Babi Kecil

1826 Words
“Lagi?” tanya Ostra tidak percaya karena baru saja tiga jam lewat dari waktu Clara selesai menghabiskan makanan yang sudah ia buatkan. Namun, kini Clara kembali meminta dirinya untuk memasak makanan yang sama untuknya. Tentu saja Ostra merasa sangat terkejut dengan apa yang diminta oleh Clara tersebut, sebab ia berpikir jika makanan yang sebelumnya dimakan oleh Clara lebih dari cukup untuk membuatnya merasa kenyang untuk beberapa jam ke depan. Hanya saja, perkiraan Ostra tersebut menjadi meleset, karena kini Clara sudah meminta untuk makan makanan yang dimasak oleh Ostra sebelumnya. Clara mengangguk, dan menjawab, “Iya. Aku ingin makan lagi. Kenapa kau terlihat sangat terkejut seperti itu?” Ostra mendengkus. Saat menyadari bahwa Clara sepertinya tidak menyadari jika dirinya memang sudah mengatakan sesuatu yang terdengar tidak masuk akal. Ostra pun menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh Clara tersebut, “Aku tentu saja terkejut, karena kau sudah lapar dan ingin makan kembali padahal kau baru saja makan beberapa jam yang lalu. Ini bahkan belum lewat tiga jam dari terakhir kali kau makan.” Meskipun begitu, Ostra pun tetap berpikir untuk membuat Clara makan karena bisa saja memang dirinya sangat kelapasan. Namun, Ostra tidak berpikir untuk memasak lagi, melainkan menghubungi para pelayan untuk membawakan makanan-makanan yang memang sesuai dengan kebutuhan nutrisi harian Clara. Tentu saja Clara melihat apa yang dilakukan oleh Ostra, dan sadar bahwa pria itu tidak ingin memenuhi keinginannya untuk kedua kalinya. Sebenarnya Clara merasa sangat jengkel karena Ostra bertingkah seperti itu, tetapi saat dirniya ingin meledak karena kekesalannya, ia pun berusaha untuk tetap tenang. Sebab Clara teringat dengan peran yang harus ia lakukan. Ia harus bersandiwara menjadi seorang istri yang penurut, agar dirinya tetap mendapatkan akses ke luar yang longgar dan bisa mencari celah untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Selama ini, Clara sadar bahwa dirinya sudah melakukan sesuatu yang terlalu ke luar dari rencana yang sudah ia susun. Jika terus berjalan seperti ini, tentu saja Clara akan semakin jauh dari tujuan yang ia harapkan. Jadi, saat ini Clara memilih untuk tetap tenang dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ostra selanjutnya. Tak membutuhkan waktu terlalu lama, para pelayan yang dikenalikan sepenuhnya oleh cip yang tertatanam dalam batang otak mereka, datang dan menyajikan makanan yang mereka bawa. Clara terlihat tidak senang dengan apa yang dibawakan oleh orang-orang itu. Walaupun jelas, sarapan yang disajikan tersebut sesuai dengan perencanaan makanan Clara dan terlihat mengguggah selera. Ostra tahu betul selera makan Clara dan ia tahu bahwa semua makanan ini sangat disukai oleh Clara. Setelah semuanya tersaji, Ostra pun berkata, “Makanlah.” Clara mau tidak mau mengambil alat makan dan memaksakan diri untuk makan. Ostra benar-benar melihat raut memaksakan diri pada wajah Clara. Tentu saja hal tersebut sangat jauh berbeda dengan ekspresi yang biasanya terlihat ketika Clara menghabiskan makanannya. Biasanya Clara terlihat sangat senang dan antusias untuk menghabiskan makanannya, tetapi kini Clara terlihat kesulitan dan memaksakan diri untuk menghabiskan semua makanan tersebut. Ostra sendiri terus mengawasi, dan bertanya-tanya apakah pada akhirnya Clara akan protes atau berhenti menghabiskan makanannya. Namun, secara mengejutkan, Clara tidak memprotes apa pun. Ia tidak memprotes atau menghintakan acara makannya sama sekali. Ia terus makan hingga semuanya tandas walaupun jelas proses makanannya tersebut memakan waktu yang lebih lama daripada biasanya. Tentu saja melihat semua itu, Ostra merasa puas dan berpikir untuk bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Namun, Clara yang melihat Ostra yang bersiap untuk pergi pun mengernyitkan keningnya. “Kau akan pergi ke mana?” tanya Clara. “Tentu saja aku harus bekerja. Aku sibuk,” ucap Ostra membuat Clara semakin mengernyitkan keningnya. Karena Clara tahu, sibuk apa yang tengah dibicarakan oleh Ostra saat ini. Pasti Ostra akan menyusun strategi dan memburu para manusia di luaran sana. Memikirkan hal itu membuat Clara sesak dan tidak senang. Bagaimana pun bisa saja sang kakak yang diburu dan ditangkap. Clara tidak mau sampai kakaknya bernasib seperti orang-orang yang dikendalikan dan menjadi seperti boneka. Mengingat jika pada Draconian pasti berusaha untuk membuat semuanya dikendalikan dengan menanamkan cip untuk membuat mereka dikendalikan dengan mudahnya. “Kau masih belum memberikan apa yang aku inginkan. Jadi, kau belum boleh pergi,” ucap Clara terlihat keras kepala membuat Ostra yang menyadari hal itu pun mau tidak mau merasa sangat jengkel karena Clara lagi-lagi sepertinya tengah bersiap untuk membuat sebuah ulang yang akan membuat kepalanya pening. “Kenapa aku tidak boleh pergi? Lagi pula, aku sudah memenuhi permintaanmu. Kau ingin makan, bukan? Aku sudah membuatmu makan sebelumnya. Aku yakin sekarang kau sudah kenyang,” ucap Ostra terlihat masih berusaha untuk bersabar menghadapi Clara yang tengah bertindak keras kepala. Clara pun menggeleng. “Aku memang sudah menghabiskan semua makanan yang sudah kau bawakan, tetapi aku belum kenyang. Karena kau sekarang belum memberikan makanan yang aku inginkan,” ucap Clara merujuk pada makanan yang dimasak oleh Ostra. Clara memang tidak berbohong. Saat ini dirinya memang belum sepenuhnya merasa kenyang. Padahal sebelumnya ia sudah menghabiskan semua makanan yang dibawa oleh Ostra, dan seharusnya ia kenyang. Sebab porsinya memang sudah cukup besar, dan membuatnya merasa sangat kenyang. Hanya saja, saat ini Clara masih merasa lapar. Seakan-akan semua makanan yang Clara belum membuatnya kenyang, dan masih membutuhkan sesuatu untuk melengkapinya dan membuatnya merasa kenyang. “Aku ingin makan masakanmu. Aku masih lapar,” ucap Clara hampir terdengar seperti sebuah rengekan yang membuat Ostra mengernyitkan keningnya dalam-dalam. “Itu tidak masuk akal. Kau sudah menghabiskan makanan sebanyak itu. Mana mungkin kau masih lapar. Kau hanya mengatakan hal itu untuk membuatku kembali memasak bukan?” tanya Ostra sembari memicingkan matanya. Sebab ia benar-benar tidak merasa bahwa perkataan Clara sangat tidak masuk akal. “Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Aku benar-benar merasa lapar. Karena itulah, masak makanan seperti dini hari,” ucap Clara terlihat sangat berharap Ostra mau memenuhi keinginannya. “Aku sudah makan sebanyak itu, jika kembali menambah makananmu, aku rasa perutmu akan meledak karena terlalu kenyang. Aku juga tidak yakin, kau bisa menghabiskan semua makanan yang kubuat,” ucap Ostra masih menolak permintaan Clara. Sebab ia menyangsikan Clara bisa menghabiskan makanan yang akan ia buat nanti. Clara terlihat tidak mau kalah. Ia tetap ingin makan makanan Ostra. Karena itulah dirinya berkata, “Aku berjanji, aku akan menghabiskannya. Toh, aku memang masih lapar. Pasti akan sangat mudah bagiku menghabiskan makananku itu.” Ostra memejamkan matanya, saat dirinya sadar sama sekali tidak bisa menanh dengan perdebatan kali ini. Pada akhirnya ia pun mengangguk dan berkata, “Awas saja jika kau tidak menghabiskannya, aku benar-bena akan memberikanmu sebuah hukuman.” ________________________ “Aku benar-benar merasa sangat konyol karena menjadi penurut,” ucap Ostra sembari memindahkan hasil masakannya ke atas piring. Pada akhirnya Ostra memang memenuhi permintaan Clara dan kembali memasak masakan yang diinginkan oleh Clara. Sebab menunya masih sama, saat ini Ostra pun bisa memasak semuanya lebih cepat dan tenang. Sebab dirinya benar-benar sudah menguasai semuanya. Ia juga sudah semakin percaya diri dengan makanan yang ia buat tersebut. Ostra yakin jika masakannya sudah lebih meningkat daripada sebelumnya. Saat ini, entah mengapa Ostra merasakan firasat buruk. Bahwa dirinya harus mencari resep menu lain untuk masakannya. Sebab ia memiliki firasat bahwa situasi ini akan kembali terulang. Sementara Clara sendiri duduk di meja makan menunggu makanan tersebut dengan sangat tidak sabar. Ostra pun beranjak untuk menyajikan semua makanan yang memang mirip dengan makanan yang memang sudah pernah Clara makan dini hari sebelumnya. Saat sudah disajikan, Clara sama sekali tidak membuang waktu untuk segera menikmati makanannya tersebut. Tentu saja Clara agak kesulitan untuk menghabiskannya. Bukan karena ia merasa kenyang hingga tidak bisa menghabiskan makanan tersebut, tetapi lebih karena makanan tersebut terlalu panas. “Kenapa kau seperti seseorang yang kelaparan berhari-hari? Tenanglah. Tunggu makanan itu sedikit dingin untuk kau makan,” ucap Ostra terlihat jengkel karena Clara terlihat memakan makanan yang baru ia masak walaupun jelas itu semua masih panas. Clara berhenti sejenak dari acara makannya. Ia mengernyitkan keningnya karena merasa sangat jengkel, Ostra mengoceh terus saat dirinya makan. Ia kesal, karena Ostra bahkan tidak membiarkan dirinya untuk makan dengan tenang. Ia pun menatap tepat pada mata Ostra sebelum bertanya, “Kenapa kau terus saja mengomel padaku? Kau benar-benar menyebalkan. Bukankah seharusnya membiarkan aku makan dengan tenang lebih dulu?” Ostra menipiskan bibirnya. Tampak berusaha untuk menahan segala omelan atau celaan yang mungkin saja ia lemparkan tehadap Clara. Sungguh, ia tidak senang jika Clara sudah bertingkah kurang ajar karena terlalu berani seperti saat ini. Sudah berulang kali, Ostra mengatakan bahwa ia lebih senang Clara yang bertingkah manis dan penurut. Lalu ia pun mengangguk dan berkata, “Baik, silakan makan semua makananmu itu.” Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ostra, Clara pun kembali melanjutkan makannya dengan sangat tenang dan menghabiskan semuanya dalam waktu singkat. Tentu saja Ostra yang melihat semua itu merasa sangat terkejut. Sebab ia benar-benar tidak menyangka bahwa semua makanan itu masih bisa ditampung oleh perut Clara, yang sebelumnya sudah meghabiskan begitu banyak makanan yang rasanya pasti sudah memenuhi perutnya. Baru saja Ostra akan mengatakan sesuatu, Clara sudah lebih dulu bangkit dari kursinya. Lalu Clara berkata, “Aku sudah selesai makan, sekarang aku ingin kembali ke kamar dan tidur.” Mendengar apa yang dikatakan oleh Clara, Ostra tentu saja mengernyitkan keningnya. “Ini masih pagi, dan kau juga baru saja bangun tidur. Kenapa kau malah ingin tidur lagi?” tanya Ostra. “Terserah aku, bukan? Aku bisa melakukan apa pun, termasuk memilih untuk tidur. Sudahlah, jangan menahan atau menggangguku. Lebih baik kau sendiri pergi untuk bekerja,” ucap Clara lalu beranjak pergi untuk benar-benar kembali masuk ke dalam kamar dan beristirahat seperti apa yang ia katakan sebelumnya. Ostra kembali memasang ekspresi tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat. Benar-benar, Clara sudah sagat berani bertingkah di hadapannya. Bahkan tingkahnya ini membuat dirinya frustasi. Semakin frustasi rasanya ketika Ostra sadar ia tidak bisa melakupan apa pun terhadap tingkah Clara tersebut. “Apakah aku harus terus bersabar menghadapinya?” tanya Ostra menghela napas panjang. Ostra pun bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Clara. Ostra tentu saja ingin memastikan terlebih dahulu kondisi Clara sebelum dirinya bisa fokus pada pekerjaannya. Saat dirinya tiba di dalam kamar yang ia tempati dengan Clara, Ostra melangkah menuju ranjang dan benar saja dirinya melihat Clara yang sudah berbaring dengan nyaman. Clara terlihat sangat nyenyak dengan tidurnya yang lelap. Ostra mendengkus melihat hal tersebut. Clara sepertinya sudah merasa sangat nyaman dengan semua situasi ini. Hingga melupakan bahwa Clara saat ini berada di tengah-tengah musuh yang sebelumnya sangat ia benci. Ostra pun duduk di tepi ranjang dan mengamati Clara untuk beberapa saat. Sungguh, dirinya merasa bersyukur karena saat ini Clara tidak mempertahankan sifat keras kepala seperti di awal pertemuan mereka. Meskipun kini Clara juga tidak berhenti membuat ulah dan sering kali membuat kepalanya pusing karena tingkah keras kepalanya. Namun kini Ostra bisa merasa sedikit tenang, sebab kini setidaknya Clara tidak membuat ulah yang bisa membuat kondisi kesehatannya dalam bahaya. Ia bahkan makan dengan sangat lahap, dan berat badannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. “Aku saat ini seperti tengah mengurus babi kecil yang pekerjaannya hanya makan dan tidur saja,” ucap Ostra tanpa sadar dengan sebuah senyuman tipis yang jelas muncul secara alami karena tengah berhadapan dengan istrinya yang manis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD