Ivana merasakan pening di tengkuknya, gadis itu mengerjapkan matanya pelan sembari memfokuskan pandangan ke seluruh ruangan. Tempat ini cukup asing di matanya, gadis itu mencoba untuk mengingat-ingat lagi kejadian beberapa saat lalu.
Ia kabur dari kejaran orang-orang suruhan ayahnya, setelah itu pergi ke rumah Crisibell untuk menumpang tinggal, tapi justru ia menemukan ada penculik-penculik Erick dan mengikutinya sampai ke sebuah rumah.
“Astaga!” Mata Ivana terbelalak lebar setelah menyadari bahwa kini dirinya telah tertangkap.
“Orang-orang itu sudah menyadari aku menyusup.” Ia menghela napas kasar, setelahnya buru-buru ia mendudukkan dirinya pada pinggiran ranjang.
“Aku harus segera keluar dari sini.”
Ivana berdiri dari duduknya, jujur saja belakang kepalanya masih terasa berat karena pukulan si Kevin. Ia meraih gagang pintu lalu berusaha untuk membukanya, tentu saja terkunci!
Tak mau menyerah begitu saja, Ivana segera mencari inisiatif lain, dilihatnya ada gorden yang menutupi sebuah jendela. Ia mendekati jendela itu dan menyibak kain tipis yang menjadi penghalang, benar saja itu adalah jendela kaca yang memiliki pengait di sudutnya. Ivana bisa saja kabur melewati jendela ini, hanya saja penjaga-penjaga yang ada di depan sana bersiap langsung menangkapnya.
Dari tempatnya berdiri, Ivana bisa melihat dengan jelas gerbang pintu masuk yang dijaga oleh sekitar empat pria bertubuh kekar. Jelas ia tidak akan bisa kabur dengan mudah tanpa tertangkap.
Pintu kamar yang ditempat Ivana terdengar bersuara, buru-buru gadis itu kembali ke ranjangnya dan berpura-pura tidak berjadi apapun. Tepat sekali, Rathree dan Kevin masuk ke dalam kamarnya.
“Kau sudah bangun rupanya,” gumam Kevin.
Ivana membuang muka dengan masam, pria itu lah yang memukul tengkuknya hingga pingsan.
Rathree mendekati Ivana lalu berujar, “Apa hubunganmu dengan Erick?”
Ivana diam, ia tidak mau berkata apapun.
Rathree memincingkan matanya melihat gadis itu, Ivana nampak mirip dengan seseorang, tapi entah siapa ia lupa.
“Mungkin saja kekasihnya.” Kevin tiba-tiba berceletuk.
Rathree mengendikkan bahunya pelan. “Siapapun dirimu, kau telah lancang masuk ke wilayah ini, maka tidak ada jalan untukmu bebas.”
Sontak saja hal itu mengundang kebencian terdalam dari Ivana.
“Kalian yang menculik Erick, akan ku pastikan kalian semua masuk penjara!” tukas Ivana menggebu-gebu.
Rathree menertawai ucapan Ivana karena baginya itu menggelikan.
“Masuk penjara, ya? Tapi bagaimana caramu melaporkan kami ke penjara jika kau saja masih terkurung di sini.” Tawa Rathree sarat akan ejekan, ia menertawakan nasib buruk gadis itu.
Ivana meremat ujung sprei ranjang itu, telinganya terdengar bergemuruh karena mendapat ledekan dari wanita biadab itu.
“Enyah lah kalian ke neraka!” Detik selanjutnya Ivana pun mencoba menerobos pertahanan, ia menabrak tubuh kekar Kevin lalu lari sekencang-kencangnya.
“Dia kabur, merepotkan saja!” tukas Rathree.
Kevin mengejar gadis itu ke luar, Ivana lagi-lagi memilih jalan acak karena ia tidak tahu sistem rumah besar ini.
Sedangkan di dalam laboratorium, Erick mulai sadar dari pengaruh obat biusnya, pemuda itu bangkit dari ranjangnya. Ketika ia melihat ke sekeliling, ada Yoseff yang sedang memasukkan sampel darahnya ke gelas ukur yang mengeluarkan asap.
Yoseff melirik pada Erick lalu berkata, “Kau boleh kembali ke kamarmu, aku akan menguji sampel ini lebih dulu, kita lihat hasilnya besok.”
Erick tidak menjawab, ia hanya melenggang pergi dari sana. Tepat saat ia baru saja berjalan menjauh dari pintu laboratorium, tiba-tiba saja ada yang manabraknya.
“Aduh!” Terdengar rintihan suara dari seorang gadis, Erick tampak tidak asing dengan suara itu.
Ia melihat dirinya dan gadis itu terjatuh di lantai yang dingin, Erick mengamati gadis itu dengan lekat.
“Ivana?” Mata Erick membulat kaget saat ia melihat Ivana yang tadi menabrak dirinya.
Ivana pun demikian, ia juga terkejut dan kaget mendapati Erick.
“Erick, akhirnya aku bisa menemukanmu.” Ivana buru-buru menghambur ke pelukan pemuda itu, rasanya sangat lega karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Erick.
Erick hanya membiarkan saja Ivana memeluknya, meski dirinya bingung kenapa ada Ivana di sini?
“Kenapa kau ada di sini? Apa mereka juga menangkapmu?” tanya Erick di sela-sela pelukan keduanya.
“Aku melihat mereka datang ke rumahmu lalu mengikutinya sampai ke sini, tapi aku tertangkap. Rick, sekarang kita bisa kabur, ayo!” Ivana segera melepaskan tautan keduanya, ia bangkit berdiri bersama Erick.
Erick menahan lengan Ivana yang ingin mengajaknya pergi, ia menggeleng pelan.
“Untuk saat ini aku tidak bisa pergi, ada suatu hal yang perlu ku ketahui tentang tempat ini.” Tukas Erick pada gadis itu.
Ivana menatap Erick dengan pandangan heran, “Kenapa kau mengorbankan dirimu? Kau dalam bahaya, mereka bisa saja mengambil nyawamu!”
Erick menatap mata Ivana dengan teduh, ia tahu bahwa saat ini gadis itu tengah mencemaskannya, buktinya saja Ivana rela menyusup ke sini demi mencari dirinya.
“Aku tahu, maka dari itu biarkan aku di sini selama beberapa saat saja. Aku akan mencari cara untuk keluar dari sini setealah melihat kebusukan mereka semua, percaya padaku Ivana!”
Erick tidak bisa membayangkan jika sampai Ivana tahu mengenai perbuatan ayahnya yang ikut andil dalam penelitian ilegal ini, gadis itu pasti semakin membenci ayahnya.
“Kalian sudah bertemu, rupanya...” Kevin dan Rathree menemukan keduanya yang sedang berbicara.
Ivana menoleh cepat, ia merasa dalam bahaya, buru-buru Erick melindungi gadis itu ke belakang tubuhnya.
“Jangan sakiti dia, biarkan Ivana pergi.” Tukas Erick pada mereka.
Rathree menaikkan alisnya. “Maaf mengecewakanmu, Erick! Kekasihmu itu sudah mengetahui tempat ini, dia tidak bisa ku lepaskan begitu saja.”
Ivana menggenggam tangan Erick dengan rekat-rekat, deru napasnya memburu tak beraturan.
“Ivana tidak akan melakukan apapun, biarkan dia kembali ke kehidupannya.” Tukas Erick lagi.
Ivana menggeleng, ia tidak mau pergi begitu saja tanpa Erick. Jikapun ia bisa keluar dari sini hidup-hidup maka tentunya Ivana akan melaporkan tempat ini pada kepolisian.
Merasa ada keributan, Yoseff pun keluar dari ruang laboratnya, pria itu menatap ke sekeliling, matanya menajam kala melihat Ivana.
“Kau bukankah Ivana Dexter—anak dari Dexter?” Yoseff merasa bahwa penglihatannya benar, ia sangat yakin jika gadis di depannya itu adalah anak dari donatur tetap bagi penelitiannya.
Beberapa kali Yoseff pernah melihat anak itu ketika ia berkunjung ke rumah Dexter, hanya saja saat itu Ivana tampak cuek dan tidak mau menyapa orang-orang kenalan ayahnya.
“Siapa kau, kenapa kenal dengan Dexter?” Ivana langsung menyahut cepat.
“Hahahaha...” Yoseff tertawa kencang hal itu membuat mereka semua menatap aneh padanya.
“Ivana-Ivana, Dexter mencarimu susah payah sedangkan kau berada di sini? Sungguh ayah dan anak yang sangat berbeda jauh. Kau lihat laboratorium ku ini, ini semua adalah hasil suntikan dana ayahmu, Dexter pula yang membiayai seluruh penelitianku. Jadi, sebagai putri yang baik maka jangan hancurkan usaha ayahmu ini.” Tukas Yoseff panjang lebar.
Syok? Tentu saja. Ivana menutup mulutnya tak percaya, apa-apaan ini? Ayahnya ikut mendanai penelitian ilegal Yoseff, Ivana semakin membenci ayahnya itu.
Rathree paham sekarang, pantas saja ia merasa tidak asing dengan wajah gadis itu, ternyata Ivana memiliki kemiripan dengan Dexter.
Kevin menatap Ivana dengan lekat, ia tak menyangka jika gadis naif itu adalah anak orang kaya.
Ivana melirik pada Erick sambil menggelengkan kepalanya. “Erick, aku tidak mengetahui apapun mengenai penelitian ini, kau percaya padaku kan?”
Erick menatap Ivana dengan lekat lalu berkata, “Aku percaya padamu, kau adalah gadis yang baik.”
Setitik air mata membasahi pipi mulus gadis itu, Ivana benar-benar tidak menyangka bahwa ayahnya akan sekejam itu berkali-kali lipat.
“Aku membencinya, ia bukan ayahku!” Ivana menjerit tertahan. Membayangkan betapa kejinya Dexter dengan membiayai penelitian Yoseff, maka pria itu pasti juga ada kaitannya dengan kemaian-kematian orang yang menjadi bahan uji coba penelitian ilegal ini.
“Ahh, hubungan keluarga yang sangat rumit.” Gumam Yoseff, detik selanjutnya ia memberi kode pada Kevin untuk menangkap Ivana.
Yoseff akan memanggil Dexter ke sini agar mengamankan putrinya, sehingga Ivana tidak akan berani melaporkan tempat ini ke kepolisian.
Secepat kilat Kevin bergerak, ia mencoba meraih Ivana dari perlindungan Erick.
“Jangan sentuh Ivana, ku bilang jangan!” Erick berteriak kencang, ia juga masih berupaya melindungi gadis itu.
“Erick dengar! Aku tidak akan menyakiti kekasihmu itu, sebaliknya aku akan mengembalikan Ivana pada Dexter, biarkan ayahnya sendiri yang mengawasi putrinya.” Ujar Yoseff pada Erick.
Ivana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia tidak mau pulang, apalagi bertemu dengan Dexter.
“Aku tidak mau, Erick!” lirih Ivana.
Erick menimbang-nimbang perkataan Yoseff. Jika Ivana dikembalikan ke ayahnya, setidaknya hal itu akan meminimalisir bahaya. Ivana tidak harus dikurung di tempat sampah ini, gadis itu harus selamat.
“Ivana, dengarkan aku!”
“TIDAK, AKU TIDAK MAU!” Ivana hendak melepakan tautan Erick, tapi pemuda itu lebih dulu mengeratkannya.
Keduanya saling berhadap-hadapan, Erick meraih dagu gadis itu agar Ivana menatap matanya.
“Kembali lah pada orangtuamu, setelahnya diam-diam kau bisa melaporkan tempat ini pada kepolisian. Setidaknya berpura-pura saja sementara waktu agar kau aman.” Erick berbisik amat pelan pada Ivana. Ia juga memunggungi ketiga orang jahat itu agar tidak melihat pada dirinya.
Tak lupa, Erick juga memberikan kode kedipan mata.
“Kau harus kembali pada ayahmu, kau tidak boleh jadi anak durhaka!” Erick kembali berujar, kali ini ia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh mereka.
Ivana menelan ludahnya dengan kasar, matanya terus menatap kornea milik Erick, di sana ia melihat keteguhan yang amat kuat.
"Apa kau yakin dengan cara ini bisa berhasil?" tanya Ivana pada Erick.
Erick sebenarnya tidak begitu yakin, hanya saja ia ingin agar gadis itu selamat dan tidak berurusan dalam bahaya lagi. Kasihan Ivana jika harus terseret dalam masalah ini, apalagi ayahnya merupakan orang yang berkuasa.
"Aku yakin." Erick berkata dengan setengah keraguan, meski begitu ia berharap agar Ivana memercayainya.
“Aku mencemaskanmu...” Ivana berbisik lirih.
“Aku tau, terima kasih sudah memikirkanku.” Erick memeluk Ivana, membawanya dalam pelukan hangat.
“Tcih, drama picisan.” Kevin memutar bola matanya jengah, ia paling malas melihat aksi percintaan.
Setelahnya Erick pun membiarkan Ivana dibawa oleh Kevin.
“Bagus Ivana, jangan jadi anak yang durhaka!” Ejek Rathree.
Yoseff juga melihat itu, ia hanya diam setidaknya memberikan sedikit waktu untuk momentum perpisahan mereka berdua.
Perlahan-lahan Ivana pun menjauh dari Erick, tapi matanya tak mau lepas dari sosok pemuda yang sudah menyelamatkan hidupnya itu. Erick menghela napas berat, semoga saja Ivana tidak terlibat lagi dalam urusan ini, malang sekali nasib gadis itu.
“Erick, ayo kembali.” ujar Rathree pada Erick.
Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, pemuda itu tampak lesuh tak seperti biasanya yang masih sering menampilkan ekspresi kebencian menggebu-gebu.
“Tenang saja, kekasihmu akan aman.” Tukas Rathree.
Erick berhenti di ambang pintu kamarnya lalu berkata, “Apa saja tahapan penelitian kalian?”
“Jika sampel darah, DNA dan genmu bagus, maka kau akan segera di cloning.”
“Dengan cara apa?”
Rathree hanya tersenyum miring, setelahnya ia mendorong tubuh Erick sepenuhnya agar masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.
“Aku akan melahirkan anak hasil cloninganmu itu, jika kau ingin tahu.” Gumam Rathree pelan, setelahnya ia pun pergi dari sana.
***
Sedangkan di lokasi yang sama, Ivana pun digiring masuk ke kamarnya—sama seperti tadi.
Kevin membuntuti gadis itu hingga ke dalam kamar.
“Aku tidak menyangka jika kau adalah anak dari Dexter, kepribadian kalian sangat berbeda jauh.” Ujar Kevin pada Ivana.
Sama seperti sebelumnya, Ivana malas membalas perkataan tak bermutu Kevin, ia memilih duduk di pinggir ranjang sembari menunggu waktu di mana ayahnya akan datang menjemputnya.
Ivana berpikir bahwa hidupnya mengenaskan sekali. Setelah ia berhasil kabur dari pengawal ayahnya di apartemen, justru masuk ke kandang buaya milik rekanan Dexter.
Merasa diabaikan, Kevin pun melangkah mendekati Ivana.
“Kau cantik, Ivana.” Dengan lancang Kevin mengelus pipi mulus gadis itu, ia juga meraih dagu Ivana agar menatapnya.
Ivana mendelik tajam, ia ingin menghempaskan tangan Kevin tapi tenaganya tak sebanding dengan kekuatan pria itu.
“Lepaskan aku,” ujar Ivana dengan nada penekanan penuh.
Tidak melepaskan Ivana, Kevin justru semakin berani mengarahkan jari-jarinya menelusuri wajah cantik itu. Ivana masih muda, cantik, dan juga anak dari konglomerat, ia menginginkan gadis ini untuk menguatkan posisinya.
“Aku menyukaimu,” bisik Kevin.
“Cuih, enyah lah kau ke neraka!” Ivana meludahi wajah Kevin, selanjutnya ia juga menambahkan tendangan maut menuju ke area sensitif Kevin hingga membuat si empunya terdorong ke belakang.
“Aghh...” Kevin berteriak kesakitan saat ia merasakan ngilu pada area ‘masa depannya’ gadis ini benar-benar keterlaluan.
“Aku tidak sudi denganmu.” Tambah Ivana lagi.
“Kau benar-benar menguji kesabaranku, Ivana!” Kevin ingin melangkah mendekati Ivana, tapi suara Rathree lebih dulu menghentikannya.
“Apa yang kau lakukan Kevin? Jangan mengganggu anak dari Dexter jika tidak ingin kepalamu terpisah dari badan,” Rathree menyandarkan bahunya pada kusen pintu.
“s**l—!!!”
Kevin memilih pergi dari sana, tapi ia takkan menyerah begitu saja untuk mendapatkan gadis itu.
Rathree bersedekap tangan menatap gadis malang itu.
“Bersabar lah sedikit, ayahmu akan sampai sebentar lagi.”
BLAMM!
Rathree menutup pintu cukup keras, lalu menguncinya.
“Hahh...” Ivana memekik pelan, ia merenungi nasibnya yang sungguh buruk ini.
Kenapa ia tidak tahu jika selama ini ayahnya juga ikut andil dalam kejahatan ini. Ivana benar-benar tidak menyangka, andai saja kedok asli Dexter terbuka di muka publik, pasti citra ayahnya itu akan anjlok seanjloknya!
Sesuai dengan perkataan Erick, Ivana akan berpura-pura menurut saja, di sisi lain ia juga harus merencanakan cara lain membebaskan Erick, memenjarakan para peneliti ilegal dan juga melawan ayahnya sendiri!
Bodo amat dengan jalinan darah antara anak dan orangtua, Dexter tidak pantas disebut sebagai ayah!