17. Panah Beracun

2688 Words
Chris tak bisa tenang hanya diam di balik pohon. Melihat dahsyatnya kekuatan monster sampah itu membuatnya geram. Bukan karena tak tahu harus berbuat apa, melainkan geram karena harus melawan monster kotor nan bau. Bahkan baunya lebih buruk dari selokan trotoar menurut Chris. Tanpa izin dia merobek selendang kecil pakaian Laura untuk menutupi hidung dan mulutnya. Dia menalinya segera.  "Aaaaa! Hei, bisa-bisanya kau merobek pakaianku!" Laura memekik heboh memeriksa selendangnya.  "Apa yang mau kau lakukan? Jangan gegabah! Panah limbahnya masih menghujani kita. Bekum lagi gelombangnya yang semkain tinggi. Sepertinya dia bisa membabat habis hutan kecil ini seperti selimut sampah," Armei mencegah Chris yang sudah melangkahkan satu kakinya nekat. Mendengarnya pun Laura berhenti protes. Chris menatap Armei serius. "Bibi, aku ingin sekali menghajar mata raksasa itu. Sampah itu benda mati, bukannya monster yang punya mata merah seperti kelinci. Aku geli jadinya. Mau muntah," jujur Chris.  "Iiiyyy, busuknya!" Laura mengibaskan tangan di wajah. "Nanti kau jadi kotor dan bau," sambungnya.  "Kalau begitu akan kulempar kau ke sana biar lebih bau dariku! Cerewet!" maki Chris telak membuat Laura mendelik.  Dia segera pergi menerjang hujan panah limbah yang mengenainya begitu saja tanpa ada efek sakit, tetapi menimbulkan bekas aroma busuk. Chris tidak tahan menahan bau itu. Di tengah larinya yang akan menghajar monster bau itu, dia luruh tak sanggup berjalan lagi. Mengeluarkan isi perutnya yang kosong hanya berupa air pahit. Rasanya begitu mencekik dan melilit.  "Uhuukk-uhuukk! Aaargghh, sialan! Gunung sampah saja tidak seperti ini baunya! Kenapa aku harus melawan si b******k ini, astaga?! Bodohnya aku!" berteriak menantang langit setelah puas muntah.  "Aaaaa! Chris dalam bahaya! Wajahnya pucat hijau!" Laura memekik sembari menutup wajahnya yang hanya dan masih mengintip Chris.  "Diam kau!" Chris menoleh kesal pada Laura. Kembali menatap monster sampah yang membiarkan dirinya terhujani panah busuk, "Ck, tidak boleh dibiarkan. Jangan menghalangi jalanku!!!"  Berteriak lebih lantang, memantapkan kaki kanan dan lari lebih cepat menuju monster sampah.  "Hiyaaaaaa!!! Rasakanlah pukulan penghancur sampah!!!"  Rahang terbuka selebar yang dia bisa. Tangan kanan terkepal ke belakang memastikan udara bersahabat membuat tingkat lajuan pukulan menjadi lebih berat dan cepat. Dia melompat jauh dari tepi danau hingga mencapai ketinggian dua kaki dan berhasil mengenai titik tengah monster tersebut. Jatuhlah monster sampah tercebur ke danau. Sontak gelombang yang terbuat ikut hancur dan kembali menjadi air danau. Airnya naik lagi hingga ke permukaan. Chris ingin berdecak ketika tangannya berhasil menyentuh sampah buruk itu walau dalam wujud tinju. Namun, belum saatnya mmebuka mulut lagi di dalam cadar karena dia ikut jatuh ke danau. Sesegera mungkin keluar sebelum monster itu mengamuk lagi. Karena gelombangnya hilang, panah limbah itu pun ikut menghilang.  Armei dan Laura terbelalak. Mereka keluar berlari ke tepian danau menemui Chris yang terbatuk dipaksakan lagi karena tak tahan dengan aroma tubuhnya sendiri yang bercampur sampah. Dia lemas, bergidik, ingin mandi air bersih bercampur parfum saat itu juga, sayangnya tak mungkin. Armei dan Laura menutup hidungnya. Kemudian, membantu Chris berdiri.  "Wah, hebatnya! Dalam satu pukulan kau bisa menghentikan amukan si busuk itu!" Laura meniru cara Chris meninju.  Chris hanya meliriknya dan melepas cadar kain Laura, "Benda ini tak ada gunanya. Ambil balik." memberikannya pada Laura smabil cemberut.  Laura menganga mengambilnya, "Kain selendangku!"  "Jangan menangis. Sepertinya aku tau kelemahan monster itu. Sayangnya aku tak bisa menyentuh wajahnya yang bahkan tak terlihat seperti wajah," jelas Chris terengah.  Laura membuang cadar itu smabil bergidik meskipun aroma tubuhnya juga sudah bau limbah, "Apa? Dia sudah kalah mungkin. Buktinya tidak bangkit lagi."  "Belum, gelombangnya masih ada." Armei menatap danau yang masih tak tenang. Laura menepuk dahinya karena tak menyadarinya.  Chris mengangguk, "Mungkin belati ini bisa berguna saat ini." mengambil belati hitam yang tersemat di pinggangnya.  Armei dan Laura melebarkan mata. Chris membuka sarung belati itu dan muncullah aura kekuatan hitam yang hebat dengan tanda pusaran angin mengelilingi belati itu.  "Kau yang benar saja," Armei memperingati. Dia masih tak bisa melupakan apa yang belati itu perbuat padanya.  "Aku harus memisahkan kerumunan sampah itu," kata Chris serius.  Laura menatap Chris dalam seolah memberitahu dampak yang akan dia terima setelah menggunakan belati itu. Chris meliriknya dan mengerti maksud Laura.  "Aura hitam artinya bukan dalam hal baik, 'kan? Tenang saja, akan kubuat ini menjadi baik. Kalau di duniaku artinya belati ini akan kujinakkan. Laura, tenang saja. Jangan pasang wajah jelek seperti itu," ucap Chris yang terus memandang belati merasakan kehadiran kekuatannya yang terus bertambah. Itu bukan sihir, melainkan ilmu tinggi sebuah senjata yang sulit dia mengerti.  Laura terkejut. Dia mengetatkan giginya, "Siapa yang kau bilang jelek, hah?! Aku khawatir padamu, bodoh!"  Terang-terangan mengatakannya tak membuat Chris gentar. Dia justru melempar belati itu membuat Armei dan Laura tersentak lalu Chris berhasil menangkapnya dengan baik tanpa tergores sedikitpun. Rahang Armei semakin terbuka lebar.  Mengejutkan lagi bagi mereka ketika Chris terjun lagi tanpa aba-aba membuat mereka memanggil nama Chris. Bberapa detik kemudian Chris muncul, tetapi dia terbawa monster sampah tersebut. Sepertinya dia terjebak di sana lantaran lengket. Meronta tak bisa bergerak. Semakin monster sampah itu keluar, semakin mendongak pula Armei dan Laura menatapnya. Perlahan-lahan mereka mundur tak tahu harus berbuat apa. Lain dengan Chris yang masih meronta.  'Kurang ajar! Memalukan sekali aku terangkut di sini. Sebelum si busuk ini berbuat ulah, aku harus mengakhirinya segera,' batin Chris.  Belati itu mulai mengambil alih tangannya menjadi mati rasa. Namun, Chris segera menyadarinya dan membuat belati itu mengembalikan apa yang dia ambil. Saat Chris berhasil menguasai tangannya kembali, dia menggerakkan pergelangan tangan ke belakang dan menusuk monster sampah hingga akhirnya dia terlepas. Tidak untuk jatuh kedua kalinya, Chris membuat tubuh monster sampah itu sebagai pijakan dan dia lari menuju kepala sangat cepat kemudian menebas silang kedua mata monster itu. Terdengar suara mirip desisan kesaktian dari monster itu. Dia tersungkur terbelah menjadi dua dan merah penanda matanya hilang. Chris terjun bebas lagi. Laura mendadak lari dan menekankan tekanan kaki yang mirip menendang tanah hingga dia bisa lompat jauh selaras dengan Chris. Tanpa diberitahu tiba-tiba kaki Chris ditendang Laura hingga akhirnya Chris menjauh dari area danau. Laura pun turun dengan lihainya ke tempat semula.  "Aaaaaaa! Sialan kau, Laura!!!" teriak Chris terkejut. Dia terbang bebas dan menabrak pohon.  Armei tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Monster itu lengah sebelum luruh ke danau. Armei menebaskan pedangnya ke arah monster sampah itu kemudian sayatan di udara itu berhasil mengenai monster sampah hingga hancur berkeping-keping bagaikan sampah yang berjatuhan. Mereka kembali ke dasar danau dan air danau pun kembali tenang. Aromanya di sekitar hutan kecil pun menghilang.  "Berhasil?" Armei meneleng heran. Dia pikir mengalahkan monster sampah terlalu mudah hampir tiada tantangan.  "Haha, aku berhasil menahan Chris! Untung dia tidak jatuh ke danau lagi." Laura berkacak pinggang bangga.  "Menahan katamu?! Kau menendangnya dari udara! Chris, kau baik-baik saja?!" Armei protes membuat Laura mendelik. Segera mendekati Chris dan Laura mengikutinya.  Chris masih lemas menabrak pohon. Rasanya efek belati dan menghilangkan aura jahat di monster sampah itu tidak seberapa dengan tendangan terbang Laura. Dia bersandar pohon tak berkata apapun. Armei dan Laura berjongkok di depannya.  "Kau baik-baik saja? Kupikir limbahnya akan menyebar ke seluruh hutan, tetapi hilang begitu saja. Belati ini juga mampu menghilangkan energi negatif rupanya karena sama-sama berkekuatan hitam." Armei menatap Chris dan belati itu bersamaan.  "Haha, kau berhasil!" Laura mengacungkan jempol bahagia.  Mendengar suara Laura, barulah Chris mengerjap menatap mereka.  "Kau minta kupukul atau kucincang? Beraninya kau!" seketika tubuh Chris bertenaga. Dia berdiri ingin memukul Laura. "Bibi, ada monster baru lagi!" Laura bersembunyi di belakang Armei.  "Eeerrrr, kemari kau!" Chris semakin kesal. Dia ingin mencengkeram wajah Laura. Laura membuat Armei sebagai tameng dan dia berputar-putar karena kejaran Chris. Dengan santainya Armei memasukkan pedang di dalam sarung sednagkan dirinya ada di tengah-tengah Chris dan Laura yang bertengkar saling kejar.  "Satu yang raksasa dan aneh telah hilang. Sebaiknya kita mandi, terlebih lagi Chris. Aku seperti sumber bau dari segala sudut," ujar Armei kaku. Chris menyudahi pertengkarannya. Dia kembali mengejang kaku menerima fakta yang terlalu mencolok. Fakta tentang bodohnya aroma inti yang harum menjadi menarik perhatian yang butuh bagaikan. Sabun, air bersih, serpihan bunga yang berjatuhan, barangsiapa yang mampu bertahan dalam kolam pemandian air panas selama satu hari dua puluh empat jam maka dia akan mendapat hadiah berupa senjata ternama panah beracun. Chris tak ribut soal hadiahnya, melainkan pemandiannya.  Sebelum keluar dari hutan kecil, mereka menerima selembaran kertas yang bertuliskan adanya lomba tersebut. Segera mendatangi lokasi lomba. Jika hanya berendam jangan menguji Chris, semua orang menyukainya.  "Hahh, nyamannya. Wah, tempat ini ramai sekali, ya." Laura menatap sekeliling. Pemandian air panas besar itu sangat padat bahkan di luar dugaan. "Menurutmu apa Chris akan keluar cepat?" tanyanya pada Armei.  "Dia akan keluar setelah dua puluh empat jam." kata Armei setelah menggeleng. Dia menutup matanya bersandar tepian pemandian menikmati harumnya wewangian yang terus disemprotkan dari langit-langit.  "Hahaha, kurasa juga begitu. Kalau dia dapat senjatanya lebih baik buat aku saja," sambung Laura.  Sedangkan Chris di sebelah pemandian tempat perempuan itu juga bersama banyak orang. Dia menyelam hanya terlihat rambutnya saja di permukaan air. Orang-orang sedikit menjauh darinya lantaran aroma tak sedap masih menempel walau perlahan-lahan menghilang. Dia sudah berniat untuk berendam seharian penuh.  ~~~ Melewati hari sulit kemarin, kini harum dan pakaian baru melekat di tubuh Chris. Dia sudah tak cemberut lagi. Terlebih-lebih dapat panah beracun yang dirinya sendiri tak menginginkannya. Langsung menyerahkannya pada Laura ketika Laura meminta. Kini perjalanan menanti mereka lagi untuk mencari orang yang memberi perintah pada Armei demi sebuah petunjuk dan argumen yang tepat.  Semua bayangan yang menghilang di pandangan Chris itu nyata dan dia tidak terkejut lagi. Tidak tahu harus berjalan ke mana, hanya mengikuti insting dan naik kendaraan berkuda untuk keluar dari satu desa ke desa lain. Kemudian, pagi pun berganti. Siang ini tidak terik seperti biasanya. "Mataharinya bersembunyi seperti senyummu, Chris," celetuk Laura setelah sejak tadi diam tanpa adanya perbincangan. Dia memandang langit yang sedikit mendung. Kereta kuda itu berjalan teramat pelan membuat mereka sedikit bergoyang-goyang.  "Ck, jangan ganggu aku." Chris melipat tangan di d**a dan menutup mata bersandar tiang kereta.  Laura berdecak berganti menatap Armei yang sibuk membersihkan pedangnya, "Ini tidak asik, Bibi. Bicaralah sesuatu. Aku bosan."  "Mencuri saja," kata Armei memberi saran.  Sontak Laura senang dan Chris membuka matanya terkejut.  "Benar! Aku akan pergi!" Laura menjentikkan jarinya dan akan turun dari kereta kuda, tetapi Chris mencegahnya. "Kalau kau turun tidak akan kubiarkan ikut lagi," satu kalimat itu sudah cukup untuk Laura menarik kakinya kembali.  "Kau ini punya masalah denganku, ya? Aku bosan, hanya mau bersenang-senang!" Laura pun melipat tangannya juga. "Paman, kta akan tiba di mana?" tanya Chris pada orang yang mengendarai kereta kuda. Dia tak menghiraukan Laura. "Desa lain, Tuan," jawab orang itu.  "Berapa lama lagi akan sampai?" tanya Chris lagi.  "Sebelum matahari terbenam kita akan sampai," jawab orang itu lagi.  "Huh! Aku bisa lari sendiri untuk tiba di sana, tidak perlu naik kereta kuda yang hanya membuang uangku saja," sindir Laura.  "Bibi, kau ingat ciri-ciri orangnya?" Chris mengajak Armei berbicara membuat Laura mengepalkan tangan kesal lantaran diacuhkan.  "Chris, awas kau!" Laura tidak segan-segan untuk memukul Chris. Meskipun mengenai wajah Chris, tetapi Laura hanya bercanda dan itu tidak tersa sakit sama sekali. Chris membiarkan Laura berbuat apapun padanya, dia tak akan bergerak sedikitpun. Pikirannya sedang buntu tak ada pertanyaan ataupun solusi yang selalu dia cari. Hanya ada harapan jika dia berhasil menemui ornag yang bahkan tak dia kenal dan tak tahu di mana tempatnya. Dunia bayangan ini luas bukan hanya seluas sebuah negara. Mustahil baginya menemukan orang itu. Jadi, dia memilih jalan untuk menuju sebuah istana di mana para pemerintah dunia bayangan berada. Mungkin dia akan lebih mudah menemukan sesuatu di sana. Tepat seperti yang diperkirakan pengendara kereta kuda. Ketika senja sudah tiba mereka berhasil berhenti di desa selanjutnya. Jaraknya cukup jauh dari desa sebelumnya. Melewati jalan panjang yang jarang dilewati orang. Kereta kuda itu pergi setelah Armei membayarnya. Lalu, mereka berjalan kaki melihat-lihat desa. Desa ini bukan hal buruk yang seperti diduga Chris dalam hati. Ini merupakan desa yang penuh suka dan duka seperti desa pada umumnya. Tidak ada yang unik. Penduduknya mulai memasuki rumah dan memasang pelita dia setiap teras dan jalan. Chris berbelok untuk bertanya pada seseorang yang memasang pelita di jalan.  "Permisi, Tuan. Bolehkah kami bertanya?" kesopanan yang mampu memikat beberapa orang yang juga sedang memasang pelita.  "Iya, silahkan," kata orang itu bingung.  "Apa ini jalan untuk menuju istana?" tidak ada yang disembunyikan Chris. Baginya menemukan jalan keluar itu lebih baik. Mendengarnya saja membuat Armei dan Laura terkejut.  "Chris, kau tak bilang kalau kita akan ke istana," Armei protes.  "Orang ini semakin seenaknysaja," sambung Laura cuek. Dia masih kesal.  "Maksudmu kastil di mana penguasa tinggal?" orang itu sedikit tak mengerti.  'Astaga, ini bukan kerajaan atau tempat pemerintahan. Hanya ada satu orang yang memerintah dan mereka menyebutnya dengan sang penguasa? Aku hampir melupakannya,' batin Chris. Chris tersenyum mengangguk, "Iya, apa kau tau jalan menuju kastil itu?"  "Iya, kau hanya perlu melewati berbagai tempat yang ada di depan sana. Cukup berjalan lurus, nanti akan ada petunjuk setelah dekat dengan kastil." kata orang itu seraya menunjuk arah jalan yang lurus menuju barat. Chris mengangguk mengerti.  "Kalau boleh tau ada urusan apa kalian ke sana?" raut bingung dan seakan Tidka menyukainya jika Chris mengambil jalan ke kastil.  "Ah, bukan urusan yang penting. Hanya ingin berjalan-jalan saja." sekali lagi senyum Chris memikat semua orang. Lalu, Chris melamun memandang arah barat. Jingganya semakin besar dan matahari semakin turun. Bukankah akan indah jika dinikmati dalam diam dan tenggelam dalam kebingungan? Seperti hal-nya Chris yang bingung sekarang. Namun, dia tak terlalu menikmati pemandangan itu.  "Oh, kalung itu sangat bagus. Pasti harganya mahal." orang tadi menunjuk kaiung batu giok Chris. Sontak Chris tersentak sangat kentara jika dia tengah melamun. Memegang kalungnya dan tersenyum kaku, "Iya, ini sangat berharga bagiku."  "Sepertinya kau bukan dari daerah ini. Siapa kau? Kenapa ingin pergi ke kastil? Di sana bukan tempat yang baik untuk orang biasa seperti kita," ujar orang itu memperingati.  'Bukan tempat yang baik?' pikir Chris heran. Dahinya mulai berkerut berpikir yang bukan-bukan.  "Ahaha, iya, aku hanya iseng. Teman-temanku ingin melihat tempat di mana penguasa dunia tinggal." dengan bodohnya Chris menggaruk rambut.  Armei dan Laura berdecak kecil melihat tingkahnya.  "Tuan, nanti malam ada festival kembang api jika hujan tak turun. Sayangnya sejak tadi mendung, hanya langit barat saja yang tidak ada awan hitam. Jika berkenan datanglah dan ikut meramaikannya." orang itu tersenyum ramah.  "Wah, sungguh? Ada festival bunga api? Itu bagus! Ayo ikut!" Laura yang menjawab antusias.  "Hahaha, iya. Do'akan saja malam ini tidak hujan." orang itu menunjuk langit.  Chris pun menatap langit. Pernyataan apakah dunia bayangan bisa terjadi hujan juga masih menghiasi kepala Chris.  "Maaf, kapan terakhir kali terjadi hujan di sini?" tanya Chris. Jika orang itu punya jawabannya, berarti hujan memang bisa terjadi di sana.  "Sekitar satu bulan yang lalu. Ah, itu hanya hujan gerimis, haha." orang itu tertawa lagi. Chris dan Armei terkejut. Mereka saling pandang seolah berkata tidak percaya jika hujan benar-benar datang. Armei yang tinggal di gurun dua puluh tahun memang tak mengenal hujan sama sekali.  "Wah, cukup lama, ya? Kalau begitu kami akan di sini dan ikut festivalnya." Chris menunjukkan deretan giginya. "Lalu, apa ada hal bagus di festival nanti, Tuan?" Laura mendekati orang itu dengan pikiran liciknya. Chris memutar bola matanya. Pasti Laura berpikir ada benda yang berkilauan yang bsia dia curi nanti.  "Tentu saja. Kami membuat banyak pertunjukan nanti. Datanglah," orang itu menjawab antusias. "Ahaha, tentu saja!" Laura bersemangat tepuk tangan.  'Di samping itu aku bisa mencoba panah beracun ku. Di mana aku bisa mencobanya, ya?' pikir Laura.  Seolah mengerti apa yang dipikirkan Laura karena Laura memutarkan pandangannya ke sembarang arah, Chris pun pamit.  "Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan." menundukkan kepala sambil menangkupkan tangan.  "Chris, kau terlalu sopan," heran Laura.  "Dari pada kau yang cukup tak sopan." balas Armei yang ikut menangkupkan tangan. Laura menganga Armei mengejeknya begitu telak. Dia ikut menangkupkan tangan walau bibirnya cemberut. "Ah, kenapa tidak tinggal di sini sana? Aku hanya berdua dengan istriku di rumah." orang itu juga ikut menangkupkan tangan.  'Kenapa mendadak snagat sopan?' batin Laura tak suka.  "Terima kasih, tapi kami harus pergi. Nanti akan datang di festival kalian," ujar Chris.  Orang itu tak bisa melarang mereka pergi lagi. Kemudian, ketika Chris memimpin jalan bagi Armei dan Laura, semua orang yang masih ada di pinggir jalan dengan alasan sedang menyalakan pelita selalu melihatnya dan mulai membicarakannya. Terlebih lagi para perempuan baik gadis ataupun wanita. Seolah-olah mata mereka bersinar enggan melihat hal lain selain Chris. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD