21. Ahli Pedang

2602 Words
Sungai mengalir begitu jernih. Ikan-ikan berenang bebas sesama jenis. Mereka kecil sama dengan kerang-kerang kecil di tepi sungai. Chris menghela napas pasrah lantaran Laura tak mau menjauh darinya. Terus menggangu dan mengoceh mengamati batu berlian curiannya. Tangan Chris terlipat ke belakang kepala. Pandangannya tertarik pada aliran sungai yang tak tahu di mana letak hilir. Mungkin masih jauh lagi dan sudah cukup jauh mereka menyusurinya. Tidak ada tanda-tanda orang yang lewat atau rumah seperti rumah-rumah di tempat Kenan.  "Laura, daripada mengoceh dengan batu, lebih baik mandi sana," Chris mulai jengah. Melirik sungai menyindir air.  Laura berhenti mengoceh dan menatap sungai, "Wah, baru sadar kalau airnya jernih! Pasti sangat segar!"  "Ck, jawaban yang buruk. Buang saja batu berlian itu. Tidak asik bagiku." Chris memutar bola matanya malas.  "Tidak bagimu, tapi iya bagiku. Bukannya dulu kau suka, ya? Kenapa sekarang tidak?" Laura berkacak pinggang.  Chris menggeleng, "Entahlah, aku tidak tertarik saja. Terlalu memikirkan perkembangan dunia kalian membuatku tak bersemangat dengan harta. Apalagi ketika paman Kenan mengatakan dampak jika Tongkat Naga terus berulah. Kalian bisa tamat. Aku tak mau ada yang kesulitan."  "Hmm, begitu. Kau orang baik, ya?" Laura mengangguk-angguk dengan wajah polos itu membuat Chris mendelik mengetatkan giginya. "Kau pikir aku jahat sepertimu?"  "Aku tidak jahat, tapi menyenangkan." Laura tersenyum bangga.  "Ck!" Chris memalingkan wajahnya.  "Chris, sadar tidak kalau kau sudah terlalu banyak bicara?" Laura tiba-tiba memelankan suaranya. Chris hanya meliriknya. "Aku dengar jika orang terlalu banyak bicara pasti hasil pekerjaannya berantakan. Sebaiknya kau tutup mulut saja dan banyak bertindak," sambungnya.  "Kau ini ... yang benar saja? Kau tidak tau diriku, jadi diamlah. Jangan sok menasehati," jawab Chris tanpa menatap Laura.  "Aku ingin bertarung lagi denganmu. Sekali saja, boleh, ya?" dari nada bicara Laura sudah terdengar sedikit aneh. Barulah Chris berhenti berjalan dan saling berhadapan dengannya.  "Kenapa tiba-tiba menantangku?"  Diam tak ada perbincangan selama lima detik. Selama itu pula hembusan angin bertambah dan mendinginkan pikiran mereka.  "Jika aku bisa lebih kuat, aku akan bertarung denganmu tanpa merepotkanmu." Laura mengepalkan tangan kanannya.  Chris tersentak, "Kau kurang kuat apa? Tidak menyadari kekuatanmu waktu di hutan labirin? Jika kau melawanku dengan serius, aku yakin kita pasti seimbang."  "Sungguh? Aku tidak merasa seperti itu. Sewaktu kita melawan raksasa limbah di danau, aku hanya diam dan ketakutan. Itu tandanya tidak kuat, 'kan?" Laura sudah sedikit percaya diri ketika Chris memujinya secara tidak langsung. Namun, kembali mempertanyakan kekuatannya.  "Mungkin karena naluri alamimu. Wajah saja perempuan tidak suka dengan bau busuk dan hal yang kotor. Itu membuat nyalimu menciut." Chris melipat tangan di d**a.  "Oh, ternyata begitu. Jadi, apa aku boleh bertarung denganmu?" setelah menganggukkan kepala Laura kembali menatap Chris berbinar penuh permohonan.  Chris mendelik lagi, "Untuk apa? Tidak mau!"  "Ayolah, aku hanya ingin tau seberapa hebatnya dirimu dengan kekuatan penuh?" Laura memukul lengan Chris membuat Chris sedikit menjauh darinya.  "Metode penghancur dengan satu pukulan dan tendangan, itu yang kupunya sekarang. Kau mau mencobanya?" Chris melayangkan tangan berupa pukulan, tapi hanya diam di udara sekadar mengancam Laura.  "Apa itu metode penghancur?" Laura justru meneleng.  "Eeerrr, diamlah! Jangan sok polos begitu. Intinya aku tak mau berkelahi denganmu." Chris melengos dan kembali melangkah, tetapi Laura mencekal tangannya.  "Tunggu! Kita sudah terlalu jauh. Sebelum sore ayo kita kembali," ucap Laura sedikit memekik.  Chris yang kesal menjadi luruh, "Benar juga. Ayo kembali."  "Sebelum itu bertarunglah denganku." Laura menunjukkan deretan giginya.  "Tidak! Dasar aneh!" Chris memaki tajam.  "Kalau begitu terima ini!" tiba-tiba Laura menendang kepala Chris. Sayangnya Chris berhasil menangkis serangannya. Kini kaki Laura masih ada di tangkisan Chris yang kuat. Sejajar dengan pundak Chris membuat kaki Laura pegal dan akhirnya turun atas kemauannya sendiri.  "Kenapa tidak membalas?" Laura kesal.  "Karena aku tidak mau. Sudah, jangan macam-macam." mendorong kaki Laura hingga Laura sedikit terdorong. Chris melangkah lebih dulu dan Laura pun mengikutinya. "Kau tidak bisa diajak bercanda sungguhan ternyata. Baiklah, serius mulai sekarang," senyum Laura ikut pudar dan berganti dengan wajah eerius menirukan Chris. Namun, hal itu merupakan ejekan bagi Chris. Dia hanya berdecih tidak kau melanjutkan perbincangannya dengan Laura. Baginya tidak akan ada habisnya. Kembali ke rumah Kenan di saat semua orang tak lagi sibuk dengan urusannya. Saat itu juga mereka berangkat mencari orang yang mengetahui sisi lain dari Pedang Naga. Di mana dan siapa mereka masih tidak tahu. Namun, mereka keluar cukup jauh dari tempat itu. Pemukiman mulai terlihat. Begitu bahagia membuat Kenan tak sadar tersenyum dalam balik cadarnya.  Desa sederhana itu cukup panas dikarenakan banyaknya orang yang berprofesi sebagai pengrajin. Mereka mengerjakannya di depan rumah masing-masing. Tembikar dan yang lainnya sedang dijemur di bawah teriknya matahari yang sangat mendukung.  "Permisi, maaf semuanya! Tolong beri jalan!" seruan seorang laki-laki yang membawa potongan besi sedang berlari kencang menerobos orang-orang di sekitarnya. Chris dan yang lainnya pun berhenti.  "Tolong minggir! Semuanya beru aku jalan!" orang itu semakin dekat dengan rombongan Chris.  Chris meneleng, "Laura, apa dia sepertimu?" menunjuk orang itu dan mengira pencuri yang lari takut tertangkap.  "Ck, bukan! Mana ada pencuri kabur meminta tolong dengan sopan?" Laura memperhatikan orang itu.  Ketika orang itu tiba di dekat mereka, Chris dan yang lainnya membendung jalan membuatnya berteriak berhenti mendadak tepat di depan Chris.  "Hei, kenapa kalian memotong jalan?!"  "Kenapa kau lari? Kau mencuri itu, ya?" Laura menunjuk potongan besi yang ada di kain penutup. Orang itu terkejut.  "Sembarangan! Ini sisa tempaan besi yang amat berharga! Beraninya kau menyebutnya barang curian!"  "Oh, bukan, ya? Haha, habisnya kau sangat terburu-buru seperti pencuri dikejar warga saja," lanjut Laura.  "Cm, kalian ini siapa? Jangan menghalangi jalanku!" orang itu menyibak di oertengah Chris dan Laura.  Chris hanya diam saja membiarkan orang itu lolos. Dia sudah hapal wajahnya, mungkin akan bertemu lagi jika berjodoh.  "Kenapa kau biarkan begitu saja?" tanya Laura. Mereka lembu melangkah.  "Siapa tau memang sedang sibuk. Kita tak boleh menyulitkannya," jawab Chris santai.  Kemudian tidak lama setelah itu seorang lelaki tua yang memiliki rambut panjang berwarna putih pun mencoba untuk berlari mencoba untuk menerobos jalanan lagi sama seperti orang sebelumnya. Chris menahannya lagi.  "Aaaaa, minggir! Anak muda minggir!" orang tua itu berlari cukup pelan, baginya sudah terlalu cepat. Ketika sampai di dekat Chris, dia tidak menghiraukannya begitu saja. Chris pun menepi memudahkan langkah orang tua itu. Namun, pandangannya hanya terarah pada pedang yang ada di pinggang pak tua itu. Ketika orang itu pergi, Chris mengerutkan dahinya. "Pedang yang bagus. Siapa orang itu?" gumam Chris. "Ayo kita ikuti!" Kenan memicingkan matanya dan berlari ke jalan sebelumnya mengikuti arah orang itu. Chris penasaran, tapi tidak ada celah untuk membantah lantaran Kenan berlari terlebih dahulu. Akhirnya dia mengikuti langkah Kenan.  Rumah kecil di tepi desa itulah tempat berhentinya orang tersebut. Kedatangan Chris dan yang lainnya begitu mencolok. Orang tua itu heran.  "Kalian bukannya yang ada di jalan tadi? Kenapa bisa ada di sini? Apa kalian mengikutiku?" orang tua itu sedikit takut.  Armei menatap sekeliling dengan tatapan tajam lantaran penciumannya mencium aroma besi dan merasakan hawa panas di sekita rumah itu. Dia yang mengidolakan pedang pasti sangat tahu tempat apakah itu.  "Maaf, Tuan. Apa ini rumahmu?" Atanya Armei datar membuat yang lain menoleh.  "I-iya, ini rumahku. Kalian siapa?" orang itu panik menunjuk mereka satu per-satu.  "Kau punya banyak pedang yang bagus," kata Armei.  "Bibi, kau bicara apa?" bisik Chris.  Lalu, keluarlah laki-laki muda dari dalam rumah membuat Chris dan yang lainnya terkejut lagi. Orang itu juga terkejut. Dia berdiri di samping pak tua.  Setelah mereka sama-sama dikejutkan, pertanyaan demi pertanyaan muncul tak menghebohkan pikiran lagi. Ternyata mereka adalah anak dan ayah. Bekerja sebagai pandai besi terutama sang anak adalah pembuat pedang yang sudah terkenal di usia mudanya. Bukan hanya terkenal, melainkan dia lah salah satu ahli pedang yang bahkan pihak pemerintahan telah mempercayainya untuk membuat senjata. Untuk itu mengapa rumahnya selalu panas karena bara api dan besi. Setiap hari dia harus menempa besi untuk membuat senjata yang hebat.  Kedatangan Chris membuat heboh sesaat. Mereka sadar akan bayangan yang Chris punya. Sontak menyuruh Chris masuk dan mengunci rapat rumahnya. Tidak disangka begitu masuk rumah, Chris ternganga. Tidak ada perabotan yang terbuat dari kayu, semuanya besi. Rumah itu terlihat kecil dari luar, tetapi dalamnya mengerikan. Hampir tidak ada udara jika jendela tidak dibuka. Namun, itu hal menarik baginya. Chris terus tersenyum mihat seisi ruangan walau laki-laki ahli pedang yang seusia dengannya terus bertanya seakan ketakutan.  "Hahaha, kau cerewet juga, ya?" Laura tertawa memukul pahanya sendiri merasa kasihan karena ahli pedang itu tak dihiraukan Chris.  Sontak Chris mengerjap dan meringis pada ahli pedang itu. "Ahaha, kau bicara apa tadi? Maaf, ya," dengan polosnya mengucap kata maaf.  Ahli pedang itu mengejang. Bukan karena ucapan maaf Chris, melainkan bayangan Chris yang terus mengikuti pergerakan Chris. Napasnya pun tercekat membuat Kenan dan Armei kebingungan, berbeda dengan Laura yang justru mentertawakannya.  "Anakku! Kuasai dirimu, anakku!" orang tua itu sudah terlalu tua untuk menjadi seorang ayah. Dia seharusnya menjadi kakek yang sangat hebat dan disegani di desa.  Chris tertawa lagi, "Kalian terkejut dengan bayanganku, ya? Bukankah ini baik? Tandanya aku manusia normal di sini."  "I-iya, kau normal ... sepenuhnya," kata ahli pedang itu terbata-bata. Masih gak bisa memalingkan pandangan dari Chris.  Chris heran, "Kenapa? Jika ada sesuatu katakan pada kami. Sebenarnya kami juga dalam perjalanan mencari seseorang."  Kata terakhir Chris membuat pemuda itu mengerutkan dahinya lalu menghela napas berat. Dia mondar-mandir membuat para tamunya pusing. Hingga beberapa menit kemudian pemuda itu duduk bersama mereka sambil mengetuk dahi.  "Sepertinya aku paham apa yang terjadi. Aura pedang Bibi itu dan bayanganmu telah mengatakan semuanya tanpa kalian jelaskan. Terlebih lagi ada orang penting yang selama ini menyembunyikan diri." pemuda itu menunjuk Kenan di akhir ucapannya. Tentu saja mereka semua terkejut kembali. Lalu, pemuda itu melirik Chris. Tampang serius, tetapi bersahabat milik Chris membuatnya ingin berkenalan. Dia mengulurkan tangan. "Haha, sepertinya usia kita sama. Perkenalkan, aku adalah ahli pedang terpercaya. Semua jenis dan riwayat pedang dari tiap pemiliknya aku mengetahui semuanya. Namaku adalah Frey Avender. Senang bertemu denganmu, harapan dunia bayangan," ujarnya tersenyum.  Chris terbelalak segera menerima uluran tangan orang yang bernama Frey tersebut, "Aku Evans Chris. Bagaimana kau tau dalam sekejap bahkan kami belum menjelaskannya sekali pun?" tatapan kagum yang sangat jelas.  "Itu hal mudah bagiku. Namun, sekarang bukan saatnya untuk terkejut. Chris, dari mana kau dapatkan bayanganmu?" Frey berubah serius ketika melepas jabatan tangannya.  "Tentu saja sejak aku lahir dan dari duniaku, dunia nyata. Aku bukan berasal dari sini. Teman paman Kenan yang merupakan salah satu kelompok pemecah misi yang mengaturku hingga tiba di sini," jawab Chris juga serius.  "Kalau begitu, memang benar jika takdir sudah bermain." Frey mengangguk-angguk. "Terserah apapun itu, kurasa kau adalah orang yang kamu cari. Frey, katakan apapun yang kau ketahui," ujar Chris.  "Tentu saja." Frey mengangguk pasti.  Frey menjelaskan apa yang pernah dijelaskan Kenan bahkan jenis pedang milik Armei pun dia bongkar membuat Armei terkejut. Pedang yang mampu memotong apapun dengan jarak sejauh apapun. Tebasan udara yang mampu membela angin bahkan memisahkan awan yang gelap. Hanya satu orang yang memilikinya yaitu pendekar hebat yang menghilang setelah insiden hilangnya Pedang Naga. Dia adalah pengirim surat khusus, Armei Ziacu.  "Tidak! Kau terlalu berlebihan. Memang pedang ini luar biasa, tapi aku tak pernah membelah awan," tolak Armei.  "Itu karena kau belum membangkitkan pedangmu ke tahap selanjutnya. Kalau kau mau, aku bisa mengajarkannya," kata Frey santai.  "Sungguh? Luar biasa! Tolong ajarkan aku!" Armei menangkupkan tangannya.  "Iya, tentu saja." Frey patut berbangga diri.  "Oh, ternyata itu sebabnya kenapa kau tidak pernah mengizinkan ku menyentuh pedangmu? Pedang yang luar biasa itu memang pantas kau miliki, Bibi." Chris melipat tangan di d**a. Dia memandang pedang Armei yang sangat dia sayangkan. Teringin sekali menyentuhnya walau hanya sekali.  "Jangan khawatir. Kau juga akan memiliki pedangmu nanti," kata Frey membuat Chris tersenyum dengan mata berbinar.  "Benarkah? Kau jangan membuatku sennag di awal, tapi akhirnya menjatuhkanku, ya," Chris tidak bisa menahan rasa gembiranya.  "Iya, tapi kau butuh kerja keras untuk mendapatkannya bahkan tubuhmu bisa rusak kalau kau fidka bisa menguasainya dengan baik karena pedang yang akan kau miliki adalah Pedang Naga." Frey mengatakannya tanpa ragu.  "APA?!" bukan hanya Chris, melainkan semua yang ada di sana termasuk ayah Frey pun terkejut.  "Frey, kalah kau bicara yang bukan-bukan akan kuhabisi kau!" Kenan marah.  "Aku tau mengapa kau marah, Paman. Tapi yang kukatakan bukankah main-main dan bukan asumsi belaka. Tergantung kalian, percaya padaku atau tidak. Sudah lama aku menunggu hari ini, kedatangan sang pahlawan dari dunia lain lah yang mampu menarik kembalinya Pedang Legenda. Bahkan temanmu yang tak tau kabar dan tidak menjalankan tugasnya sehingga dunia ini kacau balau itu tak bisa melakukannya, bukan? Tapi, meskipun kalian masih tak percaya padaku, aku akan tetap membuat Chris menguasainya dan menarik kembali Pedang Naga," Frey tanpa ragu.  Chris dan yang lainnya saling pandang.  "Bagaimana bisa dengan lancang aku memilikinya sedangkan itu adalah Pedang Legenda milik kalian? Aku hanya orang asing yang sedang berpetualang. Frey, kuharap kau sadar dengan apa yang kau katakan. Meskipun aku sangat ingin pedang, tapi bukan Pedang Naga yang kuinginkan. Itu terlalu berat," jelas Chris.  "Nasib, takdir, tidak bisa diubah meskipun ada pilihan. Boleh kutanya sesuatu?"  Chris mengangguk ketika Frey meminta izin.  "Apa ada orang yang pernah ingin menangkapmu?" tanya Frey dan itu mengejutkan Chris lagi.  "Iya, ada dua orang misterius. Mereka mengikutiku sampai jauh. Tidak tau sekarang masih menguntit atau tidak," jawab Chris.  "Itu karena mereka sudah merasa bahwa kau adalah ancaman terbesar saat ini. Kenapa? Karena hanya kau yang bisa mengembalikan dunia ini seperti semula. Mungkin, Tongkat Naga bisa kembali redup bagai lentera yang akan dipadamkan jika Pedang Naga berhasil berada di tangan. Raja Roz Ziloy juga tidak akan kerasukan kekuatan jahat lagi."  Tidak ada senyum bagi mereka saat ini. Semua perkataan, pemikiran, berkelut menjadi satu. Semua mengarah pada Chris menunggu jawaban walau Kenan masih w dikit tak terima jika Pedang Naga akan diambil oleh Chris dan hanya dia yang bisa mengambilnya. Mengapa bukan dirinya atau Aron yang bahkan orang asli dari dunia bayangan? Mereka juga yang terkuat dari yang terkuat. Kenan juga belum melihat kemampuan Chris, itu membuatnya bertambah ragu.  "Kalau begitu, beribaku alasan mengapa Pedang Naga bisa lenyap?" Chris memintanya untuk memikirkan kembali beban yang dia terima. Dia sadar, ini bukan permainan bela diri yang hanya ada menang atau kalah melainkan keberlangsungan hidup semua orang bahkan dunia. Chris perlu mempertimbangkannya matang-matang.  "Pedang Naga menghilang dengan sendirinya karena tidak pernah digunakan. Raja Roz Ziloy lebih menyukai Tongkat Naga, itulah sebabnya," jawab Frey seakan seorang ahli yang snagat pintar. Kemampuan mengingatnya di atas batas.  "Lalu, untuk mendapatkan Pedang Naga kembali, aku harus apa?" Chris kembali menatap Frey. Tatapannya redup nan tajam bercampur menjadi satu. Frey mendekatkan dirinya pada Chris, "Kau harus melakukan meditasi tingkat tinggi dan berlatih ilmu pedang khusus dengan sangat keras."  Deg!!! Chris melebarkan matanya. Detak jantungnya bekerja lebih cepat. Itu tandanya dia harus membangkitkan kembali tenaga dalam yang sengaja dia kubur dalam diri. Itu akan teramat sulit.  "Aku akan mengajarimu semua tahap itu," sambung Frey.  "Kalau kau memang sehebat itu, kenapa tidak kau lakukan sendiri?" hanya itu yang tersemat di kepala Laura sejak tadi.  "Karena aku tidak ditakdirkan untuk itu. Aku pandai besi, bukan petarung." Frey menggeleng.  Chris berpikir lagi, "Apa aku bisa? Aku tidak ragu, tapi aku bertanya sungguh-sungguh padamu. Apa memang aku bisa?" tersirat bahwa mungkin ada orang lain yang bisa melakukannya dan bukan dia.  "Memang sulit karena kau bukan keturunan dari Raja. Namun, saat ini hanya kau yang bisa mendapatkannya. Kenapa? Karena bayanganmu." Frey menunjuk bayangan Chris.  Mereka semua menatap bayangan Chris. Memang benar semua berkaitan dengan bayangan dan akan berakhir dengan bayangan. Saat ini di seluruh dunia bayangan hanya Chris yang memiliki bayangan. Itu adalah hal yang tak perlu dipertimbangkan. Mungkin bayangan memiliki kekuatan tersendiri di dunia ini sehingga berpengaruh penting. Chris pikir akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu dan sepertinya tidak ada pilihan lain bagi Chris untuk menyetujuinya.  "Akan kulakukan!" kata Chris mantap. Frey dan yang lainnya merasa senang dan Chris sekali lagi membuat harapan mereka semakin besar. Kenan mau tidak mau harus menerimanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD