14. Pernikahan Kedua

1108 Words
"Aku juga lihat kamu kok tadi." Kala bersuara, memecahkan keheningan selama beberapa saat. Tadi atau tepatnya lima belas menit lalu Atma pulang dan langsung menanyakan pertanyaan yang sedikit membuat Kala terkejut; seperti 'Kamu habis dari mana?' 'Siapa laki-laki tadi?' 'Kamu cuma berdua aja?' Bisa dihitung atau bahkan ini pertama kalinya Atma sedikit tertarik dengan apa yang Kala lakukan karena selama ini, ia cenderung membiarkan dan tidak menanyakan kecuali Kala yang memulainya. Apa Atma cemburu? Apa ini pertanda baik untuk hubungan mereka? Untuk Kala yang akhir-akhir ini merasa seperti perasaannya terombang-ambing begitu saja? "Kamu, berdua sama Briana. Seimbang? Seri?" kata Kala dengan senyumnya. Ia tak sengaja mengatakan ini, bukan pula niatnya untuk membalas kecemburuan Atma. Kala sangat paham apa yang dilakukan Atma dan Briana hanya karena perihal pekerjaan dan ia ingin sekali menggoda Atma, ingin melihat reaksinya. Teng! Atma baru saja mau menjawab tapi suara di ponselnya, seperti sebuah jawaban. Karena tepat saat membaca pesan itu Atma langsung pergi meninggalkan Kala, tanpa pamit dan seolah memberikan jawaban; Iya, seimbang. Kala diam di tempatnya. Hal yang mendesak pasti sedang menanti Atma, hingga laki-laki itu tega pergi begitu saja. Tapi mengapa rasanya lain? Kala tak ingin kejadian dahulu terulang lagi. Kejadian ketika Atma pergi begitu saja hanya untuk Briana, untuk wanita lain. Bisma, gue ke tempat lo lagi. Kala mengirim pesan itu pada Bisma. Kedudukan pun kembali seimbang. |•| "Ada apaan, sih?" Setengah jam yang lalu Bisma sudah menanyakan itu pada Kala. Dan ia terus mengulang-ngulangnya sebab wanita yang berada di hadapannya sekarang seperti manekin. Tak bersuara bahkan tidak merubah posisinya sejak tadi. Kala masih menatap ke kanan, melihat jalanan dan hiruk pikuk kota Jakarta yang masih ramai di malam pukul sepuluh. "Kal. Kalau hubungan lo sama suami lo kurang baik tuh harusnya diomongin, bukan kabur kayak gini." Bisma kembali berucap tapi kali ini ia mendapat respons dari Kala meskipun hanya tatapan, "laki-laki mana paham sih Kal kalau ngga dibilangin, iya 'kan?" "Jangan ngomong." Kala bersuara meski pelan tapi Bisma mendengarnya dengan jelas dan semakin membuatnya tidak paham dengan apa yang terjadi pada Kala. Siang tadi, Kala datang dengan bahagia, ia banyak bercerita dan tertawa yang berbeda dengan sekarang. "Oke. Tapi gue tetep di sini kali-kali lo mau cerita." Kala menganggukkan kepalanya. Sedangkan Bisma, ia hanya mampu diam. Karena sekeras apapun ia mencoba tetap saja wanita keras kepala itu akan berpegang teguh pada prinsipnya. Pada keyakinan yang dipercayanya. Pada pilihan yang sudah ia ambil. Termasuk menikah dengan Atma? Tentu saja. CCCIITT~ Suara pintu berdecit yang kemudian disusul dengan suara lonceng membuat kepala Kala menoleh ke arah suara pintu yang baru saja dibuka oleh seseorang. "Laki lo, tuh." Bisma kembali bersuara. Dan Kala yang tadinya menoleh ke arah Atma kembali memalingkan pandangannya ke arah mana saja, yang penting bukan pada Atma. "Akhirnya... Kamu di sini ternyata." ya. Atma sudah berada di hadapan Bisma dan Kala yang masih saja memalingkan pandangannya. "Saya permisi dulu." pamit Bisma ramah. Dan sekarang, kursi itu digantikan dengan sosok Atma yang mendudukinya. "Masih mau di sini?" Kala tidak menjawab. Tapi Atma terus memandang Kala seakan-akan seperti baru saja bertemu dengan wanitanya sekian lama. "Oke. Saya temani kalau begi--" "Berisik!" Mata Atma membulat. Kaget dengan respons yang diberikan Kala. Kala baru saja membentaknya. Berbicara dengan nada tinggi, ketus dan kasar yang sangat berbeda dengan Kala yang biasanya. "Kamu bentak aku?" Atma menunjuk dirinya sendiri dan dengan perlahan membuat Kala menatapnya. "Kamu berisik, mas. Kamu berisik!" masih dengan nada ketus Kala, menjawab pertanyaan Atma. Atma mengalah. Ia memilih untuk diam. Bermenit-menit hingga kopi yang ia pesan tadi sudah tiba dan habis setengahnya. Dan selama itu Kala tak bersuara bahkan tidak menatap Atma pun samanya. Sampai akhirnya..... Kala menoleh, "kamu habis dari mana?" katanya yang sudah memangku dagunya dengan kedua tangan. "Aku kerja, Kal." "Kamu yakin?" "Kamu kenapa sih? aku memang kerja tadi." "Kamu yakin? Kamu yakin kamu pergi tadi bukan nemuin Briana? Pra ataupun Binar? Haa?" suara Kala kembali meninggi. Entah Kala seperti mendapatkan kekuatan hingga bisa mengatakan itu pada Atma. "Kamu kenapa sih, Kal?" Atma masih bertanya. Bingung dengan sikap Kala yang tiba-tiba menjadi berbeda. Atma tak bohong. Sungguh, telepon tadi itu memang perihal pekerjaan. Ada hal yang Atma lupa hingga Briana harus memanggilnya dan menyuruhnya kembali ke kantor. Tunggu, Briana? Menemui Briana? Atma menghela napasnya, "iya, aku ketemu Briana--" "NAH!" Kala memotong ucapan Atma dengan deruan napas kasar yang ia hela, "ngga usah berbelit-belit." "Tapi Kal, itu untuk pekerjaan." Atma masih dengan usahanya, meyakinkan Kala. "Mana tahu sih aku kalau itu untuk pekerjaan. Mana tahu aku apa yang kamu lakukan. Mana tahu aku apa yang ada di pikiran dan hati kamu sekarang. Mana tahu aku sih aku tentang kamu." Kala kembali bersuara dan tetap saja membuat Atma bingung. Atma menatap mata Kala dalam begitupun sebaliknya, Atma berusaha mencari sebab-sebab mengapa Kala seperti ini tapi ia tak menemukan satupun alasannya. Atma pikir, tak ada yang salah. Keheningan terus berlanjut. Untunglah Bisma membuka kedai ini dua puluh empat jam hingga tak ada satupun yang menginterupsi keheningan di antara Atma dan Kala kecuali lagu-lagu yang sedang dinyanyikan oleh penyanyi kedai ini dengan gitar akustik yang dipetiknya. "Kamu pernah mikir ngga sih mas kenapa kita menikah? Kenapa sih harus aku?" Kala memecahkan keheningan sedangkan Atma tetap tertegun pada posisinya, menatap Kala yang kini kembali membuang tatapannya ke meja kayu kedai kopi ini sambil memainkan jarinya, entah untuk apa sepertinya untuk menunggu jawaban Atma. "Karena kita memang harus menikah. Kenapa kamu? Karena aku maunya kamu. Itu saja." " 'karena aku maunya kamu' itu artinya suatu saat entah kapan kamu bisa aja mau yang lain, mau menikahi yang lainnya begitu?" Kala tertawa getir menanggapi jawaban Atma yang tidak membuatnya tenang. "Tidak akan, Kal." "Kita mana tahu sih mas apa yang akan terjadi bahkan beberapa detik lagi? Termasu--" "Kal!" Atma memotong ucapan Kala, ia tak ingin mendengarkan perkataan Kala selanjutnya. Atma sungguh semakin tidak paham dengan Kala, "dengarkan saya. Sejak awal menikahi kamu itu bukan pilihan yang bisa kapan saja aku rubah. Menikahi kamu itu tujuan, Kal. Tujuan. Dan aku akan mempertahankan apa yang udah aku dapatkan sekarang. Jadi, berhenti berbicara omong kosong." lanjutnya sambil menatap Kala. Kala yang tiba-tiba saja menangis mendengarkan ucapan Atma. "Aku cuma takut..." katanya gemetar. Tangannya sampai dingin, Atma bisa merasakannya. "Ngga ada yang perlu kamu takutkan, Kal. Aku di sini, selalu." DDRRTT Ponsel Atma menyala. Nama Pra tertera di sana, memanggil Atma. Atma menatap Kala. Baru saja ia ingin mengangkatnya, tangan Kala terlebih dahulu mencegahnya. "Bisa kamu abaikan panggilan itu?" tanya Kala dengan nada memohon. Perasaannya sudah lebih baik tapi entah apa yang akan terjadi jika Atma mengangkat panggilan itu, berbicara dengan Pra. Dan... Ah, Kala hanya terlalu takut jika ketakutannya perlahan-lahan terjadi. "Tapi Kal--" "Aku mohon..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD