15. Kehidupan Tanpa Bayangan

2680 Words
Chris tidak perlu bertanya lagi tentang apa yang mereka kerjaan dan semua informasi tentang desa ini karena sudah terlihat begitu jelas. Dia bertanya tentang kalung batu giok yang dia pakai dan mereka tidak mengetahuinya sama sekali. "Sayang sekali, kami tidak pandai dalam hal perhiasan. Kami hanya tukang kayu," jawab pemilik rumah. Sejak tadi terus memelintir kumisnya. "Desa kalian sangat berbeda dengan desa sebelah, ya," Armei menyahut. "Ah, desa itu. Mereka memang suka hidup suram. Tidak masalah, karena kami hidup berdampingan, hahaha," balas sang nyonya rumah. "Kalau boleh tau, kenapa kau tidak tau tentang kalungmu sendiri?" tanya laki-laki itu sambil memasang wajah bodoh. Chris mengerjap tidak bisa menjawab. Dia berdeham mencari alasan, "Ini bukan milikku. Karena ingin terlihat berharga jadi aku mencoba untuk mencari tahunya." "Oh, jadi begitu." laki-laki itu mengangguk. "Baiklah, terima kasih atas sambutan meriahnya. Kami harus segera pergi. Sari buahnya sangat lezat, Nyonya. Terima kasih, ya." Chris segera berdiri melambaikan tangan dan menarik Armei juga Laura yang bahkan maish ingin minum. "Hati-hati, Pangeran tampan! Datang lagi, ya!" salah satu gadis itu melambaikan tangan tinggi dengan wajah sumringah. "Sampai jumpa! Semoga berhasil di depan sana!" ujar salah satunya tak mau kalah. "Ya!" Chris membalas lambaian tangan mereka seiring kakinya melangkah. Lalu, berbalik badan setelah lumayan jauh dari rumah itu. "Hahaha, memuakkan sekali!" Laura tertawa keras. "Kau yang memalukan!" maki Chris tepat di telinga Laura. "Aaaa, itu terlalu keras! Kemari kubalas kau!" Laura menutup telinganya rapat dan mencoba balas dendam, tetapi Chris menjauh. "Sangat menyenangkan!" Armei membersihkan pedangnya tidak peduli dengan tingkah Chris dan Laura yang saling mengganggu. "Chris bodoh!!!" tiba-tiba Laura berteriak tepat di telinga Chris sampai Chris meringis. "Aaaa, sakit sekali!" Chris mengusap telinganya kasar. "Hahaha, rasakan!" Laura tertawa puas. Kruuukkk!!! Mendadak perut Laura berbunyi tanda lapar. Benar juga, matahari terus naik dan sebentar lagi masuk ke pertengahan siang. "Aku lapar. Ayo cari makan." Laura mengelus perutnya sambil menatap Armei dan Chris penuh harap. "Kalian makan saja. Di sana ada tempat makan. Bungkuskan untuk aku, ya. Aku akan jalan-jalan sebentar." Chris menunjuk rumah makan yang cukup ramai. Ada banyak bunga sebagai haisan di sana. "Kau mau ke mana? Kenapa tidak makan juga?" Laura cemas membuat Chris tersenyum. "Jangan hiraukan aku. Kau jangan mencuri dan menyusahkan Bibi Armei. Kalau tidak kupukul lagi perutmu," ancam Chris. Kemudian dia langsung pergi tak menghiraukan protesnya Laura. "Chris, kau mau apa? Ayo makan bersama kami! Bibi, kenapa kau membiarkannya? Dia juga tidak makan, bukan?" tangan Laura tidak bisa menggapai Chris dan Armei mencegah Laura untuk mengikuti Chris. "Sudah turuti saja dia. Jangan risau, Chris tidak mudah kelaparan. Dia benar, ayo makan dan minum obat agar kita tidak menyulitkan pergerakannya. Saat ini dia tengah mengumpulkan informasi yang bahkan aku tidak mengerti rencananya," jelas Armei. Laura pun menjadi tenang, "Apa maksudmu?" "Semalam dia bilang ingin mencari tahu sendiri tentang semua dunia ini. Jadi, jika kita selalu mengikutinya pasti akan membuatnya tidak bebas. Mengerti, 'kan, Laura?" jelas Armei lagi. "Begitukah? Baiklah, ayo kita makan. Kuharap dia menemukan sesuatu yang bagus." masih diselimuti kekhawatiran akan perut Chris, Laura memandang ke mana arah Chris pergi. Rumah makan itu berubah lebih ramai setelah Armei dan Laura datang dan memesan banyak makanan. Sedangkan Chris mencari jalannya sendiri. Jauh dari rumah makan itu, Chris masih menemukan banyak orang di setiap rumah sedang bergotong-royong mengerjakan sesuatu. Kerja keras yang sebanding dengan senyum mereka. Lantas di perjalanan Chris yang sudah lumayan jauh dari rumah makan itu, dua orang telah menghadangnya. Orang yang membawa cermin dan berhasil membuat Chris terkejut hebat. Meskipun penampilan mereka sedikit berbeda dari rakyat biasa dan Chris langsung tahu jika mereka bukan orang sembarangan, tetapi yang dia pedulikan justru cermin itu. Namun, orang yang memegang cermin segera menyembunyikan cerminnya membuat pandnagan Chris terangkat. Alisnya hampir menyatu tajam. "Siapa kalian? Kenapa menghalangi jalanku?" tanya Chris dengan suara tegas. Meskipun begitu, tangannya bergetar hingga tidak sanggup dia tahan. Sesuatu yang ada di cermin itu, meskipun terlihat sekilas, itu merupakan hal yang luar biasa. Bahkan Chris tidak bisa merasakan detak jantungnya sekarang. Dia terkejut hebat. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat. 'Mungkinkah itu ilusi? Semacam sihir di dunia ini? Apa ... apa yang kulihat tadi?' batin Chris bahkan gemetar. "Maaf, Tuan. Sepertinya kami ada urusan dengan Tuan." suara bariton yang cukup mengimbangi intimidasi Chris. Mereka bergerak cepat berusaha membawa Chris, tetapi secepat kilat pula Chris mengelak bahkan tiba-tiba ada di belakang mereka. Mereka bertukar posisi. "Kalian bicara dengan siapa? Aku di sini," ujar Chris berusaha mengontrol dirinya yang semakin penasaran sekaligus tak bisa menalar sesuatu yang terlihat di cermin tersebut. Mereka berbalik memandang Chris. 'Sial! Apa mataku rabun? Tidak-tidak, aku yakin seratus persen yang kulihat itu nyata. Tunggu, jangan sampai lihat ke bawah, Chris. Ringkus dua orang aneh ini dulu, setelah itu pastikan lagi. Jangan khawatir,' mencemaskan diri sendiri dalam hati berharap rasa takut tidak menghinggapi. Sungguh yang dia lihat melebihi ketidakpercayaannya pada dunia bayangan sebelumnya. Tanpa basa-basi mereka menyerang Chris secara halus. Nyaris tidak terlihat pergerakannya dan tanpa membuat keributan di sekitar. Buktinya orang-orang seolah tak melihat ada perkelahian kecil di sana. Chris menghindar dari tangan-tangan mereka yang mencoba meraih titik kelemahannya. 'Apa yang mereka perbuat? Apa semacam manipulasi masa? Seakan aku merasa di luar sana waktu terasa melambat, tetapi dihadapanku begitu cepat. Mereka rapi sekali dalam bergerak,' batin Chris terkejut. Detik itu juga ketika mereka menyerang bersamaan, Chris berhasil memegang tangan mereka dan menguncinya ke belakang. Seketika pergerakan rapi bagai tak terlihat itu terhenti. Orang-orang mulai menyadari jika terjadi sesuatu di jalan tepatnya pada Chris. Kini dia menjadi pusat pemandangan. Sayang sekali kecepatan mereka kalah dengan ketajaman mata Chris. Mereka sedikit meronta. "Langsung pada intinya. Kalian mengincarku dari awal?" bisik Chris tajam. Dua orang itu mengerutkan dahi lalu saling pandang tidak menjawab. "Serahkan cermin itu." pinta Chris seraya melirik ke saku orang yang menyimpan cerminnya. Namun, mereka tetap bungkam. Kebungkaman mereka yang tak meronta lagi membuat Chris heran. Mendadak salah satu dari mereka mengeluarkan sesuatu dan melemparnya tepat di depan kaki. Seketika asap muncul menyelimuti Chris hingga dia terbatuk. Otomatis cekalan Chris melemah membuat mereka berhasil meloloskan diri begitu saja. Saat Chris terbatuk, asap itu menghilang bersamaan mereka yang telah pergi tanpa jejak. Chris terkejut hendak mengejar, tetapi diurungkan karena percuma. Dia berdecih memukul udara. Melirik sana-sini yang masih banyak orang memperhatikannya. Bahkan bertanya-tanya sedang terjadi apakah di sana. 'Kurang ajar! Dugaanku benar, ada yang mengikuti. Siapa mereka?' batin Chris. Berpikir jika mereka terlibat dalam misi yang hilang. Namun, Chris tak punya bukti yang pasti. Pertama kali bertemu dan itu adalah kecerobohan mereka. Chris mencoba merekam nada bicara dan wajah mereka baik-baik. Suatu saat nanti pasti akan bertemu lagi. "Hei, Tuan tampan. Ada apa? Apa mereka penjahat? Kau disakiti?" Beberapa orang mulai datang menatap Chris bingung. Chris pun mendelik lalu tersenyum kaku. Mengatakan tidak untuk setiap pertanyaan yang mereka ajukan. "Kalian bertengkar, ya? Apa mereka pencuri?" "Pencuri? Kasihan sekali kau!" Chris semakin bingung menanggapi. Dia menggaruk kepala belakangnya. "Tuan dan Nyonya sekalian, tadi itu bukan pencuri atau penjahat. Kami hanya tidak sengaja bersinggungan, hehe. Maaf, ya, sudah mengganggu," kata Chris ramah. "Wah, ternyata hanya salah paham. Yasudah kalau begitu," kata salah satu dari mereka dan Chris hanya bisa tersenyum bodoh. Mereka pun pergi, kini Chris sendirian lagi. Menghela napas panjang, kemudian teringat sesuatu yang membuat dadanya kembali bergemuruh. "Cermin itu ... cermin itu menunjukkan sesuatu yang tidak bisa ditunjukkan," gumam Chris panik. Tangan terkepal kuat, menoleh ke segala arah memberanikan diri menatap ke bawah. Tanah yang bercampur pasir diselimuti rumput di sekitar jalan setiap rumah tak menghindari apa yang mampu mengejutkan hati pemuda itu. Kebebasan seakan direnggut. Bukan, ini bukan lagi soal kebebasan, melainkan nyawa dan ini tidak masuk akal. Deg!!! Euforia mempermainkan dirinya di tengah pusaran penghuni dunia bayangan yang tak memiliki bayangan. Mata Chris melebar, tak bisa Merakan detak jantungnya sekarang. Chris menyadarinya. Apa yang dia lihat di cermin ternyata benar. "Ti-tidak ada bayangan. Tidak ada bayangan satu pun. Mereka ... tidak punya bayangan?" Chris mengucapkannya dengan bergetar. Kakinya yang gemetaran pun mundur selangkah. Napasnya tercekat. Semakin dia menatap sekeliling, semakin dia melihat dengan jelas. Matahari begitu terik dia tas kepala. Semua bayangan akan terlihat, tetapi tidak satu pun dari orang-orang di sana yang memiliki bayangan. Bahkan, semua tumbuhan dan benda yang ada tidak memiliki bayangan. Chris hampir saja luruh. Bagaimana bisa tidak ada bayangan selagi matahari bersinar di atas sana? Dia menggeleng tidak percaya. Dengan ragu melihat bayangan dirinya dan ternyata ada. Itu membuatnya semakin terkejut dan mundur selangkah lagi. Melihat kedua tangannya yang gemetar hebat. Dia lambaikan pelan. Nampaklah bayangan tangan yang mengikuti pergerakannya. Lalu, dia gerakkan kakinya dan bayangannya pun turut mengikuti. Dia bandingkan lagi dengan orang-orang yang masih tak memiliki bayangan. Bahkan mereka terus bergerak bebas begitu riangnya. Chris menutup mulutnya tak percaya. "Mustahil! Ini mustahil!" gumamnya menahan pekikannya sendiri. Cermin yang dia lihat menunjukkan pantulan cahaya matahari yang mengarah langsung pada bayangan dua orang tersebut, tetapi tidak ada bayangan yang terlihat. Saat itulah Chris sadar. Di sanalah letak keganjilannya. Dunia yang tidak memiliki bayangan. 'Kehidupan tanpa bayangan, bagai separuh nyawanya menghilang. Bukan begitu, bukan? Dunia macam apa ini? Aku ... aku tidak bisa berpikir sama sekali! Tidak ada bayangan satu pun di sini! Mereka seperti zombie! Tidak ada bayangan?!' berkali-kali Chris tetapkan dalam hati jika itu sebuah kenyataan. Hendak mengelak juga tiada guna. Mungkinkah ini berkaitan dengan misi yang dimaksud? Chris terus terngiang oleh kenyataan. "Sejak kapan mereka tak punya bayangan? Astaga ... bodohnya aku tak sadar sejak awal." lirih Chris. Akhirnya dia luruh di tempat. Beberapa orang pun kembali menghampirinya. Sontak Chris mendongak menatap raut heran semua orang. Terdapat kepedulian terhadap manusia yang sama seperti manusia pada umumnya. Itu tandanya mereka bukan zombie, Chris terus mengatakannya dari hati jika mereka manusia seperti dirinya hanya saja berbeda. Dia mulai sedikit ketakutan. "Tuan muda, kenapa denganmu? Apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali!" "Siapa kau? Apa kau pengembara? Tidak pernah terlihat sebelumnya." "Kasihan sekali! Apa kau lapar sampai lemas? Ayo kerumahku, kita minum sebentar." Tawaran dan pertanyaan itu membuat bola mata dan otot-otot kepala Chris berdenyut. 'Si-sifat mereka alami. Manusiawi yang sama dengan orang-orang pada umumnya, tapi kenapa dengan bayangan mereka? Apa yang salah di sini? Astaga, aku tidak habis pikir,' keluh Chris ingin menangis dalam hati. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sabar. Sebisa mungkin membuat senyum yang terlihat baik, seolah-olah tidak terjadi guncangan jiwa meskipun dadanya bergemuruh hebat. Dia berdiri membuat semua orang yang mengerumuninya sedikit mundur. "Aku tidak apa-apa. Kakiku lemas, aku harus segera menemui teman-temanku. Terima kasih, semuanya." segera lari setelah mengatakannya dengan pelan dan ramah. "Hei, tunggu! Kenapa dia lari?" heran salah satu dari mereka hingga meneleng. Kemudian, mereka kembali mengerjakan aktifitasnya. Chris berlari sekuat tenaga menuju Armei dan Laura. Kakinya lemas seperti agar-agar yang sulit sekali dibuat jalan. Sepanjang jalan matanya tak berhenti memperhatikan sekitar. Hasilnya sama saja. Sebuah daun yang berjatuhan pun tak memiliki bayangan. Itu membuat Chris semakin ingin menangis. Tidak ada hal di dunia ini yang tidak memiliki bayangan selama cahaya masih ada. Itu adalah kepercayaan Chris dan nyata. Bahkan sekecil apapun cahaya itu pasti akan memancarkan bayangan bagi sebuah benda apalagi makhluk hidup. Manusia di dunia berbeda memang lah berbeda. Chris berusaha mempercayainya dan meneguhkan hatinya, tetapi itu tidak mudah. Selagi semua hal di sekelilingnya menampilkan pemandangan yang sama yaitu tiada bayangan. Lantas mengapa dunia ini disebut dunia bayangan? Chris menggeleng menyingkirkan semua pikiran buruk. Sebentar lagi dia tiba di rumah makan tempat Armei dan Laura singgah. Dia sudah tak kuat lagi ingin mengeluh. Namun, tersemat pertanyaan yang memungkinkan adanya membuatnya berlari pelan. 'Apa jangan-jangan Bibi Armei dan Laura juga tidak punya bayangan? Tidak, itu tidak mungkin, 'kan? Pasti ada orang yang punya bayangan di sini,' pikir Chris. Mempercepat lagi larinya hingga menerobos masuk rumah makan itu begitu saja membuat semua orang terkejut termasuk Armei dan Laura yang maish makan di sudut sana. Chris celingukan dan menemukan mereka. Segera menarik mereka keluar, tetapi Armei menghentikannya. Laura bahkan masih ingin makan, mulutnya penuh dengan makanan. Deg!!! Lagi dan lagi Chris terkejut dan mundur. Melepaskan tangan Armei dan Laura dari cekalannya membuat dua perempuan itu bingung. "Chris? Ada apa? Kenapa cepat sekali kembali? Kenapa dnegan wajahmu?" tanya Laura dengan mulut penuhnya. Dia berusaha mengunyah dengan cepat. Memukul dadanya kecil. Chris justru terbelalak memandang ke bawah tepatnya kaki mereka lalu semua yang ada di rumah makan itu. "Chris?" Armei mengerutkan dahinya memandang Chris. "Tidak! Bibi, katakan padaku ini tidak benar. Laura, bilang padaku kalau ini hanya ilusi. Ayo katakan!" mendadak Chris mengatakan hal yang tidak mereka mengerti. "Ha?! Kau gila, ya?" Laura menelan makanannya sudah payah. Chris masih menatap sekeliling, kemudian pandangannya jatuh pada Armei dan Laura yang keheranan menatapnya. "Kalian semua ... kau dan Bibi Armei ... semua yang ada di sini baik hidup ataupun mati, tak memiliki bayangan?" tanya Chris dengan tatapan hampir kosong pada Laura. Sontak Armei dan Laura terbelalak. Laura terbatuk dan minum dengan segera. "Kenapa kalian diam? Apa yang kulihat benar? Katakan," pinta Chris lirih. Tersirat ada ketakutan dan berharap smeua itu bohong di mata Chris. Namun, kebungkaman Armei dan Laura membuktikan semua itu benar. Chris meraup wajahnya dan luruh ke kursi. "Chris! Kau tidak apa-apa?" Laura segera memegang Chris dan Chris menepisnya. "Dasar bodoh! Bodohnya aku tidak menyadari hal ini. Bahkan sejak awal bersama kalian pun aku tidak menyadarinya, aku tidak memperhatikannya. Kenapa dnegan kalian semua?" nada bicara Chris sangat sedih. Segala asumsi buruk ada di otaknya. Laura tidak tahu harus berkata apa. Dia diam tak berani menyentuh Chris ataupun melanjutkan makannya. Armei menghela napas panjang dan mengurus sisa pesanan mereka. Membungkus beberapa makanan karena Chris belum makan dan mengajak mereka keluar dari tempat itu agar tidak membuat keributan. Mereka berjalan ke arah di mana Chris bertemu dua orang aneh itu. Entah ke mana mereka pergi, yang jelas kemanapun jalannya Chris memperhatikan semuanya dengan teliti sekarang. Tidak ada satu pun hak yang terlewat olehnya. Tawanya miris, terkadang membuat raut sedih yang berubah takut, kemudian ekspresi yang tidak bisa dimengerti. Bahkan sering membandingkan dirinya dengan dua perempuan di sebelahnya yang tak punya bayangan. Hanya dia yang memilikinya. Membuat wajah Chris semakin suram. "Chris, kau takut?" tanya Laura pelan. Dia ragu sekaligus tak berani menatap Chris. Hanya melirik saja sudah membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya. Namun, akhirnya Chris membuka suara setelah sejak keluar dari rumah makan. "Apa yang terjadi, Laura? Katakan padaku," pintanya dengan nada tenang. Dia sudah bisa menerimanya. Tidak heran lagi jika banyak hal aneh terjadi di dunia aneh ini. Hinga tidak sadar mereka telah salah jalan menerobos hutan kecil yang masih terdapat beberapa rumah dengan jarak yang cukup jauh. Armei sampai kebingungan. "Kita ada di mana?" Armei celingukan tanpa berhenti berjalan. Seketika perhatian Chris dan Laura teralihkan. Mereka juga heran kenapa bisa tiba di hutan kecil yang terang benderang. "Aku merasakan hawa air. Mungkin ada danau atau sungai di depan sana. Ayo kita cari dan istirahat. Chris belum makan." Laura melirik Chris lagi. "Aku tidak tertarik untuk makan. Sebaiknya kalian jawab pertanyaanku, jangan diam. Itu hanya membuatku takut." Chris meraup wajahnya untuk kesekian kalinya, "Pohon-pohon di sini bahkan juga tidak memilikinya. Kalian ini apa sebenarnya?" Sayangnya Armei dan Laura hanya bisa menunduk. "Kalian kenapa tidak menjawabnya? Aku merasa bodoh sekarang," geram Chris meminta penjelasan. Laura menggeleng, "Maafkan aku, Chris. Tapi aku tak tau harus menjawab apa. Bibi Armei juga begitu." "Tapi kenapa, Laura?" paksa Chris. Mereka terus melangkah mencari sumber air itu. Laura dan Armei menggeleng membuat Chris berdecak. "Baiklah, kalian mungkin punya alasan untuk tidak mengatakannya. Tenan saja, aku akan mencari tau. Maaf, karena tidak memperhatikan kalian sejak awal. Seharusnya aku tau ini," sambungnya mirip frustasi. Chris memandang Laura dan Armei yang justru jauh lebih murung darinya, menimbulkan rasa penasaran yang bertambah. 'Kenapa mereka tak mengatakan penyebabnya? Apa mungkin dunia ini memang tanpa bayangan? Tapi bukankah itu tidak baik? Apa sesuatu telah terjadi pada mereka hingga membuat mereka bungkam?' pikir Chris. Sebuah danau terlihat setelah beberapa menit mereka terus melangkah. Tempatnya di dalam hutan kecil. Danau itu tidak terlalu besar. Airnya cukup jernih. Tidak banyak hewan liar di sana. Mungkin danau itu tempat orang-orang beristirahat atau hanya sekadar bersenang-senang. Chris dan yang lainnya istirahat di sana. Dalam hati Chris berharap siang tak cepat berlalu agar dia bisa melihat dengan jelas dan memastikan jika bayangan itu memang tidak ada di sekelilingnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD