Chapter 6: KAPTEN!

2529 Words
Aku masih berlari menuju anak yang menyebalkan itu, bagaimanapun juga aku telah memantapkan niatku untuk menyelamatkannya. Entah aku harus menyelamatkannya dengan cara apa, aku tetap nekat. Beep… Layar berukuran mini itu kembali muncul di mata sebelah kiriku, membuatku terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba. Apalagi kali ini? Transform Special Weapon: Lightbringer Baru selesai membaca tulisan kecil yang tertera di tengah layar itu. Tiba-tiba kedua tanganku mengalami glitch dan membuatku mengerem langkahku. Glitch itu terus menerus muncul, seakan-akan ada sistem yang eror yang sedang menimpaku hanya pada bagian kedua tanganku saja. Saat glitch selanjutnya muncul, aku melihat tanganku tidak lagi kosong. Sarung tangan itu menampakkan dirinya, bentuknya masih sama dengan terakhir kalinya aku melihatnya. Bedanya, sensor-sensor di setiap ruas jariku yang berbentuk menyerupai bulatan-bulatan kecil yang permukaannya timbul dan berwarna merah itu kali ini berkedip mengeluarkan cahaya merah. Membuatku sekilas teringat warna lampu alarm yang sedang meraung-raung, namun yang satu ini tidak bersuara.             Tikk…             Satu bunyi yang sangat kecil tertangkap di telingaku dan kejadian berikutnya berhasil membuatku terperangah. Pada bagian bulatan-bulatan yang ku anggap sensor itu mulai mengalami glitch dan sebuah rangka bayangan pedang mulai muncul dari sana. Bayangan itu semakin lama semakin tegas dan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebuah pedang dengan bilah berwarna merah menyala seperti baru saja ditempa di meja besi oleh ahli pembuat senjata pun muncul di hadapanku. Kedua tanganku sudah menggenggam erat gagang pedang berwarna perak yang kokoh. Meskipun yang muncul adalah pedang, aku bisa tahu kalau itu bukan pedang biasa melainkan pedang yang dibuat menggunakan teknologi canggih alih-alih pedang besi biasa yang ditempa oleh penempa besi pada jaman dahulu kala.             Bilah pedang itu memancarkan cahaya berwarna merah seperti api yang berkobar, namun aku sangat yakin tidak ada api yang tersulut dari pedang itu. Meskipun begitu, anehnya, aku bisa merasakan gagang pedang yang tergenggam di tanganku itu terasa panas, panasnya bisa ku rasakan sampai telapak tanganku meskipun aku memakai sarung tangan yang cukup tebal. Beruntung, aku memiliki artifical genetic hasil modifikasi gen tahan panas yang dimiliki oleh hewan Tardigrade sehingga kemampuan bertahan hidup di suhu 151 ℃ bisa ditingkatkan hingga 250 ℃.  Tapi, aku rasa panas yang dimiliki oleh pedang yang sedang ku genggam itu melebihi panas yang dapat ku tolerir.             Dengan pedang yang menyala-nyala itu, aku semakin percaya diri untuk menebas kepala raksasa Nagini yang sudah dekat dengan jangkauanku.             Seakan-akan bisa merasakan ajalnya semakin mendekat, Nagini melepaskan Rayhan dan menggeliat mundur. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Sekali lagi, ular itu meliuk-liukkan tubuh raksasanya ketika kepalanya sibuk ia banting ke arah berlawanan seperti saat aku mengalami sengatan listrik di otakku yang tak bisa ku hilangkan dalam waktu singkat.             Aku berdiri diam di hadapan monster itu, sementara ia semakin bergerak mundur. Ku lihat bayangan matanya sempat menatap bilah pedangku sebelum akhirnya mengeluarkan suara yang menyakiti telinga.             “Apa yang kau tunggu? Habisi dia!” Rayhan, ia berhasil lari dan sekarang berdiri tepat di belakang punggungku. Sangat lucu, dengan tubuh yang sebesar itu, nyalinya menciut dan berharap mendapat perlindungan dari balik punggungku.             “Sebaiknya kau mundur!” aku mendesis. Aku tidak mau aksi pertamaku melawan monster jadi terganggu karena harus melindungi Rayhan. Kali ini, ia tampak patuh atas perintahku. Meskipun aku bisa mendengar suara kecilnya melontarkan makian dari belakang kepalaku, aku tidak terlalu memikirkannya.             “KEMARILAH KAU ULAT KECIL!” teriakku sambil berlari mendekati Nagini. Nagini terus menyeret tubuh raksasanya mundur, namun aku memiliki kecepatan yang lebih.             Alih-alih langsung menebas lehernya, aku berniat untuk sedikit lebih lama bermain-main dengannya. Nagini, ular itu berkali-kali melirik bilah pedangku kemudian meraung seakan-akan hal itu sangat menakutinya. Aku pun dengan bangga memamerkan pedangku dengan mengangkatnya tinggi-tinggi di udara. Pedang itu cukup berat, aku harus menggunakan kedua tanganku untuk menggunakannya. Mungkin cara yang aku miliki akan berbeda dengan Toni yang menggunakan dua pedang.             Zessssshhhh…             Nagini berdesis dan melontarkan bisa nya bertubi-tubi. Aku terkejut. Daritadi makhluk itu menahan dirinya. Aku melompat kesana kemari berusaha untuk menghindari bisa miliknya yang berhasil membuat lubang-lubang menganga di atas lantai hall itu.             Sial, Nagini. Ia terus melontarkan bisa nya dan bidikannya cukup akurat, kalau saja aku tidak memiliki kelebihan dalam kecepatan, mungkin aku sudah kehilangan tubuhku dan meleleh seperti baja lantai hall itu. Aku memutar otakku sembari mencari cara untuk bisa menyerang, namun ukuran bisa yang berhasil Nagini bidikkan semakin besar, membuatku semakin kesulitan untuk memberikan serangan balik. Apa ini? Bagaimana aku bisa menyerang kalau seperti ini?             Shuuuuuuuuuuuu……             Duarrrrrrrrr….             Aku berhenti melompat, sebuah tembakan senjata api berhasil meledakkan bagian moncong Nagini dan membuat ular itu meronta-ronta kesakitan. Aku bisa lihat bagian mulutnya yang hancur dan meleleh karena ledakan yang ia terima. Meskipun tidak begitu fatal, setidaknya ia tidak bisa lagi melontarkan bisa miliknya yang sangat mengganggu itu.             Ku sempatkan untuk menoleh ke belakang dan mendapati Amel masih dalam posisi mengangkat salah satu senjata api miliknya dengan kuda-kuda yang indah. Dari ledakannya, aku sangat yakin kalau itu berasal dari senjata milik gadis itu. Aku akan berterima kasih padanya nanti.             Saat aku kembali menatap ke depan, betapa terkejutnya aku ketika bagian ekor Nagini sudah melayang di depan wajahku. Untung aku masih sempat melakukan sliding ke lantai yang permukaannya masih normal. Ekor Nagini dengan keras menghantam tempatku berdiri satu detik yang lalu hingga ekor itu memantul ke udara selama beberapa kali. Dan karena jaraknya yang sangat dekat, akupun tidak pikir panjang.             Zesshhh..             Aku berhasil menebas bagian ekor Nagini dan ku sempatkan untuk menendang bagian ujung ekor berbentuk aneh itu jauh-jauh dari hadapanku. Saat aku menebasnya, kobaran api membakar bagian yang terpotong, baik itu bagian ujung ekor maupun bagian yang masih menyatu dengan tubuh monster itu.             Aku terkejut. Darimana datangnya api itu? Saat ku tatap bilah pedangku, aku bisa melihat seberkas api yang kemudian padam. Sepertinya, pedang itu menyala bagai kobaran api karena memang bisa memantik api pada apapun yang ditebasnya. Aku tersenyum miring, sepertinya aku memiliki sesuatu yang benar-benar gila.             Kobaran api di bagian ujung ekor Nagini yang terpisah dari tubuhnya berhasil menghanguskan ekor itu dalam waktu singkat. Sementara api yang berkobar di bagian tubuhnya sudah padam karena hentakan yang terus menerus monster itu lakukan di atas lantai. Namun, kenyataan yang ku temukan benar-benar menarik. Monster itu tidak menumbuhkan kembali bagian ekornya yang telah berubah menjadi abu. Sepertinya bacaan Amel benar-benar berguna.             Melihatnya terlalu menderita karena luka yang diterimanya, aku pun melompat tinggi seperti apa yang dilakukan oleh Toni. Aku menirukan gerakannya dan-             Zeshhhhhh….             Dalam sekali tebas yang tidak sulit, aku berhasil memisahkan kepala Nagini dari tubuhnya dan keduanya seketika langsung terbakar oleh kobaran api. Aku mendarat dengan kakiku terlebih dahulu, sebuah pendaratan yang cukup epic. Dan selanjutnya, aku bisa merasakan udara segar kembali mengisi ulang oksigen di dalam paru-paruku.             Beep... Training Completed ..             Aku menghembuskan nafas lega melihat apa yang ditampilkan di layar itu. Di waktu yang bersamaan, aku bisa mendengar suara pintu yang menjeblak terbuka. Satu-satunya pintu di hall itu. Dan detik berikutnya, pedang yang masih ku kagumi itu mengalami glitch dan aku tahu apa yang akan terjadi. Tidak begitu lama, pedang beserta sarung tangan yang sedang ku pakai itu lenyap dari tempatnya.                   Minami beserta beberapa ilmuwan Pencipta memasuki hall, beberapa di antara mereka bahkan bertepuk tangan.             “Pertunjukan yang lumayan,” seorang pria berumur dengan kepala botak masih bertepuk tangan dengan keras. Ia membenarkan posisi kacamatanya yang miring. Ku perhatikan senyum puas Minami. Wanita berwajah aneh itu berdiri tepat di samping pria itu, pria yang merupakan ketua dari projek beyond human. Projek penciptaan humanbot. Penciptaku.             “Apa Anda melihat perkembangan Subjek 888?” tanya Minami, suara sopannya terdengar seperti dipaksakan. Pria tua di sebelahnya itu mengangguk sambil tersenyum kemudian melambaikan tangannya ke arahku, memanggilku untuk mendekat. Namun, karena aku malas, aku enggan melakukannya.             “Verlez, bukankah sebaiknya kau kemari?” sekali lagi. Saat Minami yang mengatakannya, aku merasakan ada yang aneh dari tubuhku, aku tidak bisa mengendalikannya apalagi melawannya. Kakiku, berjalan dengan langkah cepat memanggil panggilan itu. Aku berusaha untuk menahannya namun aku tak bisa, wajahku pasti sangat terlihat aneh saat melakukannya karena Amel tampak menyadarinya. Gadis itu melemparkan pandangan penuh tanya ke arahku namun aku tidak bisa memberinya jawaban, tidak untuk sekarang.             Pria tua itu bernama George, ia menepuk bahuku saat aku sudah berdiri di depannya.             “Kau memang karya terbesarku,” ucapnya sambil berkali-kali mengangguk bangga.             Aku hanya diam, seperti patung, atau mungkin seperti robot yang sedang non-aktif. Aku tidak tahu harus merespon seperti apa.             “Kalian semua, untuk hari ini kalian masih bisa menonton. Ku harap latihan selanjutnya, kalian bisa lebih berguna! Professor Minami akan melakukan upgrade pada kalian. Jangan pernah mengecewakan Pencipta!” George menyerukan pidato singkatnya.             “Silakan menikmati hari ini! Kalian bebas mengadakan pesta yang biasanya kalian adakan itu, hanya untuk malam ini saja,” George berbalik dan keluar dari hall bersama dengan ilmuwan-ilmuwan lain, mengikutinya dalam diam dengan ekspresi senyuman konyol mereka. Minami pun sama, ia menyusul George, namun sempat membisikkan sesuatu padaku, ”Sepertinya kau sangat menikmati special weapon buatanku.”             Aku menelan ludah. Benar, aku menikmatinya. Hanya saja aku tidak mau mengakuinya, selamanya aku tidak akan pernah se-pendapat dengan Para Pencipta. Beruntung mereka sudah menanamkan program mutlak dalam otakku untuk membuatku patuh, jadi, meskipun aku sangat membenci mereka, aku tidak bisa berbuat apa-apa.             “Hei!” Amel meninju punggungku dengan tangannya.             “Apa?”             “Kau akan datang ke pesta malam ini.”             “Aku? Kau mengundangku ke pesta? Apa aku tidak salah dengar?”             “Ini bukan undangan, ini perintah!”             Gadis itu berjalan keluar meninggalkan hall tanpa menunggu persetujuan dariku. Namun, entah kenapa, meskipun ia memberiku perintah seperti yang dilakukan Minami. Aku merasa kalau aku akan mematuhi perintahnya. Apa jangan-jangan dia dan Minami itu orang yang sama? Kenapa aku bisa patuh?             “Pertunjukan yang hebat, Kawan,” Toni muncul dan merangkul pundakku. Laki-laki ini, entah kenapa merasa sangat akrab sekali denganku, membuatku merinding. Aku tidak mengerti kenapa tingkahnya begitu. Tapi kali ini, aku membiarkannya.             “Kau juga, darimana kau belajar menggunakan pedangmu?”             “Aku tidak tahu, yang ku tahu, aku yakin bisa menggunakannya,” jawab Toni ragu, ia tidak mau menatap mataku saat mengucapkannya. Apa dia sedang berbohong padaku?             Aku tidak ingin mengomentari jawaban Toni. Aku tahu ini kedengarannya aneh, tidak pernah merasa mendapatkan latihan menggunakan special weapon terutama yang kuno seperti pedang, tetapi dalam otak merasa yakin kalau aku pandai menggunakannya. Hal itu ternyata sama berlakunya bagi Toni. Ku kira ia akan tahu jawabannya karena ia tidak mendapati ingatannya sering dihapus seperti yang terjadi padaku. Tapi ternyata, Toni pun tidak tahu. Mungkin aku salah bertanya. Harusnya aku menanyakan hal itu pada Amel?-Ah gadis itu lagi, kenapa aku selalu berkesimpulan kepadanya. Ada apa dengan otakku ini? Malamnya… Aku datang ke tempat yang mungkin biasanya digunakan sebagai tempat berpesta para humanbot sepertiku. Aku memiliki perasaan baik, sepertinya aku tidak akan diusir setibanya di sana. Toni, ia sampai perlu repot-repot menjemputku dari bunker milikku. Iya benar, masing-masing humanbot mendapatkan fasilitas bunker untuk tempat tinggal. Tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk beristirahat. “Aneh, aku kira orang-orang itu tidak tahu kalau kita sering adakan pesta,” Toni memakai kaos tipis yang transparan dan lekuk tubuhnya yang atletis bisa terlihat dengan jelas, sempat membuatku terkejut saat pertama kali melihatnya di depan pintu bunkerku. “Apa maksudmu?” “Kau dengar kata si botak itu? Ia mengatakan pesta yang biasa kalian adakan,” Toni menirukan suara George dengan sempurna, berhasil menghiburku dan membuatku terkekeh. “Tentu saja dia tahu, dia selalu tahu,” aku menekankan ucapanku tanpa rasa terkejut. Aku bahkan pernah berpikir kalau Para Pencipta bisa mengakses langsung indra penglihatanku sehingga mereka tau apa yang sedang ku lihat menggunakan mataku. Benar-benar tidak memiliki privasi sama sekali. Dalam hati, aku ingin segera dikirim ke permukaan atas untuk membasmi alien, daripada harus hidup di bawah tanah bersama Para Pencipta terlalu lama. Sangat membosankan. . . Pesta kali ini terlihat sangat meriah, aku bisa mendengar suara musik EDM dari jarak setengah kilometer dari lokasi pesta. Aku tidak tahu apakah mereka selalu memutar musik saat pesta karena ingatanku tentang hal itu sudah lenyap. Malam ini sepertinya akan berlangsung panjang. “Hei, kau datang!” Amel membawa dua gelas minuman berwarna neon dan memberikan satu gelas untukku, mengabaikan Toni yang juga meminta bagiannya namun gadis itu menyuruhnya untuk mengambil sendiri minumannya. Membuatku merasa sedikit spesial. “Bagaimana dengan lukamu?” kepala gadis itu bergerak mengikuti irama musik. Toni sudah tenggelam dalam keramaian, meninggalkanku berdua dengan Amel. “Aku sudah memperbaiki diri,” jawabku mantap. Bagaimanapun juga, aku adalah setengah robot. Saat terluka, sebagian besar yang mengalami kerusakan adalah pada bagian mesinku. Saat ada sesuatu yang salah di sana, aku hanya perlu meminta sistem A.I dalam otakku untuk melakukan total repairing, hanya butuh waktu beberapa jam sebelum akhirnya kondisiku kembali stabil dan normal. “Lihat siapa yang datang?” suara menyebalkan itu. Rayhan muncul dari balik keramaian dan tangannya melingkar di pundak Amel. Menarik tubuh gadis itu supaya sedikit lebih dekat dengannya. Rayhan melemparkan pandangan yang tidak bisa ku artikan, bibirnya tersenyum miring. Aku tidak tahu kalau hubungannya dengan Amel se-dekat itu. Ku lihat Amel tidak sedikitpun merasa terganggu diperlakukan seperti itu. Tunggu, apa jangan-jangan mereka bersama? Maksudku, bersama sebagai seorang laki-laki dan seorang gadis. Aku tidak tahu apa istilahnya. Kalaupun itu yang sebenarnya terjadi, aku harus menerimanya. Bagaimanapun juga, Rayhan memiliki wajah yang bisa masuk dalam kategori tampan, selain itu badannya pun lebih atletis dibandingkan denganku. Tunggu, kenapa aku tiba-tiba membandingkan fisiknya denganku? Ada apa denganku ini? “Ketua INFINITY,” seorang gadis bertubuh mungil bergabung dalam percakapan. Tata, ia tampak barusaja memangkas rambutnya sebelum datang ke sini. Bagian samping kepalanya ia potong habis hingga menyisakan rambut dengan panjang tidak lebih dari setengah centimeter, sementara dari garis miring yang tercetak jelas di bagian tepi kepalanya itu ada rambut yang dibiarkan panjang hingga menyentuh daun telinga di sisi lainnya. Penampilannya menunjukkan kalau ia bukan gadis yang feminin. “Rambutmu keren,” pujiku jujur. Tata tersenyum miring. “Sepertinya sudah waktunya,” kali ini Amel membebaskan dirinya dari cengkraman Rayhan dan ia menarik tanganku secara tiba-tiba, memaksaku berjalan menuju kerumunan humanbot yang asyik menikmati pesta. Aku menatap Rayhan dengan tatapan mencemooh karena Amel tiba-tiba menggenggam tanganku. Berhasil, membuat laki-laki itu terlihat kesal. “YO, KALIAN SEMUA DENGAR!” suara tegas Amel berhasil mendapatkan perhatian orang-orang dan musik EDM pun otomatis dihentikan. “MARI KITA BERSULANG UNTUK KETUA KITA, VERLEZ!” seru Amel disusul dengan suara tepuk tangan meriah dari orang-orang di sana. Benar-benar tidak pernah bisa ku bayangkan akan terjadi seperti ini. Aku terperangah, bahkan saat ku lihat ke arah Rayhan, laki-laki itu tampak sangat terpaksa ikut menepuk tangannya meskipun tidak mengeluarkan bunyi apapun. “AMEL!” seru Tata, aku terkejut mendapati suaranya yang nyaring meskipun tubuhnya mungil. “APA?” “AKU BENCI SEBUTAN KETUA, APA TIDAK ADA KATA LAIN?” “KAPTEN!” kali ini Toni ikut menyuarakan pendapatnya. Aku mendengar orang-orang saling berbisik sebelum berseru kompak, “SETUJU!” “UNTUK KAPTEN!” Amel mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi ke atas udara. “UNTUK KAPTEN!” semuanya berseru kompak mengikuti Amel. Dan aku pun turut mengangkat gelasku tinggi-tinggi sambil tersenyum. Aku tidak tahu dengan perasaanku saat itu. Aku tidak bisa mendeskripsikannya. Bangga? Bahagia? Puas? Luar biasa? Aku tidak tahu mana yang paling menonjol. Bagiku, bisa berada di sana bersama mereka saja sudah lebih dari cukup. Kapten? Bukankah itu terlalu berlebihan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD