Pukul satu siang saat perut Hana berbunyi nyaring. Ia yang saat itu tengah menghabiskan waktu dengan menonton drama sontak memegangi perutnya sendiri.
Gadis itu memilih turun, berjalan ke arah dapur dan mencari stok makanan di sana.
Meski di meja sudah tersaji beragam menu makanan, namun rasanya tidak menyenangkan saat harus makan sendirian tanpa teman.
Dengan malas Hana membuka lemari pendingin. Di sana ia melihat beberapa buah-buahan juga sayuran segar. Dan kemudian ia teringat satu menu yang selalu jadi andalannya tiap kali ia malas memasak.
Dengan telaten Hana mulai memotong beberapa buah, diantaranya adalah pisang, kiwi, strawberry dan beberapa buah lainnya.
Hana juga dengan lihai memetik selada dan membuat saus. Ia berencana membuat salad buah juga sandwich sederhana untuk makan siangnya kali ini, ia rindu dengan makanannya dahulu.
“Nunna sedang apa?”
Suara itu membuat Hana menoleh cepat. Di belakangnya ada Sean yang sudah berdiri melihatnya serius.
“Membuat makan siang,” sahut Hana pendek.
“Memangnya Bibi asisten tidak memasak?”
“Nunna hanya ingin makan ini, kamu mau?”
Tanpa menunggu dua kali, pria muda itu spontan mengangguk dengan senyum yang membuat matanya juga turut tersenyum itu, eye smile.
“Kalau begitu kau harus membantu Nunna untuk menyiapkan ini, bisa tolong siapkan piring saji?”
“Siap, laksanakan!”
Sean memberi hormat layaknya seorang petugas upacara. Pria muda dengan kulit seputih s**u itu kemudian berjalan ke arah rak dan membawa dua piring yang nantinya akan mereka gunakan.
Saatnya makan siang! Meski hanya dengan menu sederhana, namun rasa yang dihasilkan benar-benar terasa begitu memikat lidah siapapun yang mencicipinya.
Ditengah acara makan siang itu, Hana sempat melirik sebentar ke arah Sean yang masih sibuk dengan makanannya. Ia seperti begitu menikmati makanan sederhana yang dibuatkan Hana.
“Sean,” panggil Hana lirih.
Pria muda itu mendongak, mulutnya terlihat menggembung karena makanan. Membuatnya terkihat menggemaskan meski usianya sudah memasuki usia dua puluh empat tahun.
“Kenapa, ada yang ingin Nunna tanyakan?” tanyanya setelah selesai menelan makanan.
Hana diam sejenak. Jujur saja ada, tapi entah mengapa ia malah jadi merasa ragu sendiri.
“Nunna?” Sean melambaikan tangannya di depan wajah Hana yang justru melamun.
“Ah, itu. Apa kau percaya jika aku ini bukan Hana? Maksudnya, secara fisik memang iya aku Hana, tapi apa kau percaya jika yang ada di dalam tubuh ini bukanlah Hana. Kau mengerti maksud ku, kan?” ucap Hana cepat.
Butuh waktu bagi Sean untuk mencerna ucapan yang baru saja keluar dari mulut Hana.
Gadis di hadapannya ini adalah Do Hana, tapi ia juga bukan Do Hana yang sesungguhnya. Apa maksudnya?
“Begini, kau tahu bukan jika sebelumnya aku mengalami kecelakaan dan koma selama satu bulan?”
Sean mengangguk.
“Nah, tidak tahu bagaimana caranya tapi saat aku terbangun aku sudah berada di dalam tubuh Hana. Tapi sebenarnya aku bukan Hana, aku adalah Kang Soora, kau mengerti?”
Sean mengangguk meski sebenarnya ia belum terlalu paham dengan maksud perkataan Hana. Ia masih coba mencerna maksud perkataannya itu.
“Yah, mungkin memang sulit untuk diterima akal sehat dan terdengar tidak masuk akal. Tapi memang begitu adanya. Dan karena hal itu juga aku ingin tahu ada hubungan apa antara Lee Yeol dan Do Hana sebelum perjodohan ini.”
“Hubungan antara Lee Yeol Hyung dan Hana Nunna?” Sean membeo.
Hana mengangguk, pria itu menghela napas sejenak, meletakkan sendok kayu yang sejak tadi dipegangganya dan menatap Hana lekat.
Mulutnya mulai terbuka, menceritakan apa yang ia tahu soal Lee Yeol dan Hana.
“Sebenarnya aku tidak tahu banyak, itu karena aku yang tidak ingin mencampuri urusan kalian berdua. Tapi aku akan bercerita apa yang ku tahu dan menurut sudut pandang ku sebagai orang luar, untuk memvalidasi semuanya Nunna bisa menanyakan sendiri pada Lee Yeol Hyung nantinya,” kata Sean memulai cerita.
***
Mundur ke beberapa tahun kebelakang. Lebih tepatnya saat Hana dan Lee Yeol duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Atas.
Keduanya adalah pasangan kekasih yang terjebak hubungan backstreet dikarenakan permintaan Hana. Gadis itu tidak ingin ada yang mengetahui hubungan mereka sebelum keduanya lulus sekolah, entah apa penyebabnya.
Saat itu bulan Juli yang juga merupakan hari libur musim panas. Hana juga Lee Yeol sudah berjanji untuk bertemu dan berjalan-jalan sembari mencari salah satu novel baru yang jadi incaran Hana kala itu.
Lee Yeol yang sudah siap dengan kemeja berwarna biru cerah dipadukan dengan kaos putih di dalamnya, serta celana berwarna cream serta sepatu berwarna senada menanti sang kekasih dengan sabar.
Sebucket bunga lili yang juga jadi bunga kesukaan Hana sudah siap di tangan, namun sampai beberapa waktu menunggu, gadis itu tidak kunjung datang.
Telepon juga pesan singkat yang ia kirimkan tidak kunjung mendapat balasan satupun, membuat Lee Yeol merasa cemas seketika.
Lee Yeol menghela napas, ia masih saja setia menunggu sampai kemudian seseorang menghampirinya.
Senyum yang semula tercetak di wajah Lee Yeol perlahan luntur tatkala seseorang yang berdiri di hadapannya bukanlah Hana, melainkan salah satu teman mereka yang bernama Jung Jieun.
“Jieun?”
“Kau pasti sedang menunggu Hana, bukan?” kata gadis dengan poni tirai yang menghalangi dahinya itu.
“Bagaimana kau tahu?”
“Ikut aku.”
Tanpa menunggu, tanpa aba-aba tiba-tiba saja Jieun menarik tangan Lee Yeol dan membawanya ke suatu tempat. Lebih tepatnya ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari halte tempat Lee Yeol menunggu.
“Percuma kau menunggunya sampai kapanpun, dia memang tidak berniat untuk menemuimu sejak awal dan lebih memilih untuk bertemu dengan anak laki-laki itu.”
Jieun menunjuk ke arah satu bangku di mana Hana sedang duduk berdua dengan seorang anak laki-laki di sebelahnya. Posisi keduanya yang membelakangi Lee Yeol membuatnya tidak tahu jika anak laki-laki itu ada di sana, menatap ke arah keduanya dengan wajah terluka.
Jadi ini alasannya Hana meminta ia untuk merahasiakan hubungan mereka. Lee Yeol benar-benar marah dan tidak menyangka jika Hana tega melakukan ini semua padanya.
***
“Dan semenjak hari itu hubungan antara Nunna dan Hyung merenggang. Hyung begitu marah pada Nunna tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi hari itu,” sambung Sean mengakhiri ceritanya.
“Memang apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku juga tidak tahu detailnya. Saat itu aku sedang bermain basket dengan teman-temanku, tiba-tiba saja Nunna menyuruhku untuk datang ke taman dan mendengarkan ceritanya, pada mulanya aku merasa aneh dengan sikap Nunna yang tidak biasanya. Dan saat aku mendengar tendangan tong sampah yang berasal dari Lee Yeol Hyung, aku sadar jika terjadi sesuatu.”
“Meski Nunna tidak menceritakan bagaimana detailnya, tapi secara garis besar semua ini karena Jieun.”
“Jieun?” Sean mengangguk.
“Cerita klasik saat Nunna dan Jieun menyukai satu orang yang sama. Dan rupanya Lee Yeol menyukai Nunna juga, tapi dengan berkedok pertemanan Nunna justru merelakan hubungan kalian agar terjadi kesalahpahaman dan membiarkan Jieun mendekati Lee Yeol Hyung,” sambung Sean lagi.
“Tunggu, jadi maksudnya Hana sengaja membuat kesalahpahaman antara ia dan Lee Yeol demi Jieun bisa mendekati Lee Yeol, begitu?” urai Hana yang diangguki Sean.
“Heol, klasik dan bodoh sekali. Kalau aku tidak akan melakukan itu mau sedekat apapun dengan sahabatku,” gumam Hana lirih.
“Lalu setelah itu apa yang terjadi?”
“Tidak tahu. Aku pindah ke Jepang selama dua tahun setelah kelulusan. Dan saat aku kembali hubungan kalian justru kian memburuk bahkan sikap Hyung jadi berubah seratus delapan puluh derajat pada Nunna,” kata Sean lagi.
Jadi, perlakuan Lee Yeol pada Hana kini bukanlah pembawaan asli pria itu. Perangai yang membuat sikapnya begitu keterlaluan juga menyebalkan punya sebab musabab dari masa lalu mereka.
Juga, siapa Jung Jieun sebenarnya?