Klinik Malu, itulah yang Andin rasakan saat ini, bagaimana tidak malu, dia kelihatan baik-baik saja, tapi Frans yang keterlaluan, dia membopong Andin sampai ke dalam klinik, masuk tergesa-gesa hingga semua orang menyangka jika Andin harus mendapatkan pertolongan secepatnya. “Sayang, turunin Aku …” lirih Andin. “Nggak!” Benar-benar menyebalkan. Frans tidak mau menurunkan Andin. Seorang suster berjalan mendekati mereka berdua, takut jika keadaan Andin darurat, suster mempersilahkan Frans masuk ke dalam ruang rawat. Frans membaringkan Andin di sebuah brankar, seorang Dokter wanita masuk ke dalam ruangan di mana Andin tengah terbaring, dengan Frans yang selalu setia menemaninya. Dokter segera memeriksa keadaan Andin, Frans sedetikpun tidak meninggalkan Andin, terus memegangi tangan Andin

