Berevolusi

3136 Words
“Ah, sia*l!” seru Ostra sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah kembali ke ruang kerjanya karena Clara hanya perlu istirahat di kamarnya, Ostra pun baru bisa kembali berpikir dengan jernih. Kini, Ostra pun mengingat semua apa yang sudah ia katakan pada dua saudara sekaligus bawahannya itu. Ostra sangat jengkel dengan tingkah Riolo yang terus melawan perintahnya dan melawan perkataannya. Selain itu, Ostra kesal dengan fakta bahwa Riolo yang bertingkah seenaknya dan mengatakan sesuatu yang menyinggung mengenai Clara. Hal yang menurut Ostra tidak berhak dikatakan oleh Riolo, sebab Clara adalah miliknya, dan mengganggu Clara berarti mengganggu dirinya sendiri. Semua perkataan Riolo berkaitan dengan Clara dengan mudah memancing emosi Ostra, hingga pada akhirnya Ostra pun tanpa sadar dirinya mengatakan sesuatu yang seharusnya memang tidak akan dikatakan oleh Ostra ketika dirinya berpikir dengan jernih dan tenang. Namun, kini Ostra tidak bisa menarik perkataannya sendiri, sebab hal tersebut pantang baginya. “Benar, tidak ada ruginya menjadikan Clara sebagai pendampingku. Toh, dia memang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Wajar saja jika aku menjadikan dirinya sebagai ibu dari bangsa ini. Sudah saatnya kami memulai peradaban yang sesungguhnya,” ucap Ostra jelas tengah berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri mengenai apa yang tengah terjadi saat ini. Benar, Ostra tidak bisa menyesali apa yang sudah ia putuskan sebelumnya. Karena menyesali itu, berarti sama dengan mengakui jika dirinya memang sudah melakukan hal yang salah. Seperti yang sudah ia katakan, tidak aka nada ruginya dirinya menjadikan Clara sebagai seorang pendamping saat dirinya membutuhkan keturunan dan seorang ibu bagi bangsanya ini. Ia mendapatkan semua keuntungan yang memang ia butuhkan. Lalu Ostra tanpa sadar bergumam, “Dengan cara ini pun, aku bisa memastikan keamanan dan posisi Clara di tengah bangsaku.” Lalu sedetik kemudian, Ostra terkejut dengan pemikirannya sendiri dan mengusap wajahnya dengan kasar. Tentu saja saat ini Ostra tengah berada di tengah pertentangan batin. Sebenarnya, Ostra tidak mau mengakui, jika dirinya melakukan semua ini karena tergerak untuk mengamankan Clara yang jelas-jelas tengah diremehkan. Namun, Ostra tidak mau mengakui hal tersebut. Sebab bagi Ostra sendiri, Clara hanyalah wanita dari bangsa manusia yang kebetulan karena sebuah insiden mengenadung benih miliknya. Tidak ada nilai lebih dari sosok wanita itu. Hanya saja, Ostra tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dirinya memang mencemaskan Clara. Ostra kembali mengusah wajahnya dengan kasar dan bergumam, “Tidak, sadarkan dirimu Ostra. Berpikirlah dengan jernih. Ini adalah saat-saat yang sangat penting dan genting. Kau tidak boleh sampai melakukan kesalahan atau memecah konsentrasimu.” Setelah berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri, Ostra pun menatap peta yang terbentang di hadapannya dan terlihat mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Tampak tengah berpikir dengan sangat serius. Jika Riolo dan Gaal ada di sana, tentu saja keduanya akan sepakat berpikir bahwa saat ini Ostra pasti tengah memikirkan strategi baru dan langkah yang akan mereka ambil selanjutnya. Namun, ternyata saat ini Ostra tengah melamun dengan tatapan tajam dan ekspresi serius yang menghiasi wajah tampannya. Sungguh, hal yang sangat menipu pandangan. Namun, tak lama Ostra kembali sadar dari lamunannya dan menghela napas sebelum melangkah menuju sisi ruangan kerjanya yang terbuat dari kaca yang sangat tebal. Kaca tersebut tentu saja anti peluru, untuk memastikan jika keamanan ruang kerjanya terus terjaga. Ostra pun mengernyitkan keningnya dan berkata, “Ini benar-benar membuatku frustasi. Bagaimana mungkin, aku melamun saat aku harus berkonsentrasi? Benar-benar gila.” Ostra menatap langit yang tampak gelap dan dihiasi oleh bintang-bintang yang sangat indah. Setelah itu, Ostra pun berkata, “Sepertinya aku perlu beristirahat. Apa mungkin aku perlu minum sedikit agar diriku bisa sedikit bersantai dan mengembalikan akal sehatku? Sepertinya itu adalah ide yang menarik. Toh, aku juga memang belum beristirahat.” Namun, saat dirinya akan menuangkan minuman keras untuk mengisi gelas kristalnya, ia memilih untuk mengurungkan niatnya dan kembali menutup botol tersebut. Ia pun menghela napas panjang dan memilih untuk berbaring saja di sofa nyaman yang berada di ranjang tersebut. Ostra terlihat memejamkan matanya, dan berniat untuk tidur sejenak sebelum dirinya kembali mengerjakan strategi yang belum disusun dengan sempurna. Rasanya memang lebih baik dirinya istirahat dengan cara seperti ini, daripada dirinya minum minuman yang membuat dirinya mabuk. Sayangnya, Ostra tidak bisa beristirahat sesuai dengan apa yang ia inginkan, sebab beberapa saat kemudian dirinya mendengar suara ketukan pintu ruangan kerjanya. Ostra pun bangkit dari posisinya dan membuka pintu tersebut. Saat itulah dirinya bertemu tatap dengan Gaal yang terlihat menampilkan ekspresi serius. “Ada apa?” tanya Ostra. “Apa kau tengah memiliki waktu luang?” tanya balik Gaal membuat Ostra mengernyitkan keningnya dalam-dalam. “Aku berniat untuk tidur beberapa saat untuk menjernihkan pikiranku,” jawab Ostra jujur dan membuat Gaal tersenyum tipis. Seakan-akan itu memang yang diharapkan oleh Gaal. “Kalau begitu, pergilah ke kamar Clara. Dia sekarag terserang demam. Tetapi aku tidak bisa mengawasinya, karena harus kembali ke lab. Ada kondisi yang mengharuskan diriku untuk menanganinya sendiri,” ucap Gaal membuat Ostra terlihat semakin mengernyitkan keningnya. “Demam? Bukankah kau mengatakan jika kondisinya baik-baik saja dan hanya tengah tidur? Lalu kenapa kini dirinya tiba-tiba terserang demam?” tanya Ostra memborbardir Gaal dengan semua pertanyaan yang terlintas dalam benaknya. Gaal yang menghadapi hal tersebut pun tersenyum tipis dan teringat dengan pernyataan Ostra yang mengatakan jika dirinya akan menjadikan Clara sebagai pendampingnya. Tentu saja sikap Ostra saat ini sangat mendukung pernyataannya yang sebelumnya, membuat Gaal sadar jika Ostra mengatakan hal itu tidak hanya karena terdorong oleh emosi, tetapi memang muncul dari alam bawah sadarnya. “Ini adalah hal wajar, karena sebelumnya ia tidak makan dengan benar. Bahkan tidak minum, ini adalah hal yang cukup berbahaya. Meskipun aku sudah mengganti kebutuhan cairannya dengan infus, tetapi ini adalah reaksi tubuhnya untuk memperbaiki kondisi tubuhnya,” ucap Gaal menjelaskan. Toh sebenarnya kondisi Clara saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Hanya saja, Gaal ingin Clara diawasi oleh Ostra. Sebab Gaal harus bergegas untuk kembali ke lab yang tak lain adalah ruang kerja sekaligus tempat bermain bagi Gaal yang senang dengan eksperimen yang ia lakukan. “Aku mengerti. Aku akan mendampinginya, kau bisa kembali mengerjakan tugasmu yang tertinggal,” ucap Ostra lalu ke luar dari ruang kerjanya. Sementara Gaal masih menatap Ostra dengan tatapan yang terasa mengganggu bagi Ostra yang menerima tatapan tersebut. Tentu saja Ostra yang merasa sangat terganggu pada akhirnya menatap saudaranya itu dengan jengkel. “Apa yang ingin kau sampaikan? Sebaiknya katakan saja, daripada kau menatapku seperti itu,” ucap Ostra mendesak Gaal untuk mengatakan apa yang ia pikirkan. Gaal lalu menggeleng dan menjawab, “Aku hanya merasa sangat takjub saja. Aku belum pernah melihat kau bertindak seperti ini. Tapi, aku sadar bahwa ini mungkin hal yang muncul bersamaan dengan pernyataanmu yang akan menjadikan Clara sebagai pendampingmu.” Mendengar perkataan Gaal yang menurutnya adalah sebuah ejekan, Ostra pun menipiskan bibirnya dan berkata, “Omong kosong.” Setelah itu, Ostra pun masuk ke dalam kamar Clara meninggalkan Gaal yang hanya terkekeh. Saat pintu tertutup, Gaal tidak segera pergi dari tempatnya. Sebab dirinya malah berkata, “Sebaiknya kau tetap berada di sisi Clara, Ostra. Aku rasa akan lebih baik kau yang merawat Clara daripada aku atau Riolo yang menjaganya. Tidak perlu cemas mengenai pekerjaanmu, aku dan Riolo akan mengambil alihnya agar semuanya berjalan dengan lancar.” Tentu saja Ostra mendengar apa yang dikatakan oleh Gaal tersebut, tetapi dirinya sama sekali tidak memberikan jawaban apa pun terhadap perkataan Gaal tersebut. Sementara Ostra kini duduk di kursi yang sudah ia tarik hingga mendekat ke tepi ranjang. Clara masih terlihat berbaring tidak sadarkan diri dengan sebuah alat yang sengaja ditempelkan di kening Clara, sebagai pereda demam. Sebenarnya Ostra tidak disibukkan dengan acara penggantian kompresan untuk pereda demam tradisional. Namun, karena kondisi Clara adalah kondisi yang spesial, harus ada yang mengawasinya jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan. Saat duduk di posisi tersebut, dirinya pun menatap Clara dengan perkataan Gaal yang memenuhi benaknya. Ia sadar, jika perlakuannya pada Clara sangat baik dan di luar sikapnya yang biasa. Jelas Clara menjadi sosok yang sangat spesial di dalam hidup Ostra, hal itu membuat Ostra pun mengingat kisah para orang tua di masa lalu. Sebenarnya pria dari bangsa Draconian memang terkenal dengan sifat setia yang sangat kuat. Para pria memang akan sangat setia hingga terikat dengan wanita yang mengandung dan melahirkan anak mereka. Jadi, sangat kecil kemungkinan ada kasus perselingkuhan atau berkhianat dari pasangan mereka. Hal ini terjadi, karena ketika seorang wanita dari bangsa Draconian tengah mengandung, maka mereka tengah menghadapi situasi yang sangat sulit. Masa kehamilan yang berat, ditambah dengan proses melahirkan yang sangat berbahaya dan mengancam nyawa, membuat para pria di bangsa Draconian memiliki kasih sayang yang besar terhadap istri dan ibu dari anak-anak mereka. Itu bisa terbilang sebagai sifat alami yang sudah menjadi bawaan bagi para pria bangsa Draconian yang sudah melekat di dalam gen mereka. “Inikah yang disebut sebagai wujud dari penghormatan kasih sayang seorang pria pada istrinya? Tapi, wanita ini belum menjadi istriku,” ucap Ostra merasa bingung karena perasaan cemas yang rasanya terlalu berlebihan ia rasakan ini. Padahal, mereka belum meresmikan hubungan mereka. Walaupun memang saat ini Clara tengah mengandung benihnya yang tengah bertumbuh di dalam rahimnya. Sepertinya, semua perhatian dan kecemasan yang ia miliki ini ditujukan sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap janin yang berada dalam kandungan Clara tersebut. “Ah, memikirkan hal itu hanya membuatku pusing. Sekarang aku hanya perlu fokus dengan apa yang perlu aku lakukan,” ucap Ostra lalu mengulurkan tangannya dan menyeka keringat yang membasahi kening Clara. Ostra terlihat mengernyitkan keningnya dalam-dalam, merasa sangat jengkel dengan apa yang terjadi di sana. Sebab secara alami tubuhnya benar-benar memberikan reaksi bahwa dia mencemaskan Clara. Terlebih, saat dirinya merasakan suhu tubuh Clara yang masih saja tinggi, bahkan terasa membakar kulitnya. “Kuharap kau segera sembuh, Clara. Bukankah kau sendiri lelah terus-terusan sakit seperti ini?” tanya Ostra yang tentu saja tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Clara yang masih terlelap dan tenggelam di alam bawah sadarnya. Ostra menghela napas panjang saat dirinya menyadari jika sikapnya ini terasa sangat konyol. Ostra memejamkan matanya dan menyamankan posisi duduknya, sebelum kembali membuka matanya dan menatap Clara. “Sekarang apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus terus menatapnya yang tidak sadarkan diri? Atau memulai pembicaraan sepihak selayaknya orang gila?” tanya Ostra terlihat kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan ke depannya. ** Saat Clara tersiksa oleh demam tingginya, Calvin yang saudara kembarnya tentu saja merasakan sesuatu karena ikatan yang terjadi di antara mereka. Ia merasakan firasat buruk mengenai Clara, dan membuat dirinya kesulitan untuk fokus. Meskipun begitu, Calvin berusaha untuk tidak mengambil langkah yang salah yang mungkin saja membuat kelompoknya menanggung kerugian atau terlibat dalam bahaya nantinya. Calvin juga memilih untuk menyimpan firasat buruknya seorang diri, dan tidak mengatakan apa pun pada orang terdekatnya. Zayn dan Hial juga terlalu sibuk untuk memperhatikan apa yang terjadi terjadap Calvin, hingga mereka tidak bisa menyadari bahwa ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Calvin pada mereka. Saat ini, kebetulan mereka tengah berada di tengah perjalanan mereka. Karena itulah, mereka harus fokus dengan jalanan yang mereka lalui. Tinggal beberapa kilometer lagi mereka akan tiba di tempat tujuan mereka, dan itu artinya mereka akan aman dari kejaran para draconian. Mereka juga bisa mulai menyusun rencana baru mereka untuk ke depannya. “Semuanya, meskipun kita akan segera sampai di tempat yang kita tuju, kalian tetap harus fokus dengan perjalanan kita. Karena bahaya bisa datang kapan saja,” ucap Zayn untuk memperingatkan para anggota rombongan yang terlihat sudah sangat kelelahan, tetapi masih berjuang untuk terus mengikuti perjalanan agar tidak tertinggal dan menjadi beban bagi kelompok mereka tersebut. Namun, baru saja Zayn selesai berkata, bahaya yang sebelumnya ia katakan benar-benar menjadi kenyataan. Sebab beberapa saat kemudian mereka melihat begitu banyak mhonyedt yang berdatangan dan menyerang mereka semua. Hal itu sepertinya terjadi karena para mhonyedt kelaparan dan mengendus aroma makanan yang dibawa sebagai persediaan. Makanan tersebut memang mereka bawa, sebab mereka harus melewati padang pasir panjang yang tentu saja akan membuat mereka semua kesulitan untuk mendapatkan sumber makanan di sana. “Semuanya bersiaga!” seru Zayn memimpin. Tentu saja para pria segera bergegas dan bersiaga untuk melindungi para wanita yang bergerak untuk berkumpul di tengah perlindungan para pria. Sebab hal tersebut benar-benar dibutuhkan oleh mereka untuk memastikan jika tidak ada yang terluka oleh penyerangan para mhonyedt. Karena kerja sama mereka sangat baik, ditambah dengan fakta bahwa mereka sudah sangat berpengalaman menghadapi para mhonyedt dalam berbagai kondisi, jadi mereka percaya diri untuk mengalahkan para mhonyedt. Namun, sayangnya hal tersebut tidak terjadi saat ini. Kondisi saat ini benar-benar sangat buruk. Mengingat jika saat ini para mhonyedt yang menyerang mereka sangat berbeda. Mereka terlihat lebih kuat dan berbahaya di bandingkan para mhonyedt yang mereka kenal sebelumnya. Mereka juga terlihat sangat liar dan lebih kuat daripada sebelumnya. Membuat Zayn dan kawan-kawan merasa sangat kewalahan. Bahkan beberapa dari anggota kelompok sudah terlihat terlukan karenan serangan yang mereka dapatkan. Melihat kondisi tersebut, Calvin pun berseru, “Lemparkan semua makanan yang kita bawa.” Para wanita yang memang bertugas untuk menjaga makanan dan obat-obatan pun segera mendengarkan perkataan Calvin dan melemparkan semua makanan yang mereka bawa tersebut ke ara para mhonyedt. Hal itu sedikit banyak membuat para mhonyedt mengalihkan perhatian mereka dan berebut makanan yang sudah dilemparkan makanan mereka. Setelah itu, Zayn yang melihat kesempatan segera berteriak, “Sekarang semuanya lagi ke jalur tikus!”  Tentu saja semua orang bergegas untuk melarikan diri sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Zayn. Zayn memimpin di depan, sementara Calvin dan Hial berlari di belakang rombongan. Keduanya memastikan bahwa tidak ada satu pun anggota yang tertinggal saat pelarian tersebut. Lalu secara mengejutkan, ada sekitar tiga pesawat tempur milik bangsa Draconian yang mengejar mereka. Tentu saja situasi tersebut semakin kacau, tetapi untungnya mereka tidak mengejar rombongan manusia, tetapi segera mengurus para mhonyedt yang sangat liar tersebut. Tidak ada satu pun yang menoleh atau melihat kondisi yang berada di belakang mereka. Sebab mereka semua disibukkan dengan usaha mereka melarikan diri dan menjauh dari radar bangsa Draconian yang jelas memburu mereka semua. Mereka masih terus saja berlari, berusaha untuk berlari sejauh mungkin menghindari dari mata atau bahkan pengawasan bangsa Draconian. Karena situasi yang tidak terduga tersebut, Zayn bahkan memilih untuk memimpin kelompoknya untuk berlari ke luar dari jalur yang seharusnya mereka tempuh. Hal ini terjadi agar memastikan bahwa tempat peresembunyian baru mereka sama sekali tidak terendus nantinya. “Kita bisa berhenti di sini,” ucap Zayn pada akhirnya dan membuat semua orang bisa bernapas lega. Sebab kini mereka pada akhirnya bisa beristirahat. Tempat yang mereka dapatkan juga cocok untuk digunakan sebagai tempat beristirahat. Saat semua orang duduk dan mencoba untuk mengatur napas mereka yang terengah-engah, maka Calvin yang melihat hal tersebut pun berusaha untuk memeriksa area di sekitar tempat beristirahat mereka tersebut. Sebab mereka jelas harus memastikan area tersebut aman untuk digunakan sebagai tempat beristirahat saat malam. Lalu ia juga setidaknya harus mencari air atau makanan untuk mengganjal perut mereka semua yang jelas-jelas sangat kelaparan setelah apa yang mereka hadapi sebelumnya. “Tidak ada apa pun di sekitar sini. Kita harus beristirahat dengan kondisi kelaparan,” ucap Calvin membuat semua orang yang mendengarnya menahan diri untuk tidak menghela napas penuh kekecewaan. Sebab jelas, mereka sangat lelah dan kelaparan. Rasanya akan sangat sulit bagi mereka untuk bisa tidur dengan kondisi kelaparan yang terasa menyiksa tersebut. Namun, jika dipikirkan rasanya rasa lelah yang mereka rasakan ini bisa membuat mereka tertidur pulas dan melupakan rasa lapar yang mereka rasakan ini. “Karena saat ini kita kelelahan, rasanya meskipun kita kelaparan pun kita bisa tidur dengan cukup nyenyak,” ucap Hial diangguki oleh para anggota kelompok yang memang bersiap untuk beristirahat di posisi mereka masing-masing. Sementara Calvin, Zayn, dan Hial memilih untuk berkumpul terlebih dahulu sebab mereka jelas-jelas memiliki sesuatu yang ingin mereka diskusikan bersama. Tentu saja hal tersebut berkaitan dengan masalah para mhonyedt yang sebelumnya menyerang mereka. “Kalian menyadarinya?” tanya Calvin pada Zayn dan Hial. Keduanya mengangguk. “Kami menyadarinya. Mereka terlihat lebih kuat dan liar daripada sebelumnya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Hial, apa mungkin kau memikirkan sesuatu mengenai hal tersebut?” tanya Zayn pada Hial yang terlihat menampilkan ekspresi serius, seakan-akan masalah tersebut sangat tidak masuk akal hingga dirinya yang seorang ilmuwan benar-benar sangat sulit untuk ia proses. Zayn dan Calvin tentu saja menunggu pendapat dan pandangan Hial mengenai situasi tersebut. “Ada kemungkinan, bahwa mereka tengah melewati tahap evolusi. Hingga mereka lebih kuat dan lebih liar daripada sebelumnya,” ucap Hial mencoba untuk menarik kesimpulan sebagai seseorang yang memang bekerja meneliti situasi tersebut. Namun, jawaban yang diberikan oleh Hial tersebut membuat Zayn dan Calvin mengernyitkan keningnya. Ekspresi tersebut lebih dari cukup membuat Hial yang menyadarinya menghela napas panjang. Jelas, ia sendiri merasa jika apa yang ia katakan sebelumnya terdengar seperti omong kosong. Sudah jelas, bahwa para mhonyedt adalah manusia yang mengalami penurunan kapasitas otak hingga mereka pada akhirnya mereka pun bertindak dengan mengikuti insting hewani karena benar-benar sudah kehilangan akal mereka. Jadi, rasanya sangat kecil kemungkinan mereka memiliki evolusi setelah apa yang mereka alami sebelumnya. Hial sendiri menyadari ika hal tersebut memang sangat mustahil. Namun, kondisi para mhonyedt yang mereka semua lihat sebelumnya menunjukkan bahwa para mhonyedt memang mengalami peningkatakan kemampuan pada fisik yang jelas biasanya didapatkan saat ada evolusi. “Aku juga merasa jika hal itu sangat mustahil. Namun, semua ciri-cirinya menunjukkan bahwa mereka memang mendapatkan evolusi. Aku tidak bisa menyimpulkan hal yang lebih detail mengenai apa yang terjadi pada para mhonyedt, tetapi satu hal yang bisa kupastikan adalah bahwa kita harus lebih hati-hati dalam bergerak. Sebab para mhonyedt juga sudah terasa sama berbahayanya dengan para Draconian,” ucap Hial. Zayn dan Calvin yang mendengar perkataan tersebut mengangguk. Sebab mereka sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Hial tersebut. “Selain itu, aku juga merasa jika akan sangat berbahaya jika kita bergerak langsung untuk mencapai area persembunyian baru kita. Aku rasa, sepertinya para draconian itu sudah memperkirakan di mana tempat yang kemungkinan kita tuju,” ucap Zayn. Calvin tentu saja merasakan hal yang sama dengan Zayn. Mengingat jika para draconian tersebut tiba-tiba muncul di area yang dekat dengan tempat persembunyian mereka. Jika saat ini mereka bergegas menuju tempat persembunyian tersebut, bisa saja hal itu dianggap dengan aksi bunuh diri di mana mereka masuk ke dalam kandang yang sudah sepenuhnya dikuasi oleh musuh mereka. Jadi, sepertinya mereka harus membatalkan rencana sebelumnya, dan hal itu membuat ekspresi Calvin agak memburuk. Mengingat jika hal tersebut memang terjadi, rencananya untuk mencari keberadaan Clara akan semakin tertiunda. Hal itu jelas akan membuat kondisi Clara semakin terancam bahaya. Itu benar-benar sangat mengkhawatirkan bagi Calvin. Namun, ia sendiri tidak bisa bersikap egois dengan tidak melakukan hal apa pun dalam kondisi ini. Ia harus merencanakan sesuatu yang jelas untuk membantu kondisi mereka. Karena itulah Calvin pun menyarankan, “Sepertinya kita harus melihat kondisi pagi esok hari. Jika memang tempat ini aman untuk digunakan sebagai tempat bersembunyi sementara waktu, maka kita bisa beristirahat sementara waktu terlebih dahulu di sini. Sebelum kita menentukan tempat baru untuk persembunyian kita.” Ketiganya pun setuju dengan keputusan tersebut dan dirinya pun berkata. “Baiklah, kita lakukan sesuatu rencanamu itu,” ucap Zayn. Ketiganya pun berharap jika tidak ada situasi buruk apa pun lagi yang terjadi dan membuat mereka dalam bahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD