Tenang, cerah, di mana tidak ada kegaduhan yang merusak desa, inilah tempat ternyaman untuk istirahat. Desa yang begitu senyap. Hanya ada senyum dan sedikit bicara dari setiap penduduknya. Chris berhasil menemukan kediaman tabib desa yang terletak di tengah-tengah desa. Anehnya semua orang bekerja layaknya berusaha keras. Mungkin tabiat mereka memang diam. Tak mau mengambil banyak suara yang bising layaknya desa pada umumnya. Setidaknya sekarang dia bisa menghembuskan napas lega.
Duduk di tepian ranjang kayu yang besar di mana Laura dan Armei terbaring di sana. Keduanya sedang tidur. Semua luka telah diobati begitu juga dengan luka Chris. Tabib wanita itu masih berkutat di dapur tengah membuat sesuatu. Chris terjaga tidak bisa tidur meskipun tabib itu menyarankannya tidur. Itu bisa mempercepat pemulihan.
Awalnya Chris heran mengapa tabib tersebut tidak bertanya tentang asal-usul luka yang mereka dapat. Bahkan identitas mereka tidak ditanyakan. Chris menjadi berpikir jika penduduk desa ini memang tidak suka mencampuri urusan orang lain.
"Setidaknya mereka orang baik. Huft, kepalaku terasa mau pecah." desah Chris tak berbohong. Memikirkan semua yang terjadi membuatnya jauh lebih pusing dari pada waktu sakit. Dia memegang kepalanya sambil menunduk menutup mata.
Suara dentingan sesuatu dari dapur membuat Chris membuka matanya lagi. Lalu, pergi menghampiri sang tabib. Dapur itu sangat sederhana bahkan Chris merasa berada di pedalaman desa dunia nyata.
'Apa kota Vier juga punya desa dan rumah kecil seperti ini? Kurasa hanya ada gedung-gedung tinggi dan rumah-rumah kecil yang terpojok di kerasnya gedung kota,' batin Chris.
"Salah satu rumah kecil itu adalah rumahku," sambung Chris dengan mengatakannya membuat perhatian sang tabib teralihkan.
"Kau masih tidak tidur, anak muda?" tabib itu berdiri membawa cawan bambu yang mengeluarkan aroma obat tradisional.
Chris tersentak, kedua alisnya terangkat, "Ah, aku tidak bisa tidur. Tabib, butuh berapa lama agar kami pulih sepenuhnya?"
Pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Chris tanyakan. Dia hanya sekadar basa-basi. Pandangan Chris mengikuti kemanapun dan apapun yang tabib itu lakukan.
"Lusa," jawab tabib tersebut sembari meletakkan cawan bambu ke meja yang penuh dengan bahan obat.
Chris sedikit mengukir senyum, "Oh, begitu."
Tabib itu meliriknya, "Jika kau terburu-buru setidaknya pergi sendiri dan tinggalkan dua wanitamu."
Dahi Chris berkerut, "Tidak. Lagipula aku tidak akan meninggalkan mereka."
"Begitu, ya?" tabib itu menimpalinya sederhana membuat Chris semakin tersenyum lebar.
'Memang nenek yang hebat dan pengertian,' nilai Chris dalam hati.
"Ah, aku baru ingat. Ada yang harus ku beli untuk bekal perjalanan. Bisakah kau tunjukkan di mana pasarnya?" Chris meminta dengan sopan.
"Ambil jalan ke utara, di sanalah pasarnya." tabib itu menunjuk arah utara.
Chris mengangguk, "Terima kasih banyak. Tolong, jaga teman-temanku sebentar." menunduk sopan dan tabib tersebut pun mengiyakannya.
Chris segera pergi tepat mengarah ke utara. Dari kejauhan sudah terlihat pasar membuat Chris berjalan teramat sangat. Memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan mengamati perilaku penduduk desa. Tidak ada yang curiga dan memandangnya heran.
'Kenapa mereka snagat berbeda? Oh, mungkin sudah terbiasa dengan orang asing. Semua gadis di sini juga tidak melirikku barang sekali. Hmm, bagus. Aku bisa tenang di sini,' batin Chris berpikir positif.
Sayangnya kanan-kiri terasa membosankan dan membingungkan. Setibanya dia di pasar, Chris tidak membeli apapun. Transaksi dan interaksi yang aneh antara penjual dan pembeli. Dari sudut pandang Chris, pasar di depannya bukanlah pasar namanya. Tidak ada keramaian dan protes untuk berebut harga juga barang.
"Aku beli satu potong daging," ujar salah satu pembeli. Mata Chris tidak sengaja jatuh ke pedagang daging. Penjual dagingnya tidak menjawab, melainkan melayani keinginan pembeli. Setelah uang dan daging itu ditukar, pembelinya pergi begitu saja.
"Ha? Kehidupan yang sederhana sekali," gumam Chris seiring kaki melangkah.
Dia terkejut melihat ada yang menjual senjata kecil. Chris tertarik pergi ke sana. Senyum ramah terpancar dan dibalas oleh penjual senjata itu.
"Hai, Tuan. Apa yang kau jual?" tanya Chris sekadar basa-basi.
"Hanya besi yang sudah berkarat," jawab penjual itu.
"Ahaha, sungguh? Besinya ditempa dengan baik." Chris mengambil salah satu belati yang memiliki ukiran unik. Dia bermain dengan sindiran penjual di depannya.
"Mata yang cukup jeli. Itu satu-satunya belati yang mengandung unsur kegelapan. Jika berada di tangan yang salah maka bisa membuat penggunanya celaka," jelas sang penjual.
"Wah, menarik! Berapa harganya?" Chris meneliti belati itu.
"Seratus koin."
Chris menatap sang penjual, "Apa bisnismu lancar?"
Bukannya menawar atau tertarik membeli, Chris justru mengajaknya bicara lebih banyak.
"Lumayan," jawaban singkat yang sudah diduga Chris.
"Aku seorang pengembara yang tidak punya uang. Meskipun begitu aku suka dengan belati ini. Dia kecil, tetapi berkualitas tinggi. Siapapun yang mendapatkannya pasti orang beruntung. Tentu saja jika bisa mengendalikannya. Ah, aneka jenis pedang, ya? Boleh aku lihat?" Chris meletakkan belati tersebut dan berganti pada jajaran pedang besi.
"Jika tidak punya uang, maka tak perlu membeli senjata," kata pedagangnya.
Chris tertawa kecil, "Iya, itu benar. Maaf mengganggu." menggaruk tengkuknya bodoh. Dia hendak pergi dan sudah berbalik badan, tetapi penjual senjata itu mencegahnya, "Kau pengembara?"
Chris melirik dan masih tersenyum. Dia mengangguk sebagai jawaban.
"Bisa kulihat kalungmu?" kata pedagang itu lagi yang berhasil membuat dahi Chris berkerut.
"Maaf, tidak bisa." Chris kembali menatap lurus ke hadapan dan melangkahkan kaki dari tempat itu. Ternyata penjualannya tidak menghentikan Chris lagi.
'Ada apa dengannya? Apa mengetahui kalung ini?' pikir Chris.
Chris melirik tempat penjual senjata itu. Tidak sadar seseorang telah menahan jalannya hingga membuat Chris hampir menabrak orang itu. Dia terkejut ternyata orang itu adalah sang penjual senjata.
'Sejak kapan dia ada di sini? Apa jangan-jangan mengikutiku?' pikir Chris.
Penjual senjata itu membawa belati yang Chris pegang sebelumnya.
"Jangan terkejut, anak muda. Ambillah, sepertinya kau membutuhkan belati ini." menyerahkan belati itu pada Chris secara cuma-cuma.
"Apa?" Chris terkejut. "Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak membutuhkannya," tolak Chris sopan walau dahinya masih berkerut tipis.
"Aku tidak menerima bayaran dan penolakan. Kurasa kau bisa mengendalikan belati hitam ini." dengan lancang penjual itu menyematkan belati yang tertutup sarungnya itu pada pinggang Chris. Kemudian, dia pergi sebelum Chris berkata-kata.
"Hei, Tuan, kau tidak bisa seenaknya memberikan ini padaku. Aku tidak mau menerimanya!" seru Chris. Suaranya bahkan yang paling lantang di pasar itu. Mencabut belati itu dan ingin mengembalikan belatinya, tetapi ketika dia berbalik, penjual senjata itu justru menutup tokonya.
"Hei, hei, kau tidak bisa seperti ini. Terima kembali belatimu!" Chris segera berlari sebelum toko itu tutup sayangnya kakinya kalah cepat dengan keterampilan menutup toko penjual senjata itu. Percuma saja Chris telah tiba di depan toko tersebut. Napasnya terengah dan usahanya sia-sia. Memandang kembali belati itu baik-baik. Di balik sarung yang memiliki ukiran sama dengan belatinya, Chris bisa merasakan aura kekuatan hebat dan berbahaya dari benda tajam itu. Sayangnya, Chris merasa tidak berhak menerimanya.
"Kenapa orang itu memberikannya padaku? Jika dia tidak mau bisa dibuang saja, 'kan?" gumam Chris.
Karena tidak memiliki alasan lain akhirnya Chris menerimanya. Jujur saja, yang Chris inginkan bukanlah belati yang mirip pisau baginya, melainkan pedang dengan kekuatan dahsyat yang bisa mengalahkan pedang Armei Ziacu. Belati kecil itu tersemat di pinggang Chris. Seiring berjalannya waktu dan pasar itu mulai ditutup, Chris berhasil memutari jalan utara hingga kembali ke rumah tabib wanita tua. Keadaan yang sama di setiap sudutnya yaitu hambar bagai makanan tiada rasa. Chris hanya bisa menikmati pemandangannya saja dengan pasrah.
Tidak menyangka jika dua temannya telah bangun membuat senyum Chris bangkit lagi. Mereka jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Chris, akhirnya kau datang! Dari mana saja? Aku pikir kau meninggalkan kami tadi!" Laura memekik spontan dan menghampiri Chris yang masih berada di ambang pintu. Matanya berbinar dan senyum senang terpancar lantaran melihat Chris kembali.
Tentu saja hal itu membuat napas Chris tercekat. Dia mengunci pandangan mereka seakan Chris mencoba memastikan jika benar-benar Laura yang ada di depannya.
Armei pun tertawa pelan, "Yahh, dia si gadis pencuri yang merepotkan. Ngomong-ngomong kau dari mana? Lama sekali perginya."
"A-apa? Aku tidak salah dengar? Kau ... kau bicara lagi padaku?!" Chris mendorong Laura pelan lalu menunjuknya heboh. Laura ternganga sambil memegang lengannya yang didorong Chris pelan.
"Kau ini apa-apaan?! Sakit tau!" Laura menepis telunjuk Chris yang menunjuknya kasar.
Chris mengerjap bodoh, "Kau benar Laura, 'kan? Kerasukan apa kau sampai mau mengajakku bicara lagi, hah?!" melototi Laura dari atas sampai bawah.
"Tidak sopan! Dikhawatirkan justru menghinaku. Aku tidak mau lagi bicara padamu." Laura melengos.
"Eh-eh, apa-apaan kau ini?! Sudah baikan jangan marah lagi. Lebih baik kau pingsan saja dan jangan bangun kalau setelah bangun hanya membuat keributan denganku." Chris melipat tangannya di dadaa.
"Apa kau bilang?!" Laura tak terima. Dia berbalik membalas pelototan tajam Chris.
Armei hanya mentertawakan mereka. Lalu, kedatangan sang tabib membuat Armei membantunya.
"Apa ini obat untuk kami? Biar aku saja yang membawanya."
Tabib itu menyerahkan nampan berisi cawan bambu yang mengeluarkan aroma pahit nan menyengat pada Armei. Kemudian, Armei membawanya ke ranjang kayu.
"Anak muda, apa yang kau bawa bukan sesuatu yang bagus," tiba-tiba tabib itu membicarakan belati yang bahkan belum Chris tunjukkan.
Sontak Chris dan Laura menjauhkan diri masing-masing.
"Bagaimana kau tau?" tanya Chris memandang heran sang tabib.
"Aku belajar pengobatan. Segala macam penyakit dan luka yang diakibatkan oleh senjata aku juga mengetahuinya," jawab tabib itu jujur.
Terlihat masuk akal di benak Chris, akhirnya dia menunjukkan belati itu membuat Armei dan Laura menganga terkejut.
"Wah, apa itu? Kau dapat dari mana?" Laura menunjuk belati yang ada di tangan kanan Chris. Armei pun mendekat. Seketika dahinya berkerut. "Chris, itu bukan senjata kecil biasa," kata Armei.
Benarkah? Tapi terlihat biasa-biasa saja menurutku," Laura heran memandang Armei. Kini dia sudah banyak berubah. Mungkin efek dari istirahat yang cukup membuat suasana hatinya berubah nyaman.
"Aku mendapatkannya dari penjual belati ini. Padahal aku tidak berniat membelinya, dia memberikan ini tanpa imbalan dan alasan." jelas Chris pelan. Sorotan matanya mengarah pada belati itu.
"Ha? Bagaimana bisa begitu? Baik sekali dia," gumam Laura memuji sang penjual senjata.
"Begitu rupanya. Belati yang tak terlalu tajam, melainkan mengandung unsur kegelapan yang bahkan bisa merenggut nyawa sang pengguna jika kau tidak mengendalikannya dengan benar. Berhati-hatilah. Namun, jika penjualnya sendiri yang memberikannya padamu, mungkin kau memang orang yang tepat untuk memiliki belati itu," terang sang tabib.
Baik Chris maupun Laura memandang tabib itu penuh ketidakpastian. Berbeda dengan Armei yang terus mengamati belati itu.
"Apa kau sudah mencobanya?" tanya Armei menarik perhatian mereka.
"Belum. Apa yang harus kupotong? Tidak ada yang menarik di sini," jujur Chris. Mengendikkan bahu ketika Armei mengambil belati itu. Lalu, Chris kembali memandang Laura. "Hei, pencuri. Kemari biar kulihat lukamu. Apa kau benar-benar sudah sembuh? Kurasa otakmu yang masih tidak beres," berubah kesal dengan senyuman.
Laura mengerjap dan menoleh pada Chris, "Enak saja, tidak mau! Otakmu itu yang bermasalah."
"Ck, kemari saja!" Chris menarik Laura paksa dan mengajaknya duduk di ranjang kayu.
"Aw, jangan tarik tanganku! Hoeekk, baunya menyengat sekali. Aku tidak mau minum obat itu lagi." Laura mengapit hidungnya dengan dua jari.
Chris menghela napas panjang. Memandang sekujur tubuh Laura dengan ragu apalagi perut kecil itu yang telah dia pukul terlalu keras.
"Kau ... sudah tidak marah, ya? Benar tidak marah?" Chris bahkan meneleng was-was. Jawaban Laura cukup mengerikan baginya, takut jika tebakannya salah. Mungkin saja Laura sedang memainkan sesuatu semacam trik untuk menyudutkannya dalam rasa bersalah lagi.
Laura mengerucutkan bibirnya dan tidak menjepit hidung lagi, "Kalau iya memangnya kenapa? Kau lebih suka kalau aku marah padamu?" sulutnya terlalu terbawa emosi walaupun emosi marah sesaat itu sudah reda.
Chris tersentak dalam hati, tetapi terlihat jelas dari ekspresinya, "Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Kenapa bisa berubah pikiran terlaku cepat? Sengaja mempermainkanku, ya?" menyentil dahi Laura membuat Laura meringis.
"Hampir seluruh tubuh kita terbalut perban sekarang. Tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan. Tidak ada gunanya juga untuk terus diam." Laura menunjukkan perban yang membalut kedua tangannya bahkan untuk menggenggam saja dia kesulitan.
Chris tersenyum miring, "Kau yang paling banyak diperban. Dasar keras kepala. Tidka kusangka otakmu cerdas juga." menyentil dahi Laura lagi.
"Aw, berhenti memukulku, Chris. Tidak sakit tau!" Laura melengos dan itu terlihat lucu di mata Chris. Chris berdeham menyiapkan mental sebelum bicara. "Aku minta maaf. Sebagai lelaki sejati, aku tau telah menyakiti hati dan fisikmu, jadi aku mengharapkan maaf darimu. Di duniaku tidak mengajarkan laki-laki untuk menyerang perempuan yang bukan tandingannya. Kau mengeri maksudku, 'kan?"
Suara tenang seluruh angin yang berbisik melewati lintas telinga Laura begitu menggetarkan seluruh euforia di dekatnya. Senyum Chris membuat Laura tenang. Dia terpaku memandang Chris.
'Tidak kusangka si sombong ini meminta maaf. Meski kuakui dia tidak sombong. Aku hanya bermain-main saja dengannya dan dia memasukkannya dalam hati dan merasa sangat bersalah,' Laura kagum dalam hati.
Laura berdeham setelah diam cukup lama membiarkan Chris menunggu dengan gelisah, "Ahaha, kita lupakan saja. Bisa keluar dari labirin itu sudah lega. Bagaimana kalau kita menjadi teman baik? Kau mau berteman denganku?" mengulurkan tangan tanpa ragu. Seperti biasa, wajah ceria Laura sudah muncul sekarang. Bagaikan sinar mentari yang memaksa Chris untuk ikut tersenyum lebar sampai deretan giginya terlihat.
"Berteman dengan pencuri cerdik? Haha, tidak buruk juga." dengan mantap Chris menjabat tangan Laura. Keduanya tertawa dan menghilangkan kesalahpahaman.
"Terima kasih sudah banyak membantu. Kita tidak akan keluar dari sana jika bukan karena jasamu," kata Chris setelah melepaskan jabatan tangannya dengan Laura.
"Hehh, itu tidak masalah, Kawan. Aku justru mengkhawatirkanmu sekarang. Apa harga dirimu tidak jatuh setelah merasa bersalah padaku, ha?" goda Laura dengan menaik-turunkan alisnya.
Chris berdecak dan memalingkan wajah, "Itu tidak mungkin terjadi karena dengan minta maaf dan menyadari kesalahan itu justru menunjukkan jika aku berani. Jati diri laki-laki tidak akan hancur karena itu dan akan semakin hebat."
"Oh, ya? Kepercayaan dirimu masih saja tinggi." Laura berdecak kesal.
"Aku akan jauh lebih hebat nantinya." Chris menatap kedua telapak tangannya.
"Hmm?" Laura meneleng ikut menatap tangan Chris.
Tiba-tiba terdengar suara tebasan yang luar biasa dari luar rumah. Chris dan Laura tersentak. Tidak sadar jika Armei dan tabib itu sudah tidak ada di depan mereka. Segera mungkin Chris dan Laura keluar rumah. Ternyata Armei tengah mencoba belati itu yang berubah hitam. Sebuah pohon tanpa buah tumbang membekas sayatan bagai pedang yang memotongnya menjadi dua. Namun, pedang Armei masih tersimpan di pinggangnya rapi. Itu berarti belati itulah yang melakukannya. Chris dan Laura ternganga. Tabib itu hanya memandang dengan wajah datar.
"Bibi, apa yang terjadi? Kau memotong pohon serapi itu dengan belati? Bagaimana bisa?" Chris menunjuk sana-sini bingung.
Napas Armei terengah, "Chris, sulit sekali mengendalikannya."
Bicaranya pun tertatih seolah mengerahkan banyak tenaga untuk menghentikan belati itu. Tangan Armei bergetar karena kesulitan menahan kuatnya aura kegelapan dari belati. Chris dan Laura tak henti-hentinya ternganga.
"Cepat kendalikan sebisamu, jika tidak belati itu menuntut lebih untuk melakukan sesuatu. Jika kau memang tak bisa mengendalikannya, bisa saja belati itu menusukmu hingga dia berubah menjadi belati biasa lagi," ujar sang tabib tanpa ekspresi.
"Hah?! Bibi Armei, cepat lakukan! Kau ahli pedang, 'kan? Ini mudah bagimu, ayo! Aku tidak mau kau ditusuk pisau kecil!" Laura panik sampai melompat-lompat kecil.
Chris menoleh ke Laura, "Dasar kau malah menghasutnya yang bukan-bukan! Bibi, serahkan padaku!" Chris mengangguk mengulurkan tangannya pada Armei.
Armei menatap Chris saja kesulitan. Seluruh fokusnya telah terarah pada belati itu.
"Susah, Chris," mengatakannya saja sangat berat.
Tidak ada pilihan lain bagi Chris selain menariknya paksa. Laura memekik sampai menutup mulutnya karena Chris berhasil mencabut belati itu begitu saja. Sangat mudah sampai tak bisa dinalar. Bagaimana bisa? Armei terpental mundur beberapa langkah. Belatinya masih berwarna hitam walau sudah berada di tangan Chris. Dia bisa merasakan auranya yang penuh dengan ambisi jahat yaitu memotong dan memotong tanpa peduli apa yang dia potong. Namun, Chris bisa menggerakkan tangannya dengan mudah seperti belati itu hanya belati biasa.
"Hei, ini tidak buruk." Chris terus mengayunkan belati itu.
"Huaaaa! Bagaimana bisa kau menggerakkannya?!" Laura histeris menarik telinga.
"Entahlah. Bibi, kenapa kau seperti kesulitan tadi?" Chris meneleng pada Armei.
Armei tidak bisa berkata-kata. Dia pun menggeleng.
"Caramu cukup unik. Tenaga yang begitu besar, anak muda. Kalau begitu belatinya memang milikmu. Gunakanlah sebaik mungkin. Jika kau menggunakannya dengan baik, kurasa akan berefek pada belati itu yang tidak akan menjadi senjata kegelapan lagi," terang sang tabib.
Chris mendesis seraya mendekati tabib itu, "Kenapa aku merasa kau tau banyak tentang semua hal. Kalau begitu, apa kau juga tau tentang kalung ini?" melirik kalung batu giok yang bergelantungan bebas di lehernya.
Tanpa ragu tabib itu menggeleng.
"Bohong. Aku bisa lihat dari wajahmu." Chris menunjuk kedua bola mata snag tabib. "Tidak apa-apa kalau tidak mau mengatakannya. Aku juga tidak memaksa," sambung Chris.
"Sebaiknya pulihkan dulu tenaga kalian. Minumlah obatnya." kata sang tabib lalu masuk ke rumahnya.
Chris, Laura dan Armei menatapnya hingga menghilang dari balik pintu.
"Dia wanita tua yang aneh. Pohonnya dirobohkan dia tidak marah sama sekali," gumam Laura masih memandang pintu rumah.
"Chris, bagaimana caramu mengendalikannya?" Armei mendekati Chris.
"Hmm? Yahh, hanya mencengkeramnya saja. Untung tanganku tidak tergores, ya. Tapi ini masih hitam. Bagaimana?" Chris memandang belati dan Armei bergantian.
"Mustahil! Aku yang pengguna pedang tidak bisa mengendalikan besi kecil ini. Kenapa kau bisa?" Armei masih serius.
"Mana aku tau? Aku tidak mau ini. Kau ambil saja." dengan bodohnya Chris menyerahkan belati itu pada Armei dan Armei langsung menggeleng tidak mau merasakan aura belati itu lagi.
"Kalau begitu kau saja." Chris beralih menyerahkannya pada Laura.
"Ha?! Kau gila, ya?! Aku mana bisa?!" Laura memekik.
Lalu, Chris mendesah pasrah menerima senjata kecil itu. Siapa tahu bisa berguna di lain waktu. Chris mencengkeramnya lebih erat, seketika belatinya kembali seperti semula. Aura hitam sudah menghilang. Tinggal bekas sayatan yang nampak mustahil di pohon tumbang itu yang masih menjadi pertanyaan.