11. THE SPECIAL ABILITY

2197 Words
Pagi harinya Ivana terbangun lebih dulu, gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sesuai ucapan Erick kemarin ia pun mengenakan pakaian milik mendiang Luisa. Setelahnya Ivana pun ke dapur untuk membuat sarapan, sebagai orang yang menumpang ia harus tahu diri, setidaknya ia harus membuatkan makanan tuk tuan rumah. Ivana membuka belanjaannya kemarin dan juga belanjaan Erick yang telah diletakkan di kulkas, dilihatnya ada nasi instan dan juga beberapa butir telur. Tanpa menunggu lama lagi Ivana langsung mengeksekusi bahan masakan yang ada, ia memasak nasi dan juga menggoreng telur setengah matang. Ivana sudah berperang dengan minyak panas di pagi hari, jika biasanya ia akan dilayani jika berada di rumah mewahnya, tapi kini tidak. Gadis itu sudah mandiri sejak ia memutuskan keluar dari rumahnya, baginya keluar dari rumah sama dengan terbebas dari penjara berlapis emas. "Kau memasak?" Tanpa Ivana sadari sejak beberapa menit lalu Erick sudah terbangun, pemuda itu meluruskan otot-ototnya yang terasa pegal. Tadinya Erick mengenyitkan dahi bingung kala mendengar dentingan bunyi di dapur, setelahnya ia ingat bahwa semalam telah menampung seorang gadis yang hampir menjadi korban perampok. Ivana berjengkit kaget karena suara Erick, hal yang paling menjadi kelemahannya adalah mudah terkejut. "Astaga! untung aku tidak refleks memukulmu dengan spatula." gumam Ivana, gadis itu mengelus dadanya pelan. Erick hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu duduk di kursi yang telah disajikan potongan buah-buahan di meja makannya. "Untuk apa kau melakukan ini semua di pagi buta?" tanya Erick, ia memandangi potongan buah-buahan beserta kelincahan gadis itu ketika menggoreng telur. Ivana meletakkan satu telur ceploknya pada piring, lalu memberikannya pada Erick. "Tentu saja karena aku tahu diri, di sini aku menumpang maka sudah seharusnya melakukan hal yang berguna bagi si pemilik rumah." jawab Ivana, selanjutnya ia kembali memecahkan satu butir telur digoreng untuknya sendiri. "Tidak perlu sekaku itu, aku tidak sekejam itu memperlakukan tamu." jawab Erick dengan santainya. Ia mengambil potongan buah apel lalu mengunyahnya perlahan. Ivana selesai menggoreng, gadis itu pun meletakkan telurnya pada piring. "Nah, sudah selesai, mari kita makan." Ia mengulas senyum lebarnya, tampak sekali jika ia senang tinggal di sini karena Erick adalah pemuda baik. Ya, begitu lah sekiranya Ivana menilai diri Erick meski keduanya baru berkenalan hanya semalam. Pertama-tama Erick menyelamatkan dirinya dari maut, yang kedua memberikannya tempat tinggal, yang ketiga memperlakukannya dengan baik. Di luar sana ada banyak pria-pria kurang ajar akan memanfaatkan momen ini, sebagai seorang gadis, Ivana tentunya memiliki ketakutan pada pria-pria nakal. Namun, Erick berbeda, pemuda itu bahkan tidak tertarik menggunakan kesempatan ini sebagai tindak kejahatan. Erick tersenyum kecil, sarapan pagi ini persis seperti yang sering Luisa hidangkan untuknya. Seperti sebuah takdir mempertemukan Erick pada sosok Ivana karena gadis itu sedikit banyak memiliki kemiripan dengan mendiang sang adik. "Selamat makan," ujar Erick. Ivana mengangkat kepalanya menatap Erick sambil mengangguk tersenyum. "Selamat makan, maaf aku hanya memasak seadanya." "Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih banyak Ivana." Ivana membalasnya dengan anggukan pelan. Keduanya pun sarapan dalam diam, hanya terdengar dentingan beradu antara sendok dan piring. Setelahnya mereka meneguk air mineral hingga tandas, Erick merasa seperti hidup kembali. Setelah kepergian Luisa, ia jarang sarapan dari rumah karena merasa tidak sempat, ia sering melupakan sarapan ataupun makan di luar. "Biarkan saja di wastafel, aku akan mencucinya nanti." ujar Erick ketika melihat Ivana ingin mencuci piring juga, seorang putri dari keluarga konglomerat tidak pantas melakukan hal-hal seperti ini, pikir Erick. "Tidak apa-apa, sekalian saja." balas Ivana, ia memang sangat rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Gadis itu mencuci alat-alat yang digunakan untuk sarapan, termasuk dengan membersihkan teflon dan mangkuk buah. "Apa kegiatan sehari-harimu, Rick?" tanya Ivana sembari membilas sendok dengan air. "Aku berkuliah dan bekerja paruh waktu di bengkel setiap harinya," balas Erick. "Kau mengambil program studi apa?" "Yahh seputar otomotif dan pemesinan," jawab Erick lagi. Ivana sudah selesai membersihkan alat-alat dapur, gadis itu kembali duduk di kursi dan mensedekapkan tangan. "Jadi, hari ini kau akan kuliah dan ke bengkel?" Erick menganggukkan kepalanya. Ivana melihat jam yang melingkar pada tangannya, dilihatnya sudah jam setengah tujuh. "Aku sangat berterima kasih padamu karena telah memberiku tumpangan dan juga menyelamatkanku. Aku akan kembali ke apartemenku, bisakah kita menjadi teman?" Ivana mengusulkan keinginannya untuk berteman dengan Erick, dirasa kepribadian pemuda itu cocok dengannya. "Tentu saja, kita bisa berteman." Erick mengulurkan tangannya, Ivana dengan senang hati menjabat tangan Erick. "Serius kita berteman?" Ivana nampak tidak percaya. "Iya, serius." "Kau adalah orang pertama yang berteman denganku di kala susah, yahh aku memiliki banyak teman tapi mereka hanya akan datang di kala aku senang saja. Ketika aku kesusahan, mereka akan meninggalkanku." Ivana kembali menceritakan kisah hidupnya yang menyedihkan. "Lupakan saja mereka, yang terpenting kini kau sudah terlepas dari pertemanan toksik semacam itu." "Kau benar." Ivana pun bangkit berdiri, ia akan mengemasi sedikit barang-barangnya yang masih berada di kamar Luisa. Ia harus pulang ke apartemen segera karena harus mengikuti event fotografi. Erick menunggui Ivana di depan rumah, dilihatnya sudah ada Crisibell yang sedang menyiram tanaman di seberang sana. "Aku akan pulang, ini kartu namaku dan ada alamat apartemen yang ku tinggali. Jangan ragu-ragu untuk menghubungiku, kita teman sekarang." Ivana keluar dari pintu rumah, ia memberikan selembar kertas yang berisi mengenai sedikit informasi gadis itu. Crisibell menaikkan alisnya melihat seorang gadis yang baru saja keluar dari rumah sepupunya, ia berpikir bahwa Erick akhirnya sudah memiliki kekasih dan membuka hati. Bagus lah kalau begitu, jadi Erick tidak perlu terpuruk lagi karena kesepian. Ivana membuka gerbang rumah Erick, ia melihat ada Crisibell dan menyapa gadis itu. Tak urung Crisibell juga menyapa balik, terlihat bahwa Ivana tipikal gadis yang ramah dan periang. Karena penasaran Crisibell pun meletakkan selang airnya, lalu bergegas mendekat ke rumah Erick. "Rick, itu pacarmu ya? Dia cantik." Crisibell menaik turunkan alisnya menggoda sepupunya. Erick menghela napas pendek. "Bukan, ia adalah gadis yang ku tolong semalam." "Menolongnya, memang kenapa?" Rasa penasaran Crisibell memang tergolong besar, ia harus mendapatkan jawaban atas rasa keingintahuannya itu. Bahkan saat ini Crisibell bergelendotan di gerbang rumah Erick, dagunya ia letakkan pada pagar. Erick menggelengkan kepala pelan, sedikit rasa jahil muncul dari otaknya. "Kau penasaran sekali ya?" tanya Erick sambil terkekeh. Crisibell meniup poninya sambil memutar bola matanya jengah. "Baiklah-baiklah, semalam aku tidak sengaja bertemu dengannya di mini market, aku melihat bahwa akan ada perampok yang membunuhnya. Awalnya aku ingin memintamu agar memberinya tumpangan sementara waktu, tapi kau tidak ada di rumah semalam." Erick menceritakannya dengan detail. "Aku berada di studio semalam dan baru pulang jam empat pagi tadi, piano-pianoku rusak terkena cipratan air hujan." Crisibell menghela napas panjang. Akibat curah hujan yang tinggi, atap studionya jebol dan airnya merembes masuk mengenai koleksi piano-pianonya. "Aku turut berduka mendengarnya." "Jadi, akhirnya kau memberikan tumpangan pada gadis itu?" Erick mengangguk sebagai jawaban. "Aku tidak tega membiarkannya terlunta-lunta, hanya semalam tidak ada salahnya 'kan?" Crisibell mengerti, jadi seperti itu jalan ceritanya, ia pikir Erick membawa kekasihnya pulang. "Tapi ku pikir dia cantik, kalian cocok." "Ck, kita hanya berkenalan semalam, ekspektasimu berlebihan." balas Erick sambil mengendikkan bahunya pelan. "Siapa tahu yang awalnya tidak sengaja justru menjadi jodoh. Omong-omong aku tampak tidak asing dengan wajahnya, apa dia orang penting?" tanya Crisibell. "Kau juga tau ternyata. Yah, dia putri bungsu dari pemilik hotel HOM, keluarga Dexter." jawab Erick. Seketika itu Crisibell membulatkan matanya dengan penuh, ia juga menutup mulut saking kagetnya. Melihat ekspresi berlebihan dari Crisibell membuat Erick berdecak kecil. "Kau seperti mendengar berita bahwa bumi akan berakhir dalam semalam," ujar Erick pada Crisibell. "Kau serius dia anak dari keluarga Dexter?" tanya Crisibell sekali lagi. Erick mengangguk mengiyakan. "Apakah namanya Ivana Dexter?" tanya Crisibell sekali lagi untuk memastikan. "Iya benar," balas Erick. Crisibell menutup matanya sambil mengusap rambutnya dengan asal. "Kau tidak tahu bahwa keluarganya adalah penyumbang donasi bagi penelitian-penelitian ilegal dan semacamnya? Aku sarankan agar kau berhati-hati padanya." Crisibell serius, ia pernah melihat artikel seputar keluarga Dexter yang hobi menjadi sponsor bagi penelitian-penelitian aneh, ia takut jika kedekatan Erick pada Ivana justru membuat sepupunya terjatuh pada jurang bahaya. Erick terdiam mendengar ucapan Crisibell, jika dilihat dari gelagat Ivana sejak semalam sampai pagi tadi memang tak terlihat mencurigakan sama sekali. Gadis itu juga berkata bahwa hubungannya dengan keluarganya sangat buruk, kemungkinan besar Ivana tidak ikut terjerumus seperti orangtua dan saudaranya. "Baiklah, terima kasih atas informasimu, aku akan lebih berhati-hati." tukas Erick. Crisibell pun kembali ke rumahnya, begitu juga dengan Erick yang perlu membersihkan diri untuk datang ke kampusnya. *** Di ruang kelasnya, Erick mengikuti pelajaran dengan baik seperti biasa. Sejak ia memberikan peringatan pada Zack dan teman-temannya, mereka sudah tidak mengganggu Erick lagi. Terlebih ditambah dengan rumor yang mengatakan bahwa Erick mengetahui kematian dosen mereka Mr. Fernand, hal itu semakin membuat Zack segan membuat masalah pada Erick. Erick menjadi populer dan namanya dikenal banyak orang, Zack tidak mau menjadi bulan-bulanan banyak orang jika mereka tahu bahwa selama ini Zack lah yang selalu merundung pemuda itu. Kelas hanya berlangsung selama empat jam saja, setelahnya mereka tidak memiliki kelas selanjutnya. Ini lah yang Erick suka dari kuliahnya, ia tidak harus menghabiskan banyak waktu untuk duduk di dalam ruangan, banyak waktu tersisa yang bisa ia gunakan untuk bekerja di bengkel memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat Erick berjalan di depan kampus, terlihat Zack sedang berjalan mendekati seorang pria paruh baya yang diyakini sebagai ayah dari Zack. Erick sempat bersitatap dengan ayah dari Zack, seketika itu ia menghentikan langkahnya. Lagi-lagi kemampuan Erick menangkap akan adanya kematian yang melanda orang sekitarnya, ayah dari Zack meregang nyawa di sebuah kamar hotel, ada seorang wanita muda di sana. Erick tidak tahu dengan jelas, yang pasti ada sedikit perdebatan sebelum ayahnya Zack ditusuk pisau oleh si wanita muda. "Apa itu temanmu?" tanya ayahnya Zack pada sang anak. Zack mengikuti arah tunjuk ayahnya, ia melihat Erick yang berdiri sambil memandangi ayahnya. Seketika itu otak Zack mencerna satu hal, pasti Erick melihat suatu hal dari mata sang ayah. Merasa bahwa dirinya sudah tertangkap basah memerhatikan ayah dan anak itu, Erick pun memilih untuk pergi dari sana. Ingin memberitahu Zack mengenai keadaan sang ayah, tapi Erick ragu jika Zack akan memercayainya. Erick merekatkan kembali tas gendongnya lalu pergi dari sana. "Zack, ayah ada acara penting di luar kota, kau akan di rumah sendiri dan ini uang untuk kebutuhanmu." Pria yang menjadi ayahnya Zack memberikan beberapa lembar uang pada sang anak. Zack menerima uang pemberian ayahnya dengan ragu-ragu, sementara matanya berusaha mencari-cari keberadaan Erick, ia harus menanyakan hal penting pada pemuda itu. "Ayah mau ke mana? Tidak bisakah untuk kali ini berada di rumah selama beberapa waktu." Zack khawatir, ia mulai menghubungkan sikap aneh Erick dengan rencana kepergian ayahnya. "Tidak bisa, ada hal penting yang harus ku selesaikan." Zack menghela napas pelan, ia pun mengangguk lemah. "Baiklah, kau pulang naik taksi, ayah akan pergi sekarang." Pria itu menepuk pelan bahu anaknya. "Hati-hati." ujar Zack dengan nada pelan. Zack hanya bisa melihat kepergian mobil ayahnya dengan hati was-was, ia tidak bisa menahan ayahnya untuk tinggal. Seketika itu Zack langsung berlari tunggang langgang mencari keberadaan Erick, ia mengarah ke parkiran yang biasanya sering dijadikan tempat sepeda Erick. Namun, kosong, sepertinya pemuda itu sudah pergi dari sana. Zack berlari keluar gerbang kampus, dilihatnya Erick akan menyebrangi jalan, buru-buru Zack semakin mempercepat laju larinya untuk menghentikan pemuda itu. "Erick, tunggu!" Mendengar ada yang memanggil namanya pun membuat Erick urung menyebrang, ia membalikkan badan dan melihat ada Zack yang menuju ke arahnya. "Ada apa?" tanya Erick dengan nada datar setelah Zack sampai dihadapannya. Zack memasang ekspresi seriusnya. "Apa yang kau lihat di mata ayahku? Katakan sebenarnya." Erick sudah menduga akan hal ini, tadi Zack menyadari bahwa ia memperhatikan ayahnya. "Jawab aku, Erick!" Zack memegang kerah baju Erick, ia tidak sabar menunggu jawaban pemuda itu. "Aku melihat kematian ayahmu," tukas Erick dengan sejujurnya. Tangan Zack yang berada di kerah baju Erick pun terlepas, ia menatap sang empunya dengan mata membola. "Kau, kau apa?" Zack mengulangi pertanyaannya meski ia tahu jawabannya. "Aku melihat kematian ayahmu, ia dibunuh oleh seorang wanita muda di sebuah hotel." jawab Erick dengan jujur dan tanpa ditambah atau kurangi sedikit pun. Bahu Zack meluruh, ayahnya yang menjadi kebanggaannya selama ini akan tewas? tidak, itu tidak boleh terjadi. Ibunya sedang berada di rumah sakit, Zack tidak mau kehilangan sosok ayah. Bisa Erick lihat ekspresi sarat akan keputus-asaan di mata Zack. Jika biasanya terlihat bergaya dan sok berkuasa, kini Zack terlihat amat frustrasi. "Apa yang terjadi pada ayahku sehingga ia akan dibunuh?" "Aku melihat bahwa ayahmu dan wanita itu beradu mulut, tanpa diduga-duga wanita itu ternyata menyimpan pisau dari balik bajunya, dan menikam ayahmu." Sejujurnya Erick tidak tega untuk mengatakan hal ini, tapi Zack juga perlu tahu. "Di hotel mana? di hotel mana wanita itu membunuh ayahku?" Suara Zack terdengar parau. "Aku tidak tahu karena yang terlihat hanya lah ruang kamar serba putih." Dalam penglihatan Erick hanya terlihat sebuah ruang kamar besar berwarna putih, ia tidak bisa mendeskripsikan tempatnya secara lebih luas lagi. Tidak ada nama hotel yang tertera dalam penglihatannya, benar-benar tidak ada petunjuk lain. "Arghh tidak mungkin, Ayah..." Zack berlari meninggalkan Erick, terlihat bahwa ia sedang berusaha mencari taksi untuk mengejar kendaraan ayahnya. Sebisa mungkin Zack harus menggagalkan kepergian ayahnya ke hotel tempat kejadian perkara, ia tidak mau kehilangan ayahnya. Erick melihat kepergian Zack dengan sendu, meskipun ia sering mendapat perundungan dari Zack. Namun, rasa sedih juga hinggap dalam hatinya, Erick tahu betul bagaimana rasanya kehilangan sosok ayah, serta semua keluarganya sekaligus. "Berjuang lah, Zack..." gumam Erick, setelahnya ia mengayuh sepedanya lagi menuju ke bengkel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD