“Hahh...”
Ivana melepaskan masker, topi serta kacamatanya dengan cepat, ia menghirup napas dalam-dalam karena merasa sesak. Sesak karena hampir saja tamat riwayatnya, beruntung sekali ada pemuda Officeboy yang membantu dirinya.
Dilihatnya pemuda itu yang tampak meletakkan ember beserta alat pelnya ke lantai.
“Terima kasih sudah menolongku,” ujar Ivana pada anak muda tersebut.
“Sama-sama, baiklah kalau begitu aku akan kembali.”
“Tunggu dulu...” Ivana mengeluarkan beberapa lembar uang tambahan, dirasa ia bisa selamat juga karena bantuan pemuda itu.
“Tambahan uang untukmu, bekerja lah yang rajin, okay?” ucap Ivana.
Pemuda itu mengangguk pelan sambil mengulas senyumnya. “Terima kasih banyak, Nona.”
Ivana mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban, setelah itu ia menyambar kopernya yang berada tak jauh dari tempat mobilnya berada. Ia harus segera mencari tempat perlindungan baru, apartemen sudah tidak aman, pastinya anak buah ayahnya tidak akan berhenti sampai di sini saja.
Gadis itu sudah duduk di balik kemudi, ia berpikir harus ke manakah dirinya sekarang?
Ivana tidak punya teman dekat, teman-temannya melupakan dirinya di saat gadis itu dalam kesusahan. Secercah ide muncul dari otaknya, sementara waktu ia akan memohon pada Crisibell agar memberinya tempat tinggal, atau ia bisa menyewa rumah Erick sementara waktu, semoga saja bisa.
“Ya, aku akan mencoba dengan Crisibell lebih dulu.” Gumamnya dengan dirinya sendiri.
Tanpa menunggu lama lagi Ivana segera tancap gas menuju rumah teman barunya itu.
Sesampainya Ivana di sana, tentu saja rumah Crisibell dalam keadaan terkunci karena pemiliknya masih ada di studio pianonya. Ivana tidak keberatan menunggu kepulangan Crisibell, ia dengan sabar menunggu gadis itu kembali ke rumah.
Mobil Ivana terparkir di halaman rumah Crisibell, sementara itu dirinya menunggu di dalam mobil. Sedikit demi sedikit rasa kantuk mulai menyerang Ivana, sesekali ia memejamkan mata.
Namun, di saat bersamaan ia mendengar deru sebuah kendaraan, matanya langsung terbuka lebar berpikir bahwa itu adalah Crisibell yang datang.
Ivana mengamati spion mobilnya yang mengarah ke bagian rumah Erick, di sana ia melihat ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah pemuda itu. Ivana mengamatinya dari dalam mobil, tampak seorang pria dan wanita keluar dari mobil itu.
“Ini rumah si Erick?” tanya si pria.
“Hmm..” Wanita itu berdehem pelan.
“Sangat sederhana mendekati miskin, tapi kenapa pemuda itu sombong sekali menolak tawaran kerja sama Yoseff?” Pria itu berdecih pelan, merasa aneh dengan sikap sok Erick.
“Ohh ayo lah Kevin, kita ada di sini untuk mengambil barang-barang pemuda itu, bukan untuk mengomentari dirinya.” Balas si wanita.
“Baiklah-baiklah, kau masuk lah lebih dulu.”
Ivana semakin memincingkan matanya lekat-lekat, saat melihat wanita itu otaknya langsung mengingat kembali dengan sketsa gambar yang dideskripsikan oleh Crisibell.
“Persis, ya ciri-ciri wanita itu sama seperti yang diucapkan Crisibell. Jangan-jangan mereka adalah penculik Erick?” Ivana menutup mulutnya tak percaya.
Sementara itu di dalam rumah Erick, Rathree mengambil barang-barang pribadi Erick yang diperlukan selama pemuda itu berada di ‘tahanan’ Yoseff. Permintaan Erick cukup banyak, pemuda itu meminta agar pakaiannya diambilkan, serta dibuatkan surat izin untuk kampus dan bengkel tempatnya bekerja.
Kevin masuk ke dalam rumah sederhana itu, ia mengamati setiap sudut bangunan tersebut lalu menggelengkan kepalanya pelan. Rumah ini sangat sederhana bahkan mendekati kecil.
“Apa sudah selesai? Aku tidak tahan berada di sini, ugh.” Kevin mengernyit jijik, ada salah satu atap yang bolong dan muncul tikus di sana.
Rathree diam tak menjawab ocehan Kevin, ia hanya fokus memasukkan barang-barang Erick ke dalam ransel yang ia bawa. Setelah memastikan semuanya sudah lengkap, ia pun menutup ransel itu dan menggendongnya di punggung.
Rathree keluar dari kamar Erick, lalu disusul oleh Kevin yang mengekorinya di belakang.
Sebelum Rathree benar-benar keluar dari gerbang rumah Erick, matanya menatap rumah di seberang sana. Ia melihat ada mobil yang bertengger di rumah Crisibell, dilihatnya selama beberapa saat sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya masuk ke mobil mewahnya.
“Ada apa?” tanya Kevin pada Rathree.
Rathree menatap rumah Crisibell dari dalam mobil. “Rumah itu milik sepupu Erick, kau lihat mobil yang di sana, sepertinya gadis itu ada di rumah.”
Kevin manggut-manggut. “Menurutku pemilik rumah itu tidak tau kalau kita datang ke sini, abaikan saja.”
Setelah mengatakan hal itu Kevin pun menancapkan gasnya, lalu pergi dari sana.
Tidak mau tinggal diam, Ivana yang sejak tadi menjadi mata-mata dadakan pun kini juga ikut membuntuti mobil yang dikendarai oleh Kevin. Dengan hati-hati serta jarak yang aman, Ivana pun diam-diam mengawasi mobil itu.
“Kena kau, dia pasti menyembunyikan Erick di suatu tempat.” Ivana bergumam dengan dirinya sendiri sambil terus mengikuti mobil di depannya.
Mobil Kevin dikendarai menuju ke sebuah jalanan sepi, sepanjang jalan itu hanya terlihat satu dua mobil saja yang lewat, cukup lengang. Ia ingin menemukan keberadaan Erick, teman barunya itu harus diketemukan secepatnya.
Terakhir, mobil Kevin belok ke sebuah g**g kecil yang hanya bisa memuat satu mobil saja. Ivana tidak mengikutinya lagi, ia memilih untuk berhenti sebelum belokan, memarkirkan mobilnya di sana sementara dirinya mengintip.
Meski hanya belokan sempit, tapi di sana terlihat ada bangunan super megah, membuat Ivana berpikir lagi jika Erick benar-benar disembunyikan di sana. Tempat ini cukup terpencil dan sepi.
Gadis itu mengambil ponsel dari mobilnya, setelah itu ia pun mengendap-endap untuk masuk ke bangunan mewah di sana.
Kevin dan Rathree keluar dari mobil, keduanya telah sampai ke tujuan.
“Prof Yoseff sudah menunggu kalian di dalam,” ujar penjaga yang ada di sana.
Rathree melirik Kevin, Kevin pun mengangguk paham dengan lirikan dari Rathree.
Keduanya pun masuk ke dalam bangunan tersebut. Itu adalah rumah mewah milik Yoseff yang didalamnya juga terdapat laboratorium fasilitas lengkap.
Erick ada di dalam kamar, seperti biasa ia akan dikunci di sana dan menunggu orang-orang itu untuk membukakan pintu.
Tak berselang lama kemudian pintu kamarnya terbuka dari luar, Erick melihat siapa yang datang.
Rathree masuk ke dalam kamar itu, tak lupa ia juga memberikan tas ransel yang berisi barang-barang Erick.
“Aku sudah menepati janjiku, sekarang ikut lah ke labrotarorium.”
Ya, hari ini juga Yoseff akan melakukan uji coba pada Erick.
Erick bangkit berdiri ia mengikuti langkah Rathree menuju ke laboratorium seperti kemarin. Kesehatan Erick terus membaik, tekanan darahnya juga normal.
Laboratorium luas ini dibagi menjadi beberapa bagian, dengan sekat-sekat yang terbuat dari kaca transparan sebagai pembatas.
“Selamat datang, Erick. Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya hari ini kau akan menjalani penelitian pertama, rileks kan pikiranmu!” Yoseff sudah ada di sana, pria itu mengenakan jas laborat, masker serta kacamatanya.
Pertama-tama Erick membuka bajunya hingga bertelanjang d**a, setelahnya pemuda itu diminta untuk merebahkan dirinya pada ranjang.
Di sekitar Erick sudah ada banyak alat-alat terpasang, Yoseff memasangkan memasangkan kabel pada dadanya, yang tersambung pada mesin monitor jantung.
“Jangan tegang, kau tidak akan mati hanya dengan penelitian pertama.” Yoseff terkekeh pelan, seperti tidak menghargai sebuah nyawa.
Yoseff mengambil sampel darah Erick, dirasa cukup, ia pun mencabut spuit dari lengan pemuda itu. Ia memberikannya pada Rathree.
“Apa kau benar-benar akan mengcloning ku?” tanya Erick dengan seksama.
Yoseff meliriknya lalu mengengangguk singkat.
“Ya, aku butuh orang-orang berkemampuan sepertimu.” Balas Yoseff.
“Lalu akan kau apakan orang-orang tersebut?” tanya Erick lagi.
Yoseff tidak menjawab pertanyaan Erick, ia mengambil botol kecil yang berisi cairan.
“Ini obat bius, selama pengerjaan berlangsung kau tidak akan sadar kurang lebih dua jam.” Tukasnya.
Erick mempersiapkan diri dan mentalnya.
Perlahan-lahan Yoseff memasukkan cairan tadi ke dalam tubuh Erick, seketika itu Erick merasakan kantuk yang luar biasa, matanya seolah-olah sulit untuk diajak berkompromi.
Erick pun kehilangan kesadaran.
Selama itu Yoseff sibuk berkutat untuk mengambil sampel-sampel dari tubuh Erick, ia melakukannya dengan amat rapi agar tidak gagal. Obyeknya kali ini sangat begitu penting, jika biasanya Yoseff hanya akan melakukan pengerjaan selama tiga kali masa penelitian per satu orang. Maka kini ia harus melakukan pengerjaan terhadap Erick selama berkali-kali, tidak cukup hanya dua atau tiga kali penelitian saja, karena Erick istimewa.
Ivana mengendap-endap masuk ke rumah Yoseff, dirinya berhasil mengelabuhi penjaga yang ada di depan gerbang. Kini Ivana sudah masuk ke bagian dalam rumah, ia hanya perlu mencari ruangan mana Erick disembunyikan.
Ivana bersembunyi di balik guci besar tatkala ia melihat Rathree keluar dari ruang laboratorium, entah perasaannya yang sangat peka, Ivana yakin seyakin-yakinnya jika Erick ada di dalam ruangan itu.
Setelah memastikan sekitarnya aman, Ivana kembali melangkahkan kakinya untuk mendekat pada ruang laborat. Ia membuka pintu itu dengan teramat pelan, juga mengintip dari celah pintu.
Mata gadis itu membulat kaget, benar saja ada Erick yang terbaring di ranjang sana. Dan seseorang sedang melakukan pembedahan, Ivana menutup mulutnya tak bisa berkata-kata.
“Erick...” gumam Ivana sangat pelan.
Ia bingung harus melakukan apa, Ivana tidak bisa menyelamatkan Erick hanya dengan tangan kosong dan sendirian, ia harus memberitahukan hal ini pada pihak kepolisian agar membantunya.
Ivana memundurkan langkahnya, sembari berusaha mengambil ponsel yang ia taruh pada saku.
Namun, ia tak menemukan ponselnya. Ivana mulai panik, seingatnya ia sudah memasukkan ponsel dalam saku celana. Tidak mungkin tertinggal di mobil, atau kemungkinan terburuknya adalah jatuh disekitaran rumah ini dan berpotensi bisa ditemukan oleh orang lain.
Panik? Tentu saja.
Ia segera berbalik badan untuk mencari benda pipih itu, tapi detik selanjutnya ia dikagetkan oleh sesosok pria yang berdiri tak jauh dari posisinya berada.
“Apa kau sedang mencari benda ini, Nona?” Kevin berdiri tepat di depan Ivana, tangannya membawa sebuah ponsel yang sangat Ivana kenali.
Ya, ponsel itu milik Ivana.
“Ahh, rupanya ada penyusup di sini.” Kevin terkekeh pelan, matanya menatap tajam pada Ivana bagai elang yang siap memburu mangsanya.
Tubuh Ivana menegang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia ketahuan!
Tidak ada cara lain selain kabur dari sini, ia harus segera melaporkan tempat ilegal ini pada polisi. Erick harus diselematkan, dan juga orang-orang jahat ini perlu diadili seadil-adilnya.
Ivana lari dengan acak, yang sedang ia pikirkan hanya lah segera menemui pintu keluar.
Kevin tentu saja mengejar gadis itu, tidak ada yang boleh lolos hidup-hidup dari sini. Ivana sudah mengetahui tempat ini dan gadis itu perlu disingkirkan secepat mungkin.
Sudah sejak di perjalanan tadi ia menyadari bahwa sedang dibuntuti, hanya saja Kevin dan Rathree berlagak seolah-olah mereka tidak menyadarinya. Keduanya ingin tahu apa yang diinginkan oleh gadis itu, tadinya Rathree berpikir bahwa Ivana adalah Crisibell, akan tetapi dugaannya salah. Ia tidak tahu siapa dan apa hubungan Ivana pada Erick.
Ivana benar-benar gadis yang polos atau bahkan bodoh. Rumah ini diberi CCTV setiap sudutnya, tentu saja gerak-gerik Ivana akan mudah dipantau.
“Jangan kabur, ku lihat kau masih muda, kenapa mempertaruhkan nyawamu untuk Erick?” Kevin berujar sembari mengejar Ivana.
Ivana tak menggubris ucapan Kevin, kini ia menemukan satu pintu yang menuju arah luar, ia menambah laju larinya.
Kevin menghela napas berat lalu bergumam, “Kau memilih jalan yang salah.”
Ivana melirik ke belakang, dilihatnya Kevin tidak lagi mengejarnya.
Merasa bahwa setitik harapan lolos sudah ada di depan mata, tapi detik selanjutnya ia benar-benar dikagetkan dengan kenyataan di luar ekspektasi.
“Mau ke mana, hah?” Rathree sudah ada di depan Ivana, menghalangi jalan keluar gadis itu.
Ivana menghentikan laju larinya, ia menoleh ke belakang, Kevin juga ada di ujung sana dengan berdiam diri sambil menatapnya licik.
Ivana terjebak!
“Menyerah saja, tidak ada jalan lagi untukmu.”
“Kalian semua penjahat, akan ku laporkan pada polisi.” Ivana memekik dengan keras, matanya memerah karena amarah yang menggebu-gebu.
“Apa hubunganmu dengan Erick?” Rathree bertanya sambil memincingkan matanya.
Ivana tidak menjawab, ia tak mau berbicara dengan orang jahat!
Diam-diam Kevin di belakang mulai berjalan, ia akan menyergap Ivana di saat gadis itu lengah.
Rathree sengaja memecah fokus gadis itu, agar Ivana tidak menyadari bahwa kini Kevin sudah ada tepat di belakangnya.
"Gadis yang malang, usahamu berakhir sia-sia." tukas Rathree sembari menatap Ivana dengan sok iba.
Ivana tidak mengerti apa arti ucapan Rathree. Belum sempat ia memutar otak mencari ide, tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada belakang lehernya.
DUGH!
Kevin memukul tengkuk gadis itu, membuat Ivana terkulai dan hampir jatuh, dengan sigap Kevin membawa Ivana.
Rathree tersenyum miring, membereskan satu tikus kecil tidak akan membuat dirinya kesusahan.
"Gadis yang cantik," Ia terkekeh kecil lalu membawa tubuh ringkih gadis itu menuju ke suatu ruangan.