16. Limbah Sampah Danau

2552 Words
Monster, gurun, rindangnya hutan, tidak ada yang aneh dari itu semua kecuali monster dan bayangan. Sejauh ini tidak ada hewan raksasa atau makhluk aneh yang menyerangnya tiba-tiba seperti beberapa hari sebelumnya. Namun, kali ini terlalu mengejutkan. Danau kecil itu cukup rindang. Airnya yang jernih tak memungkiri ada ikan di sana. Laura memilih memancing. Dia membuat kailnya sendiri dari kayu dan menggunakan sedikit makanan Chris sebagai umpan. Itu hanya untuk menjahili Chris, tetapi pemuda itu tetap diam tak berkutik. Pandangannya terus menunduk. Memperhatikan bayangannya sendiri dan hanya dirinya yang memilikinya. Berkali-kali menghela napas, makanan di depannya tak dimakan, Armei justru menutup mata pura-pura tidak peduli. Laura yang tersenyum di tepi danau pun menancapkan kayunya. Mendekati Chris dan memukul punggungnya keras. Laki-laki itu masih tak peduli. Laura pun merangkul Chris dari belakang. "Hei, makanannya sudah dingin, tidak enak lagi. Bagaimana kalau kubuat jadi makanan ikan semuanya?" canda Laura yang terdengar kering di telinga Chris. Tiada respon bahkan kini Laura menginginkan tangannya ditepis secara kasar oleh Chris. "Jawab aku, Bodoh! Kenapa kau diam?" Laura menaikan sebelah alisnya. Chris menghela napas panjang. Menengadahkan tangannya menatap langit silau. "Bumi berputar dan matahari mulai menuju barat. Kau pikir bayanganku akan hilang di telan malam? Tidak, tapi kenapa kalian yang di siang hari juga tak memilikinya?" meneleng bodoh. Laura tak segan-segan memukul kepala Chris hingga Chris mengaduh dan meringis. "Bodoh! Mana aku tau? Pertanyaan macam apa itu?" Chris mendesis kesal ingin membalas Laura yang melotot padanya. Namun, dia justru melipat tangan dan mengondisikan posisi duduknya. "Aku tak mau berdebat denganmu. Jujur saja, aku tak lapar setelah tau kenyataannya." melengos menatap pohon. "Hmm? Sejujurnya tak masalah juga, Chris." Laura ikut duduk dengan benar di samping Chris. "Maksudnya?" Chris menoleh. Laura tersenyum memandang tangannya dan mencoba melihat bayangannya sendiri yang tidak ada di atas rerumputan dan tanah danau, "Kau tau? Kami sudah terbiasa dengan ini. Kami juga tidak terlalu memikirkannya. Seperti kehidupan manusia pada umumnya sedangkan kami biasa-biasa saja tanpa bayangan. Entah mengapa ini biasa saja. Kau ... maukah kau mencari tau sebabnya?" Chris tersentak hingga alisnya terangkat, "Tidak kau suruh pun akan kucari tau, Bodoh! Aku merasa ada yang aneh pada pikiran kalian. Apa ada yang mempengaruhi kalian? Manusia tanpa bayangan itu mustahil apalagi semua hal di sini juga tak punya. Aku pasti akan menyelidikinya." "Siapa yang bodoh dan siapa yang diuntungkan? Sepertinya aku mengerti," ujar Armei dalam keadaan mata tertutup dan masih bersandar pohon membuat perhatian Chris dan Laura tertuju padanya. "Tau sesuatu? Katakan!" dahi Chris berkerut serius. Dia pikir Armei telah mengingat sesuatu yang mungkin saja pernah singgah di ingatanya dua puluh tahun yang artinya dia terjun ke gurun. "Ini ... adalah tindakan yang disengaja dan juga tidak disengaja." mata Armei terbuka. "Ha?" kata heran Chris dan Laura bersamaan. "Apa kau berpikir ini terkait dengan misimu?" Armei menatap Chris tajam. Chris tak segan-segan mengangguk, "Aku seakan mengerti sesuatu, tapi itu sudah terlalu lama. Aku adalah pengirim surat khusus. Aku ditugaskan seseorang. Kertas ini berisi hal penting yang harus kau ketahui. Mungkin orang itu mengerti sesuatu. Namun, yan aku cemaskan saat ini adalah keadaan dunia bayangan yang semkain tak jelas. Kelihatannya baik-baik saja, tetapi tidak ada prahara dan masalah bahkan hal kecil sekalipun. Ini aneh, aku khawatir akan ada masalah besar yang datang karena sejauh ini kami diam." menunjukkan surat yang dia simpan untuk Aron Gronn. Chris dan Laura tersentak dalam hati. "Tandanya, kita harus mencari orang yang mengutusmu, Bibi Armei." sorotan mata Chris semakin menajam. Laura menoleh, "Kau tidak penasaran kenapa kami diam tanpa masalah?" "Tidak, kau saja sudah cukup membuat masalah," jawab Chris asal tanpa memandang Laura balik. "Eerrrr, aku serius, Bodoh!" Laura mengepalkan tangannya geram. Chris pun menatapnya, "Kau mencuri memang membuat masalah, tapi orang-orang tidak mempermasalahkan dirimu. Jadi itu tidak masalah." "Itu karena aku cerdik, tau!" Laura masih geram. "Kau tidak akan mengerti karena isi otakmu hanya harta, uang, dan mencuri. Aku sudah memikirkannya sembari Bibi Armei menjelaskan. Kau ikuti saja perintahku nanti." Chris menunjuk dahi Laura dan Laura menepisnya. "Tidak mau!" Laura melengos kesal. "Kau sudah punya rencana?" Armei meneleng. Chris menggeleng, "Belum, tapi kita harus mencari orang yang mengutusmu. Kita akan dapat jawabannya di sana." "Kenapa kau begitu yakin?" Armei bahkan tidak ingat siapa yang mengirimkan surat padanya. Chris mengerti maksud Armei. Dia mengetuk dahinya berpikir. 'Kemungkinan pertama, bibi Armei, Laura, dan semua orang seolah-olah melupakan sesuatu di saat hilangnya paman Aron. Pengamen gila itu juga hilang ingatan, 'kan? Mungkin efeknya berdampak pada orang-orang di dunia bayangan. Kemungkinan kedua, itu murni tindakan seseorang yang menjadi dalang di balik sebuah misi yang hilang. Ck, aku penasaran sekali!' pikir Chris. "Yahh, baiklah terserah kau saja. Sekarang yang penting ... kau makan dulu! Haha, makan ini!" Laura mengambil satu kue dan menyumpal mulut Chris kasar membuat Chris terbelalak dan kesulitan bernapas. "Eemmpphh! Dasar gadis gila! Kurang ajar sekali kau! Rasakan ini, hah! Makan saja sendiri!" Chris memuntahkan kue itu membuat Laura tertawa terbahak-bahak. Dia membalas menyumpalkan kue ke mulut Laura membuat Laura meronta dan memekik tertahan. Chris tidak mau melepaskan Laura sebelum kue itu ditelan bulat-bulat. "Hahaha, mati kau!" Chris tertawa jahat. Wajah Laura sudah pucat pasi. Rasanya ingin sekali meninju Chris yang tidak sopan terus memasukkan kue ke mulutnya. Kakinya menendang-nendang mencoba lepas dari Chris. Armei melongo menatapnya. Dia menggeleng lalu tersenyum geli. Setelah itu kembali menutup mata meskipun tidak tidur. 'Iya, aku juga baru sadar sekarang meskipun sejak dulu bayangan kami memang tidak ada. Mengapa? Apa terjadi sesuatu pada kami?' batin Armei dalam diamnya sembari mendengarkan kebisingan yang Chris dan Laura buat. Danau yang jernih dan tenang mendadak keruh secara perlahan. Chris yang bercanda dengan Laura menjadi terhenti karena mencium aroma busuk seperti selokan. Anehnya sejak pertama kali datang ke dunia bayangan, tidak sekali pun dia mencium bau selokan. Aromanya semakin kuat dan membangunkan Armei. Mereka berkumpul untuk berjaga-jaga. "Apa ini? Apa makanannya benar-benar basi? Baunya busuk sekali!" Laura menutup hidungnya dengan kedua tangan. "Pikiranmu sepertinya memang dangkal, Laura. Ini bukan bau kue, tetapi limbah." Chris memandang danau itu yang sangat jelas keruhnya. "Dangkal katamu? Kalau aku tidak pintar tidak akan jadi pencuri tau!" Laura protes tepat di depan wajah Chris membuat Chris mendorongnya kasar. "Iya-iya, dasar sok pintar!" Chris berdiri memastikan danau itu. "Semakin lama airnya semakin menghitam. Ini bukan limbah biasa. Tidak mungkin juga rumah-rumah di sekitar hutan kecil ini mampu membuat limbah sebesar ini dan mendadak," sambungnya. Sontak Armei menarik pedang membuat dirinya dan Laura berdiri. "Ini bukan ulah manusia," ujarnya. Laura terkejut sedikit, setelah itu mengangguk pasti, "Baiklah, ayo kita lihat!" menggulung pakaian lengannya dengan serius. Chris mengerutkan dahi karena tingkah Laura. Kemudian, dia mengerti jika Armei dan Laura merasakan sesuatu yang sama dengannya. Yaitu, ancaman dari dalam danau. Air yang tiba-tiba menghitam itu mendadak bergelombang hingga mengenai lebih dari permukaan danau. Chris mengepalkan tangan bersiap siaga. Pedang Armei telah bereaksi. Dia mengeluarkan energi yang menyerupai pisau angin di setiap sisi pedangnya. Sapa yang akan dia tebas jika lawannya tak terlihat? Gelombang itu tak hanya mempengaruhi amukan air, tetapi tanah di sekitarnya ikut bergetar. 'Getaran kecil ini belum cukup dibilang gempa, tapi jika terus begini bisa-bisa tanahnya retak. Apa yang ada di dalam sana?' heran Chris dalam hati. Sontak gelombang itu menyapu permukaan danau hingga meluas menjadikan ombak yang menutupi danau. Chris dan yang lainnya terbelalak. Ombak itu menghantam tanah hingga getarannya bertambah sekaligus mendekati mereka. Tanpa persiapan dan tanpa memprediksi hal itu akan terjadi, Chris tidak bisa bergerak. Hanya matanya saja yang mencerminkan semua tindakan aneh itu. Ketajaman pedang Armei tidak akan kalah hanya karena ombak keruh yang diperbuat oleh energi negatif di dalam sana. Dia menebas ombak itu dengan sapuan pedang anginnya bagaikan pisau raksasa saat ombak itu tepat akan menerjang di depan mereka hingga terbelahlah menjadi dua. Lalu, airnya luruh terserap tanah yang masih tak berhenti bergetar. Seakan napas Chris tercekat, dia bisa menghela napas panjang lagi. Kemudian sadar jika ombak kotor itu bersiap menyerangnya. "Terima kasih, Bibi. Sial! Apa-apaan tadi!" Chris memukul udara. Dia menghampiri tepian danau tanpa berpikir jika bisa saja tanah tepiannya danau runtuh ketika dia pijaki. "Dasar bodoh! Jangan mendekat, Chris! Kita tidak tau apa yang ada di sana!" Laura berteriak. Ingin mengejar, tetapi Armei mencegahnya karena Chris telah menyelam ke dalam danau dengan bodohnya. Tentu saja itu membuat Armei dan Laura terkejut hebat. Namun, ketika danau itu dimasuki Chris, tanahnya mulai berhenti bergetar dan gelombang danau sudah tenang tak membuat ombak lagi. "Chris! Bibi, dia masuk ke danau! Dia bisa mati, dasar bodohnya nggak ketulungan!" Laura nekat lari dari Armei dan menyusul Chris. Dia berhenti di tepi danau dna berteriak memanggil Chris. Tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan keruhnya air atau mengehentikan gelombang yang terus mengancam. Tak tahu juga apa yang akan terjadi. Armei sudah ada di sampingnya. Dia mengerahkan pedangnya untuk membekas danau dengan udara, tetapi dia terpental seakan sesuatu melawannya dari permukaan air. "Bibi!" Laura menjerit karena Armei terpental sampai terduduk jauh. "Kurang ajar! Aku merasakan adanya kekuatan besar di dasar danau." Armei berdiri dengan tertatih. "Aku tau! Apa Chris bisa mengatasinya di sana? Apa dia bisa bernapas?!" panik Laura menatap Armei dan danau bergantian. Armei berada di dekat Laura lagi. Saat ini tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu kabar dari Chris dikarenakan lawan mereka yang tak mau menampakkan diri. Sedangkan di bawah sana, Chris berenang dengan tak tahan menahan baru yang semakin menyengat walau dia menahan napas. Dia sadar dengan begitu sama saja dia mandi air selokan. Rasanya Chris ingin muntah. Namun, walaupun seluruh tubuhnya lengket dan pergerakan menuju bawah danau terasa lebih sulit, dia tetap berenang mencari tahu sumber apakah penyebabnya. 'Apa yang muncul adalah hewan buas yang aneh lagi? Yang jelas aku harus memancingnya keluar. Susah juga di dalam air,' batin Chris. Semakin dalam Chris menjelajah danau, semakin terlihat sesuatu yang aneh dan berwana hitam. Sangat gelap melebihi air danau itu sendiri. 'Apa itu? Bulu babi?' pikir Chris walau dia hanya bercanda dengan diri sendiri. Tanpa ragu mendekati benda itu. Setelah berjarak sekitar satu meter di atas benda itu, tiba-tiba sepasang mata terbuka berwarna merah dan mengagetkan Chris sampai tak sadar membuat mulutnya terbuka. Sontak Chris menutup mulutnya dan semakin kecil juga persediaan oksigen yang dia atur dalam tubuh. Chris harus segera keluar jika dia masih ingin hidup. Rasanya air danau itu telah memasuki setiap sela dalam dirinya ketika dia membuat mulut terkejut. Tidak ada waktu lagi, Chris menendang benda bermata merah dan berbentuk bulat mirip bulu babi itu berharap benda itu marah karena Chris menganggapnya hewan raksasa. Lalu, segera mungkin dia berenang naik. Benar, sesuatu yang dia tendang tadi mengeluarkan suara dan sontak membuat gelombang danaunya semakin bertambah. Itu membuat pergerakan Chris terhalangi. Kakinya sering terseret arus gelombang di tengah-tengah air. Merasakan ada pergerakan di bawahnya yang ternyata sesuatu itu telah mengejarnya sesuatu keinginan Chris, justru membuat Chris panik. Tak ada jalan dan gelombangnya bisa-bisa menyeretnya kejam. Namun, Chris tidak ingin kalah. Dia menajamkan penglihatannya untuk melihat arus yang dibuat gelombang itu dan memanfaatkannya untuk keluar dari danau dengan cepat. Tentunya membiarkan dirinya terserat arus gelombang disertasi pengendalian diri dalam berenang yang menitikberatkan pada kekuatan kaki dan tangan untuk menahan tubuhnya agar tidak terseret begitu saja. Cara Chris berhasil. Dia mengikuti arus gelombang yang bergerak memutar ke atas sehingga dia bisa keluar dengan cepat. Ketika kepalanya muncul ke permukaan, dia membuka mulut lebar-lebar dan menghirup udara sebayak yang dia mau. "Chris! Akhirnya kau muncul juga! Cepat kemari! Ada sesuatu yang mengejarmu! Kakiku merasakannya dari getaran tanah!" Laura terkejut sekaligus senang Chris baik-baik saja. Dia melambaikan tangan agar Chris segera keluar dari danau. Lepas dengan acara pengambil napas, tenggorokannya masih merasakan pahit dna lengketnya air danau. Dia membuat ekspresi ingin menangis karena telah meminum air selokan. Mencekik lehernya sendiri dan memukul dadanya pelan berharap memuntahkan apa yang dia minum. "Uhuukk-uhuukk! Aarrgghh, sialan! Aku minum airnyaaaa! Uhuukk-uhuukk!!!" Chris berusaha memuntahkannya walau tenggorokan terasa lebih sakit. "Bodoh! Jangan hanya berteriak di situ! Cepat kemari!" Laura melambaikan tangannya kesal. Chris tidak bisa mengelak walau dirinya terasa tersiksa. Berenang ke tepian mendekati Armei DNA Laura yang sudah bingung bercampur cemas padanya. "Aaarrrgghh, bulu babi sialan! Aku keracunaaaannn!!!" Chris berteriak setelah berhasil lolos dari danau itu sepenuhnya. Dia duduk lemas sembari mengatur napas dan juga mencekik dirinya. Armei menepuk dahinya. "Wajahmu jelek sekali," katanya datar. "Uhuukk-uhuukk! Aaaa, aku keracunan! Aku mati!" Chris memukul dadanya berkali-kali. "Sadarlah, hei, sadarlah! Siapa yang kau panggil bulu babi, hah?!" Laura memukul kepala Chris pelan. "Sopan sedikit padaku, dong! Yahh, apa yang dirasakan kaki ajaibmu benar. Entah benda atau hewan yang menurutku mirip bulu babi di sana sedang mengarah pada kita. Kurasa itulah penyebab semua ini. Ketika dia muncul, langsung serang bersamaan." ujar Chris setelah menepis tangan Laura. Dia berdiri masih dengan napas terengah. Belum juga ada lima detik penjelasan Chris, benda yang dimaksud itu muncul mengejutkan mereka terlebih lagi Chris. Ternyata yang muncul jauh lebih buruk dari bulu babi yang dia lihat. Ternyata bukan hewan raksasa, melainkan gundukan sampah yang menjadi monster limbah di dasar danau. Bentuknya bulat tak beraturan dan memiliki aroma lebih busuk dari air danau. Sudut bibir Chris berkedut setelah melihatnya. "Da-dari mana bulu babi itu berubah jadi kerumunan sampah? Huaaaa, matanya menakutkan sekali!" Chris menunjuk monster sampah yang berukuran lima kali lebih besar darinya itu. "Astaga, ternyata sampah-sampah yang ada di sini berkumpul menjadi satu dan energi negatif menyerapnya hingga terjadilah monster limbah? Mengejutkan! Akan kutebas mereka!" Armei membalikan pedangnya percaya diri hingga terdengar bunyi gesekan pedang dengan pusaran udara yang muncul dari pedang itu sendiri. "Hiyaaa!!!" Armei melompat dengan ketinggian dua ratus meter dan akan menebas monster itu, tetapi bukannya tertebas dia justru terpental dan serangannya mengarah pada rerumputan di dekatnya hingga rumput-rumput berbunga itu tertebas menjadi dua di setiap bagiannya. "Apa?!" baik Armei yang berhasil turun dengan elegan atau Chris juga Laura, mereka sama-sama tersentak. "Sampah itu hebat juga ternyata," sambung Chris bergumam. Laura setelah mendarat sempurna di sisi Chris. "Aku tidak bisa memotongnya," ucapnya. "Kalau begitu bagaimana caranya? Lihat, matanya merah. Apa dia bisa melihat dengan jeli?" Laura menatap serius mata merah persatuan sampah itu. Seketika Chris tertawa merasa ucapan Laura memancing daya geli di perutnya. "Puft, hahaha! Mereka seperti para sampah yang beraliansi dan membuat satu tubuh menjadi kuat. Kemudian, diperlengkapi dengan energi negatif yang memang sudah ada di danau ini. Jadilah monster lucu bermata merah yang tak punya bibir dan organ lainnya, hahaha. Matanya merah lagi," tawa Chris tak bisa dihentikan. Laura mendelik ingin sekali mencekik Chris lantaran mata merah gundukan sampah raksasa itu bergerak-gerak seolah tak terima dengan ejekan Chris. "Diam kau, Chris! Dia semakin marah," desis Laura melirik antara Chris dan raksasa sampah itu. Sontak Chris membawa semuanya mundur hingga ke tempat di mana mereka istirahat tepat dengan sampah raksasa itu menyerang dengan mengeluarkan cairan busuk yang disebut limbah sampah pada mereka. Menusuk-nusuk seperti panah yang hilang meresap ke tanah ketika tertancap tanah. "Tidaaaakk, jangan kenakan aku! Nanti aku bisa kotor!" teriak Laura seiring Chris menariknya. "Oh, bukannya aku memang suka kotor? Aku selalu berpura-pura menjadi kotor, 'kan?" sambung Laura bergumam sendiri. "Berisik, pencuri kecil! Pikirkan cara agar si busuk itu bisa hilang!" Chris geram. Dia berhenti di belakang pohon agar tidak terkena semburan panah limbah. "Sepertinya dia punya perisai kuat yang terbuat dari bau busuk yang ditimbun. Pedangku tak bisa memotongnya " Armei menyimpan pedangnya lagi. Mendadak tanah kembali bergetar. Terdengar suara gelombang membesar membentuk ombak membuat mata mereka melebar lagi. Kali ini ombaknya besar, menguras air danau hingga setengah dari danau itu. Ombak raksasa yang benar-benar akan mengikis apapun yang dia terjang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD