Segera Akur

1841 Words
Saat ini Zayn dan Calvin kembali diundang untuk melakukan pertemuan bersama dengan Hial serta Mavro. Tentu saja pertemuan tersebut dilangsungkan untuk membahas rencana mereka untuk menyerang bangsa Draconian sekaligus menyelamatkan Clara yang masih berada di tangan mereka. Tentu saja Zayn dan Calvin sangat mengharapkan jika Mavro bisa memiliki sebuah rencana yang bisa dianggap sebagai sebuah terobosan yang bisa mereka pergunakan untuk menyelamatkan Clara. Jadi, mereka menghadiri pertemuan tersebut dengan penuh harap. “Jadi, apa yang kalian rencanakan? Aku benar-benar harap jika rencana yang kalian susun berbeda dan terasa baru,” ucap Zayn. “Aku benar-benar berharap jika rencana kali ini bisa sukses dan sedikit banyak bisa menjadi harapan bagiku untuk menyelamatkan adikku,” ucap Calvin menambahkan. Karena dirinya memang benar-benar berharap jika Mavro sudah menyiapkan sebuah rencana yang masuk akal baginya. Rencana yang juga bisa sedikit banyak membuat bangsa draconian kehilangan kekuatannya dan terpecah konsentrasinya. Mavro tersenyum. Terlihat sangat percaya diri. Seolah-olah memang rencana yang sudah ia susun tersebut adalah rencana yang sangat sempurna dan bisa mereka percaya sebagai cara untuk mendapatkan tujuan mereka semua. Mavro pun menunjukkan sebuah peta yang ternyata menunjukkan markas-markas miliki bangsa draconian. Secara alami Calvin dan Zayn berpikir jika mungkin mereka akan menghindari markas-markas tersebut dan menyerang area seperti sumber air untuk merebut sumber daya yang sudah mereka kuasai. Namun, secara mengejutkan Mavro malah berkata, “Secara bertahap, kita akan menyerang satu per satu markas milik mereka.” Zayn dan Calvin tentu saja terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Mavro tersebut. Sebab itu jelas sangat berbahaya dan berisiko. Jika sampai mereka salah mengambil langkah, jelas mereka akan berada dalam bahaya yang sangat tidak bisa dihindari. Alih-alih mereka bisa menyelamatkan Clara dan menghancurkan pertahanan milik bangsa Draconian, mereka malah akan dibasmi dengan mudah oleh lawan mereka yang jelas lebih berpengalaman sekaligus kuat tersebut. “Bukankah itu terlalu berbahaya? Bagaimana bisa kita langsung menyerang mereka? Sekali pun kita memang mendapatkan bantuan dari semua teknologi dan senjata yang dimiliki oleh Mavro, rasanya akan terlalu sulit mengalahkan bangsa Draconian dengan kemampuan kita saja,” ucap Zayn. “Aku sependapat. Sepertinya rencana itu tidak terlalu bisa kita jalankan. Itu terlalu berisiko. Aku tidak ingin sampai adikku semakin terancam bahaya karena langkah terlalu berisiko yang kita ambil,” ucap Calvin. “Tenanglah, kami belum selesai menjelaskan rencana yang sudah kami susun. Jadi, tolong tenang, dan dengarkan penjelasanku,” ucap Hial meminta Zayn serta Calvin untuk mendengarkan apa yang akan ia jelaskan lebih lanjut. Hial pun berkata, “Memang kita memiliki senjata dan teknologi yang mumpuni. Meskipun kemungkinan besar tidak bisa dibandingkan dengan milik bangsa Draconian saat ini, tetapi kurasa jika kita memanfaatkannya dengan sempurna, kita jelas bisa mendapatkan kekuatan yang maksimal. Selain itu, kami berencana untuk memanfaatkan gerombolan mhonyedt.” “Mamanfaatkan apa yang kau maksud, Hial? Apa kau kira kita bisa mengendalikan para mhonyedt yang kini semakin liar dan kuat? Kita bahkan tidak bisa membuat mereka lumpuh dengan mudah, dan hanya bisa membuat mereka mati dengan menembak kepala mereka hingga pecah. Apa kata memanfaatkan itu cocok untuk dipergunakan saat ini?” tanya Zayn terlihat sangat kritis mengenai apa yang dikatakan oleh Hial sebelumnya. “Kalian tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. Kami benar-benar sudah merencanakan bagaimana cara untuk memanfaatkan para mhonyedt tersebut. Kita jelas harus memanfaatkan kekuatan mereka yang meningkat pesat. Saat kita bisa mengendalikan mereka dengan benar, rasanya kita semua bisa dengan mudah mendapatkan sebuah kekuatan pasukan yang besar,” ucap Mavro menjelaskan situasinya. Mavro tentu saja tidak mengatakan omong kosong. Sebab Mavro dan Hial memang sudha menemukan sebuah cara untuk mengendalikan serta memanfaatkan para mhonyedt yang memiliki kekuatan besar tersebut. Mereka yakin, dengan menggunakan cara tersebut mereka pasti bisa mendapatkan kekuatan para mhonyedt hingga memiliki sebuah pasukan yang bisa mereka gunakan untuk menyerang markas miliki bangsa Draconian. “Tapi kami belum bisa menjelaskan cara apa yang akan kami gunakan untuk mengendalikan para mhonyedt tersebut. Sebab kami membutuhkan penelitian lebih lanjut. Untuk saat ini, kami akan meminta bantuan kalian untuk memancing para mhonyedt menuju jebakan, dan sisanya kami akan menggunakan beberapa teknologi untuk menangkap mereka. Kami akan menggunakan mereka sebagai bahan penelitian dan eksperimen,” ucap Hial membuat Zayn dan Calvin saling berpandangan. Tentu saja keduanya merasa jika rencana tersebut masih belum bisa dipercaya sepenuhnya. Itu terlalu berisiko, terlebih melibatkan mhonyedt yang liar dalam rencana mereka. Namun, keduanya tidak memiliki pilihan untuk mengikuti rencana tersebut. Sebab sebelumnya mereka sudah membuat kesepakatan. Pada akhirnya Calvin mengangguk dan berkata, “Kami mengerti dan akan melakukannya sesuai dengan rencana. Hanya saja, pastikan jika rencana ini tidak membawa bahaya atau masalah baru bagi kita semua. Aku rasa, masalah saat ini sudah lebih dari cukup.” Mendengar hal itu, Hial dan Mavro mengangguk. Keduanya memang bertanggung jawab sebagai otak yang akan merencanakan semua tindakan yang mereka ambil. Karena itulah, sudah bisa dibaca bahwa mereka memegang tanggung jawab yang begitu besar. Lalu Mavro pun berkata, “Kalau begitu rencana untuk menangkap dan memanfaatkan para mhonyedt akan kalian bicarakan dengan Hial. Sementara aku akan menyusun rencana untuk menyerang pertahanan bangsa Draconian, sekaligus mengembangkan beberapa senjata serta pertahanan yang akan kita gunakan nantinya.” “Baik. Aku yang akan bertanggung jawab untuk masalah para mhonyedt. Kau bisa fokus mengenai masalah persediaan senjata dan rencana untuk penyerangan nanti. Mari kita sukseskan rencana kita ini,” ucap Hial menghidupkan semangat mereka semua. Keempatnya terlihat sangat optimis dan bertekad untuk menyerang para draconian yang sudah hampir sepenuhnya menduduki bumi. Lalu menyelamatkan para manusia yang memang berada di tangan bangsa Draconian, sebelum mereka dihabisi. __________________________ Di saat pihak manusia mulai menyusun rencana untuk melawan bangsa Draconian yang mereka anggap sebagai musuh besar yang sudah menindas mereka dalam waktu yang panjang, maka kini bangsa Draconian sendiri tengah bersiap untuk kemungkinan pecahnya peperangan yang entah siapa yang akan menjadi musuh mereka. Sebab mereka masih memiliki keyakinan jika para manusia terlalu lemah untuk menyerang mereka. Meskipun begitu, mereka tetap waspada dan bahkan kini bersiaga untuk penyerangan apa pun yang mungkin muncul tanpa mereka duga sewaktu-waktu nantinya. Ostra tentu saja sangat sibuk. Selain sibuk mempersiapkan pasukan agar selalu prima untuk kemungkinan perang yang bisa datang kapan pun, Ostra juga sibuk karena masalah hubungannya dengan Clara yang kembali memburuk. Jujur saja, Ostra mengharapkan jika hubungannya dengan Clara membaik dan bisa menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya. Hanya saja, sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi saat Clara masih saja keras kepala. Meskipun masalah itu membuat Ostra pening, untuk saat ini dirinya memilih untuk menepikannya terlebih dahulu dan mengurus masalah yang berkaitan dengan bangsa terlebih dahulu. Ostra saat ini memasuki ruang penelitian Gaal, dan melihat Gaal yang tengah sibuk di meja kerjanya. Tentu saja Ostra tidak datang tanpa alasan. Ia datang untuk mengetahui apa yang sudah Gaal temukan. Mengingat jika Gaal sebelumnya berkata bahwa dirinya akan kembali mengulas hasil penelitian yang sudah ia lakukan. Sebab jelas, menurut mereka semua menemukan identitas yang sebenarnya dari orang yang memanipulasi semua hal sangat penting untuk saat ini. Sebab itu artinya, mereka akan mengetahui identitas dari musuh mereka yang sesungguhnya. “Apa kau sudah menemukan sesuatu?” tanya Ostra pada Gaal yang segera mengangkat pandangannya dari catatannya saat menyadari kehadiran sang Jenderal Besar di sana. Gaal menghela napas dan menggeleng saat Ostra duduk di kursi yang memang ada di sana. Lalu Gaal pun menjawab, “Aku masih belum tau, karena masih membutuhkan waktu untuk menganalisis lebih lanjut. Kau lihat sendiri, ada berapa banyak laporan penelitian yang harus kuanalisis.” Ostra pun melihat tumpukan laporan dari masa lalu yang memang harus ia analisis. Semuanya sangat jelas menunjukkan bahwa Gaal memang memiliki banyak pekerjaan. Gaal sebenarnya ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini, dan setidaknya menemukan identitas dalang misterius itu secepatnya. Namun, ternyata Gaal tidak bisa melakukannya dengan cepat. Sebab semuanya harus dilakukan dengan sangat teliti. Jika Gaal terburu-buru sudah dipastikan jika dirinya akan melewatkan hal yang penting dan membuahkan situasi yang tidak akan baik bagi bangsa mereka. “Aku jelas ingin menyelesaikan semua ini secepatnya. Namun, aku harus melakukannya dengan sangat teliti. Hal itu diperparah dengan banyaknya hal yang memang harus aku teliti,” ucap Gaal terlihat hampir frustasi dibuatnya. Ostra pun menghela napas dan menggeleng. “Tidak perlu terlalu terburu-buru. Kita memang tahu jika mengetahui identitas dari dalang masalah ini memanglah penting, tetapi kau tidak perlu terburu-buru jika hal itu hanya akan menimbulkan kesalahan pada hal yang tengah kau kerjakan. Toh, saat ini semua prajurit sudah dalam kondisi siaga, untuk menghadapi kondisi berbahaya yang tidak terduga,” ucap Ostra. Gaal pun terdiam seakan-akan memikirkan sesuatu yang sangat penting. Atau lebih tepatnya, Gaal tengah mempertimbangkan apakah dirinya harus mengatakan hal yang tengah ia pikirkan atau tidak pada Ostra. Namun, pada akhirnya ia berkata, “Aku memang belum menemukan hal yang mencurigakan atau mengarahkan semua masalah ini terjadap Si Hitam. Hanya saja, aku memiliki firasat bahwa masalah ini memang memiliki kaitan dengan Si Hitam yang sudah melarikan diri dari planet kita.” Ostra memicingkan matanya dan mengangguk. “Benar. Aku juga memiliki firasat yang sama mengenai masalah tersebut,” ucap Ostra setuju dengan pemikiran Gaal tersebut. Rasanya Ostra tidak ingin lagi membicarakan masalah Si Hitam lagi. Sebab menurutnya itu hanya akan membawa nasib buruk. Mengingat semua hal yang sudah dilakukan oleh Si Hitam di masa lalu. Namun, sepertinya Si Hitam akan selalu dibicarakan di sini. Mengingat situasi saat ini sepertinya akan berkaitan dengan sangat erat dengan sosok Si Hitam yang sudah dikenal sebagai pengkhianat terbesar bagi bangsa Draconian tersebut. Hal tersebut terjadi, Si Hitam adalah penyebab terbesar dari kerusakan planet yang mereka tinggali sebelumnya, sekaligus penyebab dari ancaman kepunahan yang mendesak bangsa Draconian. Ostra menghela napas lalu mengurut pelipisnya sebelum bertanya, “Apa kau sudah memeriksa kondisi dia lagi?” Gaal yang paham pun mengangguk. “Aku sudah memeriksa dia dan kondisinya masih stabil seperti biasanya. Ia tampaknya tengah menikmati mimpi yang indah. Selain itu, aku juga sudah memeriksa kondisi Clara. Kondisi jantung dan kandungannya sangat baik,” ucap Gaal menjelaskan situasi. Meskipun sibuk untuk menganalisis hasil penelitian, Gaal tidak melupakan tugasnya yang lain. Tugas penting yang memang sudah ditanggung oleh Gaal sebelumnya. Ostra yang mendengar nama Clara disebutkan pun menghela napas. Sungguh, ia tidak memiliki ide baru untuk membuat hubungannya dengan Clara membaik lagi. Ostra jengkel, padahal sebelumnya hubungan mereka sudah hampir benar-benar seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya. Namun, selalu saja ada situasi yang membuat hubungan mereka kembali memburuk seperti apa yang terjadi sebelumnya. Gaal sepertinya bisa membaca hal tersebut dan bertanya, “Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar lagi? Pantas saja tadi saat aku memeriksa Clara, ia terlihat tidak berada dalam suasana hati yang baik. Apalagi yang kalian pertengkarkan?” Mendengar hal itu, Ostra pun mendengkus. “Memangnya apa lagi? Rasanya apa pun yang terjadi di sekitar kami bisa menjadi bahan pertengkaran bagi kami,” ucap Ostra terlihat sangat jengkel. Namun, di mata Gaal, dirinya bisa melihat jika Ostra sangat memperhatikan Clara. Jika saja Ostra tidka memperhatikan Clara, tidak mungkin bisa muncul sebuah pertengkaran. Sebab rasanya Ostra akan mengabaikan Clara jika memang ia tidak mempedulikannya. Gaal pun tersenyum tipis dan berkata, “Kalau begitu aku harap kalian bisa segera kembali akur.” Ostra kembali menghela napas dan berkata, “Aku juga mengharapkan hal yang sama. Ternyata tidak terlalu menyenangkan bertengkar dengannya seperti ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD