Gebyar festival kembang api bertebaran di langit pukul dua belas malam. Hari ini riuh semua warga desa keluar menyaksikan di sepanjang jalan. Bunga api yang memanas di udara menghangatkan setiap hati insan. Senyum lebar tersebar di desa. Semua orang begitu menikmatinya. Kembang api itu terus meluncur. Suaranya keras mengetarkan d**a. Di sana, di depan rumah Frey, Chris dan yang lainnya tengah berdiri bersama orang-orang ikut menyaksikan indahnya kembang api. Ternyata mereka membuatnya meluncur terus menerus. Tidak tahu sampai kapan akan habis. Mungkin beberapa menit lagi atau bahkan beberapa jam lagi. Karena terhitung dari waktu dimulainya Hinga sekarang sudah ada satu jam.
Chris menghela napas panjang. Dua sudut bibirnya tertarik hangat. Memandang langit penuh impian. Tidak mengira akan menikmati malam bersama orang-orang seperti sekarang sembari melihat meriahnya warna-warni api di langit. Mereka semua asing, dunia ini juga asing. Namun, entah mengapa hatinya menghangat seakan euforia memeluknya. Sedari tadi diam-diam Laura memperhatikannya. Dalam hati bertanya mengapa Chris terus tersenyum sehangat bunga api yang dia lihat? Lalu, memberanikan diri perlahan menyenggol lengan Chris. Tidak terduga jika reaksi Chris terkejut. Lelaki itu bertanya dengan menaikkan alisnya pada Laura.
"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu? Kau tidak pernah melihat kembang api, ya?" bisik Laura tanpa didengar siapapun. Orang-orang sibuk dengan ketakjubannya termasuk mereka yang dikenal.
Chris menggeleng dan masih mempertahankan senyumnya. Laura berdecak penasaran.
"Kenapa? Katakan." menyenggol lengan Chris lagi.
Lalu, Chris mendesis sedikit mengerutka dahinya. Dia mendekat pada Laura, "Aku sedang memikirkan sesuatu."
"Hmm? Apa itu?" Laura mendelik.
Chris menatap Laura membuat mata Laura melebar, "Bagaimana caranya menjadi kembang api setiap hari."
"Ha? Kau gila, ya? Kalau kau jadi kembang api artinya kau akan meledak setiap hari." Laura berbisik sambil membuat gerakan meledak.
Chris menggeleng lagi, "Tidak masalah selama bisa membuat orang-orang tersenyum." mengarahkan matanya pada setiap orang di dekatnya. Laura pun melihat mereka kemudian tersenyum, "Sungguh? Kau bisa mati nanti."
"Kalau aku mati juga tak ada yang peduli, 'kan?" Chris kembali pada posisi semula. Memandang langit lagi yang penuh gemerlap.
"Ssttt, jangan bicara begitu. Kenapa denganmu?" Laura menutup mulutnya dengan jari. Mereka masih berbisik-bisik.
"Besok bisakah kau bantu aku awasi paman Kenan?" jawaban Chris tidak memuaskan Laura.
"Kenapa harus kuawasi? Aku mau cari harta karun besok. Di bukit sana pasti ada batu berharga," jawab Laura acuh. Meskipun begitu Chris tetap tersenyum.
"Dia akan ikut meditasi," Chris sangat tenang.
Deg!!!
Seketika Laura menoleh pada Chris. Matanya melebar sempurna. Tanpa bertanya langsung mengerti apa maksud Chris.
'Jadi itu yang mereka putuskan setelah bertemu? Mereka bertengkar memperebutkan hal itu?' pikir Laura dalam hati.
"Aku juga bertemu orang-orang yang mengintaiku. Aku sedikit mengerti kekuatan mereka," lanjut Chris dan Laura tak bisa berkata-kata. "Selama proses ini kau jangan mencuri. Berlatihlah atau awasi kami. Bantu bibi Armei memperkokoh pengawasan karena mereka pasti akan mengacau nanti. Kau mengerti?"
Laura mengerjap-ngerjap pelan. Dia menunduk berpikir sebentar lalu mengangguk, "Apa kau terluka?"
Chris sedikit terkekeh mendengar pertanyaan sekaligus reaksi Laura, "Tidak."
"Frey pasti sudah menyiapkan semuanya. Kau tau? Aku ... agak takut mengenai latihanmu. Frey bilang ini meditasi tingkat tinggi. Efeknya jika kau tak bisa menahannya saja kau bisa mati."
"Wah, yang meletup paling keras tadi cantik sekali!" Chris justru mengagumi kembang api daripada mendengarkan Laura. Laura mendongak menatapnya kesal. Namun, sedetik kemudian senyumnya terangkat.
'Paman Kenan sudah pasti tak akan membiarkan ini terjadi, 'kan? Meskipun dia mengatakan Chris lah yang telah ditakdirkan. Itu akan mengganjal di hatinya. Bagus juga, sekarang tinggal mereka menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ini adalah persaingan di tengah menjalankan misi, bukan?' batin Laura.
Kembang api harapan Chris tak sengaja didengar Armei. Dia meremas pedangnya yang tersemat di ikat pinggang.
'Kenan melakukan hal itu? Ini tidak baik,' batin Armei.
Selebihnya dia juga tidak menduga jika orang yang mengikuti Chris dan dirinya sejak awal menampakkan diri lagi. Dia sangat ingin bertemu dengan orang suruhan itu. Armei penasaran bagaimana cara mereka bekerja. Begitu niat sampai mengikutinya hingga ke tanah ini. Daerah ini sangat jauh dari gurun dan pasar tempat dia dan Chris pertama kali bertemu.
Lalu, festival meriah itu telah berakhir setelah setengah jam berlalu. Sungguh tersemat dalam memori. Chris tidak akan melupakannya. Ketika dia berbalik badan dan menemui pintu rumah Frey, dia menetapkan sesuatu. Senyumnya berubah menjadi senyum penuh tekad. Di balik topeng hangatnya, ada Chris yang selalu fokus dan ambisius. Tangannya terkepal seiring memasuki rumah. Armei dan Laura yang berada tepat di belakangnya menjadi sedikit gelisah. Apa yang akan Chris lakukan? Itu yang mereka pikirkan.
Pintu ditutup setelah semua orang masuk. Frey memisahkan kamar untuk laki-laki dan perempuan. Ketika mereka bersiap tidur, Chris memiliki permintaan membuat mereka heran terlebih lagi Kenan yang mengerutkan dahinya. Dia maish tak mau membuka cadarnya.
"Frey, maaf jika aku merepotkan, tapi bisakah aku tidur di luar? Di halaman belakangmu. Aku ingin melihat bunga Bougenville. Mereka terang di malam hari." cengir Chris menunjukkan deretan gigi tanpa dosa. Walau begitu dia sudah tak tahan untuk sendirian.
Laura mengerutkan dahinya, "Kau gila lagi? Di luar dingin, Bodoh!" dia memaki sebeku Frey menjawab.
"Kenapa? Kau mau ikut?" canda Chris membuat Laura berdecak tak suka. Ketika dia akan menjawab, Frey melerainya.
"Boleh, tapi kau bawa bantal dan selimutmu. Di belakang benar-benar dingin." Frey mengangguk-angguk. Sebenarnya dia mengerti apa yang akan dilakukan Chris yaitu menyendiri demi dirinya sendiri. Itu akan sangat membantu. Namun, hanya Frey saja yang mengerti, bahkan Kenan pun tidak mengerti maksud Chris.
"Hanya tinggal beberapa jam menjelang pagi dan kau ingin melihat bunga Bougenville. Seperti esok hari tidak ada waktu untuk melihatnya," sindir Kenan halus.
"Yahh, aku akan disibukkan oleh waktu besok." balas Chris sembari melirik Kenan dengan raut bercanda.
Kenan menajamkan matanya, "Jangan paksakan dirimu, anak muda. Sekuat apapun tubuhmu akan lemah terhadap dingin." pergi terlebih dulu ke ruangannya yang seharusnya ditempati dirinya dan Chris untuk tidur. Sedangkan Frey tidur dengan ayahnya.
"Aku ikut denganmu," lain dengan Armei yang setuju dengan Chris. Ucapannya justru membuat Chris menyilangkan tangan.
"Kau tidur dan jaga Laura agar Tidka mencuri. Dia bilang akan pergi ke bukit mencari harta karun," canda Chris lagi.
"Chris! Kau keterlaluan sekali! Kami mengkhawatirkanmu! Jangan bertindak bodoh seperti itu!" Laura menghentakkan kaki meminta perhatian.
Chris hanya memandang Laura saja tanpa menjawab. Situasi akan menjadi serius dan ini tidak diinginkan oleh Chris. Kemudian Frey melerai lagi dengan menyetujui permintaan Chris. Armei dan Laura terpaksa menurut dan pergi ke ruangan mereka. Lain dengan Frey yang mengantar Chris ke halaman belakang.
Suara deritan pintu belakang terdengar saat dibuka membuat Armei dan Laura ingin menghentikan Chris. Laki-laki itu sejauh ini tidak istirahat dengan baik. Bagaimana mereka bisa menyerahkan kepercayaan mereka pada Chris jika kondisi Chris tidak stabil? Terlihatlah bunga Bougenville yang melambai-lambai tertiup angin dingin nan semilir. Seharusnya bisa menggerogoti relung hati sedikit demi sedikit. Namun, Chris telah mempersiapkannya dirinya dnegan baik. Dia tidak keringan sedikitpun meskipun Frey sudah menggosok lengannya berulang kali.
"Baiklah, lakukan apa yang kau mau. Bunganya akan menemanimu. Oh, ya, jangan lupa gunakan selimut. Aku takut kau membeku kedinginan." Frey menyerahkan bantal dan selimut Chris.
"Wah, kau pengertian sekali." kata Chris sambil menerimanya.
"Dengar, besok sangat ketat. Jaga dan persiapkan dirimu." Frey menepuk pundak chris serius.
Chris mengerti dan mengangguk. Lalu, Frey pergi dan kini tinggal dirinya di halaman belakang yang luas. Tentunya jauh dengan aroma besi dan tungku api serta berhadapan dengan indahnya bunga Bougenville di malam hari. Chris mendekatinya tanpa ragu. Senyumnya menghilang. Tangan yang berada di balik selimut itu terkepal seakan mengendalikan apa yang akan keluar dari dalam dirinya yaitu aura. Chris menata bantal dan dia duduk di sebelahnya, tepatnya dia ada di depan bunga Bougenville. Seakan tertutupi bunga itu, Chris berteduh di bawahnya dengan kaki terlipat sempurna seperti orang bermeditasi. Selimut itu tidak dia biarkan begitu saja. Chris menutupi punggungnya dengan selimut layaknya jubah yang mengentikan dingin agar tidak menembus punggungnya. Kini auranya terkumpul sempurna di kedua kepalan tangan yang sudah rapi bertumpu lutut kanan-kiri. Chris memejamkan matanya. Seketika melepaskan apa yang sedari tadi dia tahan, aura tenaga dalam yang mencoba dia bangkitkan. Muncul begitu saja menyelimuti tubuh Chris bagai pusaran angin yang menghunus langit. Chris diam dengan tenang, fokus membangkitkan apa yang dia punya, lalu menahan segala rasa yang mulai memberontak dirinya. Itu menyakitkan. Chris sudah lama tidak menggunakan teknik tersebut. Terlebih lagi dingin yang sangat mengganggu. Sebisa mungkin Chris mengontrol diri agar meditasi permulaannya malam ini terpenuhi demi tangguh di esok hari.
Lain dengan Armei dan Laura yang masih tak bisa terlelap. Dia tahu Frey sudah kembali ke rumah dan kini tengah menemani ayahnya dengan senang hati, tetapi mereka maish saja tidak bisa membiarkan Chris tidur di luar. Mereka benar-benar berpikir jika Chris sedang tidur di depan bunga Bougenville dengan bodohnya.
"Bibi, apa kita akan biarkan dia? Kenapa juga dengannya? Aku akan pergi melihatnya." Laura langsung keluar ruangan setelah mengatakannya.
Armei hanya diam karena ini adalah keinginan Chris, tandanya bukan tanpa sebab Chris mengatakan sesuatu. Dia tidak bisa mencegah Laura. Armei tiduran tanpa terlelap.
'Aku sedikit cemas untuk apa yang akan terjadi,' batin Armei.
Laura diam-diam menuju pintu belakang tanpa harus ketahuan Frey dan Kenan. Namun, sebelum berhasil membuka pintunya, dia mengintip lewat celah. Sontak terbelalak lebih terkejut dari pada saat Chris berkata ingin tidur di halaman belakang. Tubuh Laura seakan menggigil hanya dengan memandang Chris dari kejauhan. Matanya membeku sampai-sampai tidak bisa berkedip. Dia langsung memalingkan wajahnya sebelum rasa kasihan menjalar.
'Astaga! Si bodoh itu sedang apa? Dia tidak tidur tapi seluruh badannya dikelilingi energi yang luar biasa. Tapi ... di sana dinginnya setengah mati! Apa dia akan baik-baik saja?' pekik Laura dalam hati.
Lalu, berlari kecil kembali ke ruangannya. Segera berbaring di dekat Armei dan memakai selimut seolah dinginnya suhu Chris merasuki dirinya. Armei menoleh heran.
"Kau kenapa?" tanya Armei cuek.
"Bibi, kalau kau melihatnya juga tidak akan percaya." Laura menggeleng cepat.
"Aku tidak mau tau apa yang terjadi pada Chris yang jelas tidur saja
"Armei memejamkan matanya.
Laura mencoba menuruti kata Armei, sayangnya itu begitu sulit. Selalu terpikir bagaimana keadaan Chris. Selain itu memang keadaan begitu dingin. Laura mengadarinya, jika memang keinginan Chris berarti dia serius dan tidak ingin diganggu.
~~~
Embun menentes dari daun bunga Bougenville yang meneduhkan Chris. Semua orang telah berkumpul di depannya. Namun, Chris tetap di posisi yang mengejutkan. Suhunya tiba-tiba menghangat tanpa ada rasa dingin sedikit pun. Dari mereka yang paling terkejut adalah Kenan. Aura Chris jauh meningkat dari sebelumnya. Ternyata Chris tidak benar-benar tidur itu membuat Kenan serasa dipermainkan.
Frey melipat tangan di d**a tak melunturkan senyum dengan pandangan tertuju pada Chris. Armei dan Laura sudah khawatir tingkat tinggi berharap Chris membuka matanya dan baik-baik saja. Lalu, Chris membuka matanya mengejutkan semua orang.
"Lakukan, Frey!" seru Chris lantang.
Sorot mata tajam serius bagai elang pencakar udara tanpa ampun itu tak bisa diganggu gugat. Frey samlai terjingkat. Dia akan segera memulainya dengan menjelaskan terlebih dahulu meditasi jenis apa yang akan Chris lakukan. Namun, Kenan menghentikannya.
"Apa yang terjadi di sini? Aku akan ikut mencoba dan bertaruh dengan Chris!" Kenan membuka cadarnya mampu mengejutkan Frey.
"Astaga! Kelompok pemecah misi sudah menampakkan diri. Kalau begini aku bisa apa? Silahkan." Frey justru mempersilahkan Kenan untuk ikut.
"Tunggu-tunggu! Ada apa ini? Paman, kau jangan macam-macam, ya! Chris, kau mau apa? Tatapanmu menakutkan! Kukira sungguhan tidur, tidak taunya menyendiri hingga pagi!" Laura panik menunjuk Kenan dan Chris bergantian.
Frey mengendikkan bahu dan pergi untuk mengambil sesuatu. Chris tidak menjawab. Dia bahkan tidak memandang Laura ataupun Armei. Tangannya masih terkepal. Semua energi yang berhasil dia buka kembali dalam dirinya telah berhasil dikontrol dengan baik. Mungkin jika Chris ingin mencobanya dia bisa menghempaskan mereka hingga jarak yang jauh.
Embun masih terus menetes dan rumput-rumput di sekitar mereka juga basah. Orang yang paling tenang di sana hanyalah ayahnya Frey.
"Aku sudah sepakat dengan Chris untuk mencoba cara ini bersama-sama. Kalian berdua tidak boleh menghentikannya apapun yang terjadi!" tekad Kenan bulat.
Armei dan Laura saling pandang. Kemudian Laura teringat apa yang dikatakan Chris padanya. Pesan itu harus dia laksanakan. Lalu, Laura pun mengangguk setelah Armei.
"Kami mengerti!" seru keduanya lantang.
"Bagus! Tidak kusangka kau sudah bertindak sejauh ini, Chris. Jadi, kau akan menunjukkan dirimu," gumam Kenan. Namun, Chris tetap tidak menjawabnya.
Tidak lama kemudian Frey datang dengan membawa tikar dan batu. Dia meletakkannya di tengah-tengah halaman belakang serta batu-batu hitam dan lumayan besar itu berada di dua sisi dan juga sebagai pembatas sisi. Ketika Frey selesai mengaturnya, dia memanggil Chris dan Kenan untuk duduk di salah satu sisi itu. Saat Chris berdiri, dia mampu menggetarkan hati mereka. Lantas auranya telah bangkit dan berbeda seakan Chris jauh lebih kuat. Mereka juga belum tahu kuasa apa yang Chris miliki. Apakah pencapaiannya akan berhasil?
Mereka telah duduk berdampingan dengan jarak berbentang lima meter. Itu cukup jauh. Frey mendesis resah. Menggosok kedua telapak tangannya seakan gugup. Tidka terduga Laura memukul kepala bekalang Frey samlai Frey tersungkur.
"Aduh! Sakit tau!" Frey mengaduh sembari bangun.
"Kau ini apa-apaan, hah?! Jangan membuatku takut seperti itu! Kalau mau mengatakan caranya, ya, katakan saja! Jangan seperti orang yang terlihat ingin dieksekusi!" Laura marah.
Frey menganga, "Apa salahku? Kenapa kau marah-marah? Aku hanya tidak tau harus bicara mulai dari mana."
Armei akan menarik pedangnya membuat perhatian Frey teralihkan. Dia mendelik melihat wajah Armei yang garang.
"Kalian berdua ini tidak ada yang bisa dilakukan selain marah? Jangan tarik pedangmu, Bibi! Kau membuatku takut!" Frey menunjuk Armei tidak tenang.
"Kalau kau macam-macam, aku akan menebasmu," kata Armei tajam.
Napas Frey tercekat, "Ayolah, jangan takut begitu. Kita sudah sepakat, bukan?"
"Kalaupun sepakat tidak menjamin berhasil dalam tingkat sempurna, 'kan? Kau harus tanggung jawab kalau terjadi apa-apa!" Laura ikut menunjuk Frey.
Frey semakin kebingungan, "Hei, hei, tenang dulu. Ini memang berat dan kalau kalian yang melakukannya aku jamin tidak akan berhasil."
"Kami setuju, tapi tetap saja ada yang mengganggu." Laura menunduk tiba-tiba membuat Frey meremas wajahnya.
"Jangan membuatku tertawa, Kawan. Percayalah padaku," gemas Frey.
"Baiklah-baiklah, kami hanya menggeretakmu saja. Paman Kenan, kau yakin?" Laura mengendikkan bahu lalu beralih memandang Kenan.
Kenan mengangguk pasti tanpa ragu. Dia melirik Chris yang tidak terganggu sama sekali. Frey menghela napas panjang.
"Lepas festival kemarin pasti orang-orang akan jauh lebih bising dari biasanya. Aku tidak mengizinkan kalian membuat pelindung agar tidak mendengar apapun yang ada di luar. Mereka adalah gangguan murni yang datang dan tidak peduli apapun yang terjadi kalian harus bisa menahan diri dan tetap fokus. Aku belum bisa mengatakan bagaimana caranya jika ada keraguan. Pastikan persiapannya sempurna," jelas Frey.
Laura mengepalkan tangan, "Tenang saja, aku dan Bibi Armei akan berjaga. Untuk itu serahkan pada kami."
"Hmm? Apa akan datang tamu tak diundang? Pengacau lain, ya?" heran Frey.
"Tidak, tapi seumpama ada monster gila yang akan mengobrak-abrik rumahmu maka biar kami yang menjaganya," jawab Laura. Dia sengaja tidak menjawab dengan ungkapan yang sesungguhnya. Namun, itu mmebuat Chris senang tanpa mengekspresikannya.
'Tentunya juga akan mengawasimu, Paman Kenan. Chris akan menjadi kembang api nanti,' sambung Laura dalam hati.
"Laura benar, tetapi di sela-sela mereka bermeditasi dan tugas siaga kami, kami tetap akan berlatih masing-masing. Itu pasti akan menimbulkan kebisingan lainnya," sahut Armei.
"Benar, aku juga akan menempa besi bersama ayahku. Jadi tingkat kebisingan yang menganggu kalian bisa melebihi batas keheningan konsentrasi. Jadi upayakan untuk tidak kabur dari konsentrasi kalian," kata Frey ringan.
"Kapan bisa dimulai?" Kenan angkat bicara membuat mereka memandangnya.
"Sekarang," senyum Frey terlihat aneh.
Gelisah yang melanda dua gadis berbeda usia itu tak kunjung reda. Perhatian Laura dominan pada Chris selain dia harus terus mengawasi gerak-gerik Kenan. Lain dengan Armei yang tetap fokus pada Chris. Frey ikut duduk di depan Chris dan Kenan. Dia mengambil posisi yang sama. Kemudian, matanya terpejam. Semuanya mendadak menjadi senyap.