Erick berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang kamarnya, sesekali ia melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul tujuh malam. Ia selalu terbayang-bayang oleh penglihatannya mengenai kematian ayah dari Zack. Jujur saja Erick tidak bisa melupakan bagaimana raut wajah teman sekelasnya itu, nampak sekali jika Zack frustrasi dan sarat akan kesedihan.
Meskipun hubungan Erick dan Zack buruk, tapi Erick tidak sampai hati jika mendengar berita duka dari ayah Zack. Erick tahu betul rasanya kehilangan, ia berharap agar orang-orang tidak merasakan apa yang ia rasakan. Semoga saja Zack tepat waktu untuk menyelamatkan sang ayah.
Erick memilih untuk duduk di pinggiran ranjang, ia menselonjorkan kakinya sambil menatap layar ponselnya. Tiba-tiba saja ia teringat dengan kartu nama yang diberikan Ivana padanya, Erick berpikir tidak mungkin jika Ivana terlibat dengan kejahatan keluarganya.
"Ivana Dexter," gumamnya sambil menatap sepucuk kertas yang menjadi identitas singkat mengenai Ivana.
Jari-jari Erick bergerak untuk mengetikkan angka-angka dari nomor telepon Ivana, keduanya telah berteman, Erick sangat menghargai sebuah pertemanan. Feeling Erick mengatakan bahwa Ivana adalah gadis baik.
Setelah memasukkan nomor Ivana pada kontak ponselnya, Erick berniat menghubungi gadis itu.
Dering pertama belum dijawab, dering kedua pun begitu. Hingga menuju dering ke lima akhirnya ada sebuah suara yang terdengar.
"Hallo."
Tanpa sadar Erick mengulas senyum ketika mendengar suara Ivana.
"Ini siapa? Kalau kau adalah orang suruhan ayahku, maka enyah lah dari muka bumi ini." Suara Ivana melengking hebat di akhir katanya, membuat telinga Erick berdengung.
Erick mengelus telinganya, suara Ivana benar-benar mengganggu gendang telinganya.
"Hallo Ivana, ini aku Erick." Pemuda itu buru-buru meluruskan, takut jika Ivana lebih dulu memutuskan sambungan telepon.
"Kau Erick? Serius Erick?" tanya Ivana.
"Iya, aku mendapatkan nomor teleponmu dari kartu namamu," balasnya.
Terdengar suara hela napas di seberang telepon sana. "Maafkan aku karena sudah berteriak padamu, ku pikir kau adalah orang-orang suruhan ayahku."
Erick mengulas senyum maklum, meski Ivana tidak bisa melihat senyumannya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti." See, Ivana benar-benar anti terhadap ayahnya sendiri.
"Bagaimana harimu tadi?" tanya Ivana, gadis itu juga sedang merebahkan dirinya pada ranjang.
Erick menghela napas berat, hari ini cukup menyedihkan baginya. Merasa bahwa ada yang tidak beres dengan Erick, Ivana pun dapat merasakannya.
"Kau kenapa, apakah ada masalah?"
"Aku melihat kematian seseorang, itu adalah ayah dari teman sekelasku." balas Erick.
"Lalu, apakah kau berhasil menyelamatkannya?" tanya Ivana.
"Aku tidak tahu, itu lah yang menjadi beban pikiranku saat ini. Aku sudah memberitahu Zack mengenai keadaan ayahnya, dan tadi ia langsung menyusul ayahnya, aku berharap agar tidak terjadi sesuatu pada mereka."
"Aku paham, hatimu terlalu emosional saat melihat kematian orang lain."
Keduanya mengobrol melalui telepon cukup lama, Erick dan Ivana membahas seputar aktivitas keduanya secara detail, sesekali saling melempar candaan ringan. Rencananya Ivana akan menghadiri undangan untuk penentuan pemenang lomba, ia mengajak Erick untuk datang bersamanya, tentu saja Erick menyetujui ajakan Ivana.
***
Sedangkan di tempat lain, khususnya di sebuah ruangan mewah yang terdapat banyak sofa berjejeran, di sana ada dua orang pria yang saling duduk berhadapan. Keduanya terpisah oleh meja yang menjadi penghalang, di meja itu juga terdapat dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asapnya.
"Jadi, bagaimana perkembangan penelitianmu? Ku dengar kau gagal lagi dalam mengkloning wanita yang menjadi obyekmu." pria berpakaian santai itu berujar, ia tersenyum miring sembari menatap lawan bicaranya.
Pria yang masih mengenakan pakaian serba putih serta jas labnya pun mendengus kecil, ia paling benci ditatap remeh seperti itu. Namun, nyatanya ia memang menyedihkan.
"Ya, wanita itu memang gagal menjadi obyek penelitianku, tapi aku sudah memiliki penggantinya." Ada nada bangga yang terdengar dari nada pria berjas lab putih itu.
"Yoseff, siapa lagi yang akan menjadi kambing hitam penelitianmu ini? Kau sudah menghabisi banyak nyawa untuk hal yang sia-sia, beruntungnya kau selalu terhindar dari kejaran pihak berwajib."
Ya, pria yang mengenakan jas lab putih itu adalah Yoseff Adams, peneliti yang juga merangkap sebagai dokter di sebuah rumah sakit. Malam ini ia mendatangi seorang koleganya, yang selalu memberikan suntikan dana padanya hanya untuk menyukseskan penelitian yang selalu gagal ini.
Yoseff memperlihatkan sebuah koran pada pria didepannya. "Dexter, coba baca lah berita ini ku yakin kau pasti akan tertarik."
Pria berkacamata usia lima puluh tahun itu membaca koran yang diberikan oleh Yoseff, ia membacanya dengan penuh ketelitian.
Senyuman licik terbit dari bibir Dexter, matanya juga menyorot ketertarikan yang mendalam.
"Erick Swan menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini karena kemampuannya dapat melihat kapan dan bagaimana seseorang mati dalam waktu dekat." Dexter membaca headline berita itu dengan nada yang cukup keras.
Yoseff menjentikkan jarinya. "Bagaimana, tertarik kan?"
Dexter meletakkan koran itu, ia menyilangkan kakinya sambil berpikir.
"Obyek ini sangat menguntungkan jika kau berhasil mendapatkannya. Di zaman yang serba realistis ini sangat mustahil mendapatkan hal-hal supranatural seperti itu, kesempatan emas untukmu meneliti dirinya dan menggandakan sosok Erick Swan." Dexter menatap Yoseff dengan dalam.
Yoseff menganggukkan kepalanya dengan puas, ini yang ia butuhkan, kepercayaan Dexter!
"Saat ini orang-orangku sedang berupaya mendapatkannya karena Erick sulit untuk didekati. Namun, aku akan menggunakan cara kasar jika ia tidak bisa diajak bekerja sama." tukas Yoseff.
"Terdengar mustahil memang, tapi aku penasaran dengan pemuda ini. Ia meramalkan kematian seseorang, bagaimana dan kapan waktunya mati. Lakukan apapun untuk mendapatkannya, setelah itu aku menginginkan DNA dan gennya untuk dikloning, hal satu ini aku tidak akan main-main padamu, lakukan dengan baik tanpa ada kesalahan sedikit pun." Dexter memang penggila hal-hal di luar nalar, ia sengaja bekerja sama dengan Yoseff untuk melakukan penelitian.
"Aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh, Erick adalah obyek yang sangat langka, ku pastikan uangmu tidak akan berakhir sia-sia." Yoseff sangat puas, kini ia tinggal menunggu kabar baik dari Rathree. Apakah pemuda itu bersedia secara sukarela, atau kah harus ada paksaan terlebih dulu?
Dexter menegapkan badannya, ia menyesap kopi itu dengan perlahan. Sorot matanya tersirat akan kebengisan dan kelicikan, ia akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi apa yang diinginkan. Meski salah satu anak serta istrinya keberatan, tapi hal itu tidak akan mengusik ketertarikan Dexter pada hal-hal semacam ini.
Dexter merogoh kantung celananya dan mengambil ponsel, ia harus segera mendapatkan informasi keberadaan putrinya yang selalu menyusahkan dirinya itu. Nama dan citra Dexter akan hancur jika media sampai mengetahui bahwa putri bungsunya kabur dari rumah karena perselisihan keluarga.
"Bagaimana?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Maaf, belum ada kabar sama sekali dari Nona muda." ujar seseorang dari sambungan telepon sana.
Dexter menutup matanya erat-erat sambil mendesis pelan. "Segera temukan anak nakal itu dan seret kembali ke rumah!"
"Baik, Boss."
Setelahnya Dexter pun menutup sambungan telepon dengan sepihak, ia juga meremat cangkir kopinya dengan erat. Sudah kesekian kalinya ia dan putrinya bertengkar, tapi baru kali ini Ivana nekat kabur-kaburan dari rumah. Dexter tidak peduli dengan keadaan Ivana, yang ia pikirkan hanya lah citranya karena keluarganya selalu dikenal sebagai keluarga paling harmonis.
Yoseff hanya memperhatikan kemarahan koleganya itu, masalah keluarga memang rumit!