20. Tongkat dan Pedang Naga

2565 Words
Legendanya memang masih terdengar hingga kini. Namun, tragedi yang melibatkan legenda itu menghilang seiring jalannya waktu. Tepatnya semenjak dua puluh tahun yang lalu. Semua ini semakin jelas ketika Kenan memberitahu kisah lengkapnya yaitu senjata pusaka yang mampu mengendalikan dunia bayangan. Dua buah senjata yang saling berpasangan, Tongkat dan Pedang Naga.  "Suratnya berisi tentang perintah agar paman Aron menghentikan sang penguasa dunia bayangan yang dikenal dengan Raja Roz Ziloy serta mengembalikan semua bayangan yang telah diambil. Keadaan dunia sedang kacau. Semua pemerintah dihentikan. Kala itu paman Aron dan paman Kenan berada di dua titik yang berbeda. Lalu, melibatkan para ksatria seperti Bibi Armei dan yang lainnya untuk bertarung sementara paman Aron dalam perjalanan. Karena hanya paman Aron lah yang bisa menguasai teknik pedang terhebat di dunia bayangan. Selebihnya, paman Kenan merupakan ahli strategi dan ilmu tenaga dalam. Perpaduan yang hebat. Inilah tugas kalian sebagai kelompok pemecah misi rahasia." Chris menjelaskan pemahamannya setelah membaca ulang surat itu. Armei dan Kenan mengangguk. Chris menunduk sembari menyerahkan surat itu pada Kenan.  "Legenda itu merupakan berkat dari Sang Penguasa. Konon, terdapat dua benda pusaka suci yang saling berpasangan yaitu Tongkat Naga dan Pedang Naga. Senjata yang terhebat tiada tanding. Dimiliki oleh Raja secara turun-temurun hingga jatuh ke masa Raja Roz Ziloy. Kekuatannya sangat dahsyat meskipun keberadaannya masih menjadi misteri awam. Satu hal yang pasti, dua senjata itu tak dapat dipisahkan. Jika salah satunya hilang maka kekuatan baik akan berubah menjadi jahat. Namun, Pedang Naga telah hilang tanpa sebab membuat Tongkat Naga pun berubah seperti yang dirumorkan. Kemudian, berhasil merasuki Yang Mulia Raja yang kini telah menjadi penguasa yang tidak kami kenal. Tidak jahat, tidak pula baik, hanya saja berbuat sesuka hati dengan mengendalikan dunia bayangan bagai mainan. Kerap pula berbuat durjana. Hilangnya semua bayangan karena Raja Roz Ziloy dirasuki kekuatan jahat dari Tongkat Naga. Meskipun semuanya nampak baik tanpa adanya bayangan, tetapi akan buruk jika dunia bayangan tidak memiliki bayangan. Dunia ini bisa lenyap," terang Kenan mampu mengejutkan Chris secara mendalam. Terlebih lagi kata terakhirnya jika dunia lain ini bisa saja lenyap.  "Pengaruh yang begitu hebat. Saat ini yang terlihat hanyalah memori semua orang yang terkikis perlahan-lahan dan juga terkadang dunia ini nampak semu. Aku merasakannya." Chris menatap atap rumah.  "Kau merasakannya? Kenapa aku tidak?" Laura menunjuk dirinya sendiri.  "Karena aku berbeda dengan kalian, jelas aku merasakannya. Sekarang satu masalah sudah terjawab, sekarang muncul pertanyaan lain. Kemanakah hilangnya Pedang Naga?" Chris mengerutkan dahi berpikir keras. Membayangkan jika dirinya yang berada dalam tragedi misterius dua puluh tahun silam, apakah penyebab Pedang Naga bisa hilang?  "Chris, apa kau percaya semua ini? Tidakkah kau berpikir tidak masuk akal? Semua ini pasti berbeda dari duniamu," Kenan menanyakan perihal keyakinan Chris.  "Hmm? Haha, aku sudah mempersiapkan diriku sejak awal jika di sini tidak sama dengan duniaku. Aku sudah terbiasa. Lagi pula tidak ada yang aneh, hanya saja kalian punya kekuatan aneh," jawab Chris seadanya.  "Lalu, kekuatan apa yang ada di duniamu?" Kenan meneleng penasaran.  "Emm, kami bertarung secara fisik. Jujur saja, aku salah satu yang terhebat dalam ilmu bela diri. Baru saja memenangkan kejuaraan bela diri di tempatku belajar. Terkadang ada orang yang bisa mengendalikan sesuatu dengan pikirannya, tetapi itu juga di luar kendali orang biasa sepertiku. Kemudian, ada juga yang mempunyai ilmu kanuragan, seperti tenaga dalam. Aku pernah melatihnya, tetapi tidak pernah kugunakan meskipun dalam perlombaan," Chris menjawab dengan senang hati.  "Jadi, apa kekuatan istimewamu itu masih bisa bangkit?" Kenan terlihat mengharapkan jawaban yang bagus.  "Kurasa ... bisa kalau aku melatihnya dengan sungguh-sungguh, tapi pasti butuh waktu yang lama. Sudah bertukar cerita, sekarang sudah lumayan jelas, bukan? Sekarang yang jelas ... kita harus mencari Pedang Naga. Itu satu-satunya cara menghentikan tindakan Raja Roz Ziloy." Chris mengangguk mantap.  "Bukan kita, tapi kau," kata Armei membuat Chris menoleh ke belakang. "Kau yang ditakdirkan menggantikan tugas Aron. Maka kau juga yang bisa menyelesaikan ini semua," sambungnya.  "Apa maksudmu? Kalau hanya aku tandanya aku harus menguasai pedang terhebat seperti paman Aron, bukan? Dia saja tidak mengizinkanku menyentuh pedang besarnya di markas," elak Chris.  "Woah, jadi kau pernah melihat pedangnya?" Laura antusias.  "Iya, itu pedang yang hebat. Hanya melihatnya saja sudah tau bagaimana auranya." Chris melirik Laura sebentar.  "Kenapa tidak diperbolehkan?" Armei heran.  "Entah, dia mengejekku kalau aku tidak bisa mengangkatnya. Dia pikir aku anak kecil?" Chris menjadi teringat pertemuannya dengan Aron. Dia lun tersenyum tipis.  "Sudah jelas! Chris harus bisa mengendalikan pedangnya sendiri. Aron tidak membiarkanmu memegang pedang miliknya karena kau masih tak cukup layak. Kau tidak akan mampu hanya sekadar menyentuhnya," Kenan sangat serius bahkan suaranya terdengar seperti perintah.  "A-aku ... Ck, baiklah kuakui aku memang tidak layak untuk pedang sebesar itu, tapi aku juga bisa menggunakan pedang. Bibi Armei saja kalah denganku. Dia juga pelit tidak mau berbagi pedangnya padaku. Ada apa dengan pedang dari dunia ini? Apa semuanya mendadak jadi Pedang Naga yang hebat?" ejek Chris seraya berdecih.  Laura menepuk bahu Chris membuat Chris menoleh, "Bukan begitu, Bodoh! Maksudnya kau juga akan punya pedangmu sendiri nanti yang kekuatannya jauh lebih besar dari milik bibi Armei atau paman Aron. Untuk sekarang kau hanya perlu mencarinya." mengangguk-angguk mengerti dengan mudah.  "Benarkah begitu?" Chris ragu.  "Tentu saja! Kau lupa kalau aku ini pintar?" Laura tersneyum bangga menunjuk pelipisnya. "Ck, kalau begitu bagus! Memang aku ingin punya pedangku sendiri dari awal." Chris menepis tangan Laura, tetapi Laura kembali menaruh tangannya di pundak Chris. "Bagaimana dengan belati itu? Kau akan membuangnya?"  Chris menepis tangan Laura lagi lalu mengambil belati yang mengeluarkan aura hitam. "Harus kuapakan ini? Paman, buat kau saja. Aku tak suka," polosnya Chris memberikan belati itu pada Kenan.  Namun, raut wajah Kenan berubah, "Dari mana kau dapat ini?"  Chris, Laura dan Armei saling pandang, "Dari desa yang seluruh penduduknya senyap. Tak ada huru-hara sama sekali, tak ada senyum, dan di sanalah kami pernah berobat." Chris sedikit memundurkan tangannya yang memegang belati.  "Efek yang luar biasa. Belati ini menggunakan tenaga bayangan." Kenan mengambil belatinya.  "Apa?!" mereka kompak berteriak.  "Aku tidak bisa mengendalikannya, tapi Chris bisa," kata Armei memberi petunjuk. "Paman, apa panah beracun ini juga? Aku belum pernah mencobanya." Laura melepas panah dan busurnya lalu menyerahkannya pada Kenan.  Kenan mengamati dua senjata itu dengan sangat jeli. Lalu, pandangannya hanya tertuju pada belati itu. Dia membuka sarungnya dan nampaklah buliran unik yang sama dengan yang ada di sarung. Seakan bayangan hitam mengeluarkan aura mengelilingi tajamnya belati. Kenan sedikit memundurkan kepalanya.  "Tanpa sadar Chris telah melatih dirinya dengan kekuatan hitam dari bayangan yang telah direnggut kemurniannya. Bayangan ini bukanlah kekuatan biasa, melainkan sudah termasuk kekuatan dari Tongkat Naga yang berubah. Hati-hatilah menggunakannya, jangan biarkan belati ini mempengaruhimu," jelas Kenan.  Alis Chris terangkat, "Tidak mungkin!" 'Meskipun benar saat aku menggunakannya terasa belati itu akan mengendalikanku,' sambung Chris dalam hati.  "Paman, aku tidak menginginkannya. Bukankah jika aku diikuti kekuatan bayangan dari Tongkat Naga, akan menghambat pencarian Pedang Naga? Bisa-bisa pedangnya tidak muncul nanti. Kau ambil saja, ya?" Chris memaksa.  "Orang yang memberikannya juga pasti tau sesuatu," lanjut Kenan.  "Tunggu! Bicara soal orang, aku bertemu dengan dua orang yang berusaha menangkapku. Mereka membawa cermin yang menunjukkan keberadaan dan keadaan sebenarnya. Dari sana aku tau semuanya tidak memiliki bayangan," Chris mengalihkan pembicaraan.  "Benarkah? Gawat!" Kenan terkejut.  "A-ada apa?!" Chris ikut terkejut.  "Mereka pasti petugas pemerintah. Artinya Raja Roz Ziloy telah mengetahui keberadaanmu sebagai satu-satunya orang yang memiliki bayangan. Kau dalam bahaya, Chris." Kenan menggeleng pelan.  "Apa?!" Laura memekik jauh lebih keras dibanding dengan yang lain. Dia menutup telinganya, "Chris dalam bahaya! Sebahaya apa?!" sambungnya. "Menjadi buronan Raja dan bayanganmu akan diambil, terlebih lagi kau yang bukan ornag asli dunia ini pasti akan berdampak besar bagimu. Mungkinkah kau akan masih menjadi manusia setelah bayanganmu diambil?" Armei yang menjawab membuat Chris dna kaura menoleh lagi ke belakang.  "Zombie? Tidaaaakk! Aku tidak mau bayanganku diambil! Meksipun bekum berarti aku jadi zombie! Bagaimana bisa jadi zombie?!" Chris memekik heboh. Dia ketakutan.  "Dasar bodoh! Serius sedikit apa tidak bisa?!" Laura memukul lengan Chris.  "Kita harus segera menemukan Pedang Naga itu!" Chris memaksa. Mereka semua mengangguk.  "Lalu, panah itu, Paman?" Laura menunjuk panahnya malu-malu. Bukannya menjawab, Kenan justru memperhatikan Laura dalam-dalam.  "Hmm? Kau gadis yang cantik. Kenapa bisa menjadi pencuri?"  Ucapan Kenan memberikan pukulan telak bagi Laura.  "Karena dia bodoh dan payah. Asal paman tau saja, pertama kali bertemu dengannya dia snagat dekil seperti tidak mandi satu bulan. Ternyata hanya topeng pencuri saja." Chris melirik Laura dari atas sampai bawah.  "Itu untuk membodohi orang-orang. Kau juga kena tipuan ku," Laura menepuk dadanya bangga.  "Panah ini memang beracun, tapi hanya panah biasa. Racunnya ada di ujung anak panah. Jika kau mengganti anak panah, boleh saja. Akan menjadi senjata tanpa racun." Kenan memberikannya lagi pada Laura.  "Wah, kau hebat sekali, Paman! Mengerti banyak hal! Aku juga Tidka terlalu suka senjata, membuatku Tidka bebas. Aku lebih suka berlari dan mengambil ini-itu lalu bertarung bsengan tangan terbuka. Akan kuapakan panah ini?" bingung Laura.  "Bawa saja, mungkin nanti akan berguna," jawab Chris santai.  "Sebaiknya kau juga membawa ini." Kenan memberikan belati itu pada Chris. "Paman, aku tidak...," ucapan Chris terpotong oleh Kenan sehingga Chris menerima belati itu dan menyimpannya. "Baiklah, aku sudah sedikit lega dan sekarang lapar," ujarnya.  "Yeaah! Aku lupa kalau lapar. Mari makan!" Laura bersemangat.  Senyum Kenan kembali terbit setelah serius beberapa menit lamanya. Makanan yang dia sajikan tidak sia-sia. Tamu berharganya makan begitu lahap tanpa rasa malu terlebih lagi candaan dua muda-mudi itu yang skaing menjahili. Kenan merasa hidup kembali. Dia mengambil sepiring makanan untuk Armei yang masih diam di belakang mereka lalu menghampiri Armei.  "Makanlah, setelah ini kita akan pergi." Kenan duduk di smaling Armei sembari memberikan makanan itu. Armei terkejut melihat Kenan. "Tidak apa-apa, aku tidak lapar," ucapnya pelan.  "Bukankah ini terlalu lama?" Kenan menatap punggung Chris dan Laura. "Kehilangan masa remaja itu menyedihkan," sambungnya.  Sontak Armei mengerti. Dia pun mengangguk, "Walau kenyataannya menumbuhkan masa muda yang baru dengan petualangan baru. Menurutku itu tidak masalah."  "Aku kagum padamu. Tidak bisa kubayangkan bagaimana caramu bertahan hidup di gurun itu." senyum Kenan semakin terlihat.  "Hanya untuk sebuah surat yang tersampaikan, aku rela mengorbankan berapa tahun waktu yang kupunya. Aku bukan perempuan yang tidak mempunyai pendirian," kata Armei membuat Kenan setuju.  "Saat ini yang terpenting adalah keselamatan semua orang dan kembali Pedang Naga. Aku tidak menyangka hari ini akan terjadi," ujar Kenan.  "Lalu, peristiwa apa yang terjadi di pusat pemerintah dunia selagi aku menunggu di gurun?" Armei menatap Kenan penuh tanya.  "Hari demi hari, kehampaan terus terjadi. Tanpa orang-orang sadari, dunia ini semakin semu artinya tanda-tanda hilang. Percaya atau tidak, itu lah yang terjadi sekarang," kata Kenan.  Armei mendesah panjang, "Tidak apa-apa. Dia pasti akan mengembalikan dunia bayangan." memandang Chris penuh harap dengan senyuman. Kenan pun demikian.  Nafsu makan Chris jauh lebih banyak dari pada Laura. Hampir semua makanan itu dia habiskan. Lalu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Chris jalan-jalan melihat rumah-rumah lucu itu dan juga sungai. Sedangkan Laura mengikutinya dan menjahilinya tanpa henti. Armei melatih pedangnya di halaman rumah bersama Kenan.  "Ck! Berhenti menggangguku! Kau ini kenapa?" Chris menahan tangan Laura yang sejak tadi mencoleknya.  "Hei, hei, kau tidak lihat gadis cantik di sana? Dari tadi diam-diam memperhatikanmu. Ayo sapa dia!" bisik Laura antusias sambil menunjuk gadis yang sedang menjemur pakaian dengan sorotan mata. Chris mengikuti petunjuk Laura.  "Biarkan saja. Aku memang tampan dan keren." Chris melengos.  "Wow, si tampan? Gagah berani? Hanya orang-orang bodoh saja yang suka padamu." Laura menjulurkan lidahnya.  "Hahhh, ya, memang begitu. Mereka gadis bodoh yang terus mengejarku." Chris kembali menatap gadis cantik yang terus diam-diam menatapnya. "Sepertinya dia sedang manangis," gumamnya.  "Itu bukan menangis, Payah! Dia sedang menahan diri karena terpesona padamu. Eh, kenapa kau justru mengatai mereka bodoh? Harusnya kau senang dipuja banyak gadis." Laura ikut menatap gadis itu sekilas.  "Untuk apa? Perempuan hanya merepotkan." Chris memalingkan wajahnya lagi.  Laura menaruh tangannya di pundak Chris, membuatnya menjadi sandaran, "Sungguh? Lalu, kenapa mau bersamaku dan bibi Armei? Memangnya kami laki-laki?"  "Kalian itu lain. Kau gidka bisa diam, ya? Pergi sana, jangan mengikutiku terus. Risih tau!" Chris menepis tangan Laura membuat Laura hampir jatuh, tetali gadis itu justru tertawa.  "Aku suka menggodamu, haha," tawa Laura semakin senang.  Chris melotot dan berdecak, "Aku tak suka kau ganggu!"  "Mau bermain? Ayo mencuri! Ssttt, sekilas aku melihat batu berlian yang belum dipotong. Ayo ambil itu," bisik Laura.  Chris tersentak, "Kau gila, ya? Tidak mau!" melenggang begitu saja tanpa menghiraukan Laura yang masih mengejarnya.  'Haishh! Rumah-rumah di sini sama dengan rumah paman Kenan. Ini desa apa tempat istimewa? Sedikit sekali penghuninya,' batin Chris seiring berjalan menyusuri jalan rumah-rumah itu.  "Ayo ikut aku mencuri. Aku akan mengajarimu cara mencuri seperti kucing liar!" Laura mengepalkan tangan bersemangat.  "Kau sendiri kucingnya," jawab Chris cuek. Matanya terus mengedar ke segala arah. Memang banyak perempuan yang memperhatikannya, tak jarang para lelaki juga meliriknya hanya untuk memastikan siapa dia.  "Kau tidak pernah bersenang-senang, ya? Mencuri itu suatu kesenangan tersembunyi dari dalam diri tau. Apalagi sewaktu lari dari kejaran orang-orang, hahaha." Laura tertawa sendiri.  "Hmm, itu namanya bodoh," cuek Chris lagi.  Laura memandang Chris kesal, "Baiklah, kalau begitu akan kupaksa kau! Ayo ikut aku!"  "Aaaaaa! Dasar gila! Lepaskan aku!" Chris berteriak lantaran Laura menarik tangannya paksa lalu mengajaknya berlari menuju tempat teraman untuk memasuki salah atau rumah yaitu halaman belakang rumah.  "Sssttt, ada kucing penjaga di sana." Laura memaksa Chris duduk di dekat tumpukan kayu basah. Terdapat kucing yang sedang tidur di depan pintu belakang. Chris merasa sesak, dia menghempaskan Laura sampai Laura terjatuh dalam posisi duduk.  "Kau ini memang sudah tidak waras. Kubilang jangan mencuri berati tidak boleh mencuri. Kalau kau masih memaksa, mencuri saja sendiri. Jangan ikuti aku!" bisiknya mendesis.  Laura menarik tangan Chris saat Chris hendak berdiri sehingga Chris kembali duduk terpaksa, "Mau ke mana? Di sini saja. Akan kutunjukkan apa itu kesenangan." menyeringai mengerikan.  Chris mendesis, "Dasar gadis gila!" berusaha melepaskan diri, tetapi Laura justru merangkul pundaknya membuat Chris menegang. "Eh, kau tidak tertarik pada perempuan, 'kan? Aku juga tidak tertarik padamu, tandanya kita bisa bekerja sama secara optimal sebagai rekan mencuri. Aku yakin sekali bagi berlian tadi ada di rumah ini. Santai saja padaku, jangan malu-malu," sambung Laura.  "Eeerrr, ini memang salahku. Kenapa selalu meladeni ocehanmu? Kaus aja yang berbuat bodoh, jangan ajak aku!" karena sudah geram, Chris mendorong kepala Laura sampai hampir terantuk tanah.  "Ish, kau berisik sekali! Kucing itu pergi dengan sendirinya. Sudah waktunya bergerak, ayo!" Laura berbisik serius. Chris mendengarkannya dia kira akan melakukan apa, ternyata Laura kekeh mengajaknya mencuri. Menarik tangannya dan menerobos masuk dari pintu belakang. Sialnya Chris tidak bisa melepaskan cengkeraman Laura di lengannya membuatnya berbisik mengeluh tanpa henti.  'Gila! Laura gila! Kenapa aku bertemu spesies gadis gila seperti dia?!' pekik Chris dalam hati.  Mereka bertemu langsung dengan pemilik rumah lantaran rumah itu tidak memiliki ruangan lain sama seperti rumah Kenan Malroy. Namun, itu tidak menjadi halangan kaura meskipun Chris yang terkejut hebat. Dia pikir sudah ketahuan dan menduga Laura akan membuat orang itu pingsan, tetapi dia justru berputar-putar mengelilingi isi rumah untuk lari dari pemilik rumah. Chris tak bisa menahan pekikannya. Mereka terus berputar sampai tak sadar Laura sudah berhasil mengambil batu berliannya. Chris ternganga, rahangnya hampir jatuh saat membawanya keluar dari rumah itu. Tentu saja sang pemilik rumah berteriak jika mereka pencuri, tetapi Laura memukul leher orang itu hingga pingsan sebelum keluar rumah. Semuanya menjadi aman.  "Itu namanya mencuri secara terbuka. Hahh, sayang sekali dia terlalu berisik. Maaf, sudah membuatmu pingsan. Terima kasih untuk berliannya, ya. Mencuri di sini tidak adik. Lebih baik mencuri di pasar. Aku jadirindu suasana pasar," decak Laura sembari memainkan batu berlian itu dengan melemparkannya kecil ke udara.  Sudut mata Chris berkedut. Dia tidak bisa berkomentar lagi dan tangan Laura masih menahannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD