Yoseff melepaskan jas laboratnya lalu melemparnya dengan asal, ia menatap ke ruangannya yang sudah ada dua orang menunggu di sana.
"Aku menunggumu sejak tadi," seru sebuah suara dari salah satu orang di sana. Raut wajahnya tampak tertekuk masam karena dibuat menunggu selama dua jam, sedangkan si empunya rumah entah ada di mana keberadaannya.
Yoseff terkekeh pelan, ia mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Aku membawa kabar bagus untuk kalian, tentunya aku takkan pulang dengan tangan kosong." Yoseff menimpali.
Kevin, salah satu orang yang menjadi anak buah Yoseff menaikkan sebelah alisnya. "Kabar bagus macam apa yang kau bawa?"
Yoseff merogoh saku kemejanya, ia melempar sebuah kertas yang merupakan cek pemberian dari Dexter beberapa menit lalu.
Sontak saja Kevin dan Rathree pun antusias melihat selembar cek itu, mata mereka membulat kala mengetahui nominal yang tertera di sana.
"Woahh, nominal yang fantastis, siapa yang memberikannya?" tanya Kevin, dulunya ia adalah Dokter tapi dipecat karena melakukan mal praktik.
"Dexter, ia mempercayakan penelitian tentang Erick Swan, untuk kali ini jangan mengecewakannya. Erick akan menjadi pundi-pundi uang beserta penemuan kemajuan ilmuwan kita." Yoseff berkata dengan serius, baginya Erick adalah tambang emas. Selain ia akan mendapatkan uang, nama, citra dan perkembangan dunia penelitian juga akan tersabet olehnya. Anggap saja sekali dayung maka dua tiga pulau terlampaui.
Rathree mengangguk-angukkan kepalanya, tidak heran jika Dexter sangat royal dalam menggelontorkan dana untuk penelitian Yoseff, pria kaya itu memang gila akan hal-hal supranatural seperti ini.
"Rathree, bagaimana pekerjaanmu?" Yoseff melemparkan pandangan pada wanita itu, ia memincingkan matanya.
Rathree menghela napas pelan lalu disusul dengan gelengan kepala.
"Sama seperti sebelumnya, Erick belum setuju bergabung dengan kita, pemuda itu sangat sulit untuk diluluhkan." jawab Rathree sambil mengendikkan bahunya pelan.
Yoseff menegapkan badannya, matanya menyorot pada Kevin.
"Kalian tahu apa yang harus dilakukan, Erick tidak akan pernah mau bergabung dengan sukarela, cara terbaiknya adalah dengan memaksanya." final Yoseff. Seperti sebelum-sebelumnya, meski awalnya obyek-obyeknya menolak tapi akhirnya mereka luluh karena uang.
Namun, melihat dari kegigihan Erick, pemuda itu takkan mau diajak kerja sama dengan cara baik-baik.
Rathree menatap Kevin dengan kepala miring, sejujurnya ia tidak suka melakukan cara kasar, tapi apa boleh buat? Erick memintanya melakukan hal ini.
Kevin menyeringai tipis, masalah menculik merupakan tugasnya, ia sudah sangat handal melakukan hal seperti ini.
"Kapan aku mengeksekusi korbanku, eh?" Kevin menggosok kedua telapak tangannya, matanya juga berbinar cerah.
Rathree memutar bola matanya jengah.
"Besok, lakukan dengan rapi seperti biasanya!" tukas Yoseff, ia sudah tidak sabar menunggu ketersediaan Erick menerima tawarannya. Pemuda itu tidak bisa diajak dengan baik-baik, maka cara ini lah yang tepat untuknya.
"Okey, aku akan melakukannya dengan baik." Kevin menjentikkan jarinya. Setelah dipecat dari dari rumah sakit serta lisensinya dicabut, Kevin menjadi sosok berhati dingin, ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepuasannya sendiri.
***
Seperti biasa hari-hari Erick dipenuhi oleh serangkaian kegiatan yang sama, pagi hari ia akan bangun tidur, berkuliah jika ada jadwal dan siangnya akan bekerja di Bengkel hingga sore.
Erick berjalan menuju ruang kelasnya, di dalam kelas ia tidak melihat Zack, hanya ada Nino di sana. Perasaan Erick mulai tidak enak, jangan-jangan ayahnya Zack tidak selamat?
Degup jantung pemuda itu berdetak tak beraturan, kali ini kemampuannya gagal lagi dalam menyelamatkan seseorang?
"Hahh..." Erick menghela napas pelan. Ia melupakan fakta bahwa dirinya bukan Tuhan, Erick hanya manusia biasa yang tidak bisa mendahului kehendak yang maha kuasa.
Ia memilih untuk duduk di bangku paling sudut, tak berselang lama Dosen pengganti Mr. Fernand datang, pembelajaran pun berjalan baik seperti biasanya. Hanya saja beberapa kali Erick melirik pada bangku samping Nino, biasanya Zack akan duduk di sana, tapi kini bangku itu kosong.
Jam pelajaran bergulir selama tiga jam, setelahnya Dosen pun keluar dari ruang kelas. Erick memberanikan diri untuk menghampiri Nino, karena hanya pemuda itu yang paling dekat dengan Zack.
Nino sedang memainkan sebuah game dari ponselnya, ia tidak menyadari jika Erick berjalan mendekatinya.
"Nino, ada yang ingin ku tanyakan padamu." Jika selama ini Erick tidak pernah berbicara terlebih dulu pada Nino, tapi saat ini ia membutuhkan sebuah informasi dari pemuda yang terkenal playboy itu.
Nino menjeda game ponselnya, ia mendongakkan kepala dan mendapati Erick berdiri tepat dihadapannya. Alis Nino menukik tajam, tak biasanya Erick datang padanya, biasanya pemuda itu sangat menghindari berurusan dengannya.
"Ada apa?" tanya Nino dengan nada suara ketus, ia kesal karena gamenya yang terjeda.
Erick tidak peduli dengan sikap cuek Nino.
"Ada di mana Zack?" Ia langsung blak-blakkan menanyakan keberadaan Zack.
Kening Nino semakin berkerut-kerut, ia terbahak pelan. "Kenapa menanyakan Zack? Apa kau rindu dirundung olehnya?"
"Aku serius, ada di mana dia?" Ekspresi Erick terlihat serius, ia tidak peduli dengan omong kosong Nino.
"Kau lihat sendiri dia tidak ada di sini, Zack tidak mengatakan apapun padaku, puas?!" Nino menyembur Erick dengan nada geramnya.
Erick terdiam mendengar jawaban Nino, sepertinya Zack juga tidak menceritakan hal itu pada Nino. Terlihat sekali jika Nino tidak mengetahui apapun.
Nino menatap Erick dengan sengit. "Sudah lah pergi sana, aku malas melihat wajahmu!"
Tanpa menunggu lama lagi Erick pun pergi dari hadapan Nino, meski dirinya sendiri penasaran mengenai nasib akhir dari ayah Zack.
Nino menatap kepergian Erick dengan pandangan aneh, sejak kapan pemuda itu peduli dengan Zack?
Erick mengambil sepedanya di parkiran, ia mengayuhnya dengan perlahan. Sementara itu di luar kampus, ada sebuah mobil yang sengaja menunggu kepulangan Erick. Ya, siapa lagi jika bukan Kevin dan Rathree.
Mereka memang sengaja menunggu Erick di sini selama kurang lebih sejak satu jam yang lalu, sedikit banyak Rathree mengetahui kegiatan harian Erick, untuk itu lah ia memilih berjaga-jaga di sini.
"Berangkat sekarang!" tukas Rathree.
Kevin pun menancap gas, ia mengikuti Erick dari belakang. Saat pemuda itu melintasi jalanan yang sepi maka Kevin akan melakukan pekerjaannya.
Sepanjang jalan perasaan Erick tidak menentu, berbekal feeling yang kuat ia menoleh ke belakang. Matanya memincing kala melihat sebuah mobil yang tak asing di penglihatannya. Erick mengingat-ingat sekali lagi, itu adalah mobil yang sama seperti yang digunakan oleh Rathree saat mendatanginya beberapa saat lalu.
Erick mulai panik, sepertinya 'cara kasar' yang dimaksudkan oleh Rathree akan segera dilakukan! Ia semakin kencang mengayuh sepedanya, keselamatan Erick berada di ujung tanduk. Sebisa mungkin ia meraih ponselnya yang ada di kantong celana belakang, ia akan menghubungi Jasper.
"Sepertinya dia tahu kalau sedang dibuntuti." ujar Kevin.
"Ya, percepat saja kendaraan ini." jawab Rathree.
Erick memencet tombol panggilan, napasnya memburu seiring dengan kayuhan sepedanya.
"Angkat, Jasper, oh ayolah!" Erick merasa frustrasi karena selama tiga deringan, Jasper belum menjawab panggilannya.
Namun, pada deringan selanjutnya akhirnya terdengar suara Jasper dari seberang sana.
"Hallo?"
"Jasper, ini aku Erick. Tolong aku, orang-orang dari tim penelitian itu sedang mengikutiku, aku takut." Erick berkata dengan satu tarikan napas dan ngos-ngosan.
"Katakan padaku, di mana lokasimu sekarang dan bagaimana ciri-ciri mereka." Jasper sudah siap berada di depan komputer, ia akan mencatat lapiran Erick.
Erick menelan ludahnya dengan susah payah, sesekali ia menolehkan kepala lagi melihat mobil yang membuntutinya.
"Mobil Rubicon hitam, terlihat ada dua orang didalamnya, salah satunya wanita bernama Rathree." Erick mengatakan apa yang ia lihat.
Jasper segera menuliskannya di layar komputer. "Posisimu ada di mana?"
"Ada di St. Casablanca, aku sedang mengayuh sepeda dan dikejar oleh mereka."
"Dengarkan aku baik-baik, cari lah tempat yang ramai, kalau perlu yang memiliki CCTV, aku akan segera mengirimkan timku ke sana."
"Ya, terima kasih."
Erick pun menutup panggilan teleponnya, jalanan ini cukup lengang karena Erick sudah melewati mall, supermarket ataupun tempat-tempat ramai lainnya. Kanan kirinya hanya berupa tebing, hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang.
"Astaga!" Erick menghela napas kasar, kenapa hidupnya semenyedihkan ini.
Kevin menggelengkan kepala pelan lalu berujar, "Tidak ada cara lain, kita harus menabraknya dari belakang agar dia berhenti."
"Kau gila?" Mata Rathree memelotot sempurna. "Bagaimana jika Erick mati, kita yang akan mendapat amarah dari Yoseff."
"Aku sudah memperkirakannya, hanya menabrak dengan pelan tidak akan membuat pahlawan spesial itu mati 'kan?" Kevin tidak memiliki cara mudah lainnya, ia memang kejam dan tidak berperasaan.
"Kau jangan bertindak bodoh, KEVIIINNN!" Rathree berteriak di akhir kalimatnya, saat itu pula bersamaan dengan Kevin yang menginjak pedal dengan dalam-dalam.
"Kencangkan sabuk pengamanmu." tukas Kevin, senyuman menyeringai terbit dari bibirnya.
Rathree memejamkan matanya, ia tidak ingin melihat kegilaan dokter abal-abal di sampingnya ini.
Erick mendengar decitan ban yang cukup keras, menandakan bahwa sang pemilik mobil tengah menancapkan pedal gas kuat-kuat. Benar saja, saat ia menoleh ke belakang dapat dilihat bahwa mobil yang dikendarai oleh penjahat itu sedang melaju kencang ke arahnya.
BRAKK!!
Kevin benar-benar nekat menabrak Erick dari belakang, pemuda itu pun terpental dari sepedanya, tubuh Erick terguling-guling di aspal, ponselnya juga jatuh terlindas ban mobil yang dikendarai Kevin.
Erick merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, matanya berusaha untuk terbuka menatap ke arah langit-langit. Sialnya tidak ada kendaraan lain yang melaju, Erick hanya bersama dua penjahat itu, kali ini nasibnya tidak berjalan dengan mujur.
"Dasar bodoh kau!" umpat Rathree pada Kevin.
Kevin menghentikan laju mobilnya, dengan segera Rathree turun untuk memeriksa keadaan Erick. Dilihatnya seonggok tubuh terkapar di aspal jalanan, deru napas Erick juga lemah. Jangan lupa bahwa terdapat luka lecet di beberapa bagian tubuhnya, Rathree meringis pelan.
Kevin turun dari mobil, ia menatap puas pada korbannya.
"Wow, hebat-hebat!" Kevin bertepuk tangan.
Rathree menyenggol bahu Kevin, merutuki pilihan bodoh rekannya itu.
"Aku tidak mau ikut campur jika Yoseff mengamuk." tukasnya.
Yoseff tidak suka jika obyeknya terluka atau cacat, entah apa yang akan dilakukan oleh bosnya itu ketika tahu bahwa Kevin sengaja mencelakai tambang emasnya.
"Kita lihat saja nanti, ku pastikan kali ini Yoseff justru berterima kasih padaku." Kevin membalas ucapan Rathree dengan santai.
Rathree menghampiri Erick yang sudah tak berdaya, matanya bersitatap dengan milik pemuda itu. Meskipun menyedihkan, tapi Rathree tidak bisa berbuat banyak, ini sudah menjadi pekerjaannya.
"Andai saja kau mau menerima tawaranku dengan cara baik-baik." ujar Rathree.
"Angkat dia ke dalam mobil," ujar Rathree pada Kevin.
"Siap!" balas Kevin.
Tubuh Erick diangkut untuk dibawa ke dalam mobil, ia tidak dapat melawan karena tubuhnya sendiri tidak berdaya. Erick berpikir bahwa ini lah akhir dari riwayatnya, entah akan dibawa ke mana ia sendiri tidak tahu.
Kevin mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, siapa yang dihubungi oleh Erick tadi, orang itu pasti akan segera mendatangi lokasi ini. Kevin tidak mau tertangkap sebelum sukses melakukan penelitian ini.
Beberapa menit setelahnya Jasper benar-benar datang, ia membawa rekan-rekannya sesama polisi untuk menyelamatkan Erick. Namun, sepanjang jalan ini ia belum menemukan keberadaan pemuda itu.
"Turun di sini, kita susur saja dengan jalan kaki." Ia memberikan intruksi pada rekannya yang lain.
"Baik, Pak."
Meskipun masih tergolong muda tapi Jasper telah memiliki kedudukan, ia merupakan kepala tim analisa.
Jasper memiliki tubuh tinggi tegap serta tatapan mata yang tajam, ia berlari menyusuri jalanan ini bersama dengan rekannya.
"Pak, kami menemukan sebuah sepeda yang tergeletak di tengah jalan." ujar salah satu rekan Jasper.
"Kita ke sana," balasnya.
Jasper buru-buru mendatangi lokasi, benar saja ia melihat ada sebuah sepeda tergeletak di tengah jalan tapi tidak ada satu orang pun di sana. Jasper berjongkok didekat sepeda itu, ia memincingkan matanya curiga, dengan analisa yang tinggi ia mampu mengidentifikasinya.
"Bagian belakang sepeda ini ringsek, ada mobil yang menabraknya dari belakang. Darah? Darah ini pasti milik Erick." Jasper bergumam pelan, ia juga mendapati ada titik-titik darah di sana.
Deru napas Jasper memburu, berdecak kesal, ia terlambat menyelamatkan Erick!
"Aghh..." Jasper menggeram tertahan, ia merasa tidak berguna di saat Erick meminta pertolongannya, justr Jasper terlambat.
"Pak, aku menemukan ponsel ini di ambang tebing." Salah satu rekan melapor, ia membawa satu buah ponsel di tangannya.
Jasper mengambil ponsel itu dan memeriksanya, benar saja ada riwayat panggilan Erick terhadap dirinya.
Ini semakin membuat Jasper merasa bersalah, ia mengacak rambutnya dengan asal.
"Cek semua rekaman CCTV sepanjang jalan menuju St. Casablanca, cari mobil yang sudah ku berikan ciri-cirinya. Erick telah diculik oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai peneliti, dia pasti akan dijadikan obyek penelitian." Jasper memberikan intruksi secara panjang lebar, secepatnya ia harus menemukan Erick bagaimana pun caranya.
"Baik, akan kami laksanakan secepat mungkin."
Setelahnya mereka pun mengamankan barang-barang pribadi milik Erick sebagai bukti, kasus hilangnya Erick juga akan masuk dalam penyidikan pihak kepolisian.
Sementara itu di tempat lain, Kevin dan Rathree membawa tubuh tak berdaya Erick untuk masuk ke dalam sebuah bangunan. Di sana adalah rumah sekaligus laboratorium milik Yoseff berada. Erick tidak memiliki daya untuk melawan, ia hanya pasrah dibawa kemana pun karena tubuhnya terasa sakit menyeluruh.
Keduanya membawa Erick ke sebuah kamar, sebelum menjadikannya obyek penelitian, Erick harus sembuh terlebih dulu.
Kamar yang cukup luas dengan d******i warna cokelat terang itu menjadi tempat Erick beristirahat, ia direbahkan pada ranjang yang berukuran king.
"Rawat dia sampai sembuh," ucap Kevin pada Rathree.
Wanita itu mendengus pelan. "Kau yang gegabah kenapa aku yang kena getahnya? Bilang saja kau ini pengecut."
"Lakukan saja, aku akan menemui Yoseff terlebih dulu."
Setelahnya pun Kevin pergi dari sana, meninggalkan Rathree bersama dengan Erick yang terbujur lemah.
"Baiklah Erick, kau harus segera sembuh!" tukas Rathree.