18. Kemunculan Orang Misterius

2576 Words
Seruan kagum itu selesai ketika malam telah tiba. Hadirnya salah satu pelita yang dicuri Laura dalam perjalanan menerangi lapangan penuh rumput nan lembab. Di sanalah mereka berada. Entah hujan akan turun atau tidak, yang pasti langit jauh nampak gelap. Satu bintang pun tak terlihat. Ada sebuah gubuk kecil di tepi lapangan itu. Sepertinya tempat berdagang warga yang sudah tutup. Mereka istirahat di sana bersandar tiang gubuk sembari mengamati langit dan mendung yang terlihat sama.  "Chris, kenapa kita duduk di sini?" Laura menaruh pelita itu di tengah-tengah mereka.  "Kau mau tinggal bersama paman tadi? Lebih baik jangan," jawab Chris.  "Bukan begitu, tapi bisakah kita cari tempat lain? Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi." Laura was-was menatap langit.  Chris juga memandang langit, "Hei, apa kalian ingin lihat festivalnya?"  "Aku ingin mencuri, itu saja." polosnya Laura sambil melihat Chris. "Ck, sudah kuduga." Chris memutar bola matanya malas.  "Jika hujan festivalnya ditiadakan. Sudah lama aku tak melihat perayaan, tapi di situasi seperti ini sepertinya tidak memungkinkan," balas Armei.  "Lalu, kita harus apa sekarang?" Laura mengendikkan bahu.  Chris mendengkus, "Kita tunggu beberapa jam lagi. Jika hujan maka kita berteduh, jika tidak lihat festival kembang api sebentar tidak masalah, tapi kau jangan mencuri, Laura. Hanya melihatnya saja. Aku juga akan mencari sesuatu di sana."  "Hmm? Apa yang kau cari?" Armei mengerutkan dahi.  "Orang-orang yang memberitahuku tentang bayangan yang tidak ada di sini." mendadak tatapan Chris menjadi menajam.  "Apa?!" Armei dan Laura terkejut.  "Cermin itu ... aku yakin sekali cermin itu pasti mengandung sesuatu," gumaman yang cukup meyakinkan dari Chris.  "Apa? Apa yang kau maksud cermin?" Laura menggeleng pelan.  "Tunggu sebentar, kau bertemu orang yang memberitahumu tentang kami yang tak punya bayangan?" Armei menahan Laura berbicara.  "Lebih tepatnya mereka yang ingin menemuiku. Aku sempat berkelahi dnegan mereka. Gerakannya sangat cepat sampai orang-orang tak bisa melihatnya. Sudah kuduga bukan jika ada yang mengincarku?" akhirnya Chris mengatakannya. Tidak mungkin jika dia pendam sendirian selagi dia memang buta kanan-kiri dunia bayangan.  Armei berdecak, "Tandanya kedatanganmu sudah diketahui." meremas gagang pedangnya.  Chris mengangguk. Meremas kedua tangannya sembari mendesis, "Ini mulai dingin."  Angin bertiup kencang tiba-tiba. Tiada ruang tertutup untuk berteduh, gubuk itu pun terkunci, sepertinya dugaan hujan akan turun menjadi kenyataan. Tidak tahu di mana letak festivalnya diadakan, yang jelas akan batal total. Pintu rumah-rumah di sekitar lapangan itu menjadi terbuka menampakkan penghuninya yang sedang memastikan keadaan cuaca. Samar-samar dari gubuk itu Chris, Armei dan Laura mendengarnya.  "Gawat! Persiapan kita akan sia-sia! Air langit mulai berjatuhan!"  "Aku ingin melihat kembang api!"  "Syukurlah hujan! Tanaman padiku terselamatkan!"  "Bagaimana dengan festivalnya? Sangat disayangkan."  "Gerimis yang memilukan tulang. Kenapa harus ada angin dingin yang ikut-ikutan datang? Aku tidak punya selimut tambahan untuk menahannya. Ssshh, rasanya tidak mau menyentuh air setelah ini."  Masih banyak lagi keluhan yang bisa mereka dengar. Penduduk desa saling bercengkrama tentang festival yang sudah pasti ditiadakan. Kasihan sekali dengan usaha mereka untuk mempersiapkannya menjadi sia-sia.  "Yahh, tidak jadi mencuri." Laura menjadi lemas.  "Kasihan sekali," Armei menyahut.  "Gerimis, ya?" entah mengapa Chris ingin menggenggam kalung batu giok-nya. Hawa dingin semakin merajalela. Sontak dia teringat sesuatu. "Bukankah waktu itu juga hujan? Saat bertemu Laura? Kenapa aku melupakannya? Itu berarti memang bisa hujan di dunia bayangan. Astaga, apa yang kupikirkan sampai hal sekecil itu aku lupa?"  Menepuk dahinya merasa bodoh. Laura dan Armei pun anehnya tersentak.  "Kami juga lupa, Chris. Iya, ya, waktu itu kita juga berlindung di gubuk," kata Armei.  Chris memandang Armei dan Laura bergantian, "Kalian juga lupa? Bagaimana bisa?"  "Entahlah, kami tak tau." Laura menggeleng dan menepuk pipinya berkali-kali.  Chris memikirkan apa yang terjadi. Mendadak terlintas jika itu adalah manipulasi seseorang.  'Pasti ada trik licik yang ada di dunia bayangan ini. Nyatanya bukan hanya terjadi padaku, tapi Bibi Armei dan Laura juga. Kemungkinan besar bayangan mereka tidak ada dan mereka tak tau sebabnya juga karena memori yang sengaja dihilangkan. Entah itu sejenak atau sekilas, mungkin saja selamanya. Aku harus menuntaskan misteri ini. Wah-wah, semakin menarik saja. Sayang sekali aku tak tau harus melangkah seperti apa,' pikir Chris.  "Chris, minggir. Aku akan membuka pintu itu." Armei menunjuk pintu gubuk di belakang Chris.  "Ha? Jangan, kau bisa merusaknya," Chris tak beranjak.  "Aku tidak mau kedinginan," kekeh Armei.  "Aku ingin sekali menggunakan panah ini. Apa memang beracun? Jika tak ada gunanya kubuang saja," malas Laura.  "Jangan dibuang! Siapa tau bisa berguna. Bawa sini anak panahnya," pinta Chris.  "Buat apa?" meskipun bertanya Laura tetap memberikannya.  Ujung anak panah yang runcing nan tipis Chris gunakan untuk mencongkel lubang kunci pintu. Dia sangat serius sampai wajahnya begitu dekat dengan lubang kunci dan akhirnya terbuka setelah dikorek terlalu lama.  "Haha, berguna, 'kan?" Chris berbangga diri memberikan anak panah itu pada Laura.  Laura menerimanya sambil menganga, "Wahz bagaimana kau bisa tau cara membuka pintu terkunci yang lucu?"  "Ini trik kecil di duniaku. Mudah saja dan tidak perlu merusak pintunya, bukan? Kita aman dari amukan pemilik gubuk nanti," Chris masih berbangga diri.  "Ya, ya, terserah kau saja. Ayo masuk." Armei masuk terlebih dahulu.  Ternyata di dalam sana gelap. Beruntung Laura mencuri satu pelita, setidaknya bisa menerangi wajah mereka. Ada beberapa wadah yang sepertinya digunakan untuk menaruh barang dagangan dan ada sedikit alat-alat dapur.  "Mungkin ini kedai kecil salah satu rumah yang ada di sekitar lapangan ini," kata Chris setelah melihat-lihat.  "Mungkin menjual makanan," sambung Laura.  "Mungkin juga pedagang rahasia," perkataan Armei membuat Chris dan Laura menoleh. Mereka menghampiri Armei yang sedang berdiri membuka sebuah kotak secara sengaja karena dia penasaran. Kotak itu berisi penuh senjata membuat Chris dan Laura terbelalak.  "Apa ini? Disembunyikan?" Laura hampir memekik.  Chris mengambil pedang yang teramat panjang tiada sarung pedangnya. Lalu, cakra dan tombak pun ada di sana.  "Kotak sepanjang ini berisi senjata tajam. Terlihat selalu dirawat walau tak digunakan," ujar Chris.  "Sudahlah biarkan saja, tak perlu mencampuri urusan orang." Laura memilih duduk di sudut gubuk sambil memeluk lutut.  "Apa jangan-jangan ini perdagangan senjata ilegal? Memangnya ada hukum yang kuat di sini? Haha, lelucon." Chris mengembalikan senjata yang dia pegang. Baginya dunia bayangan lebih mirip seperti zaman kuno di mana tidak ada keamanan yang diperketat seperti zaman modern.  "Semua orang berhak punya senjata di sini," kata Armei.  "Nah, dugaanku benar." Chris menjentikkan jari.  "Aku mengantuk. Aku akan tidur dengan Laura." begitu cueknya Armei meninggalkan Chris yang maish tersenyum. Dia duduk di samping Laura dan langsung menutup mata. Laura bertanya pun tidak dia jawab. Chris hanya bisa mengendikkan bahu. Dia maish tertarik pada semua senjata itu.  'Menarik! Akan kutunggu sampai besok pagi, pasti pemilik gubuk ini datang dan aku bisa menginterogasinya, haha,' batin Chris.  Menutuo kotak panjang itu lalu berbalik memandang Armei dan Laura yang sudah tidur dengan cepat. Udara dingin masih bisa menembus lubang-lubang kecil di gubuk itu. Sayangnya Chris tak punya selimut untuk melindungi mereka dari dingin. Dia pun duduk bersandar kotak tersebut dan melipat tangan di belakang kepala.  "Hahh, tak kuduga akan menjadi penjaga dua gadis. Satunya tua dan satunya lagi muda, haha." gumamnya sambil terkekeh.  "Diam dan tidur sana." Chris tersentak kala Laura masih setengah sadar dan menegurnya. Dia terkekeh lagi. Sulit rasanya untuk tidur. Hari cerah menanti besok.  "Semoga besok semua pertanyaan akan terjawab," gumam Chris s belum dia terlelap sungguhan.  Gerimis yang awet hingga menjelang pagi. Dinginnya menggerogoti tulang. Alhasil pemuda itu tak bisa tidur dengan tenang. Hanya satu sampai dua jam yang bisa dia dapatkan. Selebihnya dia mendekati Armei dan Laura agar dingin di tubuh mereka berkurang.  Ketika pagi benar-benar hadir, gerimisnya sudah menghilang. Menyisakan air yang terus menetes dari atap-atap dan pohon. Kehadiran seseorang yang begitu di tunggu Chris semalaman yaitu pemilik gubuk akhirnya datang juga. Dia terengah setelah berlari dari rumah ingin melihat kondisi gubuk kecilnya. Justru terjebak oleh Chris dan teman-temannya. Orang itu marah, tetapi terkejut dan tak bisa berkutik ketika Chris membuka kotak panjang itu. Masalah tidur dan dingin menjadi tidak mereka hiraukan.  Betapa terkejutnya mereka karena pemilik gubuk itu menjelaskan jika semua senjatanya dijual. Chris begumam seiring langkahnya keluar dari gubuk itu. Pergi tanpa bertanya lagi. Ternyata senjata itu dijual-belikan. Tidak pantas Chris untuk bertanya lagi, dia sudah berpikir negatif.  "Kau terlalu curiga, Payah!" ejek Laura yang masih mengantuk. "Tidak juga. Bukannya aneh menjual senjata di tempat seperti itu?" bela Chris.  "Hentikan ocehanmu," Laura malas.  "Arah istana ke mana?" Chris lupa petunjuk salah satu penduduk desa kemarin.  "Kita hanya perlu lurus ke barat," jawab Armei.  Desanya sangat luas sehingga mereka tak mudah keluar begitu saja. Belum lagi para gsdis yang berani menghentikan Chris sekadar untuk menggoda, itu menghambat perjalanan mereka. Kemudian ketika orang-orang mulai ramah dan mengajaknya berbicara tentang gagalnya festival, terpaksa Chris juga harus menanggapinya. Hingga sekarang, keadaannya sudah berubah. Gerbang desa terlihat tepat di pertengahan siang. Setelah berhasil melewati gerbang itu, mereka tak menemukan desa lagi. Seoi, tidak ada satu pun orang yang melintas. Hewan liar juga tidak ada. Lagi dan lagi dihadapi situasi yang sunyi.  Banyak pohon rindang yang tak berbuah. Banyak pula rumput-rumput panjang di sekitar pohon. Jalan itu membentang ke barat tanpa berbelok. Hampanya membuat mereka tak berbincang. Namun, seseorang tiba-tiba muncul dari salah satu pohon menghentikan langkah mereka. Chris tersentak mundur. Orang itu memakai cadar dan memiliki banyak lapisan pakaian. Pandangannya hanya tertuju pada Armei.  "Siapa kau?!" tanya Chris waspada.  Namun, orang itu maisih memandang Armei lekat. Armei pun mendelik bingung.  "Aku tanya siapa kau?" Chris mengulangi ucapannya.  "Bibi, apa kah mengenalnya? Dari tadi hanya memandangmu." Laura menatap mereka bergantian. Chris juga menyadarinya. Dia biarkan saja sampai orang itu dan Armei mengucapkan sesuatu. Jika orang itu jahat, sepertinya akan menyerang saat itu juga, tetapi dia justru diam tenggelam dalam pikirannya sendiri.  'Paman ini bercanda atau gimana? Matanya yang sayu hampir setajam elang. Lumayan aneh,' batin Chris.  "Lama tidak berjumpa, Armei Ziacu," satu kalimat dari irnag itu membuat gemuruh hati Armei. Chris dan Laura terkejut hebat.  "Lama tak jumpa?! Armei Ziacu? Bibi, kau mengenalnya?!" pekik Chris juga Laura bersamaan. Mereka melebarkan mata menatap Armei dan orang itu bersamaan. Kini Armei yang lebih terkejut sekarang. "Bagaimana kau tau namaku?" ingin sekali Armei bertanya apakah mereka pernah bersinggungan atau tidak, tetapi itu tidak pantas dan hanya menunjukkan jika dirinya lupa.  "Kau masih sama, hanya sedikit berubah. Senang bertemu denganmu lagi," ujar orang itu tak menjawab pernyataan mereka.  "Sebenarnya kau ini siapa, Paman?! Orang baik atau jahat?!" lagi-lagi Chris juga Laura memekik bersama.  Mendadak Armei tersentak mundur setelah berhasil mengamati orang itu. Dia teringat sesuatu. Belum juga orang itu berbicara, Armei berkeringat dingin walau tidak ketakutan. Tentu saja membuat Chris dan Laura bingung.  "Orang ini ... salah satu pemegang tugas penting melebihi pemerintah dunia," ujar Armei dengan tangan bergetar.  "Apa?" dahi Chris berkerut.  Orang itu menjadi pusat perhatian lagi. Benar jika Armei mengenalnya, tetapi tidak terlalu jelas. Dia takut bahwa dugaannya terlalu salah.  "Kau ... dari mana kau dapat kalung itu?" orang itu menunjuk kalung batu giok Chris.  "Ini dari orang penting di dunia ini." balas Chris sembari menggenggam kalung itu.  "Rupanya Aron Gronn telah bertindak setelah sekian lama. Auramu sangat berbeda. Kau bukan dari dunia ini, bukan?" ornag itu menunjuk bayang Chris. Sontak perbedaan yang sangat besar telihat. Chris kalah telak.  "Katakan kau ini teman atau tidak!" Chris sudah siap dengan posisi sempurna untuk pertahanan.  Dia heran karena orang itu menghela napas panjang. Lalu, mengusap matanya dengan ibu jari seakan merasakan sesuatu yang mustahil terjadi. Lidahnya mungkin kelu untuk bicara lebih lanjut, tetapi sorotan mata yang dia berikan maishlah tajam seakan tidak ada kawan baginya. Sebenarnya apa yang orang itu lakukan?  "Ikutlah denganku, kalian akan aman. Terlebih lagi pemuda ini. Bayanganmu sangat berbahaya di sini." orang itu berbalik badan dan berjalan begitu saja.  "Ha? Hei, Paman! Kalau bicara itu yang jelas! Barusan hanya membuat kau semakin misterius tau!" Chris berseru. Dia langsung diam ketika Armei mengambil langkah mengikuti orang itu. Tangannya gemetar meremas pedang.  "Ayo kita ikuti dia," ujar Armei tanpa berbalik.  "Astaga! Chris, Bibi Armei kenapa? Orang itu baik atau tidak? Aku tidak percaya padanya," bisik Laura.  "Aku juga tidak yakin, tapi saat ini tidak baik membiarkan Bibi Armei memilih jalannya sendiri. Terlebih lagi orang itu mengenalnya, mengenal paman Aron dan bayanganku. Kita harus menyelidikinya. Ayo!" Chris mengajak Laura untuk mengikuti Armei dan orang itu. Tentunya menuju perjalanan yang sangat jauh.  Hampa rasanya jika tidak saling bertukar pendapat yang telah penuh di kepala. Chris tidak tahan dan semua asumsinya bisa meledak kapan saja. Dia mendahului Armei dan memaksa orang itu bicara.  "Paman misterius, jangan menjadi misterius kalau hanya membuat kami berputar-putar dengan isi kepala kami. Katakan siapa kau sebenarnya. Kenapa kau mengenal Bibi Armei dan paman Aron?" tanya Chris kesal.  "Apapun itu katakan setelah tiba di tempatku, anak muda," hanya itu jawaban dari orang itu membuat Chris meremas rambutnya.  "Kenapa tidak terus terang saja? Lihat, Bibi Armei sampai berkeringat dingin gara-gara kau!" Chris menunjuk Armei dan terus bertanya walau orang itu tak akan menjawabnya.  Laura melongo di samping Armei, "Bibi, katakan kalau kau mengenal dia."  Percuma saja, Armei juga tidak mengatakan apapun. Demi mengetahui jawabannya, mereka memang harus mengikuti orang itu tanpa kehilangan kewaspadaannya. Hanya membuat Chris bertambah jengah.  Lepas sudah perjalanan mereka setelah jalan panjang itu terpisah dengan sungai dan jembatan. Jembatan kayu yang kokoh nan besar, serta terdapat beberapa batu hitam yang mengelilingi tepian sungai. Tidak tahu di mana letak hulu sungai, pastinya akan mengalir ke sebuah pemukiman. Dugaan Chris benar, orang itu mengajaknya untuk menyusuri sungai.  "Apa kita akan pergi ke hilir?" tanya Chris.  "Chris, diamlah! Dari tadi menguak tanpa dijawab. Kau tidak malu?" Laura sudah kesal.  "Malu dari mereka buat apa? Paman, jawab aku!" Chris masih memaksa.  "Wah, aku melihat ikan!" Laura tak menghiraukan Chris lagi. Dia asik menikmayi pemandangan ikan yang berenang bebas di sungai.  "Hahh, aku lapar," mendadak Chris mengeluh. Perutnya berbunyi kecil tanpa dia sadari.  Menahan rasa lapar yang tiba-tiba menyelinap begitu saja tidaklah mudah. Namun, perjalanan mereka kali ini berhenti di suatu tempat yang memiliki banyak kincir angin. Ada beberapa rumah yang bisa dihitung jari. Itu bukanlah desa. Chris bertanya lagi apakah nama tempat itu, tetapi orang tersebut tak berkutik. Armei juga masih menunjukkan ekspresi yang sama. Chris bingung apakah Armei ketakutan meskipun raut wajah takut bukankah seperti itu. Orang itu membawa mereka ke salah satu rumah yang terbuat dari batu dan kayu. Sungguh sejuk terlebih lagi dekat dengan sungai mengalir. Tidak ada aura negatif atau aroma kejahatan yang bisa dirasakan Chris. Tempat ini terasa suci dan menyimpan banyak misteri. Rumah yang berada paling ujung dari beberapa rumah itu dibuka oleh orang tersebut. Langkahnya mempersiapkan mereka untuk masuk. Halaman yang penuh batu hitam. Tidak banyak orang-orang di sana yang memperhatikannya.  Sungguh tak bisa berkata-kata ketika mereka memasuki rumah. Tidak ada tiang penyangga dan batasan antar ruang yang artinya rumah itu hanya satu ruang saja berbentuk kotak. Namun, terlihat besar jika dari luar. Ruangan itu juga luas seluas halamannya. Mereka tidak tahu harus duduk di mana.  "Paman, rumahmu unik sekali! Apa rumah tetangga juga seperti ini?" Chris kembali bertanya. Memandang sana-sini tak melihat begitu banyak barang.  "Waaahh! Aku baru kali ini melihat rumah seperti ini! Di mana kau menyimpan uang dan barang berhargamu, Paman? Apa ada tempat rahasia?" Laura mendekati orang itu.  "Diam kau, Maniak harta!" Chris menarik Laura.  "Aaaa, lepaskan aku! Paman, kau punya dapur? Aku haus, boleh aku mengambil minum?" Laura kembali mendekati orang itu. Chris jengah, dia tahu itu hanya alasan Laura agar bisa bebas mengeksplorasi rumah itu.  "Tunggu sebentar." orang itu pergi terlebih dahulu sebelum Laura beranjak. Senyum Laura menjadi luntur dan berdecak. "Kenapa dnegan Paman itu? Aneh, 'kan?" "Bilang saja kau ingin mencuri. Matamu rabun? Tidak ada yang bisa dicuri di sini." Chris menghilangkan tangannya gemas membuat Laura berdecak lagi.  Namun, orang itu tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka. Mungkin pergi ke pintu belakang. Ketika orang itu pergi, Armei luruh tak sanggup menahan kakinya lagi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD