Erick membuka lemari esnya untuk menemukan bahan masakan, tapi hanya kekosongan yang terlihat di matanya, pemuda itu menghela napas pelan.
"Hahh.. kosong." Seperti ini lah jika ia hidup sendiri, tak mempdulikan kebutuhan-kebutuhan rumah. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore, ia memutuskan untuk membeli bahan makanan di mini market terdekat.
Erick mengambil mantel tebal miliknya karena cuaca di luar dingin, rintik-rintik hujan semakin lama semakin membuat basah tanah. Awan mulai menggelap meski terdapat semburat oranye, Erick memilih untuk berjalan kaki karena jarak komplek dan minimarkert cukup dekat.
Ia memang tinggal di kawasan komplek ini sudah dari kecil, tepatnya saat orangtuanya masih ada. Kenangan demi kenangan bersama orang-orang tersayangnya tersimpan apik di rumah yang masih ia tinggali hingga saat ini.
Kawasan di sini hanya ramai ketika week end pagi dan malam minggu, selebihnya orang-orang akan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk sampai di minimarket, ia bergegas mencari bahan pokok seperti nasi instan, mi instan, sayur dan buah-buahan. Erick memasukkan barang belanjaannya pada keranjang, saat ia ingin mengambil roti, dilihatnya ada seorang gadis sekitar usia duapuluh tahun sedang memilah-milah snack di rak yang berada di sebelah Erick. Gadis itu menoleh menatap Erick, hanya sesaat tapi Erick bisa melihat pantulan nasib dari gadis itu, akan ada bahaya yang mengancamnya sekitar dua jam yang akan datang.
Gadis itu telah mendapatkan snack yang diinginkan, setelah itu ia berjalan menuju pada kasir. Erick buru-buru menyambar roti dengan asal lalu mengejar gadis itu.
"Nona, permisi." Erick memanggil gadis itu.
Gadis itu menoleh menatap Erick dengan dahi mengernyit. "Ya, ada apa?"
"Bisa kita bicara sebentar?" Di kasir masih ada antrean sekitar dua orang, ia ingin berbicara dengan gadis ini terlebih dulu.
"Apa kita saling mengenal?" tanya gadis itu.
Erick menggeleng pelan. "Kita memang tidak saling mengenal, tapi aku ingin membicarakan tentang keselamatanmu."
Gadis itu berpikir sejenak sambil menatap penampilan Erick dari atas hingga bawah, setelahnya ia melihat ke sudut-sudut ruangan yang terdapat banyak kamera cctv. Tidak ada salahnya ia mengobrol sebentar dengan pemuda itu, setidaknya ada kamera pengawas yang siap merekam jika Erick bermacam-macam, pikirnya.
"Baik, kita bicara di sana." Gadis itu menunjuk sebuah area kosong dalam mini market.
Erick mengikuti langkah gadis itu, dilihatnya penampilan yang modis, masih muda, dan cukup cantik. Sayang sekali jika harus tewas sia-sia di tangan para perampok.
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanyanya.
"Nyawamu dalam bahaya, ada perampok yang akan membunuhmu di jalan menuju pulang ke rumah. Saranku, jangan pulang terlebih dulu, menginap lah di hotel depan mini market ini terlebih dulu, dan baru pulang esok hari." ujar Erick.
Gadis itu melihat Erick dengan bingung, ia mengamati wajah Erick dengan seksama.
"Tunggu dulu, apakah kau adalah Erick Swan?" tanyanya dengan mata membulat lebar.
Erick mengangguk kecil, gadis ini mengenalinya rupanya.
"Apa kau melihat kematianku di tangan perampok?" tanyanya.
"Ya, perampok itu akan membunuhmu ketika ingin merampok tasmu." jawab Erick.
Gadis itu percaya, ia memang sering melihat berita mengenai Erick dan saat ini ternyata soosk pahlawan itu ada dihadapannya.
"Baiklah, aku percaya padamu. Terima kasih sudah memberitahuku mengenai ini."
"Kau percaya padaku begitu saja?" tanya Erick dengan heran.
Gadis itu mengangguk. "Tentu saja, kau adalah pahlawan yang populer baru-baru ini, bagaimana aku tidak mempercayaimu?"
Erick bersyukur, setidaknya berita tentang dirinya bermanfaat bagi orang lain.
"Perkenalkan namaku Ivana Dexter, aku seorang mahasiswi yang juga merangkap sebagai fotografer." Ivana menjulurkan tangannya berharap agar Erick mau menjabatnya, senyuman gadis itu juga terlihat melebar.
Erick menerima jabat tangan Ivana sebagai tanda perkenalan. "Kau sudah tahu namaku, yah Erick Swan."
"Aku akan ke kasir terlebih dulu, setelahnya aku ingin mengbrol banyak denganmu jika kau tidak keberatan." ujar Ivana.
"Ohh, tentu."
Ivana dan Erick mengantre di kasir, setelah itu keduanya keluar dari mini market bersamaan. Erick dan Ivana memilih untuk duduk di depan mini market, terdapat kursi dan meja di sana.
Ivana membuka dua botol teh kemasannya, satunya ia berikan untuk Erick.
"Aku sering melihat berita tentangmu di internet, aku tidak menyangka jika bisa bertemu dan bahkan diselamatkan olehmu." ujar Ivana membuka obrolan, pembawaannya baik dan juga ramah.
"Yah,, aku hanya berusaha untuk menggunakan kemampuanku sebaik mungkin." jawab Erick, ia menyesap teh yang diberikan oleh gadis itu.
Ivana mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan nyawaku, aku tidak tahu lagi bagaimana caraku membalas budi dirimu."
Erick terkekeh pelan. "Tidak perlu sungkan, itu memang sudah menjadi kewajibanku menolong sesama."
Ivana tersenyum mendengar jawaban Erick, dilihatnya pemuda yang berusia dua tahun lebih tua di atasnya itu memang memiliki sifat yang rendah hati.
Ivana menatap seberang mini market, di sana memang ada hotel berbintang tiga. Ia menghela napas pelan, bisa saja ia check-in di sana, tapi identitasnya pasti akan diketahui dan orangtuanya akan memintanya pulang. Ivana baru saja tiba di sini sekitar satu minggu yang lalu karena kabur dari rumah, ia malas karena permintaan orangtuanya yang menurutnya aneh.
"Erick, apa kau tahu penginapan biasa di sekitar sini? Aku tidak bisa tinggal di hotel karena identitasku pasti akan terlacak." ujarnya.
Erick membulatkan matanya terkejut, otaknya mulai mencerna pemikiran yang tidak-tidak.
"Apa kau adalah DPO?" tanya Erick.
Ivana menepuk pelan dahinya. "Apakah wajahku seperti penjahat, eh?"
Erick menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa tidak enak hati karena telah menuduh Ivana.
Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan, ia berbisik di telinga Erick. "Aku kabur dari rumah karena marah pada orangtuaku, mereka selalu mengatur-ngatur kehidupanku meskipun aku sendiri tidak menyukainya."
"Kenapa begitu? bukankah seharusnya kau senang karena masih bisa mendapat perhatian dari mereka?" Membahas mengenai orangtua membuat Erick sedikit emosional. Ia menyayangkan aksi kabur-kaburan Ivana, gadis itu belum merasakan bagaimana pedihnya ditinggal oleh orangtua.
Ivana mengibaskan tangannya. "Orangtuaku tidak seperti orangtua pada umumnya, mereka egois dan hanya mementingkan citranya saja."
Erick yang pada dasarnya selalu cuek dan tak mau ikut campur dengan urusan orang lain pun kini dibuat penasaran dengan kisah hidup Ivana, gadis itu terlihat unik dimatanya.
"Aku adalah anak bungsu, dua kakakku laki-laki. Mereka selalu membangga-banggakan anak laki-laki dan menganggap bahwa anak perempuan hanya menyusahkan saja. Meski begitu, ayah dan ibuku selalu bertindak bak orangtua yang baik bagi ku, mereka akan tersenyum lebar di depan kamera dan mengatakan bahwa mereka mencintaiku. Belum lagi dengan aturan-aturan rumah yang semakin rumit, mereka membatasi ruang gerakku hanya karena aku anak perempuan." Ivana bercerita panjang lebar mengenai keluarganya.
Erick berpikir bahwa Ivana tidak berasal dari keluarga biasa-biasa saja. "Apa keluargamu merupakan orang penting?"
"Dimataku mereka bukan orang penting, tapi di mata masyarakat mungkin iya. Mereka adalah pasangan Dexter, yang memiliki hotel HOM. Maka dari itu aku sangat menghindari penginapan seperti hotel-hotelan karena bisa saja mereka dan orangtuaku saling mengenal, orangtuaku pasti akan menyeretku pulang ke rumah karena sudah kabur-kaburan. Bahkan media saja sudah mencium kabar kepergianku dan itu membuat citra mereka yang selama ini dibangun dengan baik bisa runtuh." Lagi, gadis itu menceritakan kisah hidupnya pada Erick yang notabennya hanya lah orang asing yang baru saja bertemu.
Erick tercengang mendengar latar belakang keluarga Ivana, benar saja gadis itu ternyata bukan orang sembarangan. Setahunya, keluarga Dexter merupakan termasuk orang-orang terkaya di negeri ini.
"Kau sudah mendengar kisah hidupku yang menyedihkan ini, kau juga telah menyelamatkanku dari perampok. Jadi, ku harap kau bisa mencarikan tempat tinggal sementara untukku selama aku belum bisa pulang ke apartemen." Ivana mengedipkan matanya, memohon pada Erick agar dicarikan tempat tinggal.
"Sulit menemukan penginapan dadakan malam hari, bagaimana jika kau tinggal di rumah sepupuku karena kalian sama-sama wanita?" tanya Erick.
"Boleh, aku akan membayar tagihan inapnya, jangan khawatir." Ivana tersenyum lebar, baru kali ini ia merasa terbuka saat bercerita mengenai hidupnya.
"Ya sudah ayo pergi, terlalu malam juga tidak aman." Ivana membawa kantong belanjaannya, begitu juga dengan Erick.
Ia berharap agar Crisibell ada di rumah dan bersedia menampung Ivana sementara waktu.
Keduanya berjaan beriringan, sepanjang jalan Ivana juga sesekali melempar pertanyaan seputar Erick, tapi pemuda itu tidak banyak menjawab.
Sesampainya di kompleks, Erick melihat rumah Crisibell dari gerbang, rumah gadis itu masih gelap seperti tadi, tanda bahwa sang empunya sedang tidak ada di tempat.
"Ada apa?" tanya Ivana.
"Sepertinya Crisibell menginap di studio pianonya, ia tidak ada di rumah." jawab Erick.
Ivana tampak sendu. "Yahh, lalu aku tinggal di mana?"
Erick menatap Ivana yang nampak menyedihkan, lalu bergantian menatap rumahnya. Tidak ada salahnya memberikan suaka selama satu malam pada gadis asing ini.
"Baiklah, kau akan tinggal di rumahku." finalnya.
"Kau serius? Wahh, terima kasih banyak." Ivana menundukkan kepalanya tanda terima kasih.
Erick membawa Ivana untuk masuk ke rumah kecilnya.
"Rumahku kecil, aku tinggal di sini sendiri." ujar Erick sembari membuka pintu rumahnya dengan lebar.
Ivana melepaskan alas kakinya, matanya menelusuri rumah sederhana ini.
"Rumahmu estetik, aku suka." gumamnya.
Erick mengambil satu kunci yang sudah lama tidak ia gunakan, yakni kunci kamar mendiang Luisa, sang adik. Rencananya ia akan meminjamkan kamar Luisa pada Ivana.
"Kau akan menempati kamar ini, istirahat lah." ujar Erick pada gadis itu. Kamar Luisa cukup bersih meski di beberapa sudut terdapat jaring laba-laba yang mengganggu pemandangan, ia rutin membersihkannya selama dua minggu sekali meski kamar itu sudah lama tak terpakai.
Luisa memasuki kamar itu, kamar ini sudah cukup menjadi tempat menginapnya selama semalaman.
"Lalu kau akan tidur di mana?" tanya gadis itu.
"Aku akan tidur di kamarku sendiri, ini adalah kamar mendiang adikku." jawab Erick.
"Ohh, baiklah kalau begitu." Awalnya Ivana merasa tidak enak hati jika ia sampai merebut kamar Erick, sedangkan si empunya tidur di ruangan lain, beruntungnya pemuda itu memiliki kamar lain.
"Di dalam lemari ada pakaian wanita, kau bisa meminjamnya. Jika butuh ke dapur, ada di sebelah kanan depan kamar ini." Erick juga tak merasa harus waspada pada gadis ini, jika biasanya ia harus antisipasi terhadap orang asing, tapi dengan Ivana ia bersikap biasa saja.
Erick seperti melihat sosok ceria dan ramahnya Luisa pada diri Ivana, sedikit ada kemiripan meski keduanya berbeda sangat jauh.
Setelah itu Erick pamit undur diri, ia akan ke kamarnya dan beristirahat.
Ivana mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, kepalanya meneliti setiap sudut ruang kamar ini. Di dinding terdapat sebuah foto Erick dan seorang gadis yang diyakini sebagai sosok bernama Luisa itu, mendiang sangat cantik dengan rambut blonde sebahu.
Senyuman Erick juga cukup lebar, tangannya merangkul pundak sang adik. Hal ini membuat Ivana merasa iri, ia tidak pernah diperlakukan semanis itu oleh dua kakak laki-lakinya. Mereka hanya sibuk berebut harta warisan orangtua, dan memikirkan egoisme masing-masing.
"Beruntung sekali Luisa memiliki kakak sebaik Erick," gumamnya.
Setelah itu Ivana pun merebahkan tubuhnya di kasur, hari ini cukup melelahkan untuknya karena ia harus kucing-kucingan dari pengawal-pengawal kepercayaan ayahnya. Ivana tidak mau pulang, ia ingin hidup mandiri dan bebas dari kekangan-kekangan keluarganya. Berbekal bakatnya sebagai fotografer profesional, Ivana mampu menjual karya-karya hasil potretnya pada website, dari sana lah ia mendapatkan cukup uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama pelarian.
Jadi, ia takkan menggunakan kartu kredit pemberian orangtuanya selama ini, biar lah Ivana belajar hidup mandiri tanpa andil mereka. Ia sudah cukup makan hati selama mendapat perlakuan yang berbeda dari ibu dan ayahnya hanya karena ia terlahir sebagai anak gadis, tidak seperti dua kakak laki-lakinya yang digadang-gadang mampu membanggakan nama kedua orangtua.
Beruntung hari ini ia bertemu dengan Erick yang menyelamatkan nyawanya, Ivana belum mau mati sebelum bisa membalas dendam pada dua kakaknya yang mata duitan itu! Serta membuktikan pada ayah dan ibunya bahwa ia bisa membanggakan keluarga meski terlahir sebagai anak gadis, Ivana akan mengikuti ajang-ajang perlombaan sesuai minat dan bakatnya, dari sana ia berjuang meraih prestasi terbaiknya dan membanggakan keluarga.
Di dalam kamar, Erick memikirkan pertemuannya dengan Ivana hari ini. Gadis ceria nan aktif seperti Ivana ternyata memiliki kehidupan yang berat, ia tak menyangka bahwa di dunia ini ada orangtua kejam yang membeda-bedakan anak hanya karena jenis kelamin. Keluarga Dexter memang terkenal karena citra dan namanya yang baik dikenal oleh publik, tapi ternyata dibalik itu terdapat kehidupan sosok gadis yang menjadi korban diskriminasi orangtuanya sendiri.
Erick menjadikan kedua tangannya sebagai bantal, matanya menatap langit-langit kamar dengan otak yang terus memutar memori kebersamaan keluarganya dulu.
Ayah dan ibunya tidak pernah pilih kasih, keduanya sama-sama adil dalam menyayangi anak-anaknya. Baik dirinya atau Luisa mendapat perlakuan yang sama, ahh rasa-rasanya Erick merindukan momen itu.
Namun, ia mendapat hikmah atas hari ini. Orang yang terlihat kaya, harmonis dan hidupnya bergelimang segala kemewahan, belum tentu memiliki kasih sayang yang utuh. Ia merasa kasihan pada sosok seperti Ivana di luaran sana, memiliki orangtua lengkap, tapi keluarganya tidak utuh.
Ya, semua manusia memiliki jalan takdir masing-masing, yang harus Erick lakukan hanya perlu bersyukur. Ia sadar bahwa selama ini masih sering mengeluh dan membandingkan hidupnya dengan orang lain. Kini ia sadar dan takkan mengulanginya lagi.
Lama-lama rasa kantuk hinggap di mata Erick, jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ia cukup lelah hari ini sehingga tertidur lebih awal.