Bukit yang terletak tidak jauh dari desa, tersemat beberapa sumbu yang bertuliskan bunga api. Tidak sadar kaki Chris melangkah terlalu jauh hingga ke sana. Ada lebih dari sepuluh orang yang sedang menyiapkan sesuatu. Bola-bola kecil yang tidak tahu apa isinya, persiapan api dan masih banyak lagi. Chris bertanya pada mereka, ternyata akan ada festival kembang api tepat di tengah malam. Desa itu akan melakukannya setelah sekian lama. Chris terkejut, di desa sebelumnya juga akan mengadakan hak yang sama, tetapi gagal karena hujan. Chris berpikir mungkin ini suatu kebetulan.
Sekarang pukul tujuh malam. Dia masih berdiam diri di sana. Menyaksikan semua proses persiapan yang akan selesai. Lalu, tidak adar jika di sepanjang jalan desa sudah terpasang lentera dari api yang akan menyala hingga pagi. Sedikit huru-hara terdengar, para warga antusias menyambut datangnya tengah malam. Mungkin festival kembang api hari ini akan menjadi festival terindah. Namun, kemungkinan besar mereka akan melupakannya setelah beberapa hari, minggu, bahkan bulan karena efek bayangan mereka yang direnggut.
Chris tidak sadar jika teman-temannya mengkhawatirkannya. Kemudian, Kenan memutuskan untuk mencari Chris. Dalam sekejap dia berhasil menemukan pemuda gagah berani itu sedang berdiri di jalan bukit tanpa bergabung dengan warga yang mempersiapkan festival. Udara cukup bersahabat. Seharusnya dingin sudah menggerogoti tulang, tetapi angin berhembus cukup pelan sekarang.
"Kemungkinan festivalnya akan berjalan lancar." Kenan melipat tangannya setelah berdiri di samping Chris.
Chris tidak terkejut, dia sudah menduga Kenan akan datang. Bisa dibilang dia memang sengaja menunggu Kenan. Semua itu karena sesuatu yang teramat serius untuk dibicarakan.
"Akhirnya kau datang juga, Paman Kenan." Chris tersenyum setelah melirik Kenan. Dia tidak berpaling dan bergerak sedikitpun.
"Untuk mengerti isyaratmu itu bukan hal sulit," balas Kenan tanpa bercanda.
"Kau terlalu serius. Aku hanya berjalan-jalan saja. Sadar-sadar sudah malam." menatap bukit gelap yang terang itu cukup menenangkan bagi Chris.
"Malam yang tepat untuk membuat Laura dan Armei menunggu. Gadis itu sangat berisik," Kenan mengatakan jika Laura dan Armei terus mencari mereka. Dia ingin tahu apakah Chris punya perhatian yang sama.
"Laura, ya? Dia memang terlalu berisik," senyum Chris masih bertahan.
Kenan melirik Chris dengan tajam, sedikit terkejut karena Chris paham gadis yang dia maksud adalah Laura, "Untuk apa kau menungguku sampai malam?"
"Bicara santai layaknya lelaki." jawab Chris langsung sembari menoleh pada Kenan. Kenan mengerutkan dahinya semakin tajam. " Maaf jika aku telah merenggut posisimu," sambung Chris mampu mengejutkan Kenan lagi sampai tangan pemecah misi itu terkepal kuat.
"Aku tidak suka caramu tersenyum," kata Kenan sebelum mengatakan apa yang dia pikirkan.
"Berbeda dengan paman Aron, ya? Dia suka aku tersenyum," Chris sengaja membuatnya memanas.
Benar, wajah Kenan memerah. Chris masih membuatnya kesal dengan memasang senyum menyebalkan yang mampu memikat siapapun.
"Berhenti seakan-akan aku menyalahkanmu. Tapi tidak bisa kupungkiri jika aku tidak bisa membiarkan kesempatan itu jatuh ke tanganmu. Kalaupun ada yang berhak membawa Pedang Naga kembali maka itu adalah Raja atau keturunannya. Sekarang Yang Mulia Raja dalam kondisi dikendalikan, dia tidak bisa melakukannya. Dia juga tidak memiliki keturunan. Kalaupun ada yang dilimpahkan itu berarti badan eksekutif terkuat yaitu kami para pemecah misi rahasia artinya kami dirahasiakan dari penduduk awam. Tugas, fungsi dan kekuatan kami tidak diketahui siapapun dan berjalan secara rahasia. Lalu, kau orang yang tidak tahu seluk-beluk dunia ini menyusup menembus dimensi memberi janji sebagai penyelamat dunia? Mustahil! Sangat tiba-tiba untuk bocah sepertimu. Terlebih lagi ini bukan sekadar tugas, melainkan terhubung langsung dengan Sang Penguasa. Pedang Naga bukanlah barang sembarangan yang bisa diambil dan dikuasai siapa saja terlebih kau."
Puas sudah Kenan mengeluarkan semua yang ada di pikirannya sejak berada di rumah Frey Avender. Apa yang dilakukan Chris? Dia hanya memandang Kenan datar tanpa rasa sungkan ataupun takut. Tak ada gentar dalam hatinya. Satu hal yang pasti, dia akan melakukannya. Bukan berarti tidak menghargai keputusan Kenan yang dia sendiri mengakui jika sebagian yang dikatakan Kenan benar.
"Aku memang bukan siapa-siapa. Mahasiswa miskin yang kebetulan diberkahi kemampuan pertahanan diri tinggi tidak akan bisa menjadi pahlawan atau bahkan penyelamat dunia, tapi bukan berarti aku tidak bisa mencoba. Seperti yang paman katakan ... takdir telah bermain," Chris melempar ucapan Kenan telak. Kenan sudah membuka mulutnya ingin bicara, tetapi Chris menyambung ucapannya. "Lalu, jika takdirku bukan hal itu, aku mungkin hanya ditakdirkan untuk melihat dunia kalian. Perlu kau ketahui, Paman. Aku bukan tipe orang yang serakah demi memuaskan ambisiku sendiri. Untuk itu ... aku mengajakmu mencoba meditasi itu bersama-sama," tegas Chris.
Kenan mengepal lebih erat, "Seharusnya aku yang menantangmu. Ini adalah perebutan, Chris. Aku yakin aku bisa merebutnya darimu bahkan mungkin kau tidak akan bisa memanggil pedang itu kembali. Walaupun aku percaya kau memang ditakdirkan untuk datang kemari, tapi aku tidak yakin soal Pedang Naga. Aku juga tidak peduli latar belakangmu di dunia nyata."
Chris tersenyum miring, "Paman, ucapanmu jahat sekali. Besok aku akan mencoba semua yang kubisa. Kuharap kau juga tidak akan menahan dirimu."
"Perlihatkan kemampuanmu. Buat aku percaya kalau kau benar-benar layak dan Aron tidak kecewa telah memilihmu," Kenan mendesis.
"Paman Aron tidak akan kecewa, dia telah mengikuti setiap perkembangan ku diam-diam. Kurasa kau yang akan kecewa nantinya. Ah, maaf, ucapanku menjadi sedikit kejam. Mungkin karena terpengaruh suasana." Chris tersenyum manis lagi.
Kenan sudah muak baik sindiran, senyuman, atau tawaran Chris. Dia pun memalingkan wajahnya, "Senyummu tak sebanding dengan pola pikirmu. Di balik senyum polos ada hati yang selalu kokoh akan ambisi."
"Bukankah itu bagus? Dunia ini luas. Kaki harus melangkah lebih jauh, apalagi aku seorang lelaki," Chris sengaja membuat dirinya baik dan terus membuat Kenan kesal.
'Aku tidak bermaksud membuatmu marah, hanya saja besok mari kita tentukan. Aku ... tidak menyangkal juga ingin melakukannya. Artinya aku menantang diriku sendiri, bukan?' batin Chris.
Terdengar Kenan menghela napas panjang, "Butuh waktu lama, Chris. Kuharap tidak lebih dari satu bulan."
"Kupikir akan lebih dari itu. Kemampuanku kecil, Paman," Chris sedikit sedih.
"Tergantung petunjuk Frey. Aku tidak menyangka pemuda itu mengetahui banyak hal. Apa dia ahli pedang yang disembunyikan Raja?" heran Kenan.
"Aku rasa tidak begitu." Chris kembali tersenyum.
Begitu mudahnya mereka membolak-balik suasana, ekspresi dan perasaan. Sedikit marah, sedikit tersenyum, sedikit bingung, sedikit pula percaya diri. Chris tidak mengharapkan banyak, dia hanya berharap senua prosesnya bisa dia lakukan dengan lancar sampai bisa. Jika tidak bisa, dia harus memaksakan diri walau tubuh bersimpuh darah. Itulah tekad Chris.
"Sudah cukup, mari katakan pada mereka akan ada festival kembang api." Kenan langsung berbalik dan pergi.
Chris meliriknya, "Bisakah kau pergi duluan, Paman? Aku masih ingin di sini."
Lagi dan lagi senyuman Chris yang tanpa bersalah. Namun, tersirat banyak pernyataan di dalamnya. Kenan hanya mengangguk meskipun tadinya ingin mengajak Chris paksa.
'Aku sedang menunggu orang lagi yang pasti akan datang,' pikir Chris.
Ketika Kenan sudah meninggalkan jalan bukit, Chris sdikit menjauh dari bukit dan berhenti di pepohonan tanpa buah. Chris sedniri tidak tahu nama pohon itu. Dia akan menunggu di sana sampai orang yang dia tunggu datang.
Di rumah Frey Avender, ternyata Laura dan Armei tengah menjalin hubungan baik dnegan para warga desa yang sibuk bermain pelita sambil menunggu datangnya tengah malam. Mereka bilang banyak yang akan bergadang malam ini. Ada pula yang tidur lebih awal agar tengah malam nanti bisa bangun dan melihat festival kembang api. Frey menunggu dengan bijak di rumahnya bersama sang ayah. Saat Kenan tiba, dia menyambutnya dengan baik. Laura dan Armei juga melihatnya, mereka hanya melambaikan tangan menyapa.
"Bagaimana dengan Chris? Kau tidak menemukannya?" tanya Frey.
"Mungkin anak itu sedang tersesat," sahut ayahnya Frey dengan suara rapuhnya.
"Tidak perlu mengkhawatirkannya. Sebentar lagi akan kembali," jawab Kenan datar.
"Ha? Oh, begitu, ya? Baiklah." Frey mengendikkan bahu.
'Aku yakin sekali mereka sudah bertemu. Apa terjadi sesuatu?' pikir Frey.
"Dia tersesat? Kasihan sekali," ayah Frey menyahut lagi. Frey menjelaskannya dengan baik bahwa Chris tidak tersesat dan akan tiba sebentar lagi.
Laura dan Armei mendengarnya samar-samar. Para warga masih asik bermain dan mengajaknya berbincang. Bercerita banyak hal. Lalu, Laura dan Armei saling pandang.
"Kenapa si bodoh itu tidak kembali? Apa maunya?" dahi Armei berkerut.
"Bibi, cara memandang paman Kenan berbeda. Kurasa telah terjadi sesuatu," bisik Laura.
"Matamu terlalu jeli di gelap begini?" Armei justru bingung.
"Haha, itu sudah biasa. Aku, 'kan mencuri bukan hanya di siang hari. Saat malam peluangnya lebih banyak, jadi mataku cukup jeli melihat apapun," Laura berbangga hati.
"Kau sungguh tidak mau mendengarkan kami? Sudah berapa kali aku dan Chris katakan kalau kau harus berhenti mencuri?" bisik Armei mirip mendesis.
"Ck, itu bisa dilakukan nanti, Bibi. Sekarang yang jelas bagaimana keadaan Chris? Dia ada di mana?" Laura mulai resah. Celingukan berharap menemukan petunjuk meskipun itu hanya aroma Chris yang tertinggal. Dia mengendus-endus udara layaknya hewan liar membuat Armei menggeleng.
"Dia dan Kenan sudah bertemu. Pasti Chris masih berada di dalam desa," kata Armei dan Laura mengangguk.
Kemudian, kembali ke jalan menuju bukit desa. Sungguh suasana bagai romansa aromaterapi pelita yang terang di tengah kegelapan malam. Hening, hewan-hewan kecil bahkan tak berani bersuara. Seorang pemuda tampan itu bersandar pohon tak henti-hentinya menunggu. Dari tadi bermain api pelita dengan jarinya dan juga dedaunan yang jatuh. Dia yakin sekali orang yang ditunggu akan datang hari ini.
"Panas atau dingin? Keduanya jadi satu," heran Chris.
Cukup dingin karena angin yang semilir. Sedikit panas lantaran jarinya yang memainkan api lentera. Mendesah panjang, melipat tangan di d**a, mendongak memandangi langit yang berbintang. Malam yang sempurna. Satu jam berlalu, rasanya cukup lama. Masih tidak ada perubahan. Dia menunggu lagi tanpa pudarnya keyakinan. Setelah itu, serangan tiba-tiba dari udara menusuk tepat di atas kepala Chris. Namun, Chris berhasil menghindar dengan mendorong pohon dengan kakinya ke belakang membuatnya berputar hingga berada di tengah jalan. Chris sempat terkejut, tetapi berubah tersenyum licik dan bersiap menyerang. Tangannya mengepal beruap siaga.
"Sudah lama, ya? Perlihatkan diri kalian, ayo berkenalan," kata Chris senang.
Lalu, dua orang muncul membawa senjata aneh yang terbuat dari kaca dan juga cermin yang sama seperti yang pernah Chris lihat sebelumnya.
"Serahkan dirimu!" ujar salah satu dari mereka.
"Wah, tapi maaf. Aku harus melakukan latihan berat besok. Kalian sedang tidak beruntung." Chris menyapu kaki mereka dengan kakinya. Namun, mereka berhasil melompat membukit Chris semakin bersemangat.
Mereka lah yang Chris tunggu. Dua orang utusan Raja yang ingin sekali menangkapnya. Sudha Chris duga mereka akan mengikuti Chris sejauh ini.
"Hebat sekali tanpa penyamaran. Sekarang aku sudah tau semuanya. Katakan pada Raja kalian bahwa tidak perlu menangkapku. Suatu hari nanti aku sendiri yang akan datang ke sana memberi salam," kata Chris lantang.
"Anak sombong!" salah satu dari mereka yang membawa cermin menyerang Chris dengan menusukkan senjata cerminnya ke perut Chris, tetapi tidak berhasil. Chris memegang cermin itu yang ternyata tajam, akhirnya tangannya terluka dan darahnya bercucuran.
"Apa ini? Cerminnya tidak terlihat runcing, tetapi setelah dipegang menjadi tajam? Paman, ini sihir cermin, ya?" merasa tidak kesakitan dan tidak peduli dengan dirinya sendiri, Chris justru memperhatikan senjata cermin yang menyakiti tangannya. Dengan kasar orang itu merebutnya.
"Aw! Cukup mengerikan. Aku bisa lapor polisi jika kalian menyerangku bersamaan dengan senjata." Chris mendesis perih sambil meniupi tangannya.
Ternyata mereka tidak suka banyak bicara. Dia yang membawa cermin menunjukkan cermin itu pada Chris tepat berada di tengah-tengah mereka. Cermin itu mengarah pada wajah Chris. Mendadak mendapat pencahayaan bagus dari senjata cermin yang berada di atas cermin itu. Chris sudah tahu itu efek sihir cermin dan bayangan. Karena, cerjin itu langsung menunjukkan bayangan Chris, bukan wajah Chris lagi. Tidak ada waktu untuk terkejut, cukup Chris lakukan dalam hati saja. Dia harus menanggapi ini dengan serius.
"Evans Chris, bukan berasal dari tanah ini. Satu-satunya orang yang memiliki bayangan dan tidak bisa diambil oleh Raja. Dianggap musuh terbesar yang memiliki sihir terlarang."
Chris bingung dengan perkataan orang itu.
"Kami akan melawanmu dengan sihir yang datang langsung dari sumber bayangan di cermin. Karena itu menyerahkan," sambung salah satunya.
Chris tidak menjawab, dia asik melihat bayangannya sendiri di cermin membuat dua orang itu sedikit lengah kewaspadaannya.
"Emm, aku pernah melihatnya, tapi tidak begini. Milik paman Aron lebih bagus. Apa kalian bisa memunculkan bagaimana gambaran kotaku saat ini? Dengan sihir cermin ini?" Chris antusias sampai mengangguk.
Sayangnya mereka tak bisa diajak bercanda dan bersahabat. Menyerang Chris lagi dengan menusukkan senjatanya bersamaan. Chris menepisnya dengan tangan dan berhasil membuka celah untuk menendang perut mereka bergantian. Lalu, hendak merebut senjatanya, tetapi mereka bangkit dan menangkis tangan Chris. Mereka berkelahi layaknya perkelahian laki-laki pada umumnya. Namun, senjata mirip pedang dari cermin itu mengeluarkan asap hitam membuat Chris sedikit menjauh.
"Apa itu? Bayangan?" gumam Chris.
Asap itu semakin besar dan keluar dari senjata cermin. Dia menapaki tanah dan menyatu membentuk sebuah bentuk yaitu mereka. Itu adalah bayangan mereka. Setelah mereka jadi, tak segan-segan menyerang Chris dan serangannya jauh lebih tajam dan kuat. Chris terpental cukup jauh ketika dua bayangan itu memukul perutnya. Chris mendesis memegangi perutnya seakan ada yang terluka, tetapi tidak nampak.
"Sial! Mereka jauh lebih kuat dari orang aslinya. Bagaimana bisa?" heran Chris.
Mengetatkan otot lengannya, kembali maju dan meninju bayangan itu. Dia pikir sudah kena, ternyata pukulan Chris menembusnya.
"Apa?! Tembus?!" pekik Chris menarik pukulannya lagi.
'Tadi mereka menyerang sangat kuat dan bisa menyentuhku, tapi kenapa aku tidak bisa menyentuhnya? Kalau begini bagaimana cara mengalahkannya?' heran Chris dalam hati.
Tidak ada celah untuk Chris berpikir panjang, dua bayangan itu kembali menyerang. Berkelahi secara fisik kali ini tidak menguntungkan bagi Chris. Lalu, terlintas apa yang seharusnya dia lakukan tentang munculnya tenaga dalam.
'Apa bayangan itu bisa menghilang jika dimasukkan kembali ke dalam cermin atau dihempaskan begitu? Ah, tidak ada salahnya aku coba. Ini hanya untuk mencari tau seberapa besar kemampuan mereka. Ternyata aneh,' pikir Chris.
Memutar tangan mengambil konsentrasi penuh setelah berhasil menjaga jarak dari bayangan-bayangan itu. Mendadak kakinya menghentak kuat lalu berhasil memaku daya gravitasi dua bayangan itu membuat mereka tak bisa bergerak. Setelah terkunci, Chris memusatkan tekanan gravitasi mereka ke arah cermin sehingga bayangan itu terhempas pergi secara paksa masuk ke dalam cermin. Dua orang itu pun tak bisa bergerak, dia pun ikut terkunci dengan tenaga Chris.
Setelah itu Chris melepaskan efek kekuatannya membuat napasnya sendiri terengah dan dua orang itu segera pergi. Chris heran mengapa mereka pergi dan tidak membawanya selagi lengah. Lalu, Chris pikir itu hanya akan menjadi data mereka untuk melapor pada atasan mereka. Sama hal-nya dengan Chris yang hanya mencari sumber kekuatan mereka.
"Hahh, membosankan. Lumayan olahraga malam. Baru kali ini aku melihat bayangan bergerak sendiri dan memiliki kekuatannya sendiri walau kecil," gumam Chris selagi mengatur napas. Kemudian sadar jika dia telah membangkitkan sesuatu dengan sangat cepat walau cara itu tidak cukup baik dna sempurna. Dia melihat kedua tangannya kagum, "Wow! Aku bisa! Apa itu tadi? Daya tarik mengunci lawan menggunakan teknik gravitasi? Kereeeenn!!!"
Kagum yang cukup berlebihan pada diri sendiri. Namun, Chris sadar kemampuannya itu lebih dari itu dan masih perlu diasah.
"Baiklah, sekarang waktunya menceritakan ini pada Frey. Setelah mereka sedikit memperlihatkan kekuatannya pasti tidak akan tinggal diam, bukan? Bagaimana kalau mengganggu selama aku latihan? Frey pasti punya solusinya." Chris menggosok telapak tangannya sebentar lalu pergi dari jalanan itu.
Bukit yang indah di belakangnya masih akan ramai tanpanya. Bisa Chris bayangkan betapa paniknya Armei setelah dia tiba nanti. Gadis tua itu pasti akan memarahinya karena telah membuatnya khawatir begitu pun Laura. Saat ini hanya dua orang itu yang percaya seratus persen bahwa Chris yang akan menyelesaikan misi yang hilang.
"Wah, para warga antusias, ya? Memangnya festival di sini seperti apa?" gumam Chris setelah berhasil masuk ke tengah desa dan melihat ramainya orang-orang yang bergadang menghabiskan waktu bersama sembari menunggu peluncuran bunga api di langit malam yang cerah.
Beberapa menit kemudian dia sampai di rumah Frey membuat Armei dan Laura yang masih berbincang dengan para tetangga langsung menghampirinya dan menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.