14. Perbedaan Dua Desa

2530 Words
Dua hari di rumah sang tabib tidak membuat Chris penasaran dengan belati itu. Dari semua proses pengobatan yang mereka alami, hanya Laura yang membutuhkan waktu lama untuk pemulihan sempurna terlebih lagi pada kaki dan tangannya. Itu buruk sekali sampai harus mengganti perban dan mengoleskan obat berkali-kali. Malam ini di hari ke dua di rumah tabib wanita tua. Mereka bertiga duduk di teras rumah mengamati rumah-rumah kecil yang sama. Udara dingin menembus tulang. Tak bergeming setelah satu jam lamanya duduk bertiga. Lalu, Chris menggaruk kepala belakangnya membuat Laura menoleh. "Kau punya kutu?" tanya Laura membuat Chris berdecak. "Iya, kutu yang sangat besar sampai darahku habis dihisapnya," jawab Chris asal. "Ck, aku hanya bertanya." Laura beralih memandang langit. "Aku tidak menyangka bisa menghabiskan malam dengan luka dan dua gadis aneh seperti ini. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya," celetuk Chris setelah menggaruk kepalanya. "Memangnya apa yang biasa kau lakukan saat malam?" tanya Armei yang tak berpaling dari rumah-rumah warga. Cahaya pelita redup di setiap rumah. Malam pun tak terang lantaran sinar bulan tertutup awan. "Bermain dengan teman-temanku hingga pagi," jawab Chris membuat Laura memperbaiki duduknya untuk menghadapnya. "Bermain? Kau tidak tidur? Wah, sepertinya menyenangkan. Kau pasti punya banyak teman, 'kan?" Laura bersemangat. "Kau ini ... menjauh sedikit dariku." Chris mendorong dahi Laura untuk mundur. "Maksudku adalah aku tidak pernah mengira akan mengalami malam seperti ini. Ini lain dari kehidupanku. Mereka pasti mencariku apalagi para gadis yang sering mengejarku. Kalau dipikir-pikir merasa kehilangan juga," sambungnya. "Oh, ternyata begitu." Laura mencebikkan bibirnya lalu menatap langit lagi. Senyumnya terbit, "Aku pernah punya mimpi. Kata orang kalau kita mengucap mimpi sambil memandang langit pasti mimpi itu akan didengar oleh Sang Kuasa. Mungkin saja kalau kau rindu pada smeua temanmu dan ingin bertemu dengan mereka, kau bisa mengucapkannya ke arah langit dan berharap bisa melihat mereka lagi lewat mimpi. Itu bukan ide buruk, 'kan?" "Apa? Memangnya bisa seperti itu?" Chris tertarik. Wajah Laura sangat meyakinkan apalagi ketika dia mengangguk smabil tersenyum. Tatapannya masih menengadah ke langit. "Aku juga pernah mendengarnya. Itu hanyalah dongeng untuk anak-anak agar mereka percaya pada harapan," sambung Armei. "Tidak salah juga kalau dicoba." Laura mengendikkan bahu. Armei menoleh, "Kalau begitu kenapa tidak kau coba saja? Apa mimpimu?" "Hahh, Bibi, jangan bertanya dengan wajah datar seperti itu." Laura mengibaskan tangannya. "Iya, kenapa tidak kau coba saja?" Chris mendukung Armei. Laura mengerjap memandang mereka berdua, "Baiklah, akan ku coba." Mulai menutup mata dan menyatukan kedua tangannya. Mendongak tak tahu apa yang dia lihat. Hanya merasakan sesuatu seakan dirinya menyatu dengan langit. Mengatakan apapun keinginannya dalam hati. Melihat tingkah Laura membuat Chris tersenyum. Baginya itu mirip seperti berdoa dengan cara yang berbeda. Setelah Laura membuka matanya dia bertepuk satu kali. "Hahh, lega sekali!" serunya senang. "Hmm? Apa mimpimu?" Armei melirik Laura. "Rahasia, aku tidak akan mengatakannya," canda Laura. "Ck, dasar kekanak-kanakan." Armei kembali memalingkan wajahnya. "Katakanlah, aku mau dengar," Chris antusias. Laura menjadi bingung, tetapi tetap mengatakannya. "Aku tidak mengatakan mimpiku yang dahulu, tapi mimpimu yang sekarang. Aku ingin kau berhasil mencapai tujuanmu dengan segera dan aku bisa membantumu apapun yang aku bisa." senyum kecil nan lugu itu keluar begitu saja dari wajah Laura. Berhasil mengetuk relung hati Chris lagi dan lagi. "A-apa yang kau katakan? Mimpi yang kau buat untukku?" Chris terheran-heran dan Laura mengangguk mantap. Ada gadis yang berani bertaruh untuknya. Ini pertama kali seorang gadis berkata jujur dan apa padanya dengannya. Chris samlai tak bisa berkutik. Hanya senyum yang bisa dia berikan sbeagai balasan. Sempat mengira apakah Laura menggunakan cara unik untuk mendekatinya sama seperti para gadis lainnya? Namun, Chris menyangkalnya. Laura bukan gadis seperti itu. Dia gadis luar yang kebetulan berhasil masuk dalam perjalanannya kali ini. "Kau benar. Cepat atau lambat aku pasti bisa menemukannya. Terima kasih sudha ingin membantu. Maaf, untuk saat ini aku tidak tahu apa yang akan kita lakukan," ujar Chris setelah diam sebentar memikirkan jawaban. "Tidak masalah, anak muda. Tapi tanganku gatal untuk melakukan sesuatu sekarang. Seperti menghajar monster telaga dengan pedangku misalnya. Aku ingin bertarung," sahut Armei menyita perhatian Chris dan Laura. "Tanganmu itu dingin sekali, Bibi. Aku juga gatal ingin mencuri, huaaaa!" Laura pura-pura merengek. Lalu, diam dalam sekejap, "Benar juga! Kalian diam di sini, ya. Aku akan mencari harta Karun terbesar di desa diam ini. Ssshhh, dingin tidak bisa menghambatku sekarang." menggosok kedua telapak tangannya dan pergi begitu cepat dan menghilang begitu saja. "Apa tidak apa-apa membiarkannya mencuri?" tanya Armei pada Chris karena biasanya Chris akan mengomel dan menasehati Laura far tidak mencuri lagi. "Biarkan saja. Dia sudah tidak bergerak selama dua hari, pasti tangannya cukup gatal. Lama-kelamaan nanti akan berhenti mencuri dengan sendirinya." Chris masih tersenyum sambil memandang jalanan di mana Laura menghilang. Armei terkekeh, "Kurasa hatimu sedang dalam kondisi baik." "Yahh, tidak terlalu. Bibi, jujur saja aku maish mengira ada orang yang memperhatikan kita secara langsung. Sayangnya kita tidak mengetahuinya." tatapan Chris menjadi serius pada Armei. "Kau masih berpemikirian begitu walau kita sudah lolos dari labirin. Jika memang begitu instingmu, mungkin saja benar," balas Armei. "Kita harus pergi besok. Kalau nenek tabib tidak mengijinkannya, kita rebut obatnya dan tetap pergi," tekad Chris sudah bulat. Armei mengangguk, "Setelah itu apa yang akan kau lakukan?" "Mencari tau tentang keadaan lingkungan yang sebenarnya," pandnagan Chris tak lepas dari netra Armei. Armei mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu?" Tidak mengerti apa yang dikatakan Chris, tetapi Chris hanya ingin mengetahuinya dengan caranya sendiri. Menjalani investasi secara diam-diam seiring perjalanannya. Dia akan mengamati keadaan smeua orang dan lingkungan dunia ini. 'Aku melupakan sesuatu yang penting. Dunia ini disebut dengan dunia bayangan, maka pasti ada sangkut pautnya dengan bayangan selain dunia lain dari dunia nyata. Jika ada sihir cermin pasti aku bisa memanipulasi dunia ini dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Iya, cermin! Itu dia!' pikir Chris. "Bibi, apa kau punya cermin?" Chris kembali menatap Armei. "Pedangku lebih bening dari cermin kalau kau mau," tawar Armei. "Boleh." Chris justru memintanya. Namun, Armei tidak membiarkan Chris menyentuh pedangnya. Chris hanya melihat setiap sisi oednag itu yang memang bisa terpancar dirinya meskipun pencahayaan di sekitar rumah tabib itu kurang. Dahi Chris sampai berkerut tajam sedang memikirkan sesuatu. 'Bukan. Tidak seperti ini caranya. Kurasa sama seperti cermin ajaib di gudang paman Aron yang bisa memanipulasi kondisi yang sebenarnya menjadi tak terlihat dan terlihat hanya dnegan pancaran cermin. Bagaimana caraku mengetahui apa yang telah terjadi?' pikir Chris. Jika dia berhasil mengetahuinya, maka sudha dipastikan ada sangkut-pautnya dengan misi yang dia cari. Chris mengembalikan pedang Armei sambil menggeleng. "Aku harus menemukan sesuatu yang lebih penting dari belati," sorot matanya menjadi redup. "Jangan memaksakan dirimu. Tidak perlu terburu-buru." Armei menyimpan pedangnya. "Bibi, menurutmu siapa yang mengetahui seluk beluk dunia ini? Seperti riwayat sejarah misalnya," tanya Chris lagi. "Apa? Untuk apa bertanya seperti itu?" Armei mengendikkan bahu. "Kurasa dengan begitu bisa menambah wawasanku," alasan Chris. 'Sepertinya tdiak bisa kutemukan lewat cacatan riwayat dunia bayangan. Harus pakai cara lain,' kata Chris dalam hati. "Aku tidak tau dan tak mau tau." Armei memalingkan wajahnya membuat Chris mendesah. "Dunia kali an begutu rumit lebih rumit dari pertandingan final bela diri. Mematikan pula," sindir Chris dan itu hanya bisa membuat Armei terkekeh. "Langit yang lumayan gelap. Menyenangkan sekali," gumam Armei saat beralih memandang langit. Lain dengan Chris yang kembali mengamati belati yang tersenta di pinggangnya. 'Aku tidak tau apa yang harus kulakukan denganmu, belati. Kau dipenuhi aura kegelapan. Aku juga bingung kenapa bisa mengendalikanmu, tetapi tenang saja. Suatu hari nanti pasti ada sesuatu yang akan kau lakukan dengan amat berguna,' batin Chris. Beberapa jam berlalu, Laura kembali sambil membawa sebuah kotak. Lari mendekati Chris dan Armei dengan wajah ceria. Chris menepuk dahinya dan mengihindar dari Laura karena tahu isi kotak itu pasti semua barang curian. Dia tak mau mengoceh banyak malam ini hanya untuk mengomentari perbuatan Laura. Namun, Laura terus mengejarnya dan menunjukkan hasil kerjanya. "Ya Tuhan, gadis itu terus saja menggangguku. Tolong jauhkanlah dia dariku!" keluh Chris sembari mengitari rumah. Laura tak menyerah untuk mengejarnya. Kakinya yang terluka tak menjadi rintangan. Sungguh gadis pencuri yang keras kepala. ~~~ Usai sudah acara penyembuhan diri yang melewati hari dengan terlalu bersantai. Saatnya kuat dari desa senyap itu dengan persediaan berupa obat. Tabib wanita tua tidak keberatan dengan koergian mereka dan justru membuatkan obat terakhir yang harus mereka minum. Jalan keluar desa adalah lurus ke arah utara. Melewati pasar lagi dan membeli beberapa pakaian baru. Tentu saja dengan uang hasil curian Laura. Kali ini Chris pasrah tak bisa mengelaknya. Mendadak dirinya serupa dengan Pangeran setelah mengenakan pakaian baru. Tidak menduga jika setelah keluar dari desa itu, mereka langsung terhubung dengan pemukiman. Tempat yang ramai dan sama seperti desa pada umumnya. Melihat keramaian itu bagaikan cahaya dan udara segar yang meresap ke tubuh Chris juga lainnya. Rasanya hidup kembali setelah terkubur beberapa hari. "Akhirnya lepas juga dari desa senyap itu. Berkumpul dengan orang-orang normal memang yang terbaik!" Chris mengepalkan tangan meninju udara dan berseru lantang. "Yeyy, orang normal! Saatnya beraksi lagi!" Laura sudah lepas kendali dan hendak mencuri. "Eits, kau tidak bisa lari kemana-mana lagi hari ini. Tetap di dekatku! Dasar maniak harta!" Chris menahan kerah pakaian Laura membuat Laura hanya berlari di tempat. Mereka menjadi perhatian beberapa orang walaupun tengah berada di keramaian. "Huaaa, lepaskan aku! Aku tidak sabar ingin berpetualang!" Laura meronta. "Petualanganmu merugikan banyak orang, Payah! Dengarkan aku dan tetap diam di sini!" Chris tak melepaskan Laura. "Huh, dasar menyebalkan!" Laura pun berhenti lari di tempat. Menyilangkan tangannya di dadaa. "Berisik!" maki Chris lagi dan Laura hanya berdecak. "Wah, apa yang sedang mereka kerjakan? Kenapa ramai dan sibuk sekali?" Armei mengamati sekeliling. "Yang jelas mereka tidak mengekang orang lain seperti dia." Laura melirik Chris. "Diam kau! Bibi, pegang kucing pencuri ini." Chris menyerahkan Laura begitu saja sampai Laura berjalan mundur beberapa langkah sampai menabrak Armei. "Hei, kurang ajar kau, Chris! Kutendang kau setelah ini! Bibi, lepaskan aku! Kenapa kau bekerja sama dengannya?" Laura meronta lagi karena ditahan Armei. "Yahh, baik! Mari kita lihat apa yang ada di sini!" Chris mendekati salah satu rumah warga dengan senang hati. Di sana ada lima orang yang sedang mengerjakan sesuatu secara bersamaan. Mereka nampak gembira dan tidak peduli kelelahan. Dengan senyum lima jari Chris menghampiri mereka. "Selamat pagi semuanya. Bolehkah aku mengganggu? Aku dari ... eh-eh, ada apa ini?" Mulanya Chris sangat bersemangat dan ramah, tetapi bekum sempat menyelesaikan maksudnya dua gadis dari keluarga itu menyerbunya sambil berteriak. Chris terbelalak sontak ingin mundur. Sayangnya tangannya berhasil ditarik masuk oleh kedua gadis itu. "Aaaaa, tampan sekali! Kau siapa? Apa mencariku? Aaaa, ada yang mau melamarku!" "Tidak, dia ingin menemuiku! Hehe, kau ini malaikat atau apa? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Silahkan masuk, jangan malu-malu. Maaf, kami sedabg sibuk, haha." Dua gadis itu saling menjatuhkan sekaligus menarik Chris bersamaan. Memaksa Chris untuk masuk ke rumahnya. "Eh, bukan begitu. Aku hanya...," lagi dan lagi ucapan pembelaan diri Chris dipotong begitu saja. "Ah, ada tamu, ya? Silahkan masuk! Jangan malu-malu, ya. Maaf, Kamis ednag repot hari ini, tapi tidak apa-apa. Mau minum sari buah? Tunggu sebebtar, akan kubuatkan." Sepertinya Nyonya pemilik rumah itu pun salah paham dengan Chris. Mata Chris semkain melebar. "Bukan begitu, Nyonya. Aku hanya ingin bertanya. Tolong, jangan salah paham." Chris masih ramah sembari mencoba melepaskan diri. Semua anggota keluarga itu pun berdiri dan menyapa Chris. "Hei, bagaimana bisa kau kebih tampan dariku? Otot ini asli atau palsu? Boleh kulihat?" saudara laki-laki dari kedua gadis yang masih bergelantungan di lengan Chris saling memperebutkan Chris itu pun mengamati lengan Kokok Chris. "Wah, kau punya punggung yang bagus! Kuat sekali! Aku iri sekali!" beralih menepuk-nepuk punggung Chris sampai Chris sedikit terbatuk. "Hahaha, maaf, mereka sejua terlalu antusias. Hei, jangan ganggu tamu kita. Duduklah, Tuan muda." Tuan pemilik rumah yang memiliki kumis panjang itu mempersilakan Chris untuk duduk di kursi panjang teras rumahnya. "Tu-Tuan muda? Maaf, kalian salah sangka. Aku bukan Tuan muda." Chris menggeleng cepat sambil berusaha menyilangkan tangannya. 'Aduh, kenapa jadi begini? Tempat apa ini? Bibi Armei, Laura, tolong aku! Kenapa mereka diam saja?' gerutu Chris dalam hati. Dua gadis itu memaksa Chris untuk duduk dan mengapitnya di kanan-kiri. 'Astaga, aku tidak bisa bergerak bebas,' keluh Chris tak henti-hentinya di dalam hati. "Itu karena kau terlihat seperti Tuan muda. Anak-anak, lepaskan dia," titah pemilik rumah yang nampak disegani walau senyumnya sehangat mentari. Dengan wajah lesu dan tidak terima kedua gadis itu melepaskan Chris membuat Chris sedikit lega. "Nah, sekarang apa maksud kedatanganmu? Haha, mereka terlalu bersemangat." paman itu menggaruk kepala belakangnya. Chris tersenyum kaku menjawabnya. Sudut bibir Laura berkedut. Mata ya melebar bersamaan Armei yang menahan kekehannya. "Apa yang mereka lakukan? Mereka brutal sekali," gumam Laura seperti mencicit. "Menyenangkan bukan memiliki paras setampan Pangeran impian," sahut Armei. Laura menggeleng sadar, "Ck! Dia hanya beruntung saja. Lihat dia, Bibi. Diapit dua gadis dan dipuji tampan justru kesenangan, 'kan? Kalau bersama kita saja dia suka marah-marah." "Kenapa? Kau terganggu?" jahil Armei. "Hahaha, tidak sama sekali. Ayo kita hampiri dia. Kalau tidak akan dipaksa yang bukan-bukan sama keluarga mengerikan itu." beralih Laura yang menarik Armei untuk menyusul Chris. "Mengerikan? Aku rasa mereka menyenangkan." Armei justru tertarik. Dalam sekejap Armei dan Laura tiba dan menarik perhatian mereka semua termasuk Chris. Sungguh raut yang tidak sedap di wajah Laura membuat Chris ingin muntah. 'Ekspresi macam apa itu? Dasar bodoh! Dia seperti banteng yang mau mengamuk!' batin Chris. Lain dengan Armei yang tersenyum dan memberi sapaan ramah. "Ah, ada tamu lagi? Wah, hari ini ramai sekali, ya, haha." nyonya pemilik rumah datang membawa minuman yang disebutnya sari buah. Dalam hati Chris protes jika minuman itu adalah jus. Lebih tepatnya jus jeruk. Sebelum mereka bicara yang bukan-bukan, Chris terlebih dahulu lari ke arah Laura dan Armei berhubung dua gadis itu lengah. "Eh, kenapa lari?" pekik mereka bersamaan setelah menyadarinya. "Haha, maafkan kami. Kami adalah pengembara dan dua orang ini temanku. Tuan, Nyonya, aku hanya ingin bertanya. Kalian telah salah sangka," dengan cepat Chris menjelaskan sampai membuat mereka berkedip bodoh. "Apa yang kau bicarakan? Kami tau maksudmu," kata laki-laki muda seumuran Chris yang mengganggu sebelumnya. "Ha?" Chris mengerutkan dahi. Armei dan Laura saling pandang. "Ahahaha, orang yang lucu! Tuan muda, di sini kami menyambut semua tamu dengan ceria. Rawan sekali kesedihan ada di desa ini. Meskipun ada yang tidak menyenangkan ataupun kabar buruk pasti akan kami lewati dengan tersenyum. Jadi tidak perlu bingung kenapa kami terlalu ramai karena desa ini memang desa yang penuh kebahagiaan, hahaha. Ayo tertawa saja, jangan ragu. Kita semua keluarga," jawab nyonya itu membuat Chris dan yang lainnya semakin bingung. "Apa? Ada desa seperti ini?" gumam Chris tak percaya. "Haish, sudahlah masuk saja. Kau dari mana dan mau bertanya apa? Akan kujawab semuanya!" laki-laki itu memeluk dadanya sembari menarik Chris dan membuatnya duduk lagi di tengah-tengah mereka. Armei dan Laura pun masuk masih dengan wajah bingung. Nyonya itu memberikan minumannya pada semua orang. Armei dan Laura hanya megangnya saja. "Apa kau mengenal desa ini?" tanya Armei berbisik pada Laura. "Tidak, aku tidak pernah sampai sejauh ini," Laura menggeleng sambil berbisik. "Kami sedang membuat perabotan rumah untuk dijual. Semua kayu yang berserakan ini adalah milik kami. Jika kalian bingung mengapa semua orang juga sibuk, itu karena mereka juga melakukan hal yang sama dengan kami. Jika barangnya sudah jadi, kami akan menjualnya bersama-sama di pasar tiap desa. Begitulah cara kami bekerja. Sungguh kekompakan yang hebat, bukan? Hahaha!" jelas nyonya itu lagi setelah duduk. Chris terkejut karena mereka mengerti surat wajahnya. Lalu, Chris tertawa pelan dan mengutarakan maksudnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD