6. THE SPECIAL ABILITY

2349 Words
Sebuah ruangan luas dengan cahaya lampu yang cukup terang terdapat banyak alat-alat yang asing di mata awam, ruangan itu terbagi menjadi beberapa sekat. Pada bagian tengah-tengahnya terdapat sebuah meja bundar yang diperuntukkan sebagai tempat untuk pertemuan, pada tiap-tiap sekat yang telah dibagi terdapat alat uji sebuah pengujian.  Seorang pria berusia tigapuluh lima tahun mengenakan jas lab putih serta kacamata datang, ia memeriksa gen yang ditelitinya sejak satu hari lalu. Melihat gelembung pada gelas ukur membuat ekspresinya memerah padam, lagi-lagi penelitiannya gagal.  "Arghh, s**l sekali, lagi-lagi gagal!"  BRAK! Ia menggebrak meja di sana, rahangnya mengetat sempurna. Penelitian tentang hormon manusia yang memiliki kelebihan kemampuan istimewa sudah ia rancang dari jauh-jauh hari, setidaknya kurang lebih lima bulan lalu.  Beberapa waktu silam ada seorang gadis yang belum mengalami masa mestruasi hingga usia duapuluh lima tahun, karena tertarik dengan kisah gadis itu, maka ia dengan senang hati mau melakukan uji penelitian. Namun, sayang beribu sayang, semuanya gagal. Pintu laboratorium terbuka lagi, di sana ada seorang wanita berusia duapuluh tiga tahun datang, ia juga sama-sama mengenakan jas lab berwarna putih bersih, ada pula masker yang menghalangi hidung dan bibirnya.  Ia menaikkan sebelah alisnya melihat kekesalan atasannya itu, sudah bisa ia tebak bahwa Yoseff akan gagal dalam penelitian ini.  Rathree memasukkan kedua tangannya pada saku celananya, senyuman meremehkan terbit dari bibirnya itu.  "Prof. Yoseff, sepertinya kau gagal lagi dalam penelitianmu," ucap Rathree, sedikitnya ada nada mengejek di dalam ucapannya.  Yoseff mendesis pelan. "Dia menipuku dengan berpura-pura sebagai wanita, padahal ia melakukan operasi gender. Makhluk laknat, berani-beraninya mempermainkan seorang Yoseff."  Kekehan pelan terdengar, Rathree cukup berduka dengan apa yang dialami oleh kepala laboratorium penelitian itu. Yoseff tertipu oleh obyek uji cobanya sendiri, hal yang sangat langka terjadi.  "Kau kurang berhati-hati dalam mencari obyek uji coba," lanjut Rathree.  "Diam kau! Lalu apa yang telah kau dapatkan untuk penelitian kita? Kau sama sekali tak membantu." Yoseff membuang muka, ia benar-benar kesal.  Rathree pura-pura terkejut, wanita itu bersandar di dinding kaca yang menjadi sekat antar ruangan.  "Bagaimana jika ku katakan bahwa aku menemukan obyek uji coba baru?" tanya Rathree. Yoseff berdecih pelan, "Aku tidak percaya."  "Hmm baiklah kalau kau tidak percaya, padahal aku yakin seribu persen bahwa kau akan menyukainya. Ya sudah," Rathree mengendikkan bahunya pelan, ia hendak keluar dari ruang lab itu.  Namun, suara dari Yoseff menghentikan gerakannya. Ia agak tertarik dengan ucapan Rathree, semoga saja anak buahnya itu tidak mempermainkannya.  "Obyek seperti apa yang kau temukan?" tanyanya.  Rathree menghentikan laju langkahnya, ia tersenyum kecil sambil memutar balik tubuhnya.  "Manusia dengan kampuan melihat kematian seseorang," jelasnya.  Yoseff mengerutkan keningnya. "Kau serius?"  "Tentu saja, ahh aku lupa bahwa kau hanya sibuk berkutat di lab tanpa memiliki waktu luang untuk membaca berita." Rathree tersenyum miring.  Yoseff segera keluar dari ruangan bersekat itu, ia menghampiri Rathree dengan raut wajah serius.  "Katakan padaku sedetailnya, Rathree." Yoseff ingin mendengar kisah orang itu, ia mulai tertarik.  "Bukankah tadi kau tidak tertarik?" tanya Rathree, ia memang senang bermain-main.  "Ck, katakan saja sekarang!"  Rathree memilih untuk duduk di kursi, tangannya bersandar pada meja bundar, lalu disusul oleh Yoseff.  "Ada seorang pemuda bernama Erick Swan, akhir-akhir ini ia menjadi perbincangan publik karena kemampuannya dalam melihat proses kematian seseorang, ia tahu kapan dan bagaimana orang-orang mati dalam waktu dekat, hanya dengan tatapan matanya saja." Rathree mulai menjelaskan.  "Dia benar-benar tahu? Bagaimana bisa?" Yoseff bertopang dagu, ia menatap Rathree untuk meminta penjelasan.  "Bisa, setahuku ia baru saja mendapatkan kemampuan ini. Terbaru adalah ketika ia menyelamatkan seorang pensiunan dari perampok, rumah pria tua itu akan dirampok, tapi saat itu Franc bersitatap dengan Erick, pemuda itu menjelaskan semua tragedi yang ia lihat dari pantulan mata Franc kala bertatapan dengannya." Rathree menjelaskan lagi.  "Dan Franc ini percaya begitu saja pada Erick?"  "Awalnya tidak, tapi Erick berusaha untuk meyakinkannya bahkan sampai melapor pada polisi. Dan boomm, memang benar saat polisi datang ke rumah Franc, di sana sudah ada para perampok yang menggeledah isi rumah."  Yoseff sangat tertarik dengan cerita Rathree.  "Lihat ini," kata Rathree.  Wanita itu memperlihatkan berita mengenai Erick dari ponselnya, Yoseff membaca setiap kata dengan detail.  "Kau benar, anak muda ini akan menjadi obyek emas kita." Sahut Yoseff, senyum miring dan penuh kepuasan terbit dari bibirnya.  "Tapi aku belum mengatakan hal buruknya," lanjut Rathree yang membuat Yoseff keheranan.  "Ada apa?"  "Pemuda ini sulit untuk didekati, bahkan pada reporter saja ia menghindar. Berita-berita berhasil memuat tentangnya saja merupakan bocoran informasi dari pihak kepolisian, Erick tak suka menjadi sumber pembicaraan." Lanjut Rathree.  "Apa dia golongan orang berada?" tanya Yoseff.  "Setahuku tidak, karena Erick bekerja paruh waktu di bengkel kecil untuk membiayai kuliahnya." jawab Rathree.  "Bagus! Kau tawarkan uang saja padanya, aku yakin dia akan setuju menjadi obyek uji coba penelitian ini." Yoseff selalu mengandalkan uang untuk membujuk rayu calon obyek penelitiannya karena ia tahu bahwa manusia-manusia ini pasti sukarela menjual dirinya sebagai proyek uji coba.  Tidak mempedulikan martabat, identitas, dan juga harga dirinya mereka.  Mendengar bahwa Erick bukan dari golongan berada, Yoseff seyakin ini untuk merayu Erick dengan uang agar menjadi bahan uji cobanya.  "Rathree, apa yang kau tunggu?!" tanya Yoseff pada anak buahnya ini.  Rathree agak kurang yakin dengan ide profesornya, khusus pemuda satu ini sulit didekati, apalagi kalau disuap dengan uang.  "Hmm aku tidak yakin, Prof."  "Bodoh! Kau mau melepaskan target? Dia adalah obyek emas kita, jangan menyia-nyiakan hal sepenting ini, Rathree." Sentak Yoseff, ia sudah terlanjur menggebu-gebu dengan sosok Erick.  Rathree meringis mendengar nada tinggi profesornya, benar-benar merusak gendang telinga.  "Akan aku coba untuk membujuknya, tapi jika gagal?" tanya Rathree balik.  Yoseff memandang Rathree dengan lurus, tidak ada senyuman di sana.  "Jika ia menolak cara harus, maka lakukan dengan cara-cara licik sekalipun, bukankah kita terbiasa melakukannya, Rathree?"  Rathree mengangguk paham, ia sangat tahu betul arti 'cara-cara licik' tersebut.  Profesor Yoseff Adams, seorang pria yang gila dengan penelitian. Namanya memang sangat terkenal dikalangan medis maupun ilmuwan, ia juga bekerja di salah satu rumah sakit bagian DNA dan gen. Yoseff maniak penelitian, ia akan melakukan apa saja demi menemukan hal-hal baru terkait dengan manusia.  Laboratorium raksasa ini ia dirikan dengan susah payah, khusus untuk meneliti tentang gen-gen langka manusia. Ia tak segan-segan mengeluarkan biaya untuk memuaskan hasratnya itu, ia selalu haus oleh hal-hal baru.  Sebagai seorang Dokter, citranya sangat baik. Namun, mereka tidak mengenal Yoseff dengan betul, yang sebenarnya merupakan sosok pria egois dan arogan. Ia akan melakukan segala cara agar penelitiannya berjalan mulus, termasuk jika obyeknya tewas sekalipun, ia tidak peduli! Satu penelitian yang berhasil ia sukseskan merupakan mendeteksi ibu hamil jika melahirkan anak down syndrome, penelitian Yoseff ini memang sangat berguna dan membantu para ibu-ibu hamil. Ia akan memberikan ibu hamil dua pilihan; tetap mempertahankan janinnya, atau membunuhnya. Terdengar kejam memang, itulah salah satu kegilaan Yoseff.  *** Berbekal sepucuk kertas yang berisi alamat bengkel Erick, Rathree akan menemui pemuda itu demi melancarkan keinginan atasannya. Ia bahkan menghabiskan waktunya susah payah untuk mendapatkan alamat Erick meski hanya bengkelnya saja, ini karena pemuda itu benar-benar tertutup. Kepada para reporter berita, Erick enggan berbicara mengenai kehidupan pribadinya dan lebih suka menghindar cari aman.  Rathree sudah tiba di sebuah bangunan agak kumuh, terdapat cat, oli, ataupun bekas-bekas coretan tak berbentuk. Ada spanduk besar yang bertuliskan 'Bengkel Mobil' di sana. Ini membuat Rathree yakin bahwa tempat ini lah Erick berada.  "Semoga saja Erick ada di sini," gumamnya dengan diri sendiri.  Rathree turun dari kendaraannya, ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi di sepanjang jalan menuju bengkel.  Sesampainya di sana ia melihat hanya ada satu pria, dilihatnya pria itu sibuk mengerjakan sebuah mobil.  "Permisi," ujar Rathree.  Pria itu mendongak, melihat bahwa ada pelanggan pun ia buru-buru datang. "Ada yang bisa dibantu?" tanyanya.  "Perkenalkan nama saya Rathree, apakah Erick Swan bekerja di sini?" Rathree memindai wajah itu, pria yang berbeda dari Erick.  "Ohh, saya Liam. Erick sedang tidak berangkat hari ini, ada keperluan apa dengannya?" tanya Liam. Ia melihat Rathree dari atas hingga bawah, penampilan wanita itu cukup elegan, di halaman bengkelnya juga ada sebuah mobil mewah, pertanda bahwa wanita ini berasal dari kalangan berada.  Rathree menghela napas pelan. Sayang sekali pemuda itu sedang tidak berada di sini, tapi setidaknya ia sudah memastikan bahwa ini adalah tempat kerja pemuda itu. "Hanya ada sedikit keperluan, bisakah saya mendapatkan alamat rumahnya?" tanya wanita itu. Liam mengernyitkan dahinya, setahunya Erick tidak memiliki kerabat semacam ini. Rekannya itu sudah menjadi yatim piatu, Liam hanya tahu tentang Crisibell, satu-satunya sepupu yang dimiliki Erick.  "Maaf, saya tidak berani melakukannya karena itu hal privasi Erick." Liam tak mau mengambil resiko, siapa tahu wanita didepannya ini adalah orang jahat, atau parahnya lagi reporter-reporter menyebalkan yang terus memburu berita tentang rekannya.  Rathree menatap Liam dengan diam, sepertinya pria didepannya ini juga tidak mudah untuk dibujuk.  "Baiklah, apa besok Erick akan datang bekerja?"  Liam mengangguk samar.  "Saya akan kembali lagi besok, sampaikan kedatangan saya pada Erick." ucap Rathree pada akhirnya.  Ia mengundurkan diri, tapi Liam menghentikannya. "Apa hubungan Anda dengan Erick?" tanya Liam.  Rathree berdecak kecil, tapi sebisa mungkin ia mengulas senyum terbaiknya.  "Saya memiliki urusan dengannya. Tenang saja, saya bukan orang jahat!" tukas Rathree dengan nada agak ditekankan.  "Ohh, baiklah."  "Saya permisi." Rathree pergi dari sana.  Sedangkan Liam menatap punggung wanita itu dengan kening berkerut-kerut.  "Apa Erick memiliki hutang pada wanita kaya itu? Aghh mengerikan, dari penampilannya saja sudah seperti rentenir." Liam bergedik pelan, lalu kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.  *** Esok paginya Erick datang ke bengkel, kemarin ia memiliki kuliah full sehingga tidak bisa pergi bekerja. Namun, hari ini tidak ada kelas kuliah, untuk itu ia datang ke bengkel lebih pagi.  Seperti biasa, Erick meletakkan tas slempangnya pada meja, lalu mulai berjalan untuk melihat antrean mobil-mobil yang perlu digarap.  Liam muncul dari salah satu kolong bawah mobil, ia celingukan melihat Erick.  "Rick, kemarin ada yang datang ingin bertemu denganmu." ujar Liam.  Erick mengurungkan niatnya untuk memeriksa mobil lain, ia tertarik dengan perbincangan rekan kerjanya itu.  "Siapa?"  "Namanya Rathree, sepertinya dari penampilannya bisa dibilang orang berada."  "Dia mencariku?"  Liam mengangguk. "Iya, ia ingin bertemu denganmu bahkan meminta alamat rumahmu. Tapi aku tidak memberikannya, takut jika orang jahat."  Erick mencerna ucapan Liam. Rathree? ia tidak mengenal nama itu.  "Aku tidak mengenalnya," gumamnya.  "Maka dari itu, tapi ia sangat ingin bertemu denganmu, bahkan bilang kalau hari ini dia akan datang lagi." Liam mengendikkan bahunya pelan.  "Kau mengatakan kalau aku akan datang ke bengkel hari ini?"  "Hmm," Liam berdehem pelan.  Erick mengusap wajahnya dengan kasar, siapa Rathree ini dan apa urusannya dengan dirinya.  Tepat di saat bersamaan, ada suara mobil yang berhenti di halaman luar bengkel. Sontak saja Erick membuka gorden untuk melihat siapa yang datang, Liam juga ikut mengintip di jendela.  "Iya, dia orangnya." Liam menunjuk Rathree yang baru saja turun dari mobil. "Kau sama sekali tidak mengenalnya?"  "Tidak,"  "Lalu bagaimana ini, aku sudah terlanjur bicara bahwa kau akan datang ke bengkel."  "Terpaksa harus menemuinya, kau berjaga-jaga lah di pintu belakang. Jika terjadi sesuatu padaku, lari minta pertolongan ke toko sebelah." tukas Erick. "Oke, berhati-hati lah."  Erick menutup gorden jendela, ia memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskan napas perlahan.  Rathree sudah ada di depan pintu bengkel, ia melihat sesosok pemuda tinggi tampan sedang berdiri beberapa meter didepannya. Rathree memindai wajah itu, sama seperti foto yang berada di berita-berita. Itu Erick! "Permisi, apa kau yang bernama Erick?" tanya Rathree to the point.  Erick mendekati Rathree, ia memindai wanita itu dari atas sampai bawah. Benar perkataan Liam, Rathree nampak seperti orang berada.  "Ya, aku Erick, ada apa mencariku?" tanya Erick. Rathree mengulas senyum lega, ia menjulurkan tangannya untuk berjabat pada Erick. Namun, pemuda itu enggan menerimanya, bukan bermaksud sombong, hanya saja ia takut dihipnotis atau semacamnya.  Rathree tersenyum maklum, ia menarik kembali tangannya.  "Bisa kita bicara?"  "Apa aku mengenalmu sebelumnya?" tanya Erick balik. Matanya menatap pada halaman bengkel, tidak ada juru kamera di sana.  "Tidak, baru hari ini kita bertemu. Aku bukan reporter ataupun jurnalis dan sebagainya, ada hal yang perlu ku bahas padamu." jawab Rathree.  "Tentang apa?"  "Kemampuanmu!" tukas Rathree jelas.  Erick berdecak pelan, ia tak tertarik membahas kemampuannya dengan orang lain.  "Maaf, tapi aku keberatan."  "Tolong berikan sedikit waktumu, setidaknya dengarkan penjelasan kedatanganku dulu." Rathree sudah menduganya, Erick memang tidak mudah untuk diajak akrab.  Pemuda itu menghela napas panjang. "Oke, kita duduk di depan."  Rathree mengangguk semangat, keduanya duduk di kursi depan bengkel.  "Aku mendengar berita tentang dirimu, kau menyelamatkan Franc dari perampok. Ku akui kau adalah pemuda hebat, kedatanganku ke sini untuk menawarkan kerjasama padamu." Rathree memulai pembicaraan.  "Kerjasama seperti apa?"  Rathree menegapkan badannya. "Aku adalah anggota peneliti yang tergabung dalam grup ilmuwan. Kami membutuhkanmu sebagai obyek penelitian, Profesor Yoseff menginginkan dirimu agar andil dalam penelitian ini."  Erick mengernyitkan dahinya, ia cukup asing dengan penelitian ilmuwan dan sejenisnya.  "Untuk meneliti apa?" tanya Erick.  "Kau akan menjadi bahan uji kami, Profesor Yoseff akan meneliti gen, DNA, hormon dan semua sel dalam dirimu. Ini dilakukan bukan dengan cuma-cuma, kau akan menandatangani kontrak kerjasama dan mendapatkan uang." tukas Rathree.  "Apa tujuanmu melakukan penelitian ini?" Erick memincingkan mata curiga.  "Karena kami ingin mendapatkan penelitian baru. Kau istimewa, maka dari itu Profesor Yoseff ingin mengajakmu untuk bekerjasama dalam penelitian ini."  "Berikan lisensi tentang penelitian kalian, apakah legal atau ilegal!" tukas Erick. Ia teringat dengan ucapan Crisibell tentang penelitian licik, ia mencurigai Rathree.  Rathree terdiam, penelitian ini tentu saja ilegal dan tak memiliki lisensi resmi. Yoseff selalu melakukannya mandiri, ia tidak mau badan kesehatan ikut campur dalam kegiatannya.  Erick menggelengkan kepalanya pelan. Tepat, ini yang dimaksud Crisibell dengan peneliti-peneliti semacamnya.  "Kalian ilegal! Maaf, aku menolak ajakanmu." Erick blak-blakan langsung menolak, ia bangkit berdiri dari duduknya.  Rathree kelabakan. "Tunggu dulu, Rick. Oke kami memang tidak memiliki lisensi resmi, tapi kami mempunyai kontrak perjanjian kerjasama, kau akan mendapatkan uang dari penelitian ini." "Ini bukan perihal uang, aku tidak mau." balas Erick.  Rathree mangacak rambutnya pelan, Erick benr-benar sulit untuk dibujuk bahkan dengan uang sekalipun.  "Rick, tunggu sebentar saja!" Rathree ingin menghentikan Erick, tapi pemuda itu sudah masuk kembali ke dalam bengkelnya.  Wanita itu berkacak pinggang, haruskah ia menggunakan cara liciknya lagi?  "Kau sulit untuk dibujuk, dengan terpaksa aku harus melakukannya dengan cara lain." ujar Rathree. Selanjutnya ia kembali menuju pada mobilnya, meninggalkan tempat ini untuk berdiskusi pada Yoseff.  Erick melihat kepergian wanita itu dari balik jendela. Ia merasakan firasat buruk setelah menolaknya. Benar apa yang dikatakan Crisibell, ia harus berhati-hati. Penelitian itu saja ilegal, tidak dipungkiri bahwa bisa saja ada orang-orang jahat di sana yang akan memanfaatkan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD