3. Pernikahan Kedua

1307 Words
Kala membuka mata, bau obat-obatan menusuk tajam ke indera penciumannya. Kala lupa apa yang terjadi, tapi rasa sakit yang mendera tubuh terutama bagian perut ke bawah membuktikan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi padanya. Bahwa ia tidak baik-baik saja. "Mbak Kala?" mata Kala melebar, berpindah pandangan menatap orang yang baru saja memanggilnya. Lingga tersenyum. "Ga, Mas Atma di mana?" Lingga memutar otaknya susah payah mencari jawaban dari pertanyaan Kala. Meski Lingga tahu jawabnya tapi rasa-rasanya sulit sekali untuk mengungkapkannya. "Mbak baik-baik saja? Apa yang sakit? Apa aku perlu panggil dokter?" Lingga  berusaha mencari topik lain, membuat Kala lupa sejenak dengan pertanyaan yang ia tanyakan sebelumnya. "Aku ngga apa-apa." kata Kala sambil menunjukkan senyumnya. Lingga juga tersenyum lega. "Ga~~" Kala kembali berucap namun kali ini dengan rintihan pelan. Bagian bawah dirinya sangat terasa sakit sekali sampai tak sadar Kala meremas tangan Lingga yang berada di sampingnya. "Ada apa, Mbak?" "Perut aku kok sakit banget ya, Ga. Mas Atma mana Ga?" Lingga yang sudah panik saat ringisan Kala semakin menjadi-jadi seperti kehilangan akal untuk berpikir dan bertindak. "Aaaawwsh~" "Mbak tenang ya, tenang. Aku panggilin dokter dulu." Kata Lingga masih berusaha menenangkan Kala. Setelah ringisan Kala mereda, Lingga langsung keluar untuk memanggilkan dokter dan memeriksakan keadaan Kala saat ini. "Lingga~ dimana Kala?" dengan peluh yang masih menetes di dahinya, dengan segala ke khawatiran di kepalanya Lingga menatap dua pasang suami istri yang baru saja tiba di hadapannya. "Mbak Kala di dalam, bu, mah." ucap Lingga pada ibunya dan mama Kala. "Gimana keadaannya?" kini bergantian ayahnya, mertua Kala yang bertanya. "Mbak Kala baik, hanya saja--- dia keguguran." Sama seperti Atma, tentu saja kedua orangtua Kala juga Atma sangat merasa terpukul terlebih lagi ini cucu pertama mereka. Tapi apapun rasa sedih yang sedang mereka rasakan, rasa khawatir terhadap keselamatan Kala tentu jauh lebih besar dibanding apapun. "Pak, bu." keheningan yang terjadi seketika pecah saat dokter Ida membuka pintu. Lingga, juga yang lainnya langsung menatap dokter Ida penuh tanya. "Mbak Kala sudah kembali tenang, rasa sakit yang dideritanya karena efek obat bius yang sudah habis ketika kuret tadi." Lega, hanya itu yang mereka rasakan. "Dan, sejak tadi Mbak Kala selalu menanyai tentang Mas Atma. Mungkin Mas Atma bisa masuk untuk menemui Mbak Kala?" tatapan dokter Ida menuju ke arah Lingga. Mungkin saja dokter Ida mengira Lingga itu Atma. "I--iiya dok." tak ingin berbuntut panjang, Lingga hanya mengiyakan ucapan dokter Ida. Dokter Ida tersenyum dan pamit pergi begitu saja. |•| "Gimana Ga? Udah dapat kabar dari Atma?" Ayah Lingga kembali menanyakan hal tersebut untuk yang ke sepuluh kalinya. Lingga yang masih mencoba, berkutat dengan ponselnya kembali menggeleng menjawab pertanyaan ayahnya. "Atma ke kantor 'kan? Ini sudah larut, Ga." ucap Ayah Lingga yang mengecek jam tangannya lagi, memastikan jika jarum jam pendeknya memang sudah tepat berada di jam dua belas malam. Dan itu artinya, Atma sudah seharian meninggalkan Kala yang saat ini sedang tertidur. "Tenang, Yah. Bang Atma mungkin sibuk--" "Bang Atma mungkin lupa mencharger ponselnya. Itu yang mau kamu ucapin selanjutnya 'kan?" Ayah lebih dulu memotong ucapan Lingga. Lingga menarik napasnya kasar. Putus asa. Ayah Lingga memukul bahu anak keduanya perlahan, mengusap-usapnya. "Yasudah, lebih baik kita istirahat terlebih dahulu Ga." |•| Berkas-berkas laporan masih setia di mejanya. Satu, dua telah ia kerjakan tapi tumpukan-tumpukan yang lain serasa tak membuat pekerjaannya usai. Sebetulnya, ia bisa saja menundanya untuk dikerjakan esok hari. Tapi, ia tak bisa melakukan itu sebab setelah ini ia akan mengajukan cuti dan bersenang-senang dengan Kala, melupakan kejadian yang sedang menempa keluarganya saat ini. Keguguran Kala, pukulan berat Atma. Dan laki-laki tak ingin Kala merasa begitu. "Pak?" Panggilan itu adalah panggilan ke tiga yang sudah Atma abaikan, tapi wanita yang berdiri di sampingnya tetap berada di sana dengan tampilan yang masih sangat segar, tak seperti dirinya. "Pak Atma~" Ddlepp~ Sebuah pelukan yang tiba-tiba diberikan Atma pada wanita itu. Meski kaget dengan perlakuan Atma tapi wanita itu tak menolak perlakuan Atma pada dirinya bahkan saat Atma mencoba mendekatinya dan berusaha mencium bibirnya, wanita itu sama sekali tak menolak. Mereka sama-sama hanyut dalam suasana kemelut karena pekerjaan sialan yang tak kunjung selesai. "Kala~" lenguh Atma saat tangan wanita itu mulai menggapai tengkuknya dan mengalungkan tangannya di sana. Itu Briana! Itu Briana! Temanmu! Dia bukan Kala! Bukan! Atma memisahkan dirinya dari Briana yang tampak terkejut dengan perubahan sikap Atma. "Maafkan saya, Briana." ucap Atma dengan nada paraunya. Atma sangat kacau. |•| Ini hari kedua Kala berada di rumah sakit, tapi sosok Atma belum juga muncul di hadapannya. Hanya Lingga yang berada di sana. Kala menatap Lingga yang menatapnya dari sudut kamar rumah sakit, bergantian dengan ibu ayah, mama serta ayahnya yang sedang berbicara. "Ga~" "Ya, mbak?" "Assalamualaikum." Tatapan Lingga dan Kala langsung berpindah, menatap seseorang yang baru saja membuka pintu kamar rawat Kala dengan jas yang ia selempangkan di bahunya. Rambutnya berantakan, bajunya kusut tapi senyum di wajahnya terpancar nyalang membuat Kala tersenyum pula. Sebab yang diharapkannya sudah tiba di depan mata. "Mas~" katanya antusias yang membuat langkah Atma sangat bersemangat sekali untuk menghampiri Kala. Sebuah pelukan diterima Kala, melepaskan segala kerinduan yang sudah tak bisa ia bendung lagi. Ia rindu suaminya, rindu Atma dengan sangat. "Kamu baik-baik saja?" tanya Atma sebelum laki-laki itu mendaratkan ciumannya di dahi Kala. "Ya." "Syukurlah. Mas sangat cemas." kata Atma dengan ciuman yang bertubi-tubi di dahi Kala. Wajah wanita itu pun berubah, yang saat ini ia rasakan hanya kesenangan yang menyelimutinya. "Kamu kecewa ya sama aku? Gara-gara aku ngga bisa jaga dia?" Atma balik ke posisi semula, duduk di samping ranjang Kala menatap istrinya dengan senyum di bibirnya. "Kenapa ngomongnya seperti itu?" kata Atma sambil menarik tangan Kala untuk di genggamnya. "Kamu ninggalin aku, mas. Aku tahu kamu sudah pulang, aku tahu kamu di kantor seharian. Jadi, ya aku pikir kamu marah dan kecewa." ucap Kala dengan jujur, entahlah ada sesuatu apa yang membuatnya mengatakan itu. Tapi, jika kalian ingin tahu. Satu-satunya hal yang muncul ketika Kala siuman kemarin adalah wajah Atma, yang ketakutan serta suara Atma yang gemetar. Atma kembali mencium puncak kepala istrinya itu, "aku lebih kecewa dan marah kalau sesuatu terjadi pada kamu, aku lebih kecewa dan marah kalau kamu membahayakan diri kamu. Jadi, bangun lebih pagi tidak masalah 'kan dari pada meminta abang ojek untuk ngebut?" Atma sedikit menyunggikan senyumnya yang membuat Kala menunduk dan merasa bersalah. "Noted!" "Good girl. Good wifey~" kata Atma sambil mengelus puncak kepala Kala dan tertawa bersama dengan Kala. Mmiiaaw Atma dan Kala langsung menatap Lingga, yang sejak tadi diam melihat adegan demi adegan, percakapan demi percakapan yang dilakukan kakak dan kakak iparnya itu. "Ada kucing bang, aku kejar dulu sekalian beli sarapan." Lingga langsung meninggalkan tempat diiringi suara tawa yang masih menggema. Bodoh, kucing. Jelas-jelas itu suaranya sendiri. "Kayaknya aku harus membelikan dia sesuatu, karena sudah menjaga kakak iparnya dengan baik." ucap Atma menghentikan tawanya. "Abang yang baik. Oh iya, kamu ke kantor hari ini?" Atma menggeleng, kemudian ia melepaskan sepatu yang masih ia kenakan. "Kenapa?" "Mas cuti." Kala terdiam sebentar, tadi Atma bilang apa? Cuti? "Jadi, aku mau tidur di sini sama kamu." lanjutnya yang sudah memposisikan tubuhnya menjadi berbaring sambil memeluk pinggang Kala di sampingnya. "Mas bilang apa tadi? Cuti? Mas cuti?" ucap Kala yang masih tidak percaya. "Iya, kamu tidak senang?" "Enggak." "Kenapa?" Kala mengangkat kedua bahunya ke atas. Jujur saja, ia senang sekali Atma cuti tapi tidak bisakah Atma cutinya saat kondisi Kala baik-baik saja? Kala membenarkan posisinya, menjadi berbaring dan saling tatap dengan Atma. Kala menarik selimut ke atas dadanya dan Atma. "Kamu belum jawab kenapa." "Itu bukan sesuatu yang harus aku jawab." Kala mendekatkan dirinya pada Atma, tangannya mengusap punggung Atma perlahan. "Sudah, sini aku boboin. Kamu capai banget pasti." lanjut Kala. "Kal?" "Ssstt, bobo ya bayi besar?" Cup! Satu kecupan kilat di bibir Kala mengingat posisinya dengan Atma kini sangat dekat, "thank you and love you." And forgive me. Tambah Atma dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD