7. THE SPECIAL ABILITY

1036 Words
Erick pulang ke rumah dengan gontai, ia memarkirkan sepedanya dengan asal. Dari halaman rumah ia melihat gerbang milik Crisibell terbuka, ia ingin menanyakan mengenai penelitian ilegal itu pada sepupunya.  "Bell, kau ada di rumah?" Erick melongokkan kepalanya.  Terdengar suara derit pintu, Crisibell membukanya dan melihat siapa yang datang.  "Rick? Masuk lah." ujar gadis berambut pirang sebahu itu, ia membuka lebar pintu rumahnya mempersilahkan sepupunya untuk duduk.  Crisibell merupakan tutor les piaono, kesehariannya akan ia habiskan untuk mengajar anak-anak les, lalu setelahnya pulang dan tidur sepanjang hari. Erick duduk di sofa dengan gelisah, jari-jarinya tak berhenti saling memilin. Crisibell menuju ke dapur untuk membuatkan kopi dingin, lalu menyuguhkannya pada Erick. Melihat kecemasan pemuda itu membuatnya keheranan.  "Ada apa, Rick?"  Erick mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. "Ada seorang yang mengaku sebagai peneliti mengajakku bekerjasama dengan mereka. Mereka memintaku menjadi bahan uji dan menawarkan uang jika mau menerimanya."  Mata Crisibell membuat sempurna mendengar penuturan sepupunya, baru saja beberapa hari lalu mereka membahas hal ini. Ternyata Erick benar-benar sudah dilirik oleh mereka.  "Lalu, bagaimana tanggapanmu?" tanya Crisibell.  "Tentu saja aku menolak, aku tidak ingin menjadi kambing percobaan." tukas pemuda duapuluh dua tahun itu.  "Mereka meneliti DNA dan gen, kan?"  "Iya. Sesuai dengan ucapanmu beberapa hari lalu, mereka memang ingin meneliti manusia yang mempunyai kemampuan istimewa. Parahnya lagi adalah kegiatan mereka ilegal, sebuah kegilaan dengan menjadikan manusia sebagai bahan uji coba." Erick menyugar rambutnya dengan frustrasi, ia benar-benar tidak habis pikir dengan orang-orang seperti itu.  "Bagaimana bisa mereka menemukan dirimu?"  "Aku tidak tahu pasti, salah satunya menemuiku di Bengkel karena tidak tahu alamat rumahku." Erick membalas. Crisibell menggaruk-garuk dahinya yang tidak gatal, detik selanjutnya ia menegapkan badan dan berekspresi terkejut. Erick terlonjak kaget melihat keterkejutan Crisibell. "Ada apa, Bell?" tanyanya.  Crisibell bangkit dari duduknya, ia menyibak gorden rumahnya dan melihat ke seberang halaman rumah. Ada sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari rumah Erick, tepatnya di antara pertigaan, Crisibell mendesah berat.  "Hei, ada apa?" Erick ikut berdiri mendekati Crisibell.  "Kau kurang cermat, Rick! Kau telah diikuti oleh mereka sesaat setelah keluar dari bengkel sampai ke rumah, dan ya! Alamat rumahmu sudah didapatkan." Crisibell bersedekap tangan, di sana memang ada sebuah mobil yang bertengger.  Erick meneliti mobil itu dengan seksama, mobil yang sama seperti yang dipakai oleh Rathree. Ahh, s**t! Erick menatap Crisibell dengan serius, napasnya memburu karena kesal telah dibuntuti.  "Katakan padaku resiko dari mengikuti uji coba penelitian," ujarnya.  "Tewas! Apalagi penelitian mereka ilegal, kemungkinan buruknya lebih besar." tukas Crisibell dengan lantang.  Kedua tangan Erick terkepal dengan erat, ia telah ceroboh karena tidak hati-hati ketika pulang tadi. Hingga mereka bisa membuntutinya sampai ke rumah, jika sudah seperti ini maka hidupnya tidak akan tenang, Rathree sampai mengotot mengekorinya.  "Aku akan menemuinya!" final Erick. Ia akan mengusir Rathree dari sana, ia tidak mau terlibat apapun dengan orang-orang itu.  Dengan emosi yang cukup meradang, Erick berjalan keluar dari pintu rumah Crisibell, gadis itu membulatkan mata kaget melihat kemarahan sepupunya. Untuk berjaga-jaga agar tak terjadi suatu hal yang tak diinginkan, Crisibell pun mengekori Erick dari belakang.  Sementara di mobil itu, ia memang Rathree. Setelah obrolannya dengan Erick berakhir tak sesuai keinginan, ia tidak benar-benar pulang, Rathree bersembunyi sejenak untuk mengikuti pemuda itu dari belakang agar mengetahui rumahnya. Gotcha! usahanya berhasil.  Rathree mengikuti Erick dengan lancar tanpa dicurigai, sekarang ia sudah tahu tempat tinggal pemuda itu sehingga mudah melakukan perencanaan liciknya.  Memang benar bahwa Erick bukan dari golongan berada, ia hanya tinggal di rumah sederhana dan tak mewah. Namun, pemuda itu bersikukuh tidak mau menjual integritasnya hanya untuk uang. Perlu Rathree acungi jempol, pemuda itu memiliki keteguhan luar biasa. Tapi sayang sekali keteguhan itu membawanya pada petaka karena telah berani menolak permintaan seorang Profesor Yoseff.  "KELUAR KAU!" Erick datang, ia langsung menyentak Rathree dari luar.  Rathree menghela napas pelan lalu bergumam, "Sudah ketahuan, basah sekalian."  Ia menurunkan kaca jendela mobilnya, lalu melepaskan kacamata hitamnya. Ia melihat Erick yang sedang menatapnya dengan aura permusuhan. "KELUAR!" Erick menekankan katanya.  Mau tak mau Rathree pun keluar dari mobilnya.  "Kita bertemu lagi, Erick!" Ia tersenyum kecil.  Sedangkan Erick sama sekali tidak tertarik untuk membalas senyum sapaan wanita itu, menjijikkan sekali! "Untuk apa mengikutiku, hah? sudah ku bilang, aku menolak tawaranmu." tukas Erick.  Rathree, wanita dengan rambut merah dikepang itu menaikkan sebelah alisnya. Pembawaan Erick cukup menarik, kukuh dan tegas.  Crisibell sampai di sana, ia mendengus kecil saat matanya bersitatap dengan Rathree. Ia akan merekam wajah itu dimemori otaknya, jaga-jaga jika Rathree ingin berbuat jahat pada sepupunya.  "Tentu saja untuk menawarimu kerjasama, aku tidak akan berhenti jika kau belum menerimanya." balas Rathree dengan santainya.  "Sudah ku katakan berulang kali padamu, aku menolak! Kalian adalah ilegal, lebih baik pergi dan jangan menggangguku atau penelitian kalian akan ku laporkan pada pihak berwajib." Erick sengaja menggunakan sedikit ancaman untuk mengusir Rathree.  Wanita itu tampak tak takut dengan ancaman Erick, ia santai-santai saja.  Rathree melirik arlojinya, ia mendesah pelan.  "Aku memberikan banyak waktu agar kau berpikir ulang, gunakan waktu itu sebaik-baiknya sebelum kami menggunakan cara yang tak kau suka sama sekali." Rathree melihat tanggal yang ada di jam tangannya, setidaknya masih ada waktu cukup lama untuk Erick menimbang keputusannya.  Erick tertantang dengan ancaman Rathree. "Tidak usah susah payah memberikanku waktu karena aku tidak mau menerimanya, silahkan angkat kaki dari komplek ini."  Rathree tersenyum miring, ia tidak terkejut dengan sikap skeptis dari Erick.  "Aku pergi, pilih lah pilihan yang bijak." Rathree mengedipkan matanya pelan lalu terkekeh kecil dan masuk ke mobilnya.  Erick menghembuskan napas kasar saat melihat mobil Rathree sudah pergi dari komplek sekitar rumahnya. Crisibell mendekati Erick, memberikan support untuk sepupunya. "Tenangkan emosimu, ia sudah pergi." tukasnya. "Bell, dia akan kembali lagi, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin kan jika aku pindah rumah." Wajah Erick tampak amat frustrasi, ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menolaknya. Dilihat dari kegigihan Rathree, wanita itu tidak akan menyerah untuk membujuknya, terlebih lagi ada ancaman di sana. "Jalan satu-satunya adalah minta bantuan polisi, bukankah kau juga mengenal Ferdinan si kepala kepolisian itu? Ia pasti bisa membantumu." Crisibell memberikan saran. Ada sorot cerah dari mata Erick, kenapa ia tak terpikirkan sampai ke sana? Ferdinan pasti bisa membantunya untuk menghentikan tingkah mengganggu dari Rathree. "Ide yang bagus, Bell. Aku akan membicarakan hal ini pada Ferdinan." tukasnya dengan senyuman mengembang sempurna. Crisibell menepuk pundak sepupunya pelan. "Ya, tetap berhati-hati lah, Rick."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD