan berbuat macam-macam. Lagipula, kamu itu bukan tipeku,” sahutnya enteng.
Ia kemudian kembali mendekat, sebelah tangannya dengan ringan mendarat di bahu Hana yang terbuka, memeluk gadis itu erat-erat.
“Tersenyumlah, mereka mulai mengawasi kita karena suaramu yang terlalu keras,” ujar Lee Yeol lirih.
Hana menoleh ke arah kanan, jelas sekali terlihat dua staff sebelumnya juga si pemilik butik berdiri tidak jauh dari sana. Ketiganya benar-benar mengawasi mereka.
Terpaksa. Hana menatap ke arah kamera ponsel yang sudah mengacung, pura-pura tersenyum meski ia yakin seratus persen senyumnya terlihat aneh dan kikuk.
Tubuh Hana menegang, matanya melotot dengan badan yang tiba-tiba saja terasa kamu saat benda kenyal itu terasa menyentuh bibirnya dibarengi dengan suara shuuter kamera.
“Payah.”
Suara lirih itu kembali menarik kesadaran Hana sepenuhnya, ia menoleh ke arah Lee Yeol yang sudah sibuk dengan ponselnya sendiri.
Pria itu … dia baru saja menciumnya?! Yang benar saja!!
Lee Yeol mencuri kesempatan dalam kesempitan!! Batinnya marah.
“Apa?” tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
Andai saja Soora tidak penasaran dengan kehidupan Do Hana, juga apa motif yang membuat Lee Yeol begitu enggan menjalani perjodohan dengan si gadis Do. Sudah bisa dipastikan pukulan hebat melayang di wajah Lee Yeol yang sudah berani-beraninya dengan lancang menciumnya tanpa ijin.
“Sudah selesai? Bagaimana, kalian suka dengan pakaiannya?” tanya si pemilik butik.
Hana dan Lee Yeol yang berjalan beriringan hanya bisa tersenyum kecil. Tidak lama kemudian pasangan lain menghampiri keduanya, dan tanpa sengaja mata Hana bersirobok dengan sepasang mata milik lelaki itu, Yoon Jongin.
“Bu, sepertinya aku mau gaun yang kemarin saja. Jongin bilang itu bagus,” ucap seorang gadis yang rupanya datang bersama Jongin.
“Yasudah, pilih saja yang kamu suka. Oh, iya. Kenalkan, mereka anak teman Ibu yang Ibu ceritakan kemarin,” sang ibu memperkenalkan Hana juga Lee Yeol.
Hana terdiam, ia mengamati dengan lekat gadis muda di hadapannya ini. Ia memiliki tubuh kecil juga tidak terlalu tinggi. Oke, mungkin sedikit lebih tinggi dibandingkan dirinya.
Ia juga punya kulit putih, rambut hitam legam yang ia biarkan tergerai hingga punggung juga senyum cerah yang menawan.
Apa gadis ini yang bisa dengan mudah menggantikan posisinya di hati Jongin?
“Halo, aku Shin Hari. Orang yang merancang gaun pernikahan kalian,” katanya tersenyum ramah.
Hana tidak langsung menyahut, pandangannya masih fokus ke arah Jongin yang berdiri di samping gadis bernama Shin Hari itu dengan tatapan sayu.
“Fokus!”
Senggolan lirih, juga kata-kata penuh penekanan itu membawa kesadaran Hana kembali. Ia tersenyum canggung, meminta maaf karena melamun dan berterimakasih juga berbasa-basi sedikit mengatakan jika ia menyukai gaun yang Hari rancang untuknya.
Meski begitu, sesekali Hana masih mencuri kesempatan untuk mencuri pandang ke arah Jongin, dan beberapa kali pula ia tertangkap basah tengah mengamati pria itu secara diam-diam.
“Kalau begitu, aku pergi dulu ya, bu. Masih ada beberapa hal yang harus disiapkan,” Hari berpamitan.
Dua orang itu melangkah keluar, diikuti pandangan Hana yang masih saja terpaku ke arah Jongin melangkah pergi.
***
Suasana mobil saat itu begitu hening, hanya terdengar sayup-sayup suara deru mobil dengan sesekali hembusan napas yang berasal dari Do Hana.
“Berhentilah membuang napas keras-keras, kau menganggu konsentrasi ku,” ucap Lee Yeol dengan pandangan lurus ke arah depan.
“Tutup saja telingamu jika tidak mau dengar. Atau kau lipat saja telinga lebarmu itu,” balas Hana ketus.
Ia memilih untuk menyandarkan kepalanya di jendela mobil, mengamati isi jalanan yang terlihat lancar tanpa minat.
“Hei, omong-omong ada apa denganmu? Semenjak melihat anak pemilik butik ekspresi mu jadi seperti manusia tidak punya semangat hidup,” ucap Lee Yeol penasaran.
“Kau tidak perlu tahu. Diam dan jalankan saja mobilnya dengan benar, jangan ganggu aku,” sahut Hana dengan bersungut.
“Aku hanya tidak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu denganmu. Aku malas sekali jika harus terlibat sesuatu hal yang tidak penting.”
“Turunkan aku.”
“Eh? Kenapa?” Lee Yeol terheran dengan permintaan tiba-tiba Hana.
“Turunkan aku! Aku muak sekali mendengar suaramu dan keluhanmu soal perjodohan ini, jika kau tidak suka batalkan saja. Jika kau tidak mau mengatakannya, biar aku yang katakan semua!”
Sungguh, bukan ini yang Hana inginkan. Namun akibat dari rasa marah juga moodnya yang memang sudah jelek dari awal, pun dengan Lee Yeol yang masih saja mengajaknya berbicara. Hal itu membuat kekesalan Hana tidak bisa lagi terbendung dan pada akhirnya meledak.
Ia marah, kesal, merasa terkhianati juga sedih disaat bersamaan.
Bagaimana bisa Jongin dengan mudah mencari penggantinya. Bahkan dulu pria itu mengatakan jika ia tidak ingin menikah jika itu bukan dengan dirinya.
Jadi, semua itu hanya bullshit. Semua hanya kata-kata manis yang akan terlupakan dalam waktu sekejap mata.