Yoseff melihat perkembangan DNA milik Erick, semuanya berjalan dengan baik, dengan ini ia semakin percaya diri untuk melakukan kloning pada obyeknya.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Kevin, ia masuk ke dalam laboratorium dengan jas putihnya, menatap pekerjaan Yoseff yang sedang tersenyum cerah.
“Kesehatannya bagus dan tidak ada kecacatan sama sekali, panggilkan Erick dan Rathree sekarang, kita akan mengambil sel stem miliknya.” Ujar Yoseff pada anak buahnya itu.
Kevin hanya mengangguk kecil lalu pergi dari sana.
Seperti biasa, setiap pagi Erick akan diberikan sarapan yang penuh gizi, selama ia tinggal di sini semua kebutuhannya terpenuhi dengan lengkap. Hanya saja, itu semua tidak lah gratis, Erick harus membayarnya dengan menjadi boneka dari ilmuwan-ilmuwan ilegal itu.
Semalaman ini Erick tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan keadaan Ivana, apakah gadis itu baik-baik saja setelah dipaksa pulang oleh ayahnya? Mengingat bahwa hubungan Ivana dan Dexter tidak seperti ayah dan anak.
Erick takut jika Ivana kenapa-apa, bagaimana pun juga gadis itu sudah mempertaruhkan nyawa demi dirinya.
Pintu kamarnya dibuka dari luar, Erick mengadahkan kepala melihat siapa yang datang. Kevin menatap dirinya dengan malas, tampaknya pria itu masih kesal dengan Erick yang dikiranya berstatus kekasih Ivana.
“Ikut denganku,” tukas Kevin dengan nada datarnya.
“Untuk apa?” tanya Erick. Biasanya Rathree lah yang bertanggung jawab atas dirinya, entah kenapa hari ini Kevin lah yang tiba-tiba datang.
“Kau tidak perlu tau, tugasmu hanya lah mengikuti diriku.” Tukas Kevin, malas menjawab pertanyaan Erick.
Erick diam, ia juga tak mau bergerak sedikit pun.
Kevin geram, dengan cepat ia menyambar tangan Erick yang sedang memegang piring sarapannya. Setelahnya ia menarik Erick menuju ke labroratorium, Erick tentu saja tidak tinggal diam.
“Lepaskan aku.”
Kevin menulikan pendengarannya, ia terus mengajak Erick ke ruang laborat.
Di samping itu ada Rathree yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, wanita itu nampak segar mengenakan kemeja dan celana jinsnya.
“Ada apa ini?” tanyanya yang kebingungan dengan keributan yang dihasilkan oleh Kevin pagi ini. Ia melihat Kevin menarik-narik lengan Erick dengan kasar.
Kevin menghentikan langkahnya, ia menatap Rathree dengan tajam.
“Si bodoh ini tidak mau mengikuti perintahku,” ucap Kevin dengan nada mendesis, matanya juga menatap Erick mendelik.
Rathree menautkan keningnya, selama ini Erick akan menurut-menurut saja jika ia yang menyuruh.
“Sepertinya bukan Erick yang bermasalah, tapi dirimu.” Balas Rathree yang membuat Kevin semakin memelototkan matanya.
Erick mengibaskan tangannya yan dicengkeram oleh Kevin.
“Kau—“ Kevin ingin menyela, tapi lebih dulu dipotong oleh Rathree.
“Biarkan Erick bersamaku.” Rathree mengambil alih Erick, memintanya untuk mengikuti langkahnya ke laboratorium.
Ini lah perbedaan Rathree dan Kevin, meski sama-sama penjahat akan tetapi Rathree masih agak bisa memperlakukannya dengan baik. Tidak seperti Kevin yang kasar dan suka seenaknya, Erick sendiri tidak tau kenapa Dokter pecatan itu bersikap seolah-olah membenci dirinya.
Di sepanjang perjalanan menuju lab, sesekali Rathree berceletuk pada Erick.
“Abaikan saja Kevin, ia bersikap aneh akhir-akhir ini.” Wanita itu mengendikkan bahunya pelan, selanjutnya ia membuka pintu laborat.
Di sana Yoseff sudah menunggu obyeknya.
“Tidur lah di ranjang itu, dari semua pemeriksaan dan pengujian, kau layak untuk melakukan kloning.” Ujar Yoseff.
Erick duduk di ranjang seperti hari-hari lalu.
“Bagaimana caranya kau mendapat kloninganku?” tanya Erick memincingkan mata.
Rathree melirik Erick, itu adalah pertanyaan kemarin yang belum terjawab.
Yoseff menunjuk Rathree dengan dagunya. “Rathree akan mengandung bayi hasil kloningan itu.”
Erick membuka mulutnya spontan, lalu menatap Rathree dengan kaget. Pantas saja wanita itu tidak menjawab pertanyaannya kemarin.
“Apakah berarti bahwa kloningan itu akan menjadi anakku?” tanya Erick pada Yoseff.
Ya, di sini lah titik terpentingnya. Sejatinya proses kloning pada makhluk hidup merupakan tindakan yang menyalahi etika—terutama kloning manusia, kenapa? Karena anak hasil kloningan tidak jelas statusnya, mereka yang menciptakan hasil-hasil kloningan itu hanya mementingkan penelitiannya dan mengabaikan hak asasi atas hasil penelitian mereka.
Kloning sendiri berarti membuat keturunan yang sama persis seperti induknya. Induknya adalah Erick, tapi bukan berarti ia adalah orangtuanya. Karena hasil kloning diambil dari sel stem, bukan sel s****a.
Yoseff menggeleng pelan. “Tidak bisa disebut sebagai anak karena itu bukan dari sel s****a mu, mengenai status hasil kloningan memang tidak ada kepastian. Disebut anak juga tidak bisa, saudara kembar? juga bukan.”
Dalam proses kloning, bagian Erick yang diambil adalah Sel Stem—merupakan sel pertama yang akan tumbuh dan terbagi-bagi menjadi berbagai sel tubuh.
“Jadi, kloningan itu tidak akan memiliki kejelasan status?” tanya Erick lagi.
“Ya,” jawab Yoseff sambil menganggukkan kepala pelan.
Erick meremat sprei ranjangnya.
“Bukankah itu bagus? Kau tidak perlu susah payah bertanggung jawab atas hasil kloning, tinggal menikmati saja insentif yang akan ku berikan padamu.” Yoseff tersenyum miring.
Benar, untuk apa Erick memikirkan kloningannya? Itu tugas ilmuwan-ilmuwan gila ini. Jika pun Ivana gagal membeberkan lokasi ini ke para polisi, maka Erick harus bersiap memiliki kloningan.
“Oke, lakukan!” Jawab Erick dengan tegas, meski dalam hatinya masih banyak bunga-bunga keraguan.
“Bagus Erick, dengan begini kau akan lebih cepat keluar dari tempat ini.” Yoseff senang jika obyeknya jadi penurut, tidak perlu susah payah menggunakan cara keras untuk memaksanya.
“Rathree, persiapkan alat-alatnya dan sterilkan.” Yoseff memerintah Rathree.
“Baik, Prof.”
“Oh ya, ada di mana Kevin?”
“Di luar, dia nampak buruk akhir-akhir ini.”
Yoseff mengangguk kecil lalu berkata, “Setelah ini panggilkan dia untuk membantuku.”
“Ya.”
Rathree melaksanakan perintah Yoseff dengan baik, ia mengambil alat-alat laboratorium dan disterilkan dengan menggunakan api panas.
Sedikit banyak Erick merasa cemas, takut jika proses ini gagal dan dirinya lah yang bertaruh nyawa.
Mula-mula, Yoseff menyuntikkan obat bius beserta anestesi pada Erick, tak berselang lama pemuda itu pun kehilangan kesadaran.
Kevin masuk ke laboratorium sebelum Rathree memanggilnya, pria itu membutuhkan watktu untuk menenangkan pikirannya yang sedang muram. Dilihatnya Erick yang sudah pingsan, ingin sekali ia menendang pemuda menyusahkan itu dari sini. Sayang sekali, keberadaan Erick masih dibutuhkan.
“Apa yang kau lakukan? Bantu Rathree,” ucap Yoseff ketika mendapati Kevin hanya melihat saja tanpa membantu.
Tanpa berkata-kata Kevin pun langsung menyusul Rathree yang posisinya tak jauh dari ranjang milik Erick. Di sana Rathree tersenyum miring padanya, menertawakan tingkah konyol Kevin.
“Tidak usah tersenyum,” ujar Kevin skeptis.
Rathree mengulum senyumnya sembari mengendikkan bahu cuek.
“Letakkan di sini,” tukas Yoseff pada Rathree saat wanita itu memberikan alat-alat yang dibutuhkan.
Yoseff mulai membedah tubuh Erick untuk mengambil kultur jaringan, nantinya dari situ lah ia mendapatkan Sel Stem.
Membutuhkan waktu sekitar tiga jam hanya untuk pembedahan, Yoseff melakukannya dengan teliti, dibantu oleh Rathree dan Kevin yang menjadi asistennya.
Setelah memastikan bahwa operasi Yoseff berhasil, ia pun menghela napas lega.
“Apa tidak sebaiknya kita biarkan saja pemuda itu? Kau sudah mendapatkan sel induknya, untuk apa menyelamatkannya.” Kevin tiba-tiba berceletuk.
Rathree yang ada di samping pria itu pun membulatkan mata sambil berdecak pelan, entah kegilaan apa yang ada di otak pria itu.
“Kita memang ilmuwan ilegal, akan tetapi khusus Erick aku tidak akan melakukan hal bodoh itu. Ia unik dan akan sangat berjasa jika dia hidup, selain itu akan ada test perbandingan antara Erick dan juga hasil kloningannya.” Yoseff masih akan memperbandingkan antara kemampuan Erick dan hasil kloningnya. Ia mau agar hasil kloningnya lebih hebat dibandingkan induknya.
Kevin mendengus kesal, entah kenapa orang-orang di sini seolah membela Erick dibandingkan dengan dirinya.
Rathree memerhatikan kekesalan Kevin, ia memincingkan matanya.
“Kau membenci Erick karena gadis bernama Ivana itu?” Ia menaikkan sebelah alisnya sembari bertanya.
Kevin menatap Rathree tidak suka. “Tutup mulutmu, jangan ikut campur!”
Meski begitu Rathree sudah tau jawabannya. Ya, Kevin membenci Erick karena Ivana.
Jujur saja Kevin selalu bermimpi memiliki kenalan dekat yang mempunyai kedudukan tinggi. Dexter adalah orang yang cocok, Kevin ingin m******t pria kaya itu demi mendomplang karirnya, satu-satunya cara yakni dengan mendekati anak gadisnya—Ivana Dexter!
Akan tetapi, faktanya Ivana adalah kekasih Erick, sulit untuknya merebut gadis itu dari tangan Erick. Bahkan Ivana rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkan pemuda itu, benar-benar cinta gila!
“Kita adalah ilmuwan jahat, bukan perusak hubungan orang.” Rathree berbisik, setelahnya ia menyeringai sembari melirik Kevin.
“Shut up!” Kevin menyelak.
Yoseff berdiri dari kursinya, sekali lagi menatap pada Erick, pemuda itu membutuhkan waktu sekitar lima jam untuk sadar dari obat biusnya. Setelahnya, Erick juga akan merasakan sedikit nyeri dari operasi tersebut.
“Rathree, kau jaga dia. Dan kau Kevin, bantu aku.”
Yoseff sudah mendapatkan gabungan jaringan dari tubuh Erick, ia hanya perlu memisahkannya dan Cuma mengambil Sel Stem sebagai bibit kloning.
Yoseff dan Kevin berpindah tempat ke bilik kaca yang lain, keduanya berada di ruangan yang didominasi berbentuk persegi panjang itu. Di sana terdapat miskroskop, pipet, dan banyak lain lagi.
Mula-mula Yoseff meletakkan gabungan jaringan yang berbentuk amat tipis bagai benang warna merah itu pada tabung kecil. Selanjutnya, ia menggunakan pinset untuk memisahkan sel stemnya.
Perlahan tapi pasti, akhirnya Yoseff bisa mengambil sel stem itu, agar lebih jelas lagi ia menggunakan mikroskop untuk mengeceknya.
“Gotcha, ini yang kita cari.”
Sel stem ini akan menjad bibit ‘bayi’ dan akan dipertemukan dengan sel telur milik Rathree.
Keberhasilan sudah ada di depan mata, ia tinggal menanamkan sel stem ini pada sel telur milik Rathree, lalu terbentuk lah embrio yang akan dikandung oleh wanita itu.
“Aku tidak sabar menantikan kelahiran hasil kloning ini...”
Yoseff sudah membayangkan betapa bahagianya dia saat itu tiba, akan ada manusia yang berkemampuan istimewa persis seperti Erick atau bahkan bisa melampauinya.
“Kau terlalu banyak beharap, andai saja itu tidak berhasil maka apa yang akan kau lakukan?” tanya Kevin pada Yoseff.
“Aku yakin seratus persen bahwa penelitian ini akan berhasil.” Ujar Yosff dengan penuh percaya diri.
“Apa jaminannya bahwa ini akan berhasil?”
Yoseff menatap Kevin dengan pandangan tidak suka. “Sepertinya kau meremehkanku?”
Kevin mengendikkan bahunya pelan. “Aku tidak bermaksud meremehkanmu, hanya saja berjaga-jaga jika harapanmu tak sesuai realita.”
Mendengar ucapan Kevin sontak saja membuat Yoseff semakin terheran-heran, kini ia menatap Kevin dengan serius.
“Sebenarnya ada apa denganmu, kau tampak aneh?” tanya Yoseff.
“Tidak ada masalah yang berarti,” balasnya.
“Aku tidak akan ikut campur masalahmu selagi tidak menyangkut penelitianku. Bekerja lah dengan profesional!” Hanya itu satu pesan Yoseff.
Memang benar bahwa selama ini ia tidak mau ikut campur masalah pribadi anak buahnya selagi tidak akan mengganggu kemaslahatan penelitian.
“Aku akan mengingatnya dengan baik, tidak perlu cemas.”
Sementara itu di bilik Erick, akhirnya setelah sekian lama ia tak sadarkan diri, kini pemuda itu mengerjapkan matanya dengan perlahan.
“Eunghh...” Satu hal yang saat itu Erick rasakan, nyeri.
Ya, sekujur bagian perutnya terasa nyeri, ia berusaha untuk melihatnya tapi seseorang lebih dulu mencegahnya.
“Jangan banyak bergerak, lukamu belum kering.” Rathree, wanita itu menghampiri Erick setelah melihat pemuda itu siuman, bergegas ia meninggalkan pekerjaannya di bilik samping ketika tahu bahwa Erick sadar.
“Perutku sakit sekali, kenapa ini?” Erick mendesah pelan karena rasa nyeri yang serasa ditusuk-tusuk.
“Kau telah menjalani operasi pembedahan, maka dari itu perbanyak istirahat.”
“Aghh.. Apa itu berarti Yoseff sudah mengambil sel stemku?”
“Ya, benar.”
“Aku bisa pulang?” tanya Erick lagi. Besar harapannya agar ia segera kembali pulang dan menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Berhari-hari ia ada di sini, tanpa kuliah ataupun kerja di bengkel. Meskipun sudah mengajukan surat izin cuti, akan tetapi ini sudah melebihi batas ketentuan maksimal absensi.
Rathree tidak bisa menjawab pertanyaan Erick. Dalam hati ia mengiyakan karena seharusnya proses mengenai Erick telah selesai, akan menjadi gilirannya untuk menjadi salah satu bagian obyek penelitian Yoseff.
Erick melirik Rathree dengan sinis. “Kau tidak bisa menjawabnya.”
Rathree mangalihkan tatapannya. “Aku tidak tau masalah itu, semuanya ada di tangan Prof. Yoseff.”
Erick tertarik dengan pertanyaan lain.
“Bukankah kau juga akan menjadi bagian obyek penelitian ini? Kau akan mengandung dan melahirkan anak hasil kloningan, itu artinya nyawamu menjadi taruhannya.”
Rathree lagi-lagi terdiam dengan ucapan Erick, kali ini ia sangat-sangat tertampar oleh pernyataan itu.
Erick menunggu jawaban apa yang akan wanita itu lontarkan.
“Ini sudah menjadi resiko dalam hidupku, aku bekerja dengan banyak tantangan.” Balasnya.
Erick tersenyum remeh. “Kau yakin? Bekerja untuk Yoseff dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri.”
Rathree terhenyak, sebisa mungkin ia terus mempertahankan sikap stabilnya.
“Kau harus banyak istirahat, aku akan ke sini lagi untuk memindahkanmu ke kamar.” Rathree berujar demikian, setelahnya ia pun pergi dari sana dengan perasaan gusar.
“Wanita aneh!” Sindir Erick.
Dilihat dari gelagat dan ekspresi Rathree, wanita itu tidak benar-benar mengabdikan hidupnya pada penelitian saja. Tentu saja ia takut dengan resiko yang terjadi, ada harga mahal yang perlu dibayarkan.