Kabar duka mengenai kematian Mr. Fernand terdengar ke seluruh penjuru kampus, termasuk oleh Erick yang memang sudah menduga akan hal ini. Tepat seperti penglihatannya, Mr. Fernand meninggal di rumah sakit dan dijenguk oleh mantan istrinya yang masih mencintainya.
Erick begitu terpukul dengan hal ini, faktanya ia tetap lah manusia biasa yang tidak bisa mendahului kuasa Tuhan. Sebagai penghormatan terakhir, mahasiswa-mahasiswi yang pernah diajar oleh Mr. Fernand pun ikut mengantar jenazah dosennya ke persemayaman terakhir.
Seorang wanita mengenakan pakaian hitam dan kacamata senada datang mendekati pemuda itu.
"Kau yang bernama Erick Swan?" Tanyanya.
Erick menoleh menatap wanita itu, ia mengangguk kecil.
"Aku Cleora, mantan istri Fernand. Ia sempat menceritakan tentangmu, kau memiliki kemampuan istimewa dan bisa melihat kapan dirinya meninggal." Cleora berujar, wanita itu tampak masih cantik meski usianya sudah menyentuh setengah abad.
Erick mengangguk kecil.
"Ya, saya adalah Erick mahasiswa Mr. Fernand. Saat itu saya berada di kelas yang diajarkan oleh beliau, meskipun saya sudah memberitahu mengenai kematiannya, tapi Mr. Fernand sama sekali tidak terlihat takut." ujar Erick pada Cleora.
Cleora tersenyum kecil. "Kau benar, mantan suamiku itu memang tidak pernah takut menghadapi kematiannya, terlebih lagi ia memang sudah divonis penyakit kronis."
"Saat itu Mr. Fernand senang ketika saya memberitahunya bahwa Anda akan datang padanya, terlihat sekali bahwa beliau masih mencintai Anda." lanjut Erick lagi.
"Kami memang sama-sama saling mencintai, tapi lingkungan lah yang tidak mendukung."
Keduanya mengobrol kecil mengenai seorang Fernand dari sudut pandang masing-masing. Acara persemayaman sekitar satu jam, setelahnya satu per satu orang yang ada di sana pun mengundurkan diri termasuk Erick.
Seperti biasa pemuda itu mengayuh sepeda ontelnya dengan perlahan menikmati jalanan sore, lalu lalang di sana terlihat cukup ramai. Sayang sekali rantai sepedanya terputus sehingga membuat pemuda itu harus menuntunnya sepanjang jalan pulang ke rumah.
Ia berjalan di pinggir jalan sembari mendorong sepedanya, ketika lampu lalu lintas berwarna merah, ia ikut berhenti di sana. Matanya melihat-lihat sekitar, tepat di sampingnya ada sebuah mobil mewah yang ditumpangi anak muda sekitar usia tujuh belas tahun. Kaca mobil yang tidak terbuka membuatnya bisa leluasa melihat sekitar, ia menoleh pada Erick dan menatapnya sejenak.
Ada senyuman mengejek yang terbit dari bibir itu tatkala melihat Erick dengan sepeda bututnya yang rusak. Erick tidak mempermasalahkan tatapan merendahkan itu, ia justru fokus dengan apa yang ia lihat.
Tak lama lagi anak muda itu akan kecelakaan menabrak tiang rambu lalu lintas di jalan seberang sana. Mobil mewahnya ringsek dan si empunya terluka parah dibagian lengan dan memar sekitar wajahnya. Anak muda itu hampir mati karena kecelakaan, tapi dalam penglihatannya ada paramedis yang syukurnya bisa menyelamatkan nyawanya.
"Jangan mengebut, kau akan celaka." tukas Erick pada anak muda laki-laki itu.
Anak itu menaikkan sebelah alisnya, ia mengunyah permen karet lalu membuangnya dengan asal di jalan raya. Erick benar-benar tak habis pikir dengan tingkah anak muda itu, seperti tidak memiliki etika sama sekali.
"Tcih, aku tidak butuh nasehat dari seorang gembel. Lebih baik dorong saja sepedamu sampai rumah, hahaha." Ia tertawa dengan kencang, membuat Erick hanya bisa menghela napas kasar.
Dirinya sudah kebal hinaan seperti itu, hanya saja merasa miris karena nasehatnya tidak diperhatikan.
"Aku serius! Kau akan menabrak tiang lalu lintas itu jika kau masih mengebut." Erick menunjuk tiang lampu lalu lintas di seberang arah sana, dalam penglihatannya ia melihat bahwa anak muda ini akan langsung menarik pedal gas kuat-kuat seketika lampu hijau menyala.
"s**t, shut up! Don't talk anymore." Anak muda itu menyentak Erick dengan keras, telinganya panas mendengar ocehan tak bermutu Erick.
Melirik rambu lalu lintas dilihatnya sudah berwarna hijau. Dengan sekuat tenaga ia menarik pedal gas untuk mengebut, Erick memejamkan matanya karena tak mau melihat kejadian setelahnya.
Benar saja, baru sekitar sepuluh detik anak muda itu menancap gas, terdengar suara hantaman yang sangat keras, lalu disusul dengan pekikan kaget dari pengguna jalan sekitar.
"ASTAGA!"
"Kecelakaan!"
Mendengar suara-suara itu membuat Erick membuka matanya, ia melihat bahwa anak muda tadi sudah terkapar di aspal yang kemungkinan besar telah terpental dari dalam mobilnya sendiri.
Orang-orang yang ada di sana tidak berani menolong, karena jika asal menolong tanpa prosedur maka bisa lebih membahayakan korban kecelakaan. Mereka hanya bisa memanggil ambulan lalu melaporkan kecelakaan ini pada polisi.
Keadaan mobil mewah itu ringsek bagian depan, lalu di samping ada lecet memanjang yang mengakibatkan catnya terkelupas. Erick melewati anak muda yang tengah tak sadarkan diri itu, setelahnya ia berlalu untuk pulang.
"Aku sudah memberitahumu, tapi kau bebal." Erick bergumam pelan dengan dirinya sendiri.
Bagi orang awam memang kemampuan Erick ini merupakan hal yang di luar akal. Mereka pasti akan meremehkannya, mengabaikannya ataupun menganggapnya gila. Akan tetapi, apa salahnya mempercayai ucapan Erick yang tidak akan merugikan siapapun?
Beruntung dalam penglihatannya, anak itu masih bisa diselamatkan nyawanya. Setidaknya untuk meminimalisir rasa bersalah Erick jika ia sampai gagal menyelamatkan nyawa seseorang.
Tak terasa akhirnya ia sampai di rumah, Erick langsung menuju ke bagian belakang rumahnya, ia membawa perkasas otomotif untuk membenahi rantai sepedanya yang putus.
Berbekal sekolah dan bekerja di Bengkel, selama setengah jam akhirnya ia bisa memperbaiki lagi sepedanya. Senyuman cerah terbit dari bibir pemuda itu, ia memang sudah terbiasa melakukan apapun sendiri.
***
Sementara itu di rumah sakit, anak muda yang mengalami kecelakaan sore hari tadi adalah seorang putra dari tokoh pemerintahan. Sang ayah terkejut karena mendengar berita kecelakaan putra tunggalnya yang baru saja merayakan hari ulang tahunnya kemarin, dengan segera ia menyusul anaknya ke rumah sakit untuk melihat bagaimana keadaannya.
"Syukur lah Darrel bisa selamat karena tepat dibawa ke rumah sakit, selanjutnya hanya tinggal menunggu pemulihan pada luka-luka memar wajahnya." ujar Dokter di sana.
"Baik, terima kasih."
Dokter itu mengangguk kecil lalu pamit undur diri.
"Darrel, apa-apaan kau ini? Sudah ayah tekankan beberapa kali agar hati-hati saat mengendarai mobil, sekarang nama dan citraku akan buruk karena sudah membiarkan anak di bawah umur mengendarai kendaraan pribadi." Pria itu menyentak anaknya dengan keras.
Selama ini citranya dikenal baik oleh sekitar dan juga masyarakat, apa jadinya jika ia tertangkap basah membelikan dan membiarkan putranya mengendarai mobil sementara belum cukup umur dan tidak memiliki lisensi.
Raut wajah Darrel mengeras mendengar amarah ayahnya.
"Semua ini karena orang itu, dia menyumpahiku agar celaka." Darrel berusaha melimpahkan kesalahannya pada Erick, orang yang menurutnya berandil besar dalam kecelakaannya.
"Apa yang kau maksud?"
"Saat aku berada di jalan bertemu dengan seorang laki-laki, dia mengatakan kalau aku akan kecelakaan menabrak lampu lalu lintas, dan benar saja kejadian." tukas Darrel.
"Jangan membohongiku!"
"Aku serius, Ayah! Kau bisa melihatnya di rekaman cctv, cari dia dan tuntut lah dia karena sudah membuatku celaka."
"Kau pikir ayahmu ini bodoh 'hah?"
Darrel meringis kecil saat lagi-lagi ayahnya melempar tatapan tajam padanya.
"Aku serius, orang itu seperti dukun yang menyumpah serapahiku."
Pria dewasa itu pergi dari ruang inap Darrel, kepalanya berdenyut nyeri karena harus menuntaskan masalah yang dibuat oleh putranya.
"s**l, kenapa ayah tidak mempercayaiku? Orang itu harus segera ditemukan, ia yang membuatku sampai seperti ini arghh." Darrel berteriak kecil, sembari menahan rasa sakit pada tangannya.