Bel pintu apartemen Will berbunyi saat ia dan Arthur sedang makan malam bersama.
“Biar aku saja yang buka,” ucap Arthur seraya meninggalkan meja makan.
“Kalau seorang gadis suruh dia menunggu di ruang tengah,” pesan Will, Arthur menghentikan langkah dan menoleh ke arah Will.
“Kau memesannya?” Arthur mengatakan itu dengan menaikkan kedua tangan dan membentuk jarinya dengan tanda kutip.
“Tidak, dia yang mengajakku bertemu dan menawarkan diri, sudahlah... Buka saja pintunya dan jangan ikut campur aku mau bersenang-senang malam ini.” Will mengibaskan tangannya untuk menyuruh Arthur pergi membuka pintu karena bel pintu apartemennya sudah berbunyi dua kali.
“Halo, permisi, saya teman kencan Will, apakah dia ada di dalam?” tanya seorang gadis yang berdiri di depan pintu apartemen Will dengan pakaian yang lumayan minim. Arthur sejenak memerhatikan penampilan gadis itu dari bawah hingga ke atas lalu dia mengangguk.
“Dia ada di dalam, masuklah,” ucap Will lalu kemudian berbalik masuk ke dalam apartemen diikuti oleh gadis itu.
“Kamu tunggu di sini, dia sedang makan malam, dan... Apapun yang terjadi antara kamu dan Will jangan sampai diketahui siapapun.” Arthur menatap gadis itu dengan tatapan sedikit tajam untuk memberi peringatan. Ia tidak ingin ada masalah yang datang dari gadis itu. Gadis itu mengangguk takzim dengan mimik wajah agak takut.
Arthur berjalan ke dapur menemui Will.
“Sebaiknya kau membuat surat perjanjian dengan gadis-gadis yang kau ajak bersenang-senang untuk tidak membeberkan apapun.” Arthur kembali duduk di kursi tempat ia makan tadi.
“Menurutmu begitu?” tanya Will, ia cukup tertarik memikirkan gagasan itu.
“Hanya untuk berjaga-jaga, merek menuntutmu ini dan itu nantinya.” Arthur melanjutkan makannya. Setelah mereka makan malam, Arthur pamit pulang. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya di apartemen Will hanya untuk membereskan kekacauan yang akan pria muda itu perbuat.
Will, menemui gadis yang membuat janji temu dengannya melalui pesan chat. Para gadis yang telah melayani Will di atas ranjang akan membagikan info ke gadis lain jika ingin mendapatkan kesempatan emas itu. Tidur dengan artis papan atas walau hanya sekadar one night stand. Saat Will sibuk menghabiskan malam-malam penuh gairah bersama dengan seorang gadis, Reine justru sibuk menenangkan dirinya.
Ia ingin menikmati waktunya sejenak. Terbebas dari Will yang selama ini hanya memberikan beban padanya, terlepas dari gaji tinggi yang ia Terima dari pekerjaan menjadi manajer pria itu.
“Kamu gak ke apartemennya Will?” tanya Airin begitu melihat Reine tengah bersantai di sofa ruang tengah, minum teh sembari menonton drakor.
“Untuk sementara tidak. Aku libur.” Reine menjawab tanpa melihat Airin yang kini mengernyitkan kening.
“Libur? Tumben libur, ada apa? Will-“
“Iya, aku butuh waktu untuk ambil pekerjaan dengan si bodoh itu.” Reine meminum tehnya, membahas Will membuat tenggorokannya kering. Airin agak tidak mengerti, ia mengambil duduk di sofa yang masih kosong.
“Kamu berencana berhenti?” Airin menduga tetapi ia seolah yakin ke sanalah maksud teman seflatnya itu. Reine mengangguk tetapi lemah. Ia menghela napas, tatapannya ke arah layar televisi tidak lagi menyimak cerita drakor yang ditontonnya.
“Mungkin saatnya bagiku mencari peluang lain dengan agency lain.” Reine hanya berasumsi, tetapi pikiran dan hatinya tidak sejalan. Entahlah, di satu sisi ia masih memikirkan tawaran Arthur. Ia butuh uang untuk membiayai pengobatan ayahnya dan juga untuk hidupnya. Namun, di sisi lain ia tidak tahan dengan sikap Will yang suka seenaknya.
“Jangan buang kesempatanmu ini, Rei, apapun resiko yang kamu hadapi di pekerjaan ini hadapilah. Pikirkan masa depanmu. Kau butuh uang.” Airin memberikan gambaran realistis yang memang dihadapi oleh Reine.
“Aku muak dengan Will.” Reine menghela napas panjang. Ia menghentikan drakor yang ditontonnya saat ini dan memilah milih judul lain tanpa ada niat untuk menonton.
“Kuatkan hati dan tekadmu, semua pekerjaan ada risiko yang harus kita hadapi. Will orang yang sedang memiliki nama besar saat ini di dunia entertainment dan kau ada dibalik kesuksesan yang ia raih saat ini, kau bisa jadikan itu sebagai motivasi, anggap saja tanpa kau Will tidak akan seperti sekarang ini.”
Celotehan Airin yang agak panjang itu terdengar sedikit menghibur Reine yang butuh penyemangat dan hiburan.
“Tapi aku butuh istirahat dari semua ini dan biarkan aku mendapatkannya.”
“Tapi jangan berhenti. Percayalah, kau akan menyesalinya jika kau berhenti,” sambung Airin cepat.
“Kau sudah makan? Biar aku yang masak.” Airin menawarkan. Reine menggeleng lalu Airin segera berlalu ke dapur. Reine kembali memikirkan perkataan Airin tetapi ia belum ingin memutuskan. Ia ingin mengulur waktu dan sejenak menjauh dari Will dan segala urusannya.
Keesokan paginya, Reine memilih untuk pergi sarapan di kafe yang tidak jauh dari flatnya.
“Kau ingin sarapan di luar?” tanya Airin. Reine mengangguk.
“Aku ingin menikmati pagi tanpa kesibukan, sudah lama aku tidak merasakannya,” ucap Reine.
“Pergilah, buat dirimu nyaman dan nikmati waktumu.” Airin mengatakan itu dengan tulus disertai dengan senyuman. Reine balas tersenyum kemudian berlalu. Ia pun berjalan kaki menuju ke kafe yang ada di dekat flatnya.
Ia cukup sering sarapan di kafe itu, sehingga ia cukup dikenal oleh karyawan kafe.
“Hai Rei, seperti biasanya?” tanya sang kasir yang mulai hapal dengan menu favorit yang sering dipesan Reine.
“Sepertinya pagi ini aku ingin yang berbeda, aku punya cukup banyak waktu untuk mencoba menu yang belum pernah aku coba di sini.” Reine tersenyum ke pemuda yang memiliki senyum ramah itu. Setelah memesan, Reine memilih duduk di dekat dinding kaca yang menjadi bagian depan kafe.
Iai membuang tatapan sejenak ke arah jalan raya yang mulai ramai oleh lalu lalang orang dan kendaraan. Aktivitas pagi pun dimulai, tetapi pagi ini ia berjanji akan menikmati waktu liburnya. Musim gugur sudah dimulai, trotoar mulai ditutupi oleh dedaunan yang berguguran dan petugas kebersihan mulai mendapatkan kerja ekstra di musim ini.
Sejenak ia merenungi kehidupannya yang selama ini hanya berkutat dengan pekerjaan. Menjadi manager seorang artis papan atas membuatnya tidak sempat memikirkan kehidupan pribadinya. Ditambah lagi dengan memikirkan kondisi kesehatan sang ayah yang menjadi tanggungjawabnya untuk menyediakan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Aroma pesanannya mengalihkan Reine dari lamunannya. Matanya menatap nampan berisi makanan dan secangkir kopi latte dengan berbinar.
“Terima kasih, semua ini pasti sangat enak,” puji Reine. Sang waiters tersenyum.
“Kau butuh sesuatu yang terbaik dari tempat ini untuk mengembalikan semangatmu,” ucap waiters itu yang merupakan seorang pemuda. Reine tersenyum lalu mulai mengangkat cangkir berisi kopi lattenya saat pemuda waiters itu berlalu dari mejanya. Ia menghirup aroma kopi bercampur krim dan s**u yang khas, dan seketika ia menjadi rileks. Saat rasa minuman itu menyentuh lidahnya, ia benar-benar mendapatkan pagi yang sempurna di hari itu.
***
Tidur pagi Will yang nyenyak harus terganggu dengan suara tangisan seorang bayi. Semalam, setelah menghabiskan malam penuh gairah dengan seorang gadis lain lagi, gadis itu pulang menjelang matahari akan terbit. Will pun melanjutkan tidur setelah gadis itu pergi.
“Apa lagi sekarang? Bayi siapa itu?” gerutu Will yang jelas sekali sangat terganggu dengan suara tangisan bayi itu. Ia menutup kepalanya dengan bantal kepala berharap tangisan bayi itu akan hilang, tetapi nyatanya tangisan itu seolah berada di dekat telinganya.
Will mengerang jengkel, ia membanting bantal yang ada di sekitarnya dan beranjak turun dari tempat tidurnya dengan perasaan gusar. Ia membuka pintu seperti akan mematahkan engeselnya.
“Apa yang-“
Baru saja Will ingin menyemburkan kemarahannya, ia cukup terkejut dengan bayi yang saat ini terbaring di atas sofa nya di ruang tengah sambil menangis. Ia menatap Arthur yang hanya menatap bayi itu dengan bergeming.
“Dia anakmu?” tanya Will ke Arthur yang dijawab Arthur dengan gelengan.
“Aku tidak sebodoh itu untuk menebar benih sembarangan.” Ucapan Arthur agak menyinggungnya. Bayi itu mulai terisak-isak. Will menghela napas panjang dan memijat daerah diantara keningnya.
“Bagaimana dengan kau? Kau yang sering bergonta-ganti teman tidur, mungkin dia anakmu dari salah satu teman tidurmu itu.” Arthur mengeluarkan asumsinya. Will terkejut lalu berkata, “Tidak mungkin, aku selalu memakai pengaman saat melakukannya.”
Arthur berdecak, ia sebenarnya mulai resah dan juga jengkel. Kuat dugaan kalau Will akan mengalami masalah ini akibat dari kebiasannya yang suka gonta-ganti teman tidur.
“Pengaman bisa bocor, tidak ada jaminan untuk selalu aman.” Arthur mengatakan itu seraya berpaling ke arah Will.
“Jadi sekarang bagaimana?” Will bertanya ia bingung karena merasa tidak yakin akan bayi itu kalau itu anaknya. Arthur menekan dahinya dengan perasaan campur aduk.
“Bereskan masalah ini. Jika anak ini terbukti anakmu, kau mungkin akan berakhir.” Arthur berkata seraya berpaling menatap bayi malang itu yang saat ini tengah mengisap salah satu tangannya.
“Apa maksudmu berakhir? Aku yakin dia bukan anakku.” Will berkata agak keras sehingga menyebabkan bayi itu kembali menangis. Karena panik, Will dengan naluriah kemanusiaannya yang masih tersisa mengangkat bayi itu dan menggendongnya. Ia tidak tahu mengapa kemampuan menggendong bayi serta merta ada padanya saat itu. Bayi itu seketika tenang dan hal itu tidak luput dari Arthur.
“Dia anakmu.” Ucapan Arthur mengalihkan perhatian Will dari bayi itu.
“Tidak ada bukti untuk itu dan....”
Will memeriksa bayi itu dan menemukan sebuah amplop putih terjatuh saat menyibak salah satu sisi bedong bayi itu di dalam gendongannya.
Arthur memungut surat itu dan membolak-baliknya sejenak dengan kening mengernyit. Ia beralih menatap Will yang memberinya tatapan untuk segera membuka surat itu. Saat Arthur selesai membacanya di dalam benaknya, ia memberikan surat itu kepada Will.
“Aku tidak bisa mengakui anak ini begitu saja sebagai anakku. Tidak ada bukti.” Will mengatakan keresahannya. Arthur mengangguk lemah. Ia mencoba berpikir untuk menjauhkan Will dari masalah.
“Di surat itu, orang tua bayi ini ingin aku merawatnya karena tidak punya biaya, itu berarti bayi ini bukan bayiku. Namanya Jonah.”
Will berkata lalu menatap bayi yang ada di dalam gendongannya saat ini yang sesekali terisak dan terus mengisap tangannya. Entah mengapa Instingnya bilang bayi itu lapar.
“Sepertinya dia lapar,” ucap Will yang mendapatkan tatapan pertanyaan dari Arthur. Will mengangkat bahu dan mengerti maksud pertanyaan Arthur kenapa dia bisa tahu kalau bayi itu lapar. Lalu, tangis bayi itu kembali pecah. Keduanya seketika panik.
“Aku akan keluar beli s**u dan perlengkapan bayi, tagihannya masuk ke tagihanmu.” Arthur pun berbalik pergi meninggalkan Will yang hanya bisa pasrah dengan situasi yang mengejutkan ini.
Will menghela napas panjang seraya berusaha menenangkan bayi itu. Saat ini ia hanya mengenakan boker tanpa atasan. Berjalan mengelilingi ruang tengah hanya untuk menenangkan Jonah.
“Kira-kira siapa orang tuanya?” tanya Will saat Arthur sudah kembali dan Jonah meminum s**u dari dot yang Arthur beli tadi di pangkuan Will.
“Entahlah, aku menemukannya di depan pintu apartemenmu saat aku hendak pulang. Tidak ada siapapun di sana dan bayi itu menangis di dalam kardus yang dilapisi handuk. Aku ingin melaporkannya ke petugas keamanan tetapi aku berpikir nanti saja karena bayi itu sedang menangis.”
Mendengar cerita Arthur, Will di sembari berpikir. Ia tidak dapat berasumsi apapun saat ini.
“Lalu, bagaimana? Apakah kita harus lapor ke petugas keamanan?” tanya Will. Arthur menatap bayi laki-laki dalam pangkuan Will itu sejenak. Bayi itu sekarang sudah terpejam dengan masih mengemut dotnya. Entah mengapa ia tidak tega.
“Sebaiknya kita bawa ke tempat lain kalau kau tidak mau merawatnya.” Arthur memberi saran.
“Tapi... Orang-orang akan berpikir aku yang tidak bertanggungjawab.” Will melontarkan asumsi dan kekhawatirannya. Bagaimanapun bayi itu sudah berada di tangannya, dan surat dari orang tua bayi itu juga tidak tercantum siapa orangnya.
“Kau akan dapat masalah kalau kau yang merawat bayi itu di sini. Cepat atau lambat media akan tahu. Pokoknya bereskan masalah ini, aku pusing dan banyak kerjaan aku mau pulang.” Arthur menyatakan ia menyerah dan Will dituntut untuk menyelesaikan masalah itu sendiri.
Hari itu, Will libur tidak ada jadwal apapun. Dan Jonah sudah tertidur di dalam box bayi yang dibeli Arthur tadi pagi. Will menatap Jonah yang tertidur nyenyak dan merasa aneh dengan situasi saat ini. Saat ini di dalam kamarnya ada seorang bayi yang bukan bayinya.
Will lagi-lagi menghela napas panjang. Arthur benar, ia akan mendapatkan masalah jika bayi itu ada bersamanya. Ia pun berpikir untuk membawa bayi itu ke tempat lain untuk dirawat orang lain.
“Tapi ke mana?” gumam Will sembari masih menatap Jonah yang tertidur. Ponselnya berdenting menerima pesan masuk dari chat seseorang. Ia beranjak meninggalkan Jonah menuju ke nakas di salah satu sisi tempat tidurnya. Ia membuka chat dari seseorang yang baru saja masuk ke ponselnya. Ajakan untuk melewati malam ini dengan bercinta dari salah satu fansnya tidak membuat Will tertarik untuk saat ini. Isi kepalanya dipenuhi dengan solusi yang harus ia ambil untuk bayi bernama Jonah itu.
Will mengabaikan chat dari salah satu fansnya itu dan beranjak untuk mandi. Ia pun memutuskan untuk membawa Jonah ke panti asuhan. Seusai mandi dan berpakaian, Will mencari panti asuhan yang letaknya tidak begitu jauh dari apartemennya saat ini melalui ponsel.
Arthur meneleponnya sebelum ia berangkat ke panti asuhan.
“Ada apa? Aku akan membawa Jonah ke panti asuhan yang dekat dari sini.”