Duduk di tempat yang sama. Saling berhadapan dengan pedang yang sudah tertutup sarungnya berada di tengah-tengah mereka. Chris membiarkan Armei memegang handphone dan selembar uang kertas miliknya. Armei menelitinya sampai berpikir itu adalah benda berbahaya semacam peledak yang berbeda bentuk. Chris menahan tawa, karena jika dia tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohan Armei pasti pedang itu akan haus darah.
"Sudah-sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kau tidak akan mengerti meskipun kujelaskan berkali-kali. Kembalikan." Chris meminta barangnya, tetapi Armei tidak memberikannya.
"Ini akan jadi milikku. Mereka sangat penting bagimu bukan? Kalau begitu anggap saja dua benda ini aku sandera agar kau tidak berani macam-macam." Armei memasukkannya dalam kantung kecil yang terikat di pinggangnya.
"Apa?! Tidak bisa begitu, kembalikan! Itu milikku! Kau sama menyebalkannya dengan paman Aron! Kembalikan tau!" Chris berusaha merebut kantung itu. Armei memukul kepala Chris sampai Chris terjatuh mencium pasir.
"Aduh! Sakit sekali! Ini kekerasan!" seruannya justru membuat Armei memukul kepalanya lagi. "A-aduh, kepalaku...," Chris tidak bisa bergerak.
"Diam kau, Bocah! Dengan tubuh sekuat itu kau tidak mungkin mudah merasa sakit," Armei acuh.
Chris kembali duduk lalu berdeham, "Oh, kau mengerti, ya? Baiklah, dengarkan aku baik-baik." dia mulai serius.
"Jelaskan," pinta Armei.
"Aku tidak yakin apakah kau orang bisa dipercaya, tapi karena hanya kau satu-satunya orang di gurun ini jadi aku mengatakannya padamu. Orang yang kau cari bernama Aron Gronn itu aku mengenalnya. Dia memberiku kalung ini dan juga ... misi yang hilang." tajamnya mata Chris ketika mengatakan misi membuat Armei terbelalak.
"Misi ... yang hilang?" ucap Armei terbata-bata.
Chris mengangguk, "Benar! Itu adalah sebuah misi yang bahkan tidak dia ketahui. Paman Aron bilang dia kehilangan ingatannya setelah keluar dari dunia bayangan dan jatuh di duniaku. Dunia nyata di mana terdapat benda-benda ajaib yang dinamakan teknologi, contohnya handphone yang sekarang kau kantongi. Tepatnya berada di kota Vier, kota tua yang penuh keajaiban. Aku baru percaya setelah paman Aron mengatakannya dan tiba langsung di sini. Jarak dua puluh tahun yang kau katakan sama persis seperti yang paman Aron katakan. Dia sudah meninggalkan dunia kalian dua puluh tahun lamanya. Bisa dibilang ini tidak masuk akal dan aku memang menyangkalnya sebelumnya, tetapi ini nyata. Barang-barang miliknya yang digunakan untuk menjalankan misi masih utuh di duniaku. Itu sebabnya menjadi bukti jika aku juga bisa datang ke sini. Sayangnya paman Aron tidak bisa kembali. Seperti harus ada orang yang membuka jalannya agar bisa masuk ke dunia bayangan dan dia memilih aku. Bibi, kau percaya atau tidak yang jelas aku ke sini karena keinginannya sekaligus ambisiku untuk menciptakan pengalaman baru. Aku harus melanjutkan dan menemukan misi itu!"
Pernyataan yang begitu menggemparkan perasaan Armei. Dadanya bergemuruh ketika mendengar misi yang hilang. Tidak ada kebohongan sama sekali di raut wajah Chris. Lelaki itu sangat serius melebihi keseriusannya. Dengan tangan gemetar Armei membuka ikat pinggang dan mengambil surat yang terjaga sangat aman. Masih utuh seperti sedia kala. Chris mengerutkan dahinya ketika Armei menunjukkan surat itu.
"Misi yang hilang dari Aron begitu menggemparkan dunia bayangan. Kalau kau ingin tau ... Aron bukanlah orang biasa. Dia orang penting yang bisa menyelamatkan dunia. Jika misinya tergantung padamu, maka kau yang akan menjadi pahlawan baru bagi kami. Kau akan menanggung tugas Aron dan menyelamatkan dunia ini. Kedatanganmu tidak diragukan lagi. Aku percaya sepenuhnya padamu. Kalung batu giok Aron akan membimbingmu ke jalan berikutnya. Aku adalah pengantar surat rahasia. Kepercayaan tingkat tinggi di tempat ini. Apa isinya aku juga tidak tahu. Aku tidak diperbolehkan melihatnya, tapi yang jelas ini tentang misi Aron."
"Apa?" Chris tidak percaya. Dia mengambil surat itu dan membukanya. Sungguh Chris terkejut dia dibuat terpental sampai terjungkal ke belakang. Duduk kembali dan menjinjing surat itu, "Surat macam apa ini? Tidak bisa dibuka justru mendorongku. Sakit sekali!"
"Karena dilapisi pelindung oleh pengirimnya. Karena itu aku juga tidak bisa melihatnya. Sejak itu aku hanya bisa menunggu dan mengorbankan masa remajaku demi tugas ini. Aku harus menyampaikan surat ini ke tangan Aron." Armei menatap langit.
Chris menghela napas panjang, "Aku mengerti. Dunia kalian pasti terjadi sesuatu yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Walau begitu kalian para pelindung mengambil tugasan penting dan sudah merasakannya, atau bahkan mengetahuinya."
"Itu benar, tapi aku tetap tidak bisa mengatakannya padamu. Mungkin bukan aku yang akan mengatakan apa yang terjadi di dunia bayangan ini padamu," Armei tetap memandang langit.
"Lalu siapa?" Chris semakin menajamkan matanya.
"Seseorang di luar sana." Armei kembali menatap Chris.
Chris mengembalikan surat milik Armei, "Kalian luar biasa. Mau berkorban demi sebuah misi yang sangat penting. Kalau begitu bergabunglah denganku untuk mencari misi yang hilang." senyumnya mulai terbit.
Armei diam sebentar kemudian tersenyum, "Baik, Evans Chris. Aku ikut dalam perjalananmu!"
"Bagus! Mari kita lakukan!" Chris berdiri semangat sampai ingin meninju langit.
"Besok saja. Aku lelah, tiga hari ini tidak mendapat daging burung yang kepanasan. Jadi aku kelaparan." Armei berbaring dengan tangan terlipat sebagai bantal.
Perut Chris seolah diremas. Dia meringis kesakitan, "Apa katamu?! Kau tidak makan selama tiga hari dan yang kau makan adalah daging burung?!" memekik terlalu keras.
"Tepatnya burung jatuh dari langit karena kepanasan. Hahh, malam yang indah. Selamat malam." Armei menutup mata.
"Tidaaaaakkkkk! Aku tidak mau mati kelaparan di sini!" Chris menjambak rambutnya mendongak menantang langit.
Sungguh frustasi yang mengherankan. Armei bisa bertahan tidak makan tiga hari dan itu bisa saja berlangsung lama apalagi dalam dua puluh tahun sebelumnya. Itu baru pasal makanan, lalu bagaimana dengan minumannya? Ketika Chris ingin bertanya, Armei sudah tertidur meski dia bangunkan dengan segala cara tetap saja gagal. Tidak ada lagi yang bisa Chris lakukan selain menunggu pagi. Dia memilih tidur dengan menahan haus. Rasa lapar juga mulai menghantui.
"Da-daging mentah. Daging burung mentah ... dimakan begitu saja. Dia memang perempuan mengerikan," gumam Chris sebelum terlelap.
~~~
Sinar mentari terbit di timur yang cantik. Seketika Chris mengetahui arah mata angin. Dia bangun sebelum matahari muncul dan mengagetkan Armei yang membuatnya mendapat pukulan lagi di kepala. Chris memilih jalan ke utara. Armei sendiri sudah lupa ke mana jalan yang dia datangi sebelumnya.
"Kau tidak bisa diandalkan rupanya," kata Chris terang-terangan sambil berjalan santai.
"Pukulanku bisa lebih keras dari sebelumnya," geram Armei.
"Apa ada oasis di sini? Sumber air dari gurun? Sebentar lagi matahari naik dan panasnya bisa bertambah." Chris memandang langit yang begitu cerah. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Jalannya sangat santai diikuti Armei di sampingnya.
"Nampaknya kau mengetahui banyak hal," kata Armei.
"Tentu saja. Meskipun aku sering tidur di kelas karena lelah bertarung, aku tetap mahasiswa yang cerdas. Kemarin berhasil melewati beberapa pasir hisap yang akan mengambil sepatuku. Aku langsung mengetahuinya hanya dengan memandangi pasir," Chris tidak menurunkan pandangannya.
"Terkadang kau itu terlihat bodoh dan juga serius. Mana sikapmu yang sebenarnya?" Armei terus bertanya.
"Kau juga berubah-ubah sikap, Bibi. Terkadang cuek dan sekarang banyak bicara. Sebenarnya sikap mana yang kau pilih?" Chris menantang.
"Jangan bermain-main denganku!" Armei melayangkan pukulannya, akan tetapi kali ini Chris menahannya membuat Armei tersentak.
"Aku tidak perlu dipukul lagi," kata Chris tenang.
"A-apa yang kau pikirkan?" Armei langsung bertanya lantaran heran. Chris menurunkan kepalan tangan Armei perlahan kemudian menoleh, "Aku tidak mau membuang waktu lagi di sini dan mendengar ocehanmu. Terserah kau menganggap sikap ceriaku atau ketegasanku seperti apa, yang jelas apapun itu katakan setelah kita tiba di luar gurun. Aku yakin sebentar lagi kita akan keluar. Kita harus bergegas."
Armei dibuat terkejut lagi, "Kenapa aku harus menurut padamu?!"
"Tergantung dirimu. Apa yang kukatakan benar? Jika iya, mari lakukan!" sekali jawaban dari Chris berhasil membuat langkah Armei terhenti. Chris meninggalkannya jauh di hadapan. Armei memperhatikan punggung Chris yang tegap saat berjalan.
'Benar-benar sikap seorang pemimpin. Pemimpin yang menghargai orang lain. Ketegasannya disembunyikan dalam ketegasan yang lain. Aron, karena itulah kau memilih Chris sebagai penyambung misimu, benar? Aku ... juga akan menuntaskan tugasku sebagai pengantar surat bersama bocah lelaki itu,' kata Armei dalam hati.
Dia menyusul Chris dengan berlari. Chris tidak bergeming begitu juga dirinya yang tidak berkata apapun. Gurun pasir kembali sunyi dan tetap sunyi kecuali burung-burung besar yang terlihat kemarin sedang berkeliaran mencari mangsa. Waktu terus berjalan, kaki pun tetap berjalan. Armei kagum pada Chris yang tidak mengeluh lapar ataupun haus. Terkadang terdapat senyuman simpul dari sudut bibi Chris, tetapi yang terlihat hanyalah keseriusan dalam tekad. Armei terus memperhatikannya diam-diam.
Arah timur adalah tempat yang menjadi lebih redup seiring matahari bergerak ke barat. Pagi menjadi sore dengan sangat cepat. Keringat bercucuran dari ujung kepala hingga kaki. Rasanya telapak kaki Chris terbakar di dalam sepatu. Dia berharap menemukan sumber air yang tidak bisa habis setelah ini. Harapannya terkabulkan. Mendadak Chris berhenti begitu juga Armei. Terlihat sesuatu selain warna langit dan gurun pasir yaitu hijaunya pohon dan gelapnya tanah dari kejauhan. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Chris berlari tanpa mengajak Armei. Namun, Armei berhasil menyalipnya membuat Chris kagum dalam hati. Di usia yang sudah tidak lagi remaja Armei mampu menyeimbangi dirinya dalam perut kosong. Saat itu Chris semakin yakin jika Armei bukanlah orang yang mudah diremehkan.
Dia seakan berlomba dengan Armei untuk tiba di daratan itu. Harum tanah mulai tercium. Udara segar yang ditimbulkan dari pepohonan mulai dirasakan terbawa angin. Chris semakin cepat berlari hingga berhasil mengalahkan Armei dan tiba di tanah itu dengan sempurna.
"Yeaahhh!!! Aku menang! Syukurlah bertemu surga dunia!" Chris membanting diri ke tanah dan berguling-guling kesana-kemari sampai menabrak beberapa pohon dan memeluknya.
Armei yang tiba lebih lambat mengatur napasnya sambil tersenyum. Dia memandang sekitar kemudian ingat jika tempat itu adalah tempat yang sama ketika dia pergi dua puluh tahun lalu.
"Chris, bagaimana kau bisa tau kalau arah timur adalah jalan keluarnya? Ini ... sangat menyegarkan!" Armei merentangkan tangan.
"Aku hanya iseng. Hei, kita cari sumber air di sini. Aku mencium hawa-hawa air!" Chris membawa rumput dalam gendongan dan menghirup aromanya segar.
"Ayo!" Armei juga mencium udara yang sama. Mereka berlari lagi mencari kesegaran yang sesungguhnya. Keringat perlahan-lahan hilang terkena semilir angin. Mereka hanya berputar-putar di antara pepohonan. Hingga tiba di sebuah telaga. Telaga yang bersinar terkena cahaya matahari.
"Waaahhh, indahnyaaaaa! Ini baru namanya menyegarkan!" tanpa menunggu lagi Chris melompat ke telaga dan tenggelam.
"Aaaaaaa! Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?! Cepat muncul ke permukaan air!" Armei yang sedang menikmati keindahan telaga menjadi terbelalak. Dia tidak mau pusing-pusing turun ke telaga hanya untuk menyelamatkan Chris. Dia yakin Chris pasti baik-baik saja. Namun, Chris menyelam terlalu lama. Armei hanya merendam kakinya dan mencuci wajah sehingga pakaiannya tidak basah apalagi surat berharga itu.
"Apa telaga ini dalam? Di mana Chris? Jangan-jangan ada binatang buas di dasar telaga," gumam Armei.
Tidak terlalu besar, hanya sebesar danau buatan yang bisa mengelilingi istana. Telaga itu terjadi secara alami. Bahkan ada bebatuan besar di sekelilingnya. Pepohonan murni dan rumput yang masih segar. Sangat berbeda dengan gurun pasir di sebelahnya. Keajaiban lagi yang ditemui Chris dalam waktu singkat.
"Hahhh, ini fantastis!!!" Chris muncul ke permukaan menggoyangkan rambutnya. Armei terkejut langsung melempar Chris dengan batu. "Aduh! Itu jahat tau! Untung tidak kena kepalaku!" Chris sewot.
"Untung katamu? Masih bagus kau tidak mati, itu baru untung! Diam di dasar telaga seperti batu, kupikir kau sudah dimakan buaya!" marah Armei.
Chris menghilangkan kerutan di dahinya, "Oh, apa ada buaya? Aku bahkan tidak melihat ikan tadi." berpikir serius.
Armei geram mengepalkan tangannya, "Sudah tidak perlu dipikirkan, Bodoh!"
"Iya-iya, tidak perlu berteriak. Bibi, ayo berenang bersamaku. Air ini sangat menyegarkan. Aku sudah meminumnya tadi!" Chris sungguh ceria.
"Ha? Kau meminumnya? Kenapa kau tidak berpikir dulu sebelum bertindak?! Ini telaga, airnya kotor. Kalau kau sakit bagaimana?" cerca Armei.
"Hahh, semua perempuan sama saja. Selalu banyak bicara meskipun sok datar pada awalnya. Ini lebih baik sakit, 'kan, daripada mati?" Chris mengendikkan bahu.
"Aku bisa mendengarnya," Armei acuh.
"Hahaha, ayolah jangan tegang begitu. Bergurau itu lebih menyenangkan!" Chris tergelak berenang dengan cara terlentang. Kakinya sangat lihai menendang air. Dengan santainya tiduran di atas air memandang awan putih yang semakin silau. "Padahal ini sudah sore. Tempat ini banyak hal yang tidak kumengerti. Jarak ini jika dengan gurun masih terpaut cukup dekat, tetapi kenapa bisa langsung menembus gurun?" sambungnya.
Armei berdiri membuat perhatian Chris teralihkan, "Aku akan mencari buah di sekitar sini. Kau jangan lari." melenggang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Chris.
"Bawa yang banyak, Bibi!" Chris menjerit setelah Armei melangkah jauh.
Jauh dari dasar telaga ada sebuah karang batu yang besar. Di salamnya tersembunyi ular bertaring satu yang sangat beracun. Dia mirip seperti batu dan bersembunyi di sana. Chris tidak melihatnya saat menyelam. Ular besar itu diam-diam menghampiri Chris mulai bergerak di belakang Chris. Mengendap-endap bersamaan Chris berhenti berenang sambil terlentang.
"Keberuntungan berpihak pada orang baik sepertiku. Aku ingin air, sekarang terlaksana. Ini telaga yang bagus! Andai saja handphone-ku bekerja, pasti seru mengabadikan gambar." Chris bermain air.
Ular itu semakin dekat menciptakan gelombang yang bisa dirasakan Chris dengan jelas. Chris memicing penuh waspada.
'Ada yang mendekat. Sesuatu yang bergerak bebas dan besar. Tidak kusangka telaga ini ada penghuninya,' kata Chris dalam hati.
Dia diam saja menunggu pergerakan selanjutnya. Gelombang terus hadir menerpa dirinya dan semakin besar, semakin dekat pula, akhirnya ular itu menunjukkan wujudnya. Dia membuka mulut memperlihatkan taring satu yang begitu besar dan tajam. Ukuran tubuh Chris bukan apa-apa dibandingkan dengan taring itu. Chris terperangah, matanya melebar dan tetap di tempat. Ular itu seolah berdiri dan mendesis mengeluarkan percikan air dari mulutnya.
"Wow, ular raksasa," gumam Chris masih mencerna sesuatu. Mengerjap dua kali dan sadar, "ULAR RAKSASA! AAAAA, ADA ULAR RAKSASA! BIBI ARMEI, TOLONG AKU!"
Sekuat tenaga Chris berenang melarikan diri. Mata ularnya begitu ganas sampai-sampai bisa mengunci pergerakan Chris. Dalam sekali tatap, Chris membeku di tempat.
"Tidak! Aku tidak perlu takut padamu! Bagaimanapun juga kau tetap ular. Tidak peduli ular jenis apa dan sebesar apa kau ini, kau tetap ular. Aku akan membunuhmu!" Chris melompat dari air menggunakan kekuatan kakinya yang telah dikumpulkan saat dia bicara hingga berhasil berpijak pada tubuh ular itu kemudian memukulnya telak.
"Hiyaaaaa!!!"
Hanya bisa mengenai leher dan tenaga Chris tidak cukup kuat. Dia butuh senjata. Chris jatuh ke dalam air dan tidak memunculkan diri. Ular itu mengejarnya masih dengan mulut terbuka. Chris memang tidak melihat ikan satu pun. Dia berpikir ular bertarung satu itu yang telah menghabiskan semua ikannya. Telaga yang sangat gelap di dasar. Chris berhasil menemukan batu karang yang sangat besar melebihi ular itu.
'Ternyata ini rumahnya. Sial! Aku tidak bisa menghabisi dia di dalam air. Dia terus mengejarku!' kata Chris dalam hati.
Chris menghindar sekuat tenaga agar bisa kembali ke daratan. Ular itu mendesis lebih hebat ketika Chris berhasil keluar dari telaga. Chris lari ke darah satu pohon mmebuat jarak dengan ular itu.
"Apa? Dia tidak mengejar? Apa dia tidak bisa keluar?" gumam Chris heran.
Ular itu tetap diam di telaga hanya mendesis mengancam Chris. Chris berpikir mencari cara untuk mengalahkan ular yang paling besar yang pernah dia lihat.
'Dia luar biasa! Aku beruntung bisa bebas darinya. Pergerakan ular itu sangat lambat. Apa karena kebesaran badan? Dia gemuk, haha. Tidak, bukan masalah ukuran tubuhnya, tetapi taring itulah yang mengganggu. Kepala dan taring lebih besar taring, pasti juga bukan ular biasa. Apa ada kekuatan magis di tempat ini yang membuat semuanya aneh?' pikir Chris.
"Hei, ular jelek! Taringmu itu lebih besar dari kepalamu! Itu buruk sekali! Akan kubantu mengecilkan taringmu itu! Asal kau tau, tanganku ini sangatlah kuat!"
Chris melompat hingga berhasil mendarat tepat di ujung taring ular itu. Ular itu mendesis hebat jauh lebih hebat dari sebelumnya sampai suaranya terdengar jauh hingga tersampai pada Armei. Armei yang sedang memetik buah apel pun terkejut dan segera datang mencari sumber suara itu sambil membawa apel. Ular itu mengibaskan kepala dan ekornya agar Chris terlempar. Namun, Chris berpegangan kuat pada taring. Kakinya yang tidak seimbang membuatnya terombang-ambing. Dia teriak tidak karuan.
"Hei, ular! Aku akan membantumu!" seru Chris seraya berusaha menyeimbangkan dirinya.
Akhirnya kakinya berhasil berpijak meskipun perutnya harus menahan sakit akibat paksaan yang tinggi. Chris mencengkeram. Ujung taring itu kuat. Dua tangannya saja belum cukup untuk menggenggam ujung taring secara utuh. Dia mengerang hebat. Sampai suaranya menggema bersamaan sang ular selagi menarik taring sampai patah.
"Hiyaaaa!!!"
Seruan Chris menggema bersama daya tarik terakhir. Taring itu berhasil patah membuat ular itu menjerit dahsyat. Meskipun taring patah itu hanya seukuran tubuh Chris. Namun, mampu membuat ular itu menggelinjang. Tidak cukup sampai di situ, Chris menancapkan ujung taring itu ke kepala ular. Setelah itu Armei datang melihat pertempurannya.