Satu hal yang Vranco benci di dunia ini, yakni berurusan dengan polisi. Anaknya yang bodoh itu telah menariknya dalam masalah karena menabrak tiang lampu lalu lintas hingga menyebabkan kehebohan, terlebih lagi Darrel masih usia di bawah umur.
Jasper—tim dari kepolisian sedang menginterogasi anak muda itu, sedikitnya Darrel juga ketakutan karena baru kali ini ia berhadapan langsung dengan polisi karena membuat onar. Bahkan sang ayah—Vranco sendiri sudah habis kesabaran padanya.
“Darrel, kau sudah berada dalam keadaan yang baik, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan untukmu.” Tukas Jasper.
Darrel melirik Vranco yang berada di ambang pintu, ayahnya hanya mendelik padanya karena rasa geram yang teramat sangat.
“Darrel?” Jasper memanggil nama anak muda itu.
“Eum, ya?”
“Kau bersedia?”
Darrel mengangguk pelan.
“Darrel Magenta, berapa usiamu?” Jasper mulai memberikan pertanyaan.
“Tujuh belas tahun,” balasnya dengan gumaman kecil.
“Kau pasti tahu berapa syarat usia bisa mendapatkan lisensi mengemudi secara sah.”
“Ya, delapan belas tahun.”
“Lalu kenapa kau mengendarai mobil di saat usiamu masih tujuh belas tahun?” Jasper menaikkan sebelah alisnya menatap Darrel.
Sedangkan Darrel sendiri mulai tidak nyaman dengan keadaan ini, ia ingin meminta bantuan sang ayah. Namun, nampaknya Vranco membuang muka ke arah lain dan tak berniat menolong putranya.
Nyali Darrel menciut seketika menatap mata Jasper yang tajam, tangannya yang berada di balik selimut pun sedikit gemetar.
“A-aku—“ Darrel tidak tahu harus berkata apa lagi.
Jasper menolehkan kepalanya pada Vranco, ia berjalan untuk mendekatinya.
“Tuan Vranco, Anda adalah sekretaris pemerintahan kota ini, sebagai orang yang berpendidikan tentunya paham oleh aturan. Kenapa Anda membiarkan anak di bawah umur mengendarai mobil? Apakah Anda tidak mencemaskan keselamatannya?” Jasper giliran menginterogasi Vranco.
Vranco menatap Jasper dalam diam, ada kekesalan dalam hatinya tapi ia tak bisa berbuat apapun.
“Aku menyayangi putra tunggalku sehingga melakukannya.” Balasnya.
“Justru karena Anda menyayangi Darrel, seharusnya bisa mencegah anak Anda dari bahaya. Beruntung hanya luka-luka, bagaimana jika nyawanya ikut hilang?” Jasper melontarkan kata sarkasmenya.
Dilihatnya rahang Vranco mengetat, tanda bahwa pria itu tersinggung, tapi Jasper sama sekali tidak peduli. Sebagai orangtua yang mengaku sayang pada anak, seharusnya pria itu memiliki akal cerdas untuk mencegah anaknya terjerumus dalam bahaya.
Vranco melirik pada anaknya, sorot matanya menandakan kemarahan yang cukup mengerikan. Darrel menghela napas kasar, ia tahu bahwa kali ini telah membuat citra sang ayah anjlok.
Setelahnya Vranco mencoba untuk menenangkan emosinya, ia menatap Jasper dengan serius.
“Kecelakaan itu bukan murni kesalahan Darrel, ada seseorang yang tidak menyukainya sehingga menginginkan ia celaka.” Vranco berujar.
“Maksud Anda?”
Vranco merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, ia membuka potongan video yang diberikan anak buahnya untuk menyelidiki kasus kecelakaan tunggal yang menimpa Darrel.
“Coba lihat ini, Darrel mengatakan bahwa ada orang asing yang mengatakan ia akan kecelakaan, pemuda ini menjelaskan secara rinci bagaimana anakku kecelakaan menabrak tiang lampu lalu lintas.” Meski ia sendiri tidak mempercayai bualan anaknya, tapi apa boleh buat. Ia perlu melakukan ini setidaknya untuk meringankan beban hukuman anaknya.
Jasper melihat potongan video yang diambil dari CCTV itu, matanya memincing mengamati sosok pemuda yang berada tepat di samping mobil Darrel. Jasper merasa tak asing.
“Pemuda ini seperti tengah menyumpahi Darrel agar celaka. Jika kau mau mengangkat kasus ini ke jalur hukum, maka tangkap juga pemuda ini karena telah membuat anakku kecelakaan.” Sambung Vranco menggebu-gebu.
Darrel memantau pembicaraan ayahnya dan juga Jasper, ia sedikit bisa bernapas lega karena ternyata Vranco masih mau membantunya di saat-saat krusial seperti ini.
“Hanya tuduhan tak berdasar ini tidak bisa membuat seseorang ditangkap,” ujar Jasper.
Mata Vranco mendelik dengan sempurna. “Tuduhan tak berdasar, katamu? Jelas-jelas pemuda ini menyumpahi putraku agar celaka, dan omongannya itu menjadi kenyataan.”
Jasper tidak menanggapi ucapan Vranco, ia berbalik pada Darrel lagi, anak itu kembali tegang.
“Darrel, apa yang pemuda itu katakan padamu?”
“Dia menyumpahi ku agar celaka, dia seperti cenayang yang ucapannya menjadi kenyataan. Setelah ia berujar demikian, aku langsung kecelakaan.” Darrel berusaha membela dirinya dan melimpahkan kesalahan seolah-olah Erick lah yang bersalah.
“Kau mengenalinya?”
Darrel menggeleng. “Dia orang asing, atau bahkan gembel miskin.”
Jasper memutar bola matanya jengah, ayah dan anak memang sama-sama sombong.
“Okey, kami akan menyelidiki semuanya, tapi Darrel tetaplah menjadi terdakwa dan sewaktu-waktu dapat dihukum. Jadi, jangan bersenang hati dulu, Anak muda!” Jasper mengulas senyum sebelum ia menjauh dari ranjang pesakitan Darrel.
Saat ingin berjalan keluar pintu ruang kamar rumah sakit, Vranco menghentikan Jasper dengan menahan lengannya. Jasper menaikkan alisnya tanda bertanya.
“Kasus kecil ini tak seharusnya menjadi besar, apalagi menjadikan anakku sebagai tersangka. Ini hanya kecelakaan tunggal dan tidak merenggut nyawa orang lain, kita bisa menggunakan jalur damai.” Vranco menatap mata Jasper dengan penuh arti saat ia mengatakan ‘jalur damai’.
Jasper tersenyum menyeringai, ia menurunkan tangan Vranco yang berada pada lengannya. Pria jangkung itu mendekati telinga Vranco untuk membisiki sesuatu.
“Sayang sekali, aku tidak ingin berdamai.”
Setelahnya Jasper melenggang pergi dari hadapan Vranco. Pria paruh baya itu menatap kepergian Jasper dengan sorot amarah luar biasa, kedua tangannya juga terkepal dengan erat.
Jasper memang tidak mau bersentuhan dengan uang haram, ia tipikal polisi yang anti disuap. Jasper sendiri bukan berasal dari golongan keluarga biasa, keluarganya merupakan pebisnis sukses yang tentunya tidak akan kekurangan uang. Menjadi polisi merupakan hobi Jasper, ia suka berpetualang menangkap penjahat.
Sepulang Jasper dari rumah sakit, ia langsung meminta rekannya untuk membuka rekaman cctv lalu lintas. Di ruangan khusus pemantauan itu ia mengingat-ingat wajah Erick.
“Dia Erick Swan? Orang yang menjadi perbincangan karena kemampuannya, kau juga bersamanya saat menangkap perampok di rumah Franc.” Tukas rekan kerja Jasper yang merupakan sesame polisi.
Seketika itu Jasper langsung ingat, ternyata pemuda itu adalah Erick. Pantas saja jika ia mengetahui kronologis kecelakaan Darrel.
“Oke, terima kasih.”
Jasper keluar dari ruang pemantauan, ia menghela napas pelan. Mengingat tentang Erick membuatnya penasaran dengan kemampuan pemuda itu. Erick memiliki penglihatan luar biasa mengenai kematian seseorang.
Sebagai tim analisa, rasa penasaran Jasper cukup tinggi, ia ingin mengobrol dengan pemuda itu.
“Jasper, kau sudah menyelidiki kecelakaan tunggal anak Vranco?” tanya Ferdinan yang berposisi sebagai kepala kepolisian.
“Sudah, saat itu Darrel sempat bertemu dengan Erick, Erick mengatakan bahwa Darrel akan mengalami kecelakaan. Vranco ingin menyeret Erick dalam kasus kecelakaan ini,” tukasnya Jasper.
Ferdinan menautkan keningnya tuk berpikir. “Erick pemuda yang memiliki kemampuan istimewa itu? Vranco benar-benar aneh, ia melimpahkan kesalahannya sendiri pada orang lain. Jangan pedulikan ucapannya, terus saja kembangkan kasus Darrel agar mata Vranco terbuka lebar.”
Sedikitnya Ferdinan juga tidak menyukai Vranco, sebagai orang yang bekerja di pemerintahan, Vranco terlalu angkuh. Vranco juga egois dengan mementingkan dirinya sendiri dan mengabaikan kepentingan rakyat.
“Oh ya, aku mendengar berita baru-baru ini ada sekelompok peneliti yang sedang memburu orang-orang seperti Erick. Kita tidak bisa menangkap mereka karena tidak adanya bukti yang kuat, Jasper kau bisa mengikuti isu ini?” tanya Ferdinan, ia cukup mengkhawatirkan nasib Erick setelah namanya mencuat.
Sebenarnya pihak kepolisian sudah menutupi kasus perampok di rumah Franc beberapa hari silam. Namun, dengan kejelian tim media mereka mampu mengendus berita ini dan muncul lah desas-desus kemampuan Erick hingga hari ini. Ferdinan merasa bersalah karena secara tidak langsung justru ikut membocorkan privasi Erick, sehingga pemuda itu menjadi kejaran reporter.
“Aku akan melakukannya, karena kemampuannya ini ia bisa terjerumus dalam bahaya. Entah itu menjadi buruan para peneliti, atau dicari oleh para penjahat untuk dimanfaatkan, keselamatannya akan terancam.” Balas Jasper.
“Aku mempercayaimu, Jasper.”
***
Erick sedang menikmati teh panas di rumah sederhananya, cuaca di luar terlihat mendung menggelap, hawa dingin juga langsung menusuk tulang-tulangnya. Untuk itu ia memilih menyeduh teh panas agar bisa menghalau rasa dingin ini.
Pikirannya kembali memproses kejadian beberapa waktu lalu, Rathree yang selalu memaksanya agar bersedia menjadi obyek penelitiannya. Entah kenapa Erick merasa tidak beres, seperti keselamatannya terancam, kata-kata yang diucapkan Rathree kala itu sarat oleh ancaman.
Ia menyerutup tehnya dengan perlahan, rasa hangat-hangat panas langsung menjalar pada tenggorokannya.
Di saat yang bersamaan terdengar suara ketukan dari pintu, Erick terkesiap. Buru-buru pemuda itu bangkit dari sofa untuk mengecek siapa yang datang, ia menyingkap gorden jendelanya lalu mengintip dari sana. Dilihatnya sosok pria tinggi jangkung mengenakan jaket hitam, terlihat seragam polisi yang menyembul di antara jaket hitam itu. Erick memperhatikan wajah pria itu, sepertinya tidak asing.
“Dia… Jasper, polisi?” gumam Erick dengan dirinya sendiri.
Erick merasa secercah harapan, ia bisa melaporkan tindakan tak menyenangkan Rathree pada polisi itu. Segera ia membukakan pintu untuk Jasper.
“Selamat sore, Erick.” Jasper menyapa.
“Ya, sore. Kau adalah polisi yang sewaktu itu menangkap perampok di rumah Tuan Franc?” tanya Erick guna memastikan.
Jasper tersenyum kecil dan mengangguk.
“Silahkan masuk,” ujar Erick mempersilahkan tamunya untuk duduk di dalam.
Ruang tamu sederhana milik Erick hanya berukuran dua kali dua meter, ada sofa berwarna putih dan ornamen yang menambah kesan estetik. Meskipun tergolong kecil, tapi tetap nyaman dilihat oleh mata.
“Tunggu sebentar, akan ku buatkan teh panas untukmu.”
“Tidak perlu, kedatanganku ke sini untuk sedikit mengobrol denganmu.” Balas Jasper.
Erick pun duduk berseberangan dengan Jasper. “Ada perihal apa mendatangiku?”
“Apa kemarin kau bertemu dengan seorang anak muda yang mengendarai mobil dengan mengebut?” Jasper langsung bertanya to the point.
Ingatan Erick berputar pada hari lalu, ia pun menganggukkan kepala.
“Ayahnya ingin menuntutmu karena menganggapmu telah menyumpahi anaknya,” jelas Jasper.
Erick membulatkan mata kaget, “Kau serius?”
“Ya, ayahnya merupakan sekretaris pemerintahan. Tapi kau tak perlu cemas karena kami tidak akan memproses pembelaan dirinya itu, ini murni kesalahan Darrel karena ia masih di bawah umur saat mengendarai mobilnya.” Jasper memberikan pengertian pada Erick, membuat si empunya menghela napas lega.
“Syukur lah kalau begitu.”
“Rick, apa akhir-akhir ini kau didatangi oleh orang asing?” Jasper mulai bertanya serius perihal penelitian yang mencoba mencari mangsa.
“Maksudmu, orang asing seperti apa?” Erick belum paham pada arah pembicaraan Jasper.
“Aku mendengar berita bahwa ada sekelompok peneliti yang ingin mencari obyek untuk diteliti, apa itu benar?”
Mendengar pernyataan Jasper membuat Erick membulatkan matanya, ini yang memang ingin ia bahas dengan Jasper.
“Ya, satu minggu kemarin ada yang datang padaku, dia memintaku agar menjadi obyek penelitiannya.” Jawab Erick.
“Jadi, peneliti semacam itu benar-benar ada? Lalu, apa jawabanmu?”
“Tentu saja aku menolak, tapi dia seperti memberikan ancaman. Jasper, boleh aku meminta bantuanmu dan para polisi demi keselamatanku? Aku takut jika mereka benar-benar memaksa.”
“Tentu saja, Ferdinan memintaku untuk menangani masalah ini. Ini adalah kartu namaku beserta nomor ponsel, langsung kabari aku jika terjadi suatu hal yang mencurigakan. Penelitian yang mereka lakukan ilegal, tapi sulit sekali mendapatkan bukti kesalahannya.” Jasper sendiri tidak tahu kenapa mereka sulit untuk ditangkap, seolah ada penghalang yang melindungi mereka.
“Yang aku dengar dari rumor, mereka akan menjadikan manusia-manusia sebagai obyek penelitian bahkan mengkloningnya, hal ini tidak sesuai dengan etika ilmuwan.” Gumam Erick.
“Kau benar-benar harus hati-hati, mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu.”
Keduanya pun mengobrol banyak, Jasper dan Erick seperti teman lama yang terpisah lalu bertemu dan saling berbincang hangat.