Yoseff benar-benar memanggil Dexter untuk datang ke tempatnya, ia ingin agar pria itu mengamankan anaknya sendiri, daripada harus Yoseff yang turun tangan.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di halaman bangunan milik Yoseff, ya itu adalah Dexter. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja putih disertai dengan jas berwarna biru tua, ia melepaskan kacamata hitamnya untuk memindah ke seluruh bangunan bertingkat itu.
“Tuan Dexter silahkan masuk, Prof Yoseff sudah menunggumu di dalam,” ujar seorang penjaga gerbang yang kini mendekat pada Dexter.
Pria itu tidak menjawab, ia langsung memilih melenggang pergi dari sana, ia menaiki anak tangga menuju ke ruangan pribadi Yoseff. Tanpa mengetuk pintu atau sejenisnya, Dexter juga asal menyelonong masuk begitu saja.
Yoseff sudah terbiasa dengan tingkah laku rekanannya itu, ia justru menyambutnya dengan girang.
“Dexter, silahkan duduk.” Yoseff mengajak Dexter untuk duduk di sofa, sudah ada teh panas yang tersedia di sana.
“Langsung saja, ada apa mengundangku ke sini? Kau tidak ingin mengatakan bahwa penelitianmu gagal lagi untuk ke sekian kalinya, bukan?” Yoseff memincingkan matanya curiga.
“Hahahaha...” Yoseff terbahak mendengar ucapan Dexter, ada-ada saja pemikiran pria itu.
“Tidak, sejauh ini obyek ku berhasil membuatku puas, tidak ada celah untuk kegagalan.” Sambungnya lagi.
“Lalu untuk apa kau mengundangku ke sini? Aku tidak punya banyak waktu untuk hal yang tidak berguna,” balasnya.
Yoseff menyilangkan kakinya, senyuman cerah terbit di bibir pria itu.
“Aku yakin untuk yang satu ini kau akan bangga padaku.” Yoseff terlihat begitu mendramatisir.
Dexter menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya, detik selanjutnya ia pun pergi dari sana. Pikirannya sudah runyam karena gagal menangkap putrinya, ditambah lagi dengan ucapan basa-basi Yoseff yang sama sekali tidak berguna.
Melihat Dexter yang beranjak pergi sontak saja membuat Yoseff segera menghadang jalan pria itu.
“Eitss, tunggu dulu.”
“Katakan apa maumu sebenarnya, tidak usah berbasa-basi lagi!” Dexter mengetatkan rahangnya dengan penuh, sembari menatap tajam pada Yoseff yang menyebalkan itu.
“Aku menemukan putrimu,” tukas Yoseff dengan cepat.
Mata Dexter langsung semakin menajam. “Apa yang kau katakan?”
“Aku menemukan putrimu, Ivana Dexter.” Yoseff menekankan lagi kalimatnya.
Dexter langsung mencekik leher Yoseff dan mendorongnya pada tembok.
“Jangan main-main denganku, bagaimana mungkin kau bisa menemukan Ivana? Sedangkan aku selalu gagal menemukannya.” Mata Dexter terlihat berkilat-kilat marah, ia tidak suka becandaan yang sereceh ini.
“Aku serius, ikut denganku!” Yoseff memberikan kode pada Dexter.
Sontak saja cekikan di lehernya pun terlepas, Dexter mengikuti arah jalan Yoseff. Awas saja jika pria bodoh itu berani menipunya, ia akan membuat perhitungan sekejam mungkin.
Yoseff membawa Dexter menuruni anak tangga, salah satu kamar di lantai bawah adalah tempat Ivana dikunci.
“Buka pintunya,” ujar Dexter pada Rathree yang sudah berjaga di sana.
Rathree mengangguk, ia juga langsung melaksanakan titah atasannya itu.
Cklek...
Pintu kamar terbuka dengan perlahan, Ivana yang berada di dalam pun mendongakkan kepala.
Tepat saat itu juga Dexter menatap matanya, tubuh Ivana menegang, detik ini juga ia bertemu dengan sosok yang ia benci sekaligus ingin dihindari.
“Ivana...” Dexter mendesis pelan, ternyata putrinya yang bebal ini berada di sini.
Yoseff tersenyum kecil, Dexter menatap Yoseff dengan pandangan bertanya-tanya, bagaimana bisa Ivana ada di sini?
“Hahh... Ceritanya berat, tapi sebagai ayahnya kau harus tahu, agar putrimu tidak berulah lagi.” Yoseff menatap Ivana dengan pandangan penuh ejekan.
Tangan Ivana meremat sprei dengan amat erat, di matanya saat ini hanya lah penuh dengan kebencian saja.
“Apa yang Ivana lakukan?”
“Erick—pemuda yang menjadi obyek ku itu adalah teman dekat anakmu, atau bisa dibilang kekasih mungkin? Hahaha. Ia datang ke sini untuk menyelamatkan Erick dan hampir saja menghancurkan rencana yang telah kita buat.” Yoseff mengatakannya dengan santai.
Berbeda dengan Dexter yang terhenyak mendengar ucapan Yoseff. Jadi, putrinya dan Erick saling mengenal?
“IVANA! Setelah kau kabur dari rumah justru membuat masalah, ke mana saja kau selama ini.” Dexter menyentak Ivana dengan keras, membuat gadis itu berjengkit kaget.
Ivana mendongakkan kepala pada Dexter. “Kau masih bisa menyalahkanku atas kejahatanmu itu? Aku tidak tahu apa yang ada di otakmu, Tuan Dexter. Bisa-bisanya bekerja sama dengan para peneliti busuk ini hanya demi mengorbankan nyawa orang-orang tak berdosa, aku benar-benar tidak habis pikir denganmu.”
“Aku adalah ayahmu, jika kau lupa!”
“Ayah? Kau menyebut dirimu Ayah? Ayah macam apa yang membedakan kasih pada anaknya, kau juga sering mengabaikan dan meremehkanku. Tidak ada ayah sepertimu di dunia ini, aku malu memiliki ayah seperti dirimu!” Baru kali ini Ivana terlihat sangat berani menentang ayahnya sendiri, padahal selama ini ia tak pernah bicara sekasar itu.
Karena merasa sangat terhina oleh ucapan anaknya sendiri, Dexter tidak segan-segan menampar pipi Ivana dengan keras, hingga terdengar bunyi yang cukup nyaring.
“Anak tak tau diuntung!” Dexter berapi-api, ia menatap Ivana dengan pandangan penuh amarah.
Yoseff mengendikkan bahunya pelan melihat pertikaian antara orangtua dan anak itu, juga dengan Rathree yang bergidik kala sesekali mengintip ke kamar yang ditempati oleh Ivana.
Ivana memegang pipinya yang terasa nyeri, ini sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit hatinya.
“Tamparan ini lagi-lagi mengingatkanku pada kejadian lima tahun lalu, rasanya masih sama seperti dulu—nyeri dan perih. Tapi... trauma itu lebih menyakitkan.” Ivana bergumam pelan, ia juga kembali menegapkan badan seolah-olah kuat menghadapi sikap tempramen ayahnya.
Lima tahun lalu, ia berseteru dengan dua kakaknya Eryan dan Ersan. Itu karena kedua kakak laki-lakinya diperbolehkan untuk melakukan percobaan mobil baru, sedangkan dirinya tidak, alasannya adalah karena Ivana merupakan anak perempuan, tidak seharusnya belajar menyetir.
Dari keributan itu lah Dexter dengan mudahnya melayangkan tamparan pada anaknya, tidak hanya itu, bahkan genggaman tangan besar Dexter meluncur memukul anak kandungnya sendiri.
Sejak saat itu, hubungan Ivana dengan orangtua beserta dua kakaknya merenggang, Ivana terlalu sakit untuk menjadi bagian dari keluarga berantakan itu. Bahkan ibunya—Adeline juga memihak pada dua anak laki-lakinya itu, membuat Ivana benar-benar merasa tertekan dan sendirian.
Ivana sudah bertekad sejak dulu, ia ingin hidup mandiri dan terpisah dari orangtuanya, ia sudah siap jika harus kehilangan citra ataupun fasilitas yang diberikan oleh orangtuanya. Ivana tidak peduli, di rumah itu ia bagai orang asing yang tak dianggap.
Tapi, setelah ia berhasil kabur dari rumah dan hidup mandiri selama beberapa waktu, ayahnya mencari dirinya dan detik ini juga tepat berada dihadapannya.
“Jangan berhubungan dengan pemuda itu lagi, kau tidak akan bisa menyelamatkannya.” Tukas Dexter lagi.
Detik selanjutnya ia langsung menarik Ivana untuk pergi, gadis itu sempat memberontak tapi apa daya kekuatannya tak sebanding dengan Dexter.
“Lepaskan aku, aku tidak mau pergi.”
“KAU HARUS PULANG KE RUMAH!” Dexter semakin menarik tangan anaknya dengan kasar dan menyeretnya tanpa perasaan.
Ivana tidak mau menangis, ia tidak ingin terlihat lemah, ia harus melawan kejahatan ayahnya.
“Lepaskan aku! Aku membencimu, aku bersumpah membencimu selamanya!” Teriak Ivana sebelum ia benar-benar keluar dari bangunan megah itu dan dibawa ke dalam mobil.
Dexter sudah tidak tahan lagi dengan ulah Ivana, ia harus segera mengurung anak itu lagi agar tak menghancurkan penelitian ini.
Yoseff menatap kepergian ayah dan anak itu dari balik jendela, lalu menaikkan sebelah alisnya dan melenggang pergi.
Satu masalah sudah selesai, Ivana sudah ada di tangan Dexter, anak itu tidak akan bisa melaporkan hal ini pada pihak kepolisian.