14. THE SPECIAL ABILITY

2200 Words
Erick mendesis pelan saat luka-luka ditubuhnya terasa sangat nyeri dan perih, tubuhnya benar-benar terasa remuk redam. Kevin benar-benar keterlaluan karena menabraknya dan membuatnya terpental berguling di aspal, bagian yang paling parah adalah luka di lutut dan sikunya, Erick kesulitan bergerak karena luka-luka itu. Sementara itu Rathree dengan sabar merawat luka-luka Erick, seperti saat ini wanita itu menggunakan kapas yang sudah diberikan obat merah pada luka Erick. "Shh.. kalian keterlaluan!" ujar Erick pada Rathree. Ia masih berada di kamar luas itu, hanya ada Rathree di sana. "Simpan saja tenagamu, kau akan lebih marah setelah ini." Rathree menjawab dengan santainya, ia juga masih fokus membersihkan luka Erick tanpa menoleh pada si empunya. Erick menatap Rathree dengan sengit, kepalanya mendidih setiap kali ingat dengan perlakuan jahat mereka. Terakhir, Rathree membalutkan perban pada luka-luka Erick, lalu menatap pemuda itu sambil memiringkan kepalanya. "Aghh.. bisakah pelan-pelan membalut lukanya?!" Erick memekik saat Rathree dengan tidak manusiawi menekan lukanya dengan ketat. "Andai kau mau menerima tawaranku dengan sukarela, maka tidak ada kejadian seperti ini. Sekarang kau hanya perlu menurut dan lakukan semua perintah kami," tukas Rathree dengan raut wajah serius sembari memandangi Erick. Erick berdecih sambil membuang muka, ia tidak sudi tunduk pada mereka. "Kau akan membayar perlakuan ini, polisi akan menangkapmu." Erick berujar tanpa mau susah payah melihat lawan bicaranya. Rathree tersenyum meremehkan. "Ohh ya? Aku akan menunggu polisi datang, sebelum itu, ku pastikan kau tidak akan bisa lolos dari sini." Setelah mengatakan itu Rathree pun beranjak pergi dari kamar tersebut, meninggalkan Erick dengan kesendirian yang bercampur kekesalannya. "Jasper, semoga kau segera menemukan jejakku." harapnya. Sepeda, ponsel, serta tasnya tertinggal di jalan itu, ia berharap agar Jasper mengetahuinya dan segera tahu bahwa dirinya telah dibawa secara paksa. Di ruangan nan luas ini Erick hanya bisa terdiam, ingin kabur pun susah karena tubuhnya sakit ketika digerakkan. Sementara itu di ruangan yang lain, tampak Kevin sedang menemui atasannya, siapa lagi jika bukan Yoseff. "Bagaimana pekerjaanmu, Kevin?" Yoseff duduk di kursi yang membelakangi pria itu. "Aman, aku dan Rathree sudah membawa pemuda itu, ia ada di kamar." balas Kevin. "Apakah ada kendala yang berarti?" tanya Yoseff lagi. Kevin menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya. "Aku terpaksa menabrak Erick karena dia mencoba untuk kabur, tapi Rathree sudah mengobatinya, ia tidak apa-apa." Mendengar hal demikian membuat Yoseff langsung memutar kursinya, ia menatap Kevin dengan serius? "Apa yang kau lakukan? Katakan sekali lagi." Yoseff ingin mendengarnya sekali lagi. "Aku menabraknya, dia terluka." Kevin pasrah jika Yoseff sampai memarahinya karena telah membuat obyeknya terluka. Yoseff memincingkan matanya lalu melemaskan bahunya. "Aku mengerti, kau melakukan itu karena terpaksa. Aku dengar Erick ini memang keras kepala, kau melakukan hal yang tepat." Mendengar jawaban dari Yoseff membuat Kevin tenang, benar dugaannya, Yoseff tidak akan marah jika ia melakukan hal yang tepat. "Terima kasih telah mempercayaiku," ujarnya. "Tetap pastikan tidak ada kecacatan pada obyekku, ia adalah tambang emas kita, jangan sampai ada luka yang akan mengganggu penelitian kita." Tukas Yoseff pada Kevin, Dokter mal praktik dan telah dicabut lisensinya. Kevin tersenyum miring, tentu saja ini bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Kevin undur diri dari hadapan Yoseff, ia melangkah menuju ke arah dapur, di sana juga sudah ada Rathree yang sedang meneguk air mineral yang berasal dari kulkas. Rathree melihat kedatangan Kevin, ia penasaran dengan reaksi Yoseff. "Apa yang dilakukan Yoseff padamu, sebuah pukulan atau tamparan?" Rathree menyindir Kevin. Kevin merapikan kerah kemejanya, ia juga menyenderkan tubuhnya pada pantry. "Ku lihat? Apakah ada luka di tubuhku?" Rathree memincingkan matanya melihat Kevin, tidak ada luka di tubuh pria itu. Melihat kebingungan Rathree sontak saja membuat Kevin terbahak, wanita itu pasti penasaran kenapa Yoseff meloloskan dirinya begitu saja. "Jangan bertanya kenapa, sudah ku bilang aku tidak akan mendapat amukan darinya. Sekarang tugasmu adalah melihat perkembangan kesehatan Erick, agar kita segera bisa meneliti dirinya." Kevin merampas botol air dari tangan Rathree, membuat wanita itu mendengus pelan. "Tanpa kau minta pun aku akan melakukannya," finalnya. Setelah itu Rathree pun melenggang pergi dari dapur, meninggalkan Kevin yang hanya tersenyum tidak jelas. *** Sementara itu di sebuah apartemen sederhana, seorang gadis tengah duduk di kursi, ia menekan tombol panggilan yang ditujukan oleh seseorang. Namun, meski sudah mencoba tiga kali, tidak ada sahutan sama sekali dari seberang telepon sana. "Erick, kau ke mana?!" Ivana, gadis yang ditolong oleh Erick beberapa waktu lalu, ia heran dengan Erick yang tidak menerima panggilannya sama sekali. Ivana akan mengajak Erick datang ke event, tapi pemuda itu malah menghilang. Ivana tidak bisa hanya duduk saja di sini, ia ingin ke rumah Erick memastikan bahwa pemuda itu baik-baik saja. Ia segera menyambar kunci mobilnya, lalu segera keluar dari apartemen menuju ke basement, entah kenapa feeling Ivana merasa tidak enak. Meski ia dan Erick baru kenal selama hitungan hari, tapi keduanya sudah akrab seperti teman lama. Begitu juga yang terjadi di rumah Crisibell, sejak tadi ia belum melihat kepulangan sepupunya. Sampai senja tiba, belum ada tanda-tanda Erick pulang, pencahayaan rumahnya juga sangat gelap pertanda bahwa pemuda itu belum menyalakan lampunya. Crisibell mencoba untuk mendatangi rumah Erick yang berada persis di depan rumahnya. "Rick, kau ada di dalam?" Crisibell mencoba untuk memanggil sang empunya rumah, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Tidak ada sepeda Erick yang terpajang di samping rumah, benar saja sepupunya itu bahkan belum pulang. Di saat bersamaan ada sebuah mobil yang datang, Crisibell melihatnya, di sana ada Ivana yang keluar dari kendaraannya. Gadis itu berjalan menuju rumah Erick dan menemui Crisibell di sana. "Hai Crisibell, apakah Erick ada di dalam?" tanyanya. Crisibell menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak melihatnya sejak tadi, rumahnya juga sangat gelap, ia belum pulang sama sekali." Ivana mengacak rambutnya pelan, sebenarnya ada di mana Erick? Kepala Crisibell dipenuhi dengan praduga yang tidak-tidak, ingatannya kembali pada wanita yang mengaku sebagai peneliti itu. Air muka Crisibell menjadi keruh, ia takut sepupunya dalam bahaya. "Ada apa?" tanya Ivana yang menyadari kekalutan Crisibell. "Aku hanya takut jika Erick dalam bahaya, beberapa hari terakhir ada orang yang menginginkan dirinya." "Menginginkan Erick?" Ivana belum paham dengan ucapan Crisibell. Crisibell mengangguk. "Iya, menginginkan kemampuannya. Ada seorang wanita yang menawarkan Erick kerja sama untuk menjadi obyek penelitian, tapi Erick menolaknya. Jika ku lihat-lihat wanita itu tidak akan mudah menyerah begitu saja pada penolakan Erick, ia pasti merencanakan rencana jahat pada sepupuku itu." Ivana mendengar penjelasan Crisibell dengan seksama, ia menggigit kuku tangannya dengan cemas. Berita tentang penelitian ilegal memang sudah menyebar ke seluruh kota bahkan negeri, bisa saja Erick memang menjadi target mereka. Crisibell menatap Ivana dengan pandangan meneliti, setahunya Ivana adalah keturunan Dexter, bukan tidak mungkin jika gadis itu juga terlibat dengan hilangnya Erick. "Astaga, Erick!" Ivana nampak sekali jika frustasi, ia takut terjadi apa-apa pada teman barunya itu. Crisibell pandai dalam menilik ekspresi seseorang, ia melihat bahwa Ivana benar-benar cemas oleh keadaan Erick, tidak ada kepura-puraan yang ditunjukkan itu. Dengan ini setidaknya Crisibell sedikit bisa mempercayai gadis itu, bahwa Ivana tidka ada sangkut pautnya dengan ayahnya, seperti perkataan Erick kemarin bahwa hubungan Ivana dengan Dexter memang renggang. Untuk membuktikan keseriusan Ivana, Crisibell akan mengujinya dengan satu pertanyaan. "Ivana, kau memiliki nama keluarga Dexter. Bukankah ayahmu seorang pengusaha besar?" tanya Crisibell dengan hati-hati. Sontak saja hal itu refleks membuat Ivana menatap Crisibell dengan pandangan sedih. "Dexter memang ayahku, tapi hubunganku dengannya tidak baik, kami ada masalah." "Ohh, aku turut sedih mendengarnya." Crisibell mengangguk pelan, ini semakin membuatnya tenang. Ya, Ivana memang tidak ada sangkut pautnya dengan kejahatan sang ayah, justru salah satu alasan Ivana membenci ayahnya sendiri karena Dexter sering berbuat jahat, entah itu berlaku curang dalam bisnis, ataupun membunuh nyawa manusia yang tidak berdosa. Ivana tidak tahu saja bahwa perbuatan ayahnya semakin menjadi-jadi, dengan ikut memberi dana penelitian Yoseff sama dengan menyakiti orang-orang yang menjadi obyeknya. Andai Ivana tahu bahwa salah satu obyek ayahnya adalah teman barunya, ia akan langsung melabrak Dexter dan meyumpah serapahi ayahnya sendiri. Selama ini Ivana memang sering menentang kegiatan jahat ayahnya, tapi apalah dirinya, saat itu Ivana hanya gadis remaja yang tidak berani melakukan apa-apa. Berbeda dengan Ivana yang sekarang, ia sudah mandiri dan bisa menghasilkan uang sendiri, jadi jika pun melawan ayahnya, Ivana akan melakukan itu. "Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ivana pada Crisibell. "Kita harus melaporkan hal ini pada kepolisian, tapi kita tidak bisa asal lapor jika belum ada empatpuluh delapan jam sejak kejadian." Crisibell bimbang. Di satu sisi ia ingin segera melaporkan kehilangan Erick pada pihak berwajib, tapi di sisi lain ada ketetapan waktu. Ketika mereka kebingungan dengan langkah apa yang harus dilakukan, tiba-tiba terdengar suara deru mobil lain. Sontak saja Crisibell dan Ivana melihat ke jalanan depan sana, dilihatnya ada mobil patroli polisi. Perasaan Crisibell tidak menentu, kenapa ada mobil polisi datang? Satu polisi keluar dari mobilnya dan berjalan mendekat pada dua gadis itu. "Selamat malam, apakah dari kalian ada yang bernama Crisibell?" tanya polisi itu, terlihat name-tagnya adalah Jasper. "Malam, saya Crisibell." tukasnya. Jasper menatap Crisibell lama sebelum mengatakan apa tujuan kedatangannya. "Saya Jasper, anggota kepolisian kota. Siang tadi Erick menelepon kantor kami untuk meminta perlindungan, saat kami sudah sampai di tujuan, tidak ada Erick di sana, hanya ada sepeda dan beberapa barangnya saja. Dari laporan Erick, saat ini ia tengah diculik oleh sekelompok peneliti ilegal." Jasper menjelaskan panjang lebar dan detail. Sontak saja tubuh Crisibell gemetar, ia juga menutup mulutnya tidak percaya. Benar sekali kecemasannya, orang-orang yang mengincar Erick sudah menculik sepupunya. Begitu pula dengan Ivana, ia sedih mendengar berita ini. Bagaimanapun juga ia dan Erick sudah berteman, pemuda itu memperlakukannya dengan baik, jika terjadi apa-apa pada Erick maka Ivana tidak akan tinggal diam. "Di mana lokasinya?" tanya Ivana cepat. "St. Casablanca, memang Erick sudah pernah membahas kekhawatirannya ini, tapi kami kalah cepat oleh penjahat-penjahat itu." Tercetak jelas raut sesal di wajah Jasper, ia merasa gagal melindungi Erick. Tubuh Crisibell melemas, buru-buru Ivana membawa gadis itu untuk duduk di teras depan rumah Erick. "Nona, kami akan melakukan penyelidikan sesegera mungkin, kami juga akan mengoptimalkan pencarian Erick." Jasper memberitahu berita tentang Erick pada Crisibell karena hanya gadis itu lah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Crisibell hanya bisa menganggukkan kepala pelan. "Tolong lakukan yang terbaik, kami serahkan semuanya pada institusi Anda." ucap Ivana. "Terima kasih atas kepercayaannya, saya permisi." Ivana mengangguk kecil, sedangkan Jasper undur diri dari sana. "Bell? Jangan seperti ini, kita harus bisa ikut mencari keberadaan Erick, tidak bisa hanya tinggal diam saja." Ivana berusaha memberikan dukungan dan motivasi pada Crisibell agar tidak berlarut-larut cemas. "Apa yang harus kita lakukan, Vana?" "Kau tahu rupa penculik Erick?" Crisibell mengingat-ingat lagi wajah Rathree, ia mengangguk pelan. "Bagus, katakan hal ini pada polisi agar memudahkan mereka menemukan pelakunya." *** Di kantor kepolisian, laporan mengenai hilangnya Erick sudah masuk dalam tahap pemeriksaan. Para polisi melakukan rapat darurat, termasuk Ferdinan si kepala kepolisian. Jujur saja ia khawatir dengan pemuda itu, berita tentang kemampuan Erick bocor juga salah satunya karena dirinya, andai saja saat itu Ferdinan bisa menghalau para pemburu berita agar tidak menerobos masuk ke area ini, sudah pasti Erick tidak akan menjadi perbincangan publik. Jasper memasuki ruang rapat, terlihat wajah yang lesuh. "Jasper, bagaimana keluarganya?" tanya Ferdinan. Jasper duduk di sebelah Ferdinan sambil menggeleng kecil. "Sepupuny syok, hanya satu keluarga yang ia miliki." Ferdinan menghela napas pelan. "Baiklah, kita akan memulai rapat ini." ujarnya sambil mengabsen satu per satu anak buahnya yang ikut rapat. "Seperti yang sudah kalian tahu bahwa Erick Swan, pemuda yang membantu kita melaporkan adanya perampok di rumah pensiunan Franc, saat ini ia sedang diculik. Menurut pengakuannya ada penelitian yang menawarkan kerja sama padanya, di era ini banyak penelitian-penelitian ilegal yang mengorbankan nyawa obyeknya. Baru-baru ini ada sebuah keluarga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya, sama seperti kasus Erick, wanita ini juga ditawarin kerja sama oleh mereka. Hanya saja wanita ini secara sukarela mau menjadi obyek penelitian karena iming-iming uang, berbeda dengan Erick yang dipaksa." Ferdinan memulai rapatnya dengan panjang lebar, ia ingin melihat bagaimana ide-ide kreatif dari anak buahnya untuk memecahkan kasus ini. "Bagaimana dengan CCTV di sepanjang St. Casablanca?" tanya Josh. "Ada satu mobil yang ciri-cirinya sama persis seperti penjelasan Erick ditelepon, hanya saja nomor plat kendaraannya dicabut." Jasper mendesah pelan, penculik itu sangat cerdik sehingga mengakalinya. "Kau tidak melihat wajahnya?" tanya Polisi yang lain. Jasper menggeleng. "Sepanjang rekaman CCTV, rupa mereka tidak terlihat jelas karena terhadang oleh kaca film mobil. Mereka juga menabrak Erick di area bebas CCTV, jadi kami kesulitan untuk identifikasi." Josh diam sambil memikirkan sesuatu, ia mencoba untuk mengaitkan masalah ini. "Apa kau tahu keseharian kegiatan pemuda itu?" "Dia pergi kuliah dan pergi ke Bengkel untuk bekerja, hanya itu yang ku tahu." balas Jasper. Josh menjetikkan jarinya. "Kenapa kau tidak memeriksanya di sekitar kampus Erick? Bukan tidak mungkin jika mereka membuntuti Erick mulai dari sana, pasti ada CCTV yang terpasang di area kampus." Ferdinan menepuk pundak Josh. "Ide yang bagus, mulai lah pemeriksaan di kampus Erick, minta rekaman CCTV mereka, aku akan memberikan surat pernyataan agar security kampus mengizinkan kalian." "Jasper, kau minta CCTV di kampus Erick. Sedangkan Lix dan Josh akan melakukan olah TKP." tukas Ferdinan. "Baik, kami akan melaksanakannya!" Operasi penyelamatan Erick harus segera dilakukan, Ferdinan tidak mau ada korban-korban yang menjadi obyek peneliti gila itu. Mereka yang berdalih mementingkan kemajuan era teknologi, dengan menumbalkan nyawa seseorang merupakan tindak kejahatan fatal! Tidak hanya satu dua orang saja yang menjadi korban, tapi sudah berpuluh-puluh. Dengan adanya kasus Erick ini, akhirnya Ferdinan memiliki ruang untuk bisa mendalami kasus peneliti ilegal, karena selama ini mereka selalu dilindungi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD