22. Racun Rasberi

2549 Words
Frey Avender mempersiapkan segala hal untuk kebutuhan latihan Chris terutama bagian utama dari proses mendapatkan kembali Pedang Naga. Ayahnya sangat bersenang hati mempersiapkan kamar untuk menginap para tamunya. Lalu, rumah pandai besi itu memiliki halaman belakang yang sangat luas. Banyak pohon yang menyerupai Cemara, tetapi bukan termasuk jenis Cemara. Kemudian rindangnya tumbuhan bunga Bougenville yang sengaja dibuat menggerombol nan tinggi berwarna jingga dan merah muda yang menyatu menutupi sinar matahari yang terik. Terdapat pula bentangan tali untuk menjemur pakaian. Halaman itu sedikit bisa menghilangkan penat dan memiliki ruang untuk menghirup udara segar, sedikit tidak terpengaruh oleh panasnya rumah yang memiliki banyak bara dan besi.  Saat ini Chris sedang membantu Frey untuk menyiapkan keperluan mereka sekaligus memperkenalkan setiap ruang rumahnya yang memungkinkan akan membantu Chris dalam latihan. Ketika memasuki ruang khusus penyimpanan senjata, ada banyak pedang yang berbeda-beda panjang dan ukirannya. Baru dilihat sekilas saja, aura mereka sudah terpancar membuat Chris tercengang tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Tiba-tiba ada yang melintas sekecil jarum tepat di lehernya. Insting kiat Chris bekerja cepat membuatnya berhasil menangkap jarum itu tanpa cedera. Kemudian, Frey bertepuk tangan sambil tersenyum. Chris bingung memandangi jarum itu dan Frey.  "Was, wah, tidak diragukan lagi, haha. Kewaspadaan tingkat tinggi, Chris! Tapi kau masih harus mengasah lagi fokusmu untuk mampu mendapat Pedang Naga." Frey menepuk pundak Chris.  "Hmm? Ah, jadi kau yang melempar jarum ini? Jahat sekali." Chris melengos membuang jarum itu sembarangan.  "Haha, hanya untuk mengujimu." Frey mengedipkan sebelah matanya. Chris berdecih walau tersenyum. Mengajak Chris untuk lebih dekat pada jajaran pedang yang terpasang di dinding dengan angat rapi. Mereka terbungkus sarungnya masing-masing yang memiliki keunikan tersendiri.  "Ini adalah karya terbaikku. Mereka masih belum memiliki pemilik yang layak. Bukankah mereka indah?" Frey berkacak pinggang.  "Woaahh! Luar biasa! Di usia sama denganku kau bisa membuat pedang yang tak bisa digambarkan kualitasnya. Ini terlalu hebat!" Chris berbinar.  "Haha, biasa saja. Ayahku yang mengajarkannya." Frey tersenyum lebih lebar.  Chris menoleh, "Apa dia memang ayahmu? Kurasa usianya terlalu tua. Aku tidak bermaksud menghina, tapi...," ucapan Chris terpotong oleh Frey yang tertawa. "Dia memang ayah kandungku. Saat aku lahir dia sudah tua, jadi ketika aku besar dia jauh lebih tua. Ibuku sudah tiada saat melahirkanku, karena dia hamil di usia tua. Memang miris, tapi itulah takdir. Aku suka ayahku, itu mengapa aku tidak ikut bertarung seperti pemuda lainnya yang mencari jati diri. Aku akan terus bersama ayahku menempa besi dan menjadi ahli pedang terhebat sedunia," ujarnya bangga.  Chris tersentuh, menepuk pundak Frey dua kali, "Aku kagum padamu. Kau memang laki-laki sejati!"  "Benarkah? Lalu, bagaimana denganmu? Kehidupan di dunia ... nyata? Namanya dunia nyata, ya?" Frey mengetuk dagu penasaran.  Chris terkekeh, "Benar, dan dunia kalian berada di dimensi lain dari duniaku. Aku tinggal di sebuah kota bernama Vier. Kota itu sangat tua, tetapi bergaya modern. Ajaib bukan bisa sampai di sini? Aku tinggal sendirian dan bersenang-senang setiap hari. Ada banyak orang hebat yang berkelahi tanpa senjata sepertiku. Banyak gadis cantik dan seksi yang tergila-gila padaku, haha. Mereka terus mengejarku entah di kampus atau di tempat latihan. Hahh, selaku dikelilingi perempuan yang mengidamkan paras rupawan. Itu menyebabkan, hahaha." Chris bersikap santai sewajarnya seperti dia yang bicara pada teman sebayanya di kita Vier.  Frey nampak antusias, "Kau serius? Waaaahhh, keren! Pasti seru dikelilingi gadis setiap hari. Apa ada yang kau suka?" mendekati Chris jahil.  Chris mengibaskan tangannya, "Ah, tidak ada yang kusuka. Mereka berisik dan mengganggu."  "Huuuuu, kau takut mereka, ya?" Frey mencolek pipi Chris membuat Chris berdecak dan tertawa kecil. "Apa? Mungkin kau yang menyukai mereka, tapi aku tidak suka," jawab Chris jujur dan Frey percaya.  "Ternyata kau orang yang anti perempuan. Bagaimana dengan Laura? Kalian terlihat dekat." Frey memutar bola matanya menggoda.  "Si pencuri itu? Dia yang selalu menggangguku membuatku muak saja. Dia bahkan mengajakku mencuri. Gila!" Chris berubah kesal ketika sudah berbicara mengenai Laura.  "Hahaha, lihat wajahmu itu. Perubahan yang cukup jelas hanya dengan menyebut nama Laura. Kenapa kau biarkan dia ikut kalau kau kesal?"  "Apa boleh buat? Aku taruhan dengan-nya. Meskipun dia pencuri, tapi sangat pintar dan baik. Dia juga petarung yang hebat. Bekas luka di tangan dan kakinya itu dia dapat karena melindungiku dan bibi Armei. Larinya sangat cepat dan mencurinya juga cepat, tapi pukulannya kurang memuaskan. Wajar saja karena dia perempuan. Soal memukul dia masih kalah denganku." tidak sadar Chris tersenyum.  "Hmm? Gadis yang cukup mengerikan, tapi dari sifatnya terlihat ceria. Kau sungguh tidak tertarik padanya? Sayang sekali." Frey menggeleng.  "Sangat ceria ... terbilang berbeda dengan gadis lainnya. Kami hanya teman yang saling menguntungkan itu saja," kata Chris tanpa beban. Namun, sedikit ada yang mengganjal di hatinya seakan mengatakan jika Frey tak boleh mengenal dekat dengan Laura.  "Apa kau berniat melatihnya?"  "Kenapa tanya begitu? Dia bukan petarung. Aku tak mau perempuan terluka selagi ada aku yang menjaga mereka. Apa gunanya laki-laki sejati dengan ilmu bela diri tinggi jika masih membiarkan perempuan bertarung sendirian dan terluka? Sudah cukup waktu itu saja Laura berkelahi bersimpuh darah karenaku. Lain kali tidak akan kubiarkan itu terjadi. Bukan hanya pada Laura saja, tapi bibi Armei dan semua perempuan meskipun aku risih dengan mereka," Chris menjadi serius kembali.  "Hei, hei, santai saja. Aku hanya bertanya. Baiklah, kurasa duniamu itu menyenangkan. Aku ingin melihatnya, tapi tidak bisa. Semua pedang ini nantinya akan kau coba untuk memastikan apakah ada yang bisa kau kendalikan atau tidak. Setidaknya bisa melatihmu untuk merasakan berbagai aura pedang. Itu bisa menambah kekuatanmu dalam berlatih Pedang Naga nanti. Meditasinya harus berhasil seratus persen agar Pedang Naga didapatkan." Frey mengangguk serius.  Perbincangan aneh itu berujung kembali mempersiapkan sesuatu. Dalam hati Frey memuji Chris yang pertahanannya sangat kuat terhadap perempuan. Dia juga melindungi mereka layaknya lelaki sejati. Sifat yang murni nan baik itu tak boleh disia-siakan. Lain dengan Chris yang justru berpikir jika Frey akan mendekati Laura karena pertanyaannya yang bukan-bukan. Setelah menata semua ruangan dan barang dengan Frey, dia mencari Laura. Sayangnya Laura menghilang sejak diskusi telah usai. Tidak perlu diragukan lagi karena Laura pasti mencuri. Ada beberapa teriakan dari tetangga Frey yang merasa kehilangan sesuatu. Pencuri telah berhasil masuk ke wilayah mereka membuat mereka ketakutan. Mengetahui itu Chris menjadi menepuk dahinya berulang kali.  'Dasar tangan panjang! Dia tidak bisa diperingati sama sekali!' keluh Chris dalam hati.  Samping rumah terdapat tumbuhan liar yang bisa dimakan bernama Rasberi. Namun, karena banyaknya besi di sekitar rumah itu membuat semua rasberi tercemar dan terkandung racun di dalamnya. Frey telah memperingati mereka jika buah itu tak boleh dimakan. Namun, karena penasaran Armei memetiknya dan memakannya. Dia terkena tekanan langsung di kepala akhirnya pingsan setelah beberapa detik memakannya.  Chris heboh beserta semua orang. Belum juga memulai apapun untuk berlatih sudah mendapat tragedi. Racun Rasberi debgan cepat menjalar ke seluruh tubuh Armei. Secepat mungkin Chris membawa Armei ke tabib dengan Frey yang memandu jalannya. Kenan masih tak menampilkan wajahnya yang tertutup cadar. Dia mengancam sang tabib jika Armei tidak sadar sebelum malam datang. Ini sudah senja. Entah mengapa Armei yang awalnya sedang berlatih pedang tiba-tiba memakan buah Rasberi. Kini dia sedang dalam pengobatan. Chris dan yang lainnya menunggu di ruang tamu yang berbatasan dengan kamar tempat Armei diobati.  "Haish! Tumben sekali bibi merepotkan. Aku khawatir padanya," Chris tak bisa tenang.  "Minumlah dulu. Siapa suruh dia tak menghiraukan ucapanku? Aku sudah bilang, 'kan, buah itu terkena racun besi setiap hari." Frey menyerahkan air dalam cawan pada Chris.  Kenan juga meminum air yang sudah disediakan, "Mungkin dia lelah dan ingin makan sesuatu."  "Tidak, bibi bukan orang yang mudah lapar. Dia yang paling bisa menahan lapar saat perjalanan," Chris masih gelisah.  "Oh, ya, di mana Laura?" Kenan memandang Chris.  Chrus menggeleng, "Jangan tanya si bodoh itu, Paman. Sudah pasti mencuri. Nanti saat kembali juga membawa banyak perhiasan dan uang."  "Sungguh? Kurang ajar sekali!" Kenan kesal.  "Tapi apa tidak apa-apa membiarkannya? Ini sudah hampir malam," Frey khawatir.  Chris langsung menatap Frey, "Tidak perlu risau. Aku berharap dia dimakan kucing liar dan tidak kembali lagi."  Seketika suara pintu terbuka mengagetkan semua orang. Chris melotot karena yang datang ternyata Laura yang sedang membawa bungkusan kain yang lumayan besar. Dia meringis tanpa dosa dan mendekat ke arahnya.  "Hai, semuanya! Aku datang! Eh, ini bukan rumah Frey, 'kan? Aku diberitahu ayahmu kalau kalian membawa bibi Armei berobat kemari. Hahh, orang itu bisa sakit juga ternyata. Padahal aku ingin memberinya banyak perhiasan. Lihatlah, semua orang di sini ternyata kaya! Aku berhasil mencuri beberapa dari harta mereka! Aku hebat, 'kan?!" Laura antusias. Membuka ikatan kain itu dan meletakkannya di tengah-tengah mereka memenuhi meja. Benda berkilauan dan uang koin yang tak terjunlah harganya membuat mata mereka berbinar. Laura dengan bangga berkacak pinggang.  Takk!!! "Aduh! Kenapa kau memukulku?!" Laura mengelus dahinya yang dipukul Chris tanpa ampun.  Chris menekan hidung Laura sampai Laura kesakitan, "Kau itu dari mana saja? Kenapa kembali? Pergi saja yang jauh! Sudah berapa kali kubilang kalau kau tidak boleh mencuri lagi, hah? Kau ini punya terlinga atau tidak?!"  "Aaaa, sakit! Lepaskan-lepaskan!" Laura mengipasi hidungnya ketika Chris menarik tangannya. "Bilang saja kalau khawatir," sambungnya.  "Apa?!" Chris melotot tak terima.  Laura mencebikkan bibirnya lalu duduk di dekat Kenan saling adu tatapan kesal dnegan Chris yang juga sudah duduk kembali.  "Laura, semua ini harus kau kembalikan," kata Kenan.  Laura terperangah pura-pura memasang wajah sedih pada Kenan, "Paman, kau tega sekali! Ini kudapatkan dnegan susah payah, loh. Aku tidak mau!"  "Kembalikan! Kita tidak sedang bersenang-senang di sini. Kita dalam penyelesaian misi. Ingat itu!" tegas Kenan.  "Hahh, dasar tidak bisa diajak bercanda. Frey, bagaimana denganmu? Kau suka?" Laura malas dengan Kenan yang berpikir lurus. Dia berganti antusias pada Frey dan Chris malas melihatnya.  "Waaaahh! Semua ini kau mencurinya? Hebaaatt!!!" Frey menggenggam beberapa uang koin.  "Hahaha, benar, 'kan?! Akhirnya ada yang mengerti kesenanganku!" Laura bertepuk tangan.  "Frey, kenapa kau membelanya?!" Chris memukul meja kecil.  "Tapi kasihan orang-orang sangat membutuhkannya. Sebaiknya kau kembalikan saja." Frey mengangguk-angguk dan meletakkan kembali uang itu.  Laura menganga, "Apa? Kau juga sama dengan mereka?" menunjuk Chris dan Kenan.  "Ck, mencuri kok bangga." Chris kembali cuek.  Laura melengos tak mau memandang Chris, "Baiklah, aku kembalikan nanti setelah bibi Armei sadar. Kalian menyebalkan!"  Tidak ada sahutan dari mereka selain anggukan dan senyum manis dari Frey.  "Oh, bagaimana keadaan bibi? Kenapa dia bisa keracunan?" tanya Laura.  "Kau sudah dengar dari ayahnya Frey, 'kan? Buat apa tanya?" sindir Chris.  "Ish, kau ingin cari masalah denganku, ya? Kupukul kau!" ancam Laura. Tangannya sudha mengepal di udara.  "Kau memukulku? Mana berani?" tantang Chris.  Laura semakin mendesis tak terima. Dia akan memukul Chris sungguhan, hanya saja sang tabib sudah keluar dari kamar menyita perhatian mereka. Dia terkejut karena melihat banyak harta curian Laura. Laura dan Chris segera menyembunyikannya agar tabib itu tidak sesak napas karena terkejut. Mereka meringis dan mengalihkan perhatian dengan bertanya bagaimana kabar keadaan Armei.  "Racunnya sudah keluar. Kemungkinan dua jam lagi baru sadar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sudah membuat asap dari tumbuhan herbal untuk membantu melancarkan peredaran darahnya dan mengeluarkan sisa-sisa racun yang ada," kata tabib itu.  Chris dan yang lainnya mendesah lega.  "Syukurlah tidak ada yang serius," gumam Chris luruh.  "Terima kasih banyak, Tuan tabib. Ngomong-ngomong bagaimana soal biaya?" Laura membungkukkan badan sebentar. Pertanyaannya itu mampu membuat sang tabib berkeringat dingin lantaran mengingat ada banyak perhiasan dan uang di hadapannya. Dia menjadi kaku dan tidak bisa menjawab. Hanya mengangguk lalu pergi setelah melambaikan tangan tanda bicara nanti saja.  "Kau ini! Lebih baik kembalikan semua yang kau curi cepat! Dia syok karenamu!" desis Chris tajam pada Laura.  "Ck, kau selalu marah-marah. Kalau begitu temani aku!" Laura membawa semua harta curiannya dan dan menarik Chris paksa agar mau membantunya mengembalikan semua hartanya.  "Eh, eh, enak saja tarik-tarik! Aku mau lihat bibi Armei! Laura, lepas!" Chris mendesis lagi meronta. Namun, Laura tak menghiraukannya.  Frey sangat tertarik ketika mereka keluar dari rumah, tetapi memilih tidak membahasnya, "Paman, kau tidak melihat bibi Armei?"  "Ayo kita lihat." Kenan langsung berdiri dan diikuti Frey. Armei masih tidur, tetapi memang sudah lebih baik. Napasnya teratur, asap beraroma obat-obatan mengepul hangat menerpa wajah Armei. Telapak kaki Armei berkeringat bekas kompresan obat-obatan.  "Dasar ceroboh!" gumam Kenan memandang Armei.  Sedangkan dua remaja yang selalu bertengkar sedang membagikan ulang semua benda berharga itu secara diam-diam pada tempatnya. Chris selalu mengawasi Laura dan memarahinya ketika Laura sengaja mengambil lagi apa yang telah dia kembalikan. Ketika semuanya sudah selesai, langit jingga mulai meredup. Beberapa menit lagi matahari akan terbenam sempurna. Saat itu juga orang-orang masuk ke rumahnya dan tidak ada lagi keluhan serta wajah sedih. Semuanya bahagia sekaligus terkejut karena hartanya kembali lagi. Lain dengan Laura yang menggerutu sekarang. Dia tidak kembali lantaran Chris terus berjalan lurus mengikuti arah jalan sembari memandang langit barat.  "Chris, kenapa tidak kembali? Kau mau mencuri, ya?" tuduh Laura kesal. Dia menghentak-hentakkan kakinya saat berjalan.  "Kau pulang saja. Aku mau jalan-jalan," kata Chris pelan. Tiada marah ketika Laura mengejeknya.  "Kenapa begitu? Tidak mau melihat bibi? Bukannya dari tadi kau gelisah memikirkannya?" lirik Laura.  "Aku ingin berjalan sendiri, kenapa kau tidak mengerti? Kembalilah dulu, nanti aku pulang malam." Chris juga melirik Laura.  Lalu, Laura memotong jalan Chris. Dia berdiri di depan Chris, "Untuk apa malam-malam baru pulang? Kau jangan membuat ulah! Kita tidka tau bahaya apa yang ada di desa ini. Mungkin saja monster besi datang dan memakanmu. Ke mana lagi kami cari harapan untuk menjadi pahlawan?"  "Kata-katamu terlalu dibuat-buat. Aku hanya ingin jalan-jalan." Chris mendorong dahi Laura pelan.  Laura berdecih sebentar, "Yasudah, aku tinggal. Pulang nanti dalam keadaan utuh, ya." melenggang pergi melambaikan tangan.  "Jangan cemas. Jangan memikirkan ku nanti," canda Chris membuat Laura berbalik lagi dan kesal. "Kurang ajar kau, Chris! Aku tidak perlu mencemaskanmu atau memikirkanmu tau!"  Chris tergelak lalu pergi saling bertolakbelakang dengan Laura. Tidak tahu ke mana arahnya akan pergi, yang jelas menyusuri jalan di petang hari membuatnya rindu suasana kota yang hamlir malam dan penuh polusi. Di mana trotoar menjadi teman sebelum tertawa dengan teman-teman yang tak mengerti siapa dirinya.  Chris sedang berpikir dan terus berpikir. Seakan otaknya tidak ada hentinya berpikir. Semua yang dia pikirkan tidak akan berguna jika tidak dilakukan. Untuk itu tidak ada salahnya mencoba membangkitkan kembali tenaga dalam yang sengaja dia tahan. 'Itu pasti membutuhkan waktu lama. Aku juga sudah lama tidak bermeditasi. Apa akan seratus persen berhasil? Aku takut jika akan mengkhawatirkan mereka nantinya. Namun, aku harus mencobanya sekuat yang kubisa demi menjaga harapan mereka,' bagi Chris.  Senyumnya terangkat bersama dengan kerutan di dahi yang pudar. Kedua tangan dimasukkan ke saku celana, tetapi tidak bisa. Dia lupa kalau pakaiannya berubah. Hanya bisa melipat tangan ke belakang seperti orang paling serius di desa itu. Mungkin dari jendela atau celah rumah orang-orang memperhatikannya dan menggunjingnya, tetapi Chris tidak peduli. .. Dia berhenti di tengah-tengah jalan ketika matahari terbenam sempurna. Pemandangan yang epik dan tak boleh dilewatkan. Latihannya dimulai besok. Itu sebabnya mungkin hari ini akan menjadi hari terakhirnya untuk menikmati tenggelamnya surya karena besok dan seterusnya dia harus serius mengolah apapun yang dia punya dan mungkin mempertaruhkan nyawa. Ternyata desa itu sangat luas. Sedari tadi dia hanya berjalan tanpa menemukan ujung jalan desa.  Bagaimana dengan Armei? Dia sudah bangun tepat saat Chris menghentikan langkahnya untuk melihat matahari terbenam. Dia bingung hanya melihat Laura, Kenan dan Frey. Terlebih lagi ruangan yang membuatnya pusing karena berbau obat herbal. Seketika dia ingat jika telah mencicipi rasa buah beracun yang nikmat bernama Rasberi. Dia bertanya di mana Chris dan Laura menjawab seadanya. Alasan Armei mengapa memakan buah itu karena dia penasaran seberapa besar tingkat racun yang disebabkan oleh besi setiap hari pada buah itu, tidak ada niat kain atau lapar seperti kata Kenan. Kini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD