Bab 09

1302 Words
Hembusan napas itu terdengar berat, kepalanya menengadah, menatap ke arah langit-langit kamar tidurnya dengan perasaan menggamang. Pikirannya melayang, melalang buana entah kemana, menyisakan raga dengan pandangan kosongnya. Sudah sekitar lima menit lalu Hana tidak merubah posisinya sama sekali. Ia hanya terbaring di atas ranjang dengan kepala yang terbaring di tengah kasur sedang dua kakinya terangkat naik di sandaran kepala ranjang. Sekali lagi ia menghela napas. Tiba-tiba saja ia rindu Ibunya, pun dengan Jongin. Dalam kepalanya ia tengah menerawang, coba menyusun rencana agar bisa bertemu dengan sang ibu juga kekasih hati meski ia sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin. Hana tidak yakin bisa mengendalikan dirinya sendiri juga perasaanya. Hana tidak yakin ia bisa menahan diri untuk tidak langsung memeluk sang ibu dan mengatakan tentang rasa rindunya seperti terakhir kali ia melihat wanita baya itu. Mungkin saat itu ia masih bisa menahan diri untuk tidak sembarangan memeluk Nyonya Kang, tapi ia tidak yakin untuk sekarang. Rasa rindu yang ia pendam rasanya semakin menjadi. Ia tidak bisa lagi menahannya dan ingin segera bertemu. “Bu, Soora rindu,” gumamnya lirih. Setitik air mata turun dari sela mata indahnya yang mulai berkaca. Ia meringkuk, memeluk lututnya sendiri juga membenamkan wajahnya di sana. Rasanya menyakitkan saat kamu merindukan seseorang namun tidak bisa memeluknya karena keadaan yang tidak memungkinkan. Pagi itu Hana menuruni anak tangga dengan lesu, ia benar-benar tidak memiliki semangat untuk menjalani hari ini. “Kau terlihat seperti mayat hidup.” Komentar singkat itu mampu menyita perhatian Hana sepenuhnya. Bibirnya mencibir seketika, begitu melihat siapa orang yang sudah duduk nyaman di meja makan sembari menyantap sarapan pagi dengan damai. Pria yang terlihat santai dengan balutan sweater berwarna coklat s**u dipadukan dengan celana panjang berwarna serupa itu tampak menikmati nasi goreng kimchi di hadapannya dengan santai. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan mengintimidasi Hana yang seolah bertanya apa yang sedang dilakukannya. “Ibumu pagi-pagi sekali sudah pergi untuk menyusul Ayahmu ke Jepang. Dan kau tentu ingat jika hari ini kita akan melakukan fitting pakaian pernikahan?” pria itu menoleh dengan malas. Hana hanya menghembuskan napas kasar. Malas sekali rasanya harus menjawab perkataan Lee Yeol. “Ku pikir kau punya mulut untuk menjawab pertanyaan, ku?” kata pria itu lagi. Hana yang duduk di hadapannya hanya diam sembari satu tangannya dengan terampil memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Lee Yeol berdecak, ia paling tidak suka diabaikan. “Cepat habiskan makananmu. Aku masih punya urusan lain yang lebih penting daripada mengurusi hal konyol seperti soal pernikahan ini,” ucap Lee Yeol ketus. “Jika kau tidak suka, batalkan saja! Jangan meributkan hal yang tidak penting. Lagipun kenapa kita harus benar-benar menjalani fitting pakaian? Pakai saja apa yang ada di butik, malas sekali harus berurusan dengan manusia arogan dan kasar sepertimu. Mood ku jadi hancur,” sahut Hana tidak kalah ketus. “Hei nona, kamu pikir aku senang dengan ini semua? Dan asal kau tahu, pemilik butik yang akan kita kunjungi adalah salah satu teman Ibukku, kau tentu tidak ingin terjadi sesuatu saat hanya salah satu dari kita yang datang ke sana, bukan?” “Yasudah, katakan saja yang sebenarnya pada orang tua kita. Sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang ada di otakmu itu. Jika kamu tidak suka dengan perjodohan ini, batalkan saja. Pun katamu hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan hutang ataupun uang seperti berita yang tersebar luas di luaran sana. Aku …,” Perkataan Hana tertahan saat ia menyadari bagaimana tatapan Lee Yeol padanya saat ini. Pria itu terlihat serius dengan wajahnya yang memerah juga napasnya yang terlihat cepat. Ia sepertinya tengah menahan sesuatu dalam diri agar tidak melakukan sesuatu tindakan bodoh. “Loh, belum pergi?” Keduanya menoleh serempak. Tampak Sean yang baru saja datang dengan satu ikat bunga matahari di tangan, sepertinya ia akan menanam bunga itu di taman belakang. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Itu Lee Yeol yang bertanya. “Bibi memintaku untuk membelikan bibit bunga matahari. Nunna dan Hyung bukannya ada jadwal fitting hari ini?” tanya sekaligus jawab Sean lagi. “Ya.” Jawaban singkat itu keluar dari bibir Lee Yeol seiring dengan pria itu yang menarik tangan Hana dan membawa gadis itu dengan paksa untuk segera mengikutinya. *** Hana menghempaskan tangan Lee Yeol kasar. Matanya memincing, menatap ke arah pria yang saat ini berdiri di hadapannya dengan sengit. “Sikap kasarmu ternyata tidak pernah berubah, ya,” katanya dengan nada sarkas. Lee Yeol hanya memutar bola matanya malas, ia membuka pintu bagian penumpang dan meminta Hana untuk segera naik dengan isyarat mata. Melihat si gadis yang masih diam di tempat, Lee Yeol berdecak malas. Ia mendekat, mendorong pelan tubuh Hana agar masuk ke dalam mobil. Saat itu Hana berniat protes, namun aksinya tertahan saat Lee Yeol lebih dulu membungkukkan tubuhnya ke dalam mobil, hingga kepala mereka mendekat bahkan nyaris bersentuhan. Dalam jarak sedekat ini Hana tentu bisa melihat bagaimana mata jernih berwarna coklat terang itu terlihat begitu indah, pun dengan deru napas Lee Yeol yang terasa di sekitar wajahnya. “Jangan terpesona padaku. Aku melakukan ini karena Sean memperhatikan kita,” bisik Lee Yeol dengan suara lirih. Hana tersentak, Lee Yeol dengan cekatan memasang sabuk pengaman si gadis kemudian berlari ke arah bangku kemudi dan menjalankan kendarannya dengan segera. Dalam perjalanan terasa sunyi. Hana memilih untuk menyandarkan kepalanya di kaca mobil sembari melihat pemandangan jalan, sementara Lee Yeol sibuk dengan jalanan di depannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk tiba di depan sebuah bangunan dengan kesan mewah yang dipenuhi dengan beragam model busana pengantin yang terlihat begitu cantik. Alis Hana mengkerut tatkala Lee Yeol mengulurkan tangan ke arahnya. “Aku tidak punya uang kecil,” katanya malas. Dan pada saat Hana akan membuka pintu, tiba-tiba saja Lee Yeol menarik tangannya, membuat gadis itu kembali ke tempat semula dan menatap si pria geram. “Kau mau mencelakai ku?!” sentaknya keras. “Kita harus keluar bersama-sama juga bergandengan tangan, bersikap mesra meski pura-pura saat di depan mereka. Kita bisa membuat mereka curiga jika kau keluar lebih dulu, bodoh,” semprot Lee Yeol sembari membubuhkan sebuah pukulan di dahi Hana. Membuat wanita itu mendesis dengan mata melirik tajam ke arahnya. “Jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan!” peringatnya. “Terserah!” Seperti perjanjian. Keduanya bersikap baik pasangan sungguhan dengan tangan yang saling menggandeng dengan mesra, juga senyum cerah seolah keduanya adalah pasangan paling bahagia di dunia. “Hai, sudah datang? Mau langsung mencobanya atau mau lihat-lihat dulu. Ya ampun, ternyata kamu lebih cantik jika dilihat secara langsung,” seorang wanita muncul dengan senyum ramahnya. Hana yang mendengar pujian itu hanya bisa tersenyum malu-malu, juga melirik ke arah Lee Yeol yang hanya bisa merotasikan bola matanya malas. “Kami akan lihat-lihat dulu sebentar.” Wanita itu mengangguk, ia kemudian melangkah pergi meninggalkan dua orang itu di sana. “Kau pergilah berkeliling. Pura-pura saja memilih, aku akan menunggu di sana,” katanya sambil menujuk ke arah sofa berwarna putih yang ada di dekat ruang ganti. Hana melengos, langkah kakinya dengan cepat seolah tersihir dan melangkah dengan sendirinya ke arah gaun-gaun cantik itu berada. Ia menatap kagum ke arah beberap gaun yang ia rasa sangat cantik. Ia jadi membayangkan suatu saat nanti ia akan memakai gaun cantik dan berjalan di atas altar dengan digandeng sang ayah dan berjalan menuju Jongin yang sudah menunggunya di depan altar. Gadis itu tersenyum sendiri membayangkan, oh jika saja ada yang melihatnya sekarang. Ia pasti akan dianggap gila. Senyum yang terbit di wajah Hana nyatanya tidak bertahan lama. Tanpa sengaja matanya menatap satu sosok laki-laki yang fiturenya terlihat tidak asing. “Jongin? Sedang apa dia di sini?” gumamnya. Langkah kakinya yang hendak mendekat otomatis berhenti saat tiba-tiba saja seorang wanita berambut panjang mendekati Jongin dengan sebuah senyum merekah, ia kemudian menggandeng pria itu dan menunjukkan sebuah gaun padanya. “Jongin … dia akan menikah? Jongin … apa dia sudah melupakan aku, juga janji kita?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD