15. THE SPECIAL ABILITY

2100 Words
Erick dibangunkan dengan paksa, meski tubuhnya belum sembuh total tapi hari ini ia harus melakukan serangkaian tes untuk memeriksa keadaannya apakah layak untuk dilakukan penelitian atau tidak. “Bangun, berdiri lah.” Ujar Rathree pada pemuda itu, Erick mengengerjapkan matanya dengan pelan, menatap ke sekeliling untuk menangkap cahaya yang muncul dari celah-celah jendela yang tertutup gorden. “Bersihkan dirimu, gunakan ini.” tukas Rathree. Ia melempar handuk dan peralatan mandi di atas ranjang, setelah melihat bahwa Erick sudah mendudukkan diri di pinggir ranjang, ia pun melenggar pergi dari kamar itu. Erick menghela napas kasar, ternyata kesialan ini bukan hanya mimpi semata, melainkan ia benar-benar masih terjebak dalam kubangan bahaya. Matanya melirik pada barang-barang yang diberikan Rathree, ada perlengkapan mandi dan juga beberapa set pakaian. Kamar mandi juga ada di dalam kamar ini, ia sungguh tak memiliki akses untuk keluar dari sini. “Hah, bagaimana caraku pergi dari tempat ini?” Erick memikirkan kuliah serta bengkelnya, ia pasti dipecat atau mendapat surat peringatan dari Dosennya jika sampai absen berhari-hari. Semoga saja ia tidak akan lama berada di sini, harapnya. Dengan terpaksa ia pun meraih handuk serta perlengkapan mandi lainnya, mau tak mau ia harus menuruti perintah mereka agar dirinya aman. Selagi mereka tidak membunuhnya, Erick akan berpura-pura patuh sembari mencari celah kelemahan mereka dan memanfaatkan kesempatan tuk kabur. Dengan kaki yang tertatih-tatih Erick memasuki kamar mandi, ruang itu cukup lebar bahkan hampir setara kamar Erick di rumahnya. Ia juga melihat ada jacuzzi di sana, selama kurang lebih tigapuluh menit ia susah payah membersihkan dirinya. Saat luka-lukanya bersentuhan dengan air, maka Erick merasakan perih yang teramat bagai disayat-sayat. Sementara itu di luar kamar, tampak Yoseff, Kevin dan Rathree duduk di sebuah sofa panjang. ‘ “Bagaimana keadaan pemuda itu?” tanya Yoseff pada Rathree. “Lukanya belum sembuh benar, tapi setidaknya ia sudah bisa berjalan karena obat racikan yang kau buat.” Balasnya, Rathree memang menggunakan obat racikan Yoseff untuk dibubuhkan di luka-luka Erick. Obat itu memiliki dosis yang kuat sehingga mempunyai daya sembuh yang cepat, meski begitu obat tersebut tidak disarankan untuk dipakai setiap kali terluka. “Bagus!” Yoseff mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Kevin hanya diam sambil menyimak obrolan dua orang itu. Rathree berdiri dari duduknya, ia akan menemui Erick lagi. “Aku akan melihatnya, persiapkan saja diri kalian agar terlihat ramah dan lebih manusiawi.” Setelah mengatakan hal itu Rathree pun undur diri dari sana. Yoseff hanya terkekeh mendengar ucapan anak buahnya. Ya, setidaknya ia harus berpura-pura ramah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Pintu kamar Erick dikunci dari luar, Rathree lah yang memiliki akses untuk membuka atau mengunci pintu tersebut. Ia masih cukup tau diri, sebelum masuk ke kamar Erick ia mengatakan sesuatu lebih dulu. “Erick, kau sudah berpakaian? Aku akan masuk.” Rathree bukan meminta izin, ia hanya memberi sinyal bahwa dirinya akan masuk. Setelah mengatakan hal itu ia pun langsung masuk ke kamar, dilihatnya Erick sedang memperbaiki kerah kemejanya. Erick memutar badannya untuk melihat Rathree sepenuhnya, tubuhnya sudah bersih, wajahnya juga nampak segar dari sebelumnya. “Yoseff menunggumu di luar, berkenalan lah dengannya karena kau akan bekerja sama dengannya untuk projek ini.” Tukas Rathree. Erick menatap Rathree dengan sengit. “Bekerja sama ‘katamu? Kalian menculikku dan mencelakaiku, kerja sama macam apa yang kau maksud.” Rathree menghela napas kasar, ia menatap Erick dengan malas. “Sudah mengeluhnya? Lakukan saja perintahku,” tukasnya. Rathree pun menarik lengan Erick untuk pergi dari kamar itu, membawa pemuda itu pada Yoseff. Yoseff sudah berdiri, ia tersenyum hangat saat melihat kedatangan Erick. “Hallo, Erick Swan.” Yosef berlagak menyambut pemuda itu, ia juga dengan tidak malunya merentangkan tangan seolah-olah sudah kenal dekat dengan Erick. Pemuda itu menatap tingkah Yoseff dengan sinis, sebelah alisnya menukik tajam karena merasa jijik dengan sikap pria itu. Yoseff terkekeh pelan. “Ahh, rupanya kau memang pemuda yang sulit untuk didekati, tidak apa-apa karena setelah ini kita pasti saling dekat.” Erick tidak menanggapi ucapan Yoseff, ia meneliti pria itu dari atas hingga bawah, Yoseff mengenakan jas lab berwarna putih, ada kacamata yang bertengger di atas hidungnya. “Duduk lah,” Yoseff menunjuk sofa di sana. Erick enggan, tapi lagi-lagi Rathree memaksa dirinya, Rathree mendorong Erick untuk duduk di sana. Kepala Erick rasanya benar-benar ingin pecah saja, wanita kurangajar ini benar-benar keterlaluan! Erick mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia baru menyadari ada Kevin juga di sana. Tangan Erick terkepal dengan erat, otaknya mendidih mengingat siapa Kevin— ya, orang itu lah yang menabrak sepeda Erick dari belakang hingga dirinya terpental ke aspal jalanan. Merasa ada yang memandanginya dengan tajam Kevin pun mendongakkan kepala, ia tersenyum miring sambil melambaikan tangannya pada pemuda itu. “Oh hai, Erick. Kita bertemu lagi, ku harap kau mau memaafkanku.” Kevin tertawa pelan, tidak ada kesan penyesalan saat ia mengatakan maaf. Erick berdecih pelan, tiga orang ini akan ia ingat dengan baik, ingatkan Erick untuk melaporkan orang-orang biadab ini ke pihak berwajib. “Sudah lah Kevin, jangan mengganggu tamu spesial kita.” Sahut Yoseff. “Jadi, Erick, pertama-tama perkenalkan diriku. Aku adalah dr. Yoseff Adams, seorang dokter dan juga ilmuwan peneliti, kau pastinya sudah tahu tujuan kami membawamu ke sini. Aku mendengar bahwa kau menolak tawaran kerja sama ini, maka dengan itu kami terpaksa menggunakan cara ‘unik’ agar bisa membawamu ke tempat ini.” Yoseff mulai berujar, ia memandang Erick dengan ramah dan ada senyuman di sana. Erick berdecih, ia sama sekali tidak tersentuh dengan perkenalan pria itu. “Kau seorang dokter, tapi kenapa melakukan praktik ilegal dan melanggar kode etik kedokteran?” Erick menyentak Yoseff dengan nada yang tidak bersahabat. Yoseff tidak tersinggung ataupun terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Erick, ia memiliki alasan untuk melakukan ini. “Baiklah karena kau adalah rekan kerjaku makan akan ku beritahu alasannya. Aku Yoseff Adams, aku sangat suka menemukan hal-hal baru yang bisa mengubah dunia, selain itu aku juga senang jika namaku dicatat sebagai ilmuwan penemu kemajuan zaman. Mengenai etiket kedokteranku, aku sama sekali tidak peduli, selagi mereka masih menganggapku sebagai dokter maka aku akan bersikap selayaknya dokter di depan mereka. Namun, jika nantinya kedokku terbongkar maka aku sudah siap untuk mendapatkan hujatan dari orang-orang. Yah, sesimpel itu saja.” Yoseff menjelaskan panjang lebar, ia juga tampak santai seolah tidak melakukan kesalahan sedikit pun meski sudah mempraktikkan hal ilegal. Erick memincingkan matanya, dari sorot itu terlihat kebencian yang membara. “Sudah berapa nyawa yang kau korbankan, hah?!” Lagi, Erick kembali menaikkan nada suaranya. Kevin dan Rathree menjadi penonton setia, mereka cukup mendengarkan saja obrolan keduanya. “Tidak banyak, sejauh ini ada tiga yang gagal dan berakhir mati. Adapula satu yang berhasil dan masih hidup, dan beberapa menjadi kecacatan permanen.” ujar Yoseff. Erick membulatkan matanya, tingkat persentase keselamatan penelitian ini termasuk rendah, Yoseff benar-benar keterlaluan, iblis mana pun tidak ada yang bisa menandingi kejahatannya. “Keterlaluan, di mana hati nuranimu? Mereka manusia sama sepertimu yang memiliki hak untuk hidup, kau mengambil nyawa mereka hanya untuk keegoisanmu!” Erick mencecar Yoseff dengan emosi. Namun, pria itu menanggapinya dengan biasa saja. “Aku menawarkan mereka uang, setelah mereka menerima kerja sama ini maka mereka sudah berjanji untuk memasrahkan segalanya termasuk nyawa mereka sendiri. Baru dirimu yang terunik sepanjang sejarah penelitianku, tidak ada yang menolak uang pemberianku selama ini, aku sangat takjub padamu.” Yoseff menjentikkan jarinya, disusul oleh Kevin yang bersiul. “Aku menolak, aku tidak mau mempertaruhkan nyawaku demi penelitian bodoh kalian!” “Sayang sekali kau tidak bisa memilih, saat ini kau sudah ada di sini, tidak ada yang bisa keluar dari sini kecuali kau menyelesaikan tugasmu.” Jawab Yoseff, ia menatap Erick sambil memiringkan kepalanya. Erick menatap ketiga orang di sana dengan seksama, percuma saja jika ia lari dari sini. Pintu keluar pun ia tidak tahu, belum lagi luka-lukanya yang belum sembuh total. Yang bisa ia lakukan hanya lah berpura-pura menurut, setidaknya Erick harus mencoba peruntungan demi keselamatannya. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, dilihatnya mereka satu per satu dengan tatapan menyelidik. “Apa kalian bisa menjamin keselamatanku?” tanya Erick. “Tentu saja, kau adalah obyek paling istimewa, aku tidak akan memperlakukanmu dengan sembarangan.” Balas Yoseff dengan senyuman lebar mengembang. Erick menatap Yoseff dengan lekat-lekat, setidaknya untuk beberapa waktu ia masih bisa aman. “Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Erick setelahnya. Gotcha! “Pertanyaan ini lah yang ku tunggu sejak tadi. Oke Erick, dengarkan aku baik-baik. Hari ini kau akan melakukan serangkaian test pemeriksaan kapan tepatnya kau bisa menjadi obyek penelitian kami.” Balas Yoseff. Erick menimbang-nimbang ucapan Yoseff. Pada akhirnya ia pun menganggukkan kepala pelan. “Baik, aku bersedia menjadi obyek kalian asalkan keselamatanku terjamin,” putusnya. Sebut saja Erick gila karena menerima hal ini begitu saja. Akan tetapi jangan salah paham, Erick memang sengaja menyanggupinya sementara itu ia juga tidak akan tinggal diam. Erick akan pura-pura mengikuti permainan mereka, mencari celah untuk kabur dan juga akan bersaksi atas kejahatan ini. Yoseff langsung berdiri dari duduknya, ie menepuk tangannya dengan girang. “Ini jawaban yang ingin ku dengar, bravo, Erick! Selamat bergabung dengan penelitian kita, ku jamin keselamatanmu akan aman.” Kevin dan Rathree hanya tersenyum kecil, setidaknya mereka tidak perlu melakukan k*******n kedua kalinya untuk membuat Erick mau bekerja sama dengan mereka. “Bukankah cara baik-baik lebih bagus, daripada menggunakan cara kasar, Erick?” Kevin memiringkan kepalanya sambil menatap pemuda itu. Erick membuang muka, ia tak sudi menjawab perkataan orang yang sudah mencelakainya. “Hahaha.. Sepertinya ia masih marah padamu, ahh kau memang menyebalkan Kevin.” Rathree menertawakan nasib Kevin yang mendapat abai dari Erick. Kevin mengendikkan bahunya malas. “Abaikan saja dia, Erick ikut lah denganku.” Yoseff mengajak Erick untuk mengikutinya, Erick pun hanya diam dan mengikuti perintah pria itu. Bernika aulia nur binti bapak basoni “Rathree, kau ikut lah.” Ajak Yoseff pada wanita itu. “Siap, boss!” Kevin menunjuk dirinya sendiri dengan eskspresi memelas. “Apakah hanya aku yang akan ditinggal sendiri? Oh astaga, kalian tega sekali.” Mereka mengabaikan ucapan berlebihan Kevin yang sok mendramatisir. Erick dibawa ke sebuah ruangan yang berisi alat-alat kesehatan lengkap, di sudut ruangan ada sebuah ranjang tunggal. “Baringkan dirimu di sana,” ujar Yoseff. Awalnya Erick ragu-ragu, jantungnya juga berdegup dengan kencang, jujur saja jika seperti ini ketakutannya mulai menghinggapi. Yoseff menaikkan sebelah alisnya, ia paham dengan apa yang dirasakan oleh Erick. “Hari ini kau hanya diperiksa, jangan gugup!” ujarnya. Erick ingin berteriak tepat di depan muka Yoseff, mengatakan bahwa bagaimana ia tidak gugup, jelas-jelas ia sedang mempertaruhkan nyawanya sekarang. Yoseff memberikan kode pada Rathree agar wanita itu membantu Erick agar tetap tenang. “Berbaring lah, tidak akan terjadi apa-apa.” Rathree mendorong tubuh Erick mendekat pada ranjang. Dengan paksaan dari berbagai pihak, akhirnya Erick pun mengikuti saja. Ia tidur di ranjang kecil itu, sementara Yoseff mulai membawa alat-alat laboratnya. Pun dengan Rathree yang mengenakan jas laborat beserta masker, Erick hanya bisa menyembunyikan kegugupannya seadanya. Yoseff menarik satu kursi, ia duduk di samping ranjang Erick. Begitu juga dengan Rathree yang sigap berada di sisi Yoseff. Mula-mula Yoseff mengambil alat tensi, ia akan mengukur tekanan darah Erick. “120/80 mmHg, normal.” Gumam Yoseff. Erick menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya, berkali-kali ia melakukan itu untuk merilekskan dirinya. “Ambilkan jarum suntik dan botol vaksin,” perintah Yoseff pada Rathree. Rathree pun melakukan perintah atasannya itu, ia mengambil satu set alat suntik beserta sebuah vaksin yang ada dibotol kecil. Erick menajamkan penglihatannya, ia tidak tahu zat apa yang akan dimasukkan dalam tubuhnya. “Apa yang akan kau masukkan?” tanya Erick pada Yoseff. “Hanya vitamin agar tekanan darahmu tetap stabil,” ujarnya dengan enteng. Erick tidak mau percaya begitu saja, siapa tahu vaksin itu terdapat racun yang membahayakan nyawanya. “Aku tidak mau!” tukas Erick. “Jangan cemas, percaya padaku bahwa ini hanya vaksin untuk menstabilkan daya tahan tubuhmu.” Tanpa menunggu lama-lama lagi Yoseff langsung menusukkan jarum suntik yang berisi vaksin pada Erick. Erick yang tidak siap pun hanya bisa mendesis pasrah, malang sekali nasibnya. Tak lupa, Yoseff juga mengganti perban luka Erick dengan yang baru. Setelah melakukan serangkaian tes, Erick pun diizinkan untuk kembali ke kamarnya. Erick diantar oleh Rathree menuju ke kamarnya, sesekali ia memegangi bahunya bekas suntikan tadi, masih ada rasa ngilu di titik itu. Sama seperti sebelumnya, Rathree lah yang memegang kendali atas kamar Erick. “Masuk lah, tetap jaga kewarasanmu. Oh ya, sarapan akan ku antar setengah jam dari sekarang!” tukasnya. Setelahnya lagi-lagi Erick didorong oleh Rathree agar masuk ke kamar sepenuhnya, selanjutnya wanita itu mengunci pintu kamar Erick. Erick berdecak kesal. “Sudah berapa kali wanita itu menarik dan mendorongku dalam sehari, s****n!” Dalam hati Erick selalu menanamkan kesabaran tingkat tinggi, yakin takkan lama berada di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD