Chapter 7: ARENA

2140 Words
“Kau benar-benar tidak tau potensi yang kau miliki sendiri, bukan?” Amel memainkan es batu yang tersisa di gelasnya sembari menunggu seseorang datang untuk mengisi ulang minumannya. Gadis itu, aku mengira kalau dia akan lebih bertingkah lembut dibandingkan Tata, namun sepertinya ekspektasiku terlalu tinggi. Ia memiliki karakter yang tak jauh berbeda dengan Tata. Hanya saja versi dari penampilan yang ia miliki itu, sangat kontras dengan karakternya.             Aku mengangguk. Pertanyaan Amel benar, hampir selalu benar. Aku tidak tahu kenapa ia bahkan selalu bisa terpikirkan akan pertanyaan yang tak pernah muncul di otakku. Gadis itu sungguh kritis. Apa sebenarnya dia adalah salah satu dari Pencipta yang menyamar?             Toni kembali dengan pakaian yang sudah compang-camping, kali ini bukan lagi transparan yang menggangguku. Tubuhnya sudah setengah nyaris telanjang. Entah siapa yang membuatnya begitu. Yang jelas, aku bisa melihat dari wajahnya itu, dia menikmatinya.             “Apa aku melewatkan sesuatu?” tanyanya, bersandar di dinding di sampingku. Melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan.             “Kau, kau benar-benar tidak berguna. Apa yang kau lakukan?” Amel tiba-tiba memarahi Toni. Aku tidak tahu kesalahan apa yang ia perbuat. Gadis itu tiba-tiba menumpahkan rasa kesalnya pada Toni.             “Apa yang salah denganku?” bahkan yang dituduh pun kebingungan.             Toni melemparkan pandangan penuh tanya ke arahku, aku hanya mengangkat bahu. Aku juga tidak bisa memahami apa yang ada dalam pikiran gadis itu.             “Apa kau lupa tugasmu?” kali ini Amel meletakkan gelasnya di atas meja terdekat dan menghasilkan bunyi yang membuatku terperanjat kaget. Toni pun sama, ia harus terkunci di dinding saat Amel berdiri tepat di hadapannya dengan gagah.             “Aku sedang bebas tugas,” jawab Toni.             Aku tidak tahu tugas apa yang mereka bicarakan dan aku juga terlalu malas untuk ikut campur. Menghindari perdebatan sebaik mungkin, itu adalah bagian favoritku. Aku membiarkan keduanya berdebat dan saling meninggikan suara. Karena aku malas mendengar suara keduanya yang hanya membuat telingaku berdengung, aku memutuskan untuk menjaga jarak dan mengangkat kakiku jauh-jauh dari tempat itu.             Sebelumnya, aku tidak bisa mengingat apakah aku pernah berada di tempat itu. Tempat itu cukup luas. Dinding bajanya pun tampak kokoh dan cukup berumur, entah dulunya dibuat untuk apa oleh para manusia itu. Kenapa tempat itu ditinggalkan dan membiarkan anak-anak muda ini mengadakan pesta di sini? Aku berjalan dengan langkah pasti, masuk ke dalam ruangan. Aku merasa ruangan itu menyerupai bunker tempatku tinggal, hanya saja luasnya mungkin tiga kali lipat lebih besar.             Saat berpapasan dengan gadis maupun laki-laki yang sejenis denganku, mereka tampak menyuguhkan senyuman yang menurutku palsu. Aku bisa mendengar suara jantung mereka berdegup lebih cepat saat tak sengaja menatap mataku. Aku tidak tahu apa itu karena rasa takut atau rasa benci terhadapku. Meskipun beberapa menit yang lalu mereka menyerukan namaku, sepertinya dalam hati mereka tetap meragukanku.             “Hei!”             Rayhan menabrak punggungku, nyaris membuatku mencium tanah kalau saja refleksku tidak bagus. Laki-laki itu tidak sendirian, ia berdiri bersama dua orang laki-laki lain yang terkekeh bersamaan ketika melihatku nyaris roboh. Ah-yang benar saja.             “Kau tahu? Kapten yang lemah cuma jadi beban dari tim,” celotehnya, laki-laki di sebelahnya pun tergelak.             Aku mendengus. Apa dia tidak punya kerjaan lain selain mengganggu hidupku? Lagian, apa dia sudah lupa kalau aku lah yang telah menyelamatkannya dari patukan alien berbentuk ular raksasa itu? Sepertinya dia juga mengalami masalah crash di dalam otaknya sehingga membuatnya dengan mudah bisa melupakan hal itu.             “Kenapa? Kau hanya ingin jadi sepertiku, bukan?” ucapku. Kali ini aku tidak akan berbaik hati padanya. Meskipun tubuhnya lebih kekar dariku, aku yakin kalau aku bisa mengalahkannya dengan mudah dengan tangan kosong sekalipun.             Rayhan menatap kedua mataku, tatapannya sangat tajam hingga membuatku mual.             “Kau pikir aku iri denganmu? Aku yakin, alasan dibalik para pencipta terlalu memanjakanmu itu adalah karena posisi orang tua pendonormu! Iri denganmu? Jangan membuatku tertawa.”             Orang tua pendonor?             Ah iya, aku hampir lupa dengan hal itu. Tapi, siapa orang tua pendonorku?             “Apa maksudmu?”             Mendengar pertanyaanku, Rayhan justru terbahak. Suara tawanya membuat telingaku semakin gatal. Laki-laki bertubuh jangkung itu tidak menjawab pertanyaanku sampai Amel datang bergabung dengan dahi yang berkerut.             “Kalian lagi? Apa aku harus selalu ada untuk menghentikan persaingan tidak berguna ini?”             Toni ikut bergabung dalam keramaian, ia berdiri di sebelahku seakan-akan siap menjagaku kalau saja Rayhan dan dua orang di sisinya itu menyerangku secara tiba-tiba. Sejujurnya, aku tidak membutuhkan perlindungan Toni karena aku tahu kemampuanku.             “Amelia,” suara Rayhan melunak, ia barusaja melingkarkan tangan besarnya ke pundak Amel tapi kali ini gadis itu menepisnya dengan kasar. Melihat hal itu, refleks aku terkekeh.             “Apa yang lucu?” Rayhan berteriak membentakku, merasa tidak terima dengan perbuatanku. Aku hanya tersenyum miring, tidak memberinya jawaban dari pertanyaannya itu. Aku rasa dengan begitu, emosi dalam dirinya akan semakin tersulut.             “Hei! Apa kalian bisa diam?!” Amel, kedua tangan panjang gadis itu mendorongku dan tubuh Rayhan supaya jarak di antara kami berdua tercipta. Wajah gadis itu sudah berubah masam. Aku baru sadar kalau ternyata daritadi yang kulihat kebanyakan adalah versi Amel yang sedang marah-marah. Tidak hanya padaku, pada Rayhan, tapi juga pada Toni. Entah kenapa, aku merasa kalau sifat Amel sedikit lebih dewasa dibandingkan kami, maksudku perannya yang selalu memarahi orang lain yang telah membuat kesalahan. Atau itu hanya perasaanku saja? Gadis itu melipat kedua tangannya di depan d**a.             “Daripada kalian adu mulut di sini, bagaimana kalau kalian coba duel satu lawan satu?” putusnya tiba-tiba. Membuatku dan Rayhan kompak terkejut. Sungguh sebuah ide yang aku sendiri tidak tahu kalau kita bisa melakukan itu.             “Professor Minami sudah membuatkan arena khusus untuk duel, kalian harus berterima kasih padanya. Setidaknya ada fasilitas baru yang bisa kalian coba. Bagaimana? Kalian setuju?”             “Amel, apa kau akan melakukannya sekarang?” Toni tampak tidak setuju dengan pendapat gadis itu, namun bukan itu yang membuatku berpikir keras. Tunggu-             Entah kenapa aku bisa mendengar nada hormat dalam suara Amel ketika ia membicarakan tentang Minami. Bahkan ia tidak segan-segan memanggil Minami menggunakan gelarnya. Aku tidak tahu kalau Amel pro dengan Para Pencipta seperti itu. Namun, alih-alih memberiku ruang untuk memikirkan itu, gadis itu melemparkan tatapan mata tajamnya ke arahku, seakan-akan memaksaku untuk segera menerima tawaran itu atau menyerah.             Toni diabaikan. Amel tidak menanggapi pendapat Toni yang sepertinya sudah mengetahui tentang fasilitas arena duel itu. Apa? Kenapa mereka sudah tahu dan aku tidak? Apa Rayhan dan anak-anak yang lain juga sudah tahu tentang itu?             “Fasilitas duel? Aku baru mendengarnya, sepertinya aku akan sering-sering menggunakan arena itu mulai sekarang. Tentu saja aku terima tawaran itu,” jelas Rayhan dengan sombong. Kepalanya terangkat tinggi-tinggi, membuat garis rahangnya yang tegas tampak dengan jelas saat ia melakukannya.             Aku menelan ludah, bukan karena aku takut melawan laki-laki itu. Hanya saja, jawaban Rayhan menunjukkan kalau ia juga baru tahu tentang arena itu. Sama sepertiku. Entah kenapa, membayangkan memiliki nasib yang sama dengan Rayhan membuatku mual dan nyaris mengeluarkan kembali minuman asam yang mungkin sudah sampai di lambungku.             “Aku rasa itu ide yang bagus,” jawabku pada akhirnya. Membuat Amel mengangguk saat matanya bertemu dengan mata gelap Toni. Entah tugas apa yang dimiliki oleh keduanya, meskipun mereka sering beradu mulut, mereka bisa bekerjasama juga.             “Kalian yang ingin menonton duel ini, mendekatlah!” seru Toni sambil mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Suaranya cukup lantang dan dapat didengar oleh semua humanbot yang hadir di pesta itu. Entah apa yang menarik dari duel yang akan aku lakukan, semua humanbot pun dengan penuh antusias berkumpul. Aku tidak tahu apa yang akan Toni lakukan setelah semuanya terkumpul dalam jarak yang menurutnya sudah cukup. Sampai-             Glitch..             Aku merasakan sensasi seperti saat aku akan memuntahkan seluruh isi perutku dalam satu detik. Dan saat aku menahannya, aku membuka mataku dan pemandangan yang tertangkap oleh mataku bukanlah dinding-dinding baja yang terakhir kali ku ingat.             “Apa yang terjadi?”             Saat ku perhatikan sekitar, ku lihat anak-anak yang berada di sana. Sebagian besar dari mereka tampak tersungkur di tanah, sepertinya tidak berhasil mendarat se-mulus yang ku lakukan. Meskipun begitu, beberapa dari mereka pun tampak berlagak seperti tidak pernah mengalami sesuatu yang aneh.             “Kau akan terbiasa,” Amel menepuk pundakku. Rayhan berjalan membuntutinya dengan senyum miring. Aku yakin, ia barusaja kepikiran untuk pamer karena pendaratannya yang lebih mulus dariku, kalau saja ia tidak gagal menutupi bukti kalau sebenarnya sisa makanan yang terakhir kali ia makan sudah memenuhi mulutnya. Dengan sekali teguk, ia pun kembali menelannya. Sepertinya, rasanya menjijikkan, aku bisa lihat dari ekspresi menderita di wajahnya.             Toni menghampiriku dan dari wajahnya, ia seperti akan menjelaskan sesuatu. Baguslah, aku tidak perlu repot-repot bertanya padanya.             “Kita barusaja melakukan teleportasi melalui portal dengan gravitasi tinggi di benda ini,” Toni memamerkan sebuang mesin digital yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Aku tidak tahu sejak kapan benda yang tidak ku miliki itu berada di sana. Aku mendekatkan kepalaku untuk melihat detail mesin itu dengan jelas. Toni hanya melirikku namun tidak mengomentari perbuatanku.             Benda mesin digital itu berwarna perak. Aku bisa melihat bagian layarnya menunjukkan waktu saat ini berdasarkan posisi matahari, selain itu ada informasi tentang kelembaban, cuaca, dan lainnya yang aku masih tidak bisa tahu fungsinya untuk apa. Ingin sekali menanyakan detail pertanyaan yang terbentuk dalam otakku pada pemilih benda itu, namun Amel menyeret pakaianku dari belakang dan membuatku mau tidak mau pun terpaksa patuh.             “Sekarang kita berada di arena buatan untuk duel, peraturannya hanya satu,” Amel melakukan pidatonya.             “Dilarang membunuh!”             Amel mendorong tubuhku hingga terhuyung ke depan, memisahkanku dari keramaian. Berikutnya, ia pun melakukan hal yang sama pada Rayhan. Aku tidak menyangka, Amel memiliki tenaga lebih untuk melakukannya.             Gadis itu mengangkat tangan kanannya yang ternyata sudah menggunakan sebuah sarung tangan besi yang sangat tidak cocok untuk penampilannya.             “Players ready, initiate transfer!”             Sebuah kilatan cahaya yang sangat terang muncul dari telapak tangan Amel. Cahaya itu berkumpul hingga membentuk bulatan yang ukurannya kian membesar. Secara otomatis, mataku bisa terbiasa dengan cahaya terang itu. Aku menatapnya dengan serius, berharap bisa menemukan sesuatu dari sana. Sementara itu, saat ku lirik lawanku, ia tampak berusaha melindungi matanya yang mungkin terasa terbakar karena cahaya terang itu. Semakin besar, semakin membuat indra penglihatanmu terbakar. Kecuali untukku.             Schuuuuuuuuuuu…             Schuuuuuuuuuuu…             Gumpalan cahaya yang terkumpul tiba-tiba menembakkan cahaya panjang sebanyak dua tembakan. Satu ke arahku dan satu ke arah Rayhan. Aku tidak tahu apa aku harus menghindarinya atau tidak, namun, kecepatan cahaya itu tidak bisa ku imbangi. Meskipun aku kepikiran untuk menghindar, kakiku tetap tak sempat.             Di saat mataku kembali terbuka, aku sudah berada di dalam sebuah dome. Berdua dengan Rayhan. Saat ku lihat ke arah luar dome, aku bisa melihat anak-anak yang lain berdiri sambil melihat balik ke dalam dome. Sepertinya ini adalah wilayah arena untuk aku dan Rayhan bisa saling adu kekuatan. Arenanya cukup luas hingga aku sendiri kebingungan saat harus memikirkan kira-kira tempat ini berada di bagian mana? Saat ku lihat bagian langit-langitnya, pemandangan yang baru pertama kalinya ku lihat terpampang jelas di sana. Langit-langit tempat itu tidaklah gelap, berbeda dari langit yang biasa ku lihat. Ada gumpalan-gumpalan berwarna putih yang terlihat lembut di atas sana, bergerak. Sementara itu, langitnya berwarna biru terang. Tempat apa sebenarnya ini?             “Apa kalian siap?” seru Amel dari luar batas dome yang berkilat, nampak tipis namun aku yakin kalau batas itu tidak mudah untuk dihancurkan.             “Aku hanya tidak boleh membunuhnya, bukan?” tanya Rayhan, ia memiliki rasa optimis yang sangat tinggi. Ia berbalik menatapku dengan tajam, senyum miring terekah di wajahnya.             “Waktu kalian hanya 30 menit!” seru Amel mengabaikan pertanyaan Rayhan. Sekali lagi, tingkah Amel yang kadang menyebalkan itu benar-benar membuatku puas.             “DUEL START!”             Sebuah papan digital yang tembus pandang muncul dari entah mana, papan itu tampak bertengger di langit-langit buatan. Di antara aku dan Rayhan. Aku bisa melihat hitungan mundur yang ada di sana.             3..             2…             Drtttt…             Baru saja fokus menunggu munculnya angka 1, Rayhan sudah menembakiku dengan senapan api otomatis yang muncul di tangannya. Pelurunya berbeda dari yang ia gunakan saat melawan Nagini. Mungkin tingkatannya lebih rendah mengingat peraturan dilarang membunuh lawan yang diberikan.             Setelah berhasil melompat untuk menghindari serangan itu, alih-alih papan digital itu mendeteksi kecurangan, jutru waktu duel tetap berjalan normal. Selain itu, di bawah waktu yang tertera. Aku bisa melihat huruf dan angka lain dengan masing-masing terpisah oleh tanda pembatas, di satu sisinya tertulis VERLEZ dan sisi lainnya RAYHAN.             Tunggu-             Apakah itu artinya pemenang dalam duel ini dilihat dari skor tertinggi?             Supppp...             Sial-             Sebuah peluru berhasil bersarang di bahu kiriku. Papan itu terlalu menyita perhatianku hingga membuatku lengah. VERLEZ | RAYHAN SCORE 000 | 010 Rayhan tertawa, ia terlihat sangat puas dengan keberhasilannya membidikku. “Tunggu sampai aku membuatmu jadi robot rongsokan!” serunya berusaha memancing emosiku. Aku melompat mundur. Menambah jarak di antara kami. Aku masih tidak tahu pasti bagaimana cara mengeluarkan senjata milikku. Dan untuk sekarang, aku rasa menggunakan lightbringer bukanlah pilihan yang bijak. Aku tidak bisa membakarnya hidup-hidup. Saat ini, aku harus fokus menghindari serangan Rayhan dan mencegahnya mencetak skor. Schuuuuu.. “HEADSHOT!”   S-sial-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD